Share

Part 2

Gia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang harus di selesaikan hari ini, ia beberapa kali memeriksa jam digital yang ia letakkan di samping komputernya. Sudah hampir satu jam setelah ia kembali dari makan siang, tetapi CEO nya masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kemunculan.

Sedikit aneh menurutnya, karena selama ini laki-laki itu selalu memastikan jadwal terlebih dahulu sebelum pergi, kalaupun ia harus pergi mendadak Bastian akan selalu menghubunginya untuk merubah jadwal.

"Aneh, yah walaupun hari ini tidak ada meeting, sih. Ah, sudahlah, lebih bagus jika hari ini dia tidak kembali," gumam Gia.

Drrrttt... drrttt....

Gadis itu meraih benda pipih yang bergetar sedetik yang lalu, tertulis nama yang sangat familiar dilayarnya. Gia menoleh kesebuah kalender kecil, ia menepuk dahinya pelan seolah mengingat sesuatu. Buru-buru ia menerima panggilan suara tersebut.

"Halo... Kakak?" panggil seseorang dari ujung telepon, "kakak belum transfer uangnya?"

Dia adalah Dion Verestio Licgeorge, adik laki-laki Gia yang kini tengah menempuh pendidikan kuliahnya di luar kota.

"Ah, maaf, kakak lupa. Setelah ini kakak akan mentransfernya," jawab Gia.

"Baiklah kalau begitu. Bagaimana keadaan ibu?"

"Ibu baik, walaupun tak sebaik itu, kau paham kan?"

Terdengar helaan napas dari pemuda itu, "Maaf aku tidak bisa membantu."

"Sudahlah, tugasmu hanya belajar, lulus dengan baik dan mendapat pekerjaan yang selama ini kau inginkan."

"Terimakasih kak."

"Kau sudah makan, Dion?"

"Aku makan setelah ini, hari ini ada kelas tambahan karena ujian sekolah seminggu lagi."

"Begitu rupanya, baiklah. Kakak sedang sibuk sekarang, kau jaga dirimu baik-baik, jangan lupa makan teratur dan belajar dengan baik."

"Baik kak."

"Oke, kakak tutup ya, Bye."

Gadis itu mengakhiri sambungan telepon tersebut dengan diikuti senyuman tipis di wajahnya.

"Bukankah aku menggajimu untuk bekerja, bukan untuk menelepon?" Sebuah suara yang sangat familiar ditelinganya, suara yang beberapa saat lalu sempat tak ingin ia dengar lagi.

Gia mendongakkan kepalanya dan melihat Bastian sudah berdiri didepan mejanya dengan tatapan tajam. Ia segera bangkit dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam.

"Mana berkas yang kuminta revisi tadi?"

"Maaf, pak CEO sebentar lagi akan saya selesaikan."

Bastian berdecak, "Bekerjalah dengan benar!"

Max mendorong sedikit bahu bossnya itu, "Bisa kah kau berbicara dengan baik dengannya? sepertinya tadi dia hanya menerima telepon dari adiknya, benarkan nona?" ujar Max mencoba untuk melindungi Gia.

"Ehh... b-benar pak."

Bastian menatap Gia datar, "Terserahlah, aku tunggu berkas itu 30 menit lagi dimejaku." Pemuda itu berlalu masuk keruangannya setelah mengatakannya.

Max menggelengkan pelan kepalanya melihat sahabat sekaligus bossnya itu, "Jangan kau ambil hati ucapan Bastian, nona Gia, dia memang terlalu tidak peka," ujar Max lalu tersenyum.

"Ah, iya pak. Lagi pula saya sudah terbiasa dengan sikap pak CEO."

"Baguslah, kalau begitu saya permisi dulu, nona Gia."

Gia mengangguk sopan dan kembali duduk setelah melihat Max masuk keruangan CEO nya. Gadis itu menghela napas berat, "Manusia berhati dingin," gumamnya.

Max duduk disehuah kursi yang bersebrangan dengan Bastian yang kini sudah kembali sibuk dengan berkas-berkas bertumpukan itu, tanpa memperdulikan Max yang ada di depannya.

"Bisa kah kau bersikap lebih lembut dengan sekretarismu itu."

"Untuk apa?"

"Bukankah kau bilang kinerjanya sangat bagus? Jika dia mengundurkan diri karena sikapmu yang terus dingin seperti itu, kau yang akan rugi," jelas Max membuat Bastian berpikir sejenak.

Memang benar jika kinerja Gia jauh lebih unggul dari mantan sekretarisnya yang lain, dan juga dia tidak menjadi sekretaris hanya untuk dekat dengannya, bahkan Gia terlihat tidak tertarik padanya. Gia memang berbeda.

"Lalu?"

"Haa? kau bertanya? huh, kau memang pintar di bidang bisnis tetapi bodoh tentang hal mendasar sebagai manusia, ya." Bastian memutar bola matanya. Yah, sejujurnya ia sudah sering dan bosan dengan kata-kata itu, "bersikaplah baik sedikit padanya, itu tak akan merugikanmu."

*****

Hari berganti, jam menunjukkan pukul 10 pagi dan Gia sudah disuguhi beberapa berkas yang harus diserahkan pada bossnya hari ini. Ia menghela napas, meski lelah ia tetap harus menunjukkan kinerja terbaiknya. Posisinya sudah cukup bagus untuk menghidupi keluarga, jadi ia tak akan mau jika harus diturunkan karena satu kesalahan kecil.

Trrtttt... trrrtttt...

Telepon khusus yang menyambung hanya dengan ruangan Bastian berbunyi, ia pun segera menerimanya.

"Kosongkan jadwalku mulai jam 3, aku ada urusan."

"Baik pak."

Setelah menutup panggilan tersebut ia kembali berkutat dengan berkas-berkasnya, hari ini ia harus pulang lebih cepat karena ibunya sedang sendirian dirumah. Perawat yang biasanya ia hubungi hari ini sedang berada di luar kota, mau tidak mau ia harus cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang tepat waktu.

Gia beberapa kali melirik kedalam ruangan CEO nya, ia bisa melihat pria itu yang masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya selama beberapa jam. Ia jadi terpikir apakah CEO nya itu sungguh-sungguh seorang manusia. Pasalnya, selama 2 tahun ia menjadi sekretarisnya Gia belum pernah mendapat laporan bahwa Bastian sakit, bukankah hal itu aneh bagi manusia yang terlalu sibuk bekerja?

Gadis itu menggelengkan kepalanya seolah tersadar dari pikirannya, ia mencoba menghilangkan pikiran-pikiran tidak pentingnya dan kembali fokus bekerja.

Pukul 12 siang, Gia sedang berada di cafeteria perusahaan untuk makan siang. Ia duduk di meja yang ada disamping jendela besar dengan pemandangan jalanan kota yang ramai. Gadis itu menyesap kopinya sembari memandang keluar jendela.

"Apa yang kau lihat, sekretaris Gia?" Gia menoleh terkejut, dan mendapati seorang pemuda yang sudah duduk di hadapannya.

"Carl! kau mengagetkanku!" kata Gia sembari memukul pelan lengan pemuda bernama Carlos itu.

Pemuda itu terkekeh, "Apa yang kau lihat sampai tak sadar kehadiranku?"

"Apa aku harus memberitahukannya padamu? Apa kau setidak ada kerjaan itu?"

"Hei, jangan berkata begitu, menjadi Manager itu melelahkan."

"Bukankah kau tidak seharusnya berkata seperti itu dihadapanku?"

"Ah, kau benar. Menjadi sekertaris killer CEO itu masih lebih sulit, 'kan."

Gia terkekeh mendengar Carlos yang menyebut Sebastian sebagai Killer CEO, "Sudahlah, jangan sampai ucapanmu itu terdengar olehnya, Carl," kata Gia memperingatkan.

Carlos Vares Nicholas, yang berstatus sebagai teman Gia selama 10 tahun terakhir. Pertemuan pertama mereka ketika ospek SMA, dan mulai saat itu mereka terus berada di satu kelas yang sama hingga dibangku perkuliahan. Carlos adalah orang yang juga membantu keluarganya saat ia masih menjadi pengangguran dulu.

"Apa kau senggang setelah kerja?"

"Iya, tapi aku harus segera pulang, ibuku sendirian dirumah," jawabnya.

"Ah, begitu rupanya, sayang sekali padahal aku ingin mengajakmu makan malam."

Gia menaikkan sebelah alisnya, "Dinner? peringatan apa ini, tumben sekali?"

Carlos memandang gadis itu seolah tidak percaya, ia mengedipkan matanya beberapa kali dengan tetap memandang Gia, berharap gadis itu mengingatnya sendiri, "Kau melupakannya?"

Mendengar pernyataan itu Gia pun bingung, ia beralih membuka ponselnya untuk melihat tanggal, "Oh god!" gumamnya ketika menyadari sesuatu.

"Iam so sorry, Carl. Aku benar-benar lupa kalau hari ini ulang tahunmu," kata gadis itu dengan raut bersalahnya.

"Sudahlah, kau mengecewakanku, Gia."

"Ouh, C'mon Carl. Aku tak sengaja melupakannya." Pemuda itu diam tanpa merespon ucapan Gia. Gadis itu tahu jika Carlos tengah merajuk kali ini, tapi bukankah itu terlalu kekanak-kanakan?

"Jangan kekanak-kanakan, Carlos. Bagaimana kalau kau ikut pulang kerumahku? Aku yang akan masak untuk Dinner kita, juga sebagai hadiah dan permintaan maaf ku," kata Gia mencoba untuk membujuk pemuda itu.

Carlos menoleh kearah Gia dengan mata berbinar, "Oke! lagi pula aku juga sudah lama tidak bertemu ibumu," katanya santai membuat Gia menggelengkan kepalanya heran. Bagaimana bisa ia merubah suasana hatinya secepat itu.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status