Share

Part 1

Jam menunjukkan pukul 12.55, Gia dan Bastian sudah berada di tempat temu dengan perwakilan dari C'yo Corp untuk lunch bersama. Namun, pihak yang membuat janji temu bahkan sedikitpun belum menunjukkan batang hidungnya.

Bastian memang salah satu orang yang tepat waktu dan tidak mentolerir keterlambatan, jika perlu ia ataupun mereka yang membuat janji dengannya harus datang minimal 5 menit sebelum jam pertemuan sebenarnya.

Gia membuka ponselnya saat merasakan getaran dari dalam tasnya, gadis itu membulatkan matanya sesaat setelah membaca pesan singkat tersebut. "Gawat," gumamnya.

Tak disangka gumaman itu ternyata terdengar hingga telinga Bastian, laki-laki itu menoleh, "Ada apa, Gia?"

Pertanyaan singkat yang berhasil membuatnya terkejut, "Ah, pihak C'yo Corp baru saja memberi kabar, mereka meminta maaf karena harus membatalkan janji temu hari ini, pak," jawab Gia.

Bastian menaikkan sebelah alisnya lalu melihat arloji ditangan kirinya, "Mereka membatalkan janji 3 menit sebelum jam temu?" Gia mengangguk ragu.

Bastian berdecak, "Baiklah, lain kali tidak perlu lagi menerima janji temu dengan mereka. Sekali mengecewakan akan tetap begitu, jika mereka meminta lagi kau bilang saja jika aku sibuk, mengerti?"

"Baik."

"Kalau begitu, aku pergi dulu." Bastian bangkit dari duduknya diikuti Gia yang juga bangkit dari tempatnya itu membuat laki-laki yang berstatus sebagai boss nya itu menoleh bingung, "mau kemana kau?"

"Bukankah saya juga harus pergi jika anda pergi?"

Bastian melihat arlojinya, "Ini masih jam makan siang, jadi kau tetap disini dan pesan lah sesuatu, aku yang akan membayarnya," ujarnya membuat Gia membulatkan matanya kaget.

Selama 2 tahun ia bekerja sebagai sekretaris Bastian, ini adalah sikap paling manusiawi yang laki-laki itu tunjukkan padanya. "Apakah bisa seperti itu? bukankah anda juga belum makan?"

"Aku tidak lapar, jadi lebih baik kau duduk dan segera memesan makananmu. Aku tidak akan memberikan kau tambahan waktu istirahat!"

Baiklah, Gia menarik kembali rasa kemanusiaan yang ia pikirkan sebelumnya. "Baiklah. Tapi, anda mau kemana?"

"Apa aku harus memberitahu kau?"

Wanita itu menggeleng cepat, "Tidak! baik, kalau begitu selamat jalan pak direktur, terimakasih traktirannya," jawab Gia merutuki dirinya yang terkesan kepo itu. 'Kau bodoh, Gia.' batinnya

Bastian berlalu tanpa menanggapi kata-kata sekretarisnya keluar cafe, Gia yang melihat itu hanya menghela napas berat lalu menghempaskan kembali tubuhnya diatas kursi.

"Dasar manusia berdarah dingin!" umpatnya saat matanya masih melihat direktur nya hendak memasuki mobil. "Baiklah, lebih baik aku segera memesan. Hahh... untuk pertama kalinya dalam sejarah sekretarisku laki-laki itu mentraktirku dengan cuma-cuma seperti ini."

***

Bastian melajukan mobilnya memecah jalanan ramai menuju apartementnya, ia bukan sengaja untuk membolos tetapi beberapa menit yang lalu Bastian mendapatkan kabar bahwa pria bodoh yang berstatus sebagai sahabat sekaligus orang kepercayaannya tengah merusuh disana.

"Akan ku hajar kau keparat!" umpat Bastian kesal.

Sesampainya di area apartemen, ia menghentikan mobil di depan lobi dan segera keluar. Seperti biasa, seorang security akan beralih memindahkan mobilnya ke basement. Laki-laki itu mempercepat langkahnya, ia beberapa kali menekan tombol dengan angka 10 di sana, tempatnya tinggal. Pintu lift terbuka, ia pun segera melangkah masuk.

Bastian membuka pintu apartemennya yang sudah hampir tak berbentuk. Laki-laki itu dibuat menganga karena tingkah pria gila yang tengah menggila itu, dan sialnya dia adalah sahabatnya. Sial!.

Ruang tamu yang semula rapi kini sudah seperti kapal pecah, dimana banyak berserakan bungkus makanan ringan, cola dan alkohol. Ah, sepertinya ia benar-benar harus membereskan laki-laki gila itu.

"Kau sudah bersenang-senang ya?" Itu bukan pertanyaan melainkan sindiran. Pria tampan dengan wajah ala eropa itu menoleh dan tersenyum melihat kehadiran sahabatnya itu.

"Oh, kau sudah pulang? Apa kau tidak punya alkohol lagi, Bas?" Pertanyaan sederhana yang mampu membuat Bastian kesal.

"Mau separah apa lagi kau menghancurkan tempat tinggalku, Max?!" Bastian bertanya dengan tenang tetapi justru terkesan sangat menusuk, laki-laki itu memijat pelipisnya dan menghela napas, "sudahlah, masalah apa lagi sekarang sampai kau membolos dari kantor dan malah membuat onar di rumah orang lain seperti ini."

"Julia selingkuh."

"Apa?!!" pekik Bastian, oke, untuk kali ini ia benar-benar kesal dengan pria yang bernama Max itu, "kau menjadi gila seperti ini hanya karena seorang wanita menyelingkuhimu?! dude c'mon, are you kidding me?"

"Julia is my life, Bas."

"Hah? kau bercanda? sudahlah, jangan mengeluh dan segeralah kembali ke kantor! Kau membuatku membuang waktu selama lebih dari 30 menit!"

"Bas! kau benar-benar tak punya perasaan!"

"Apa? untukmu? tentu saja, untuk apa ku berikan perasaanku untukmu?" Bastian melangkah menuju pintu keluar apartementnya, "kuberi waktu 20 menit dari sekarang, aku tunggu di lobi," lanjutnya lalu keluar dari apartement itu.

"Fuck you, Bastian!!" pekik Max yang masih sempat bastian dengar sebelum pintu benar-benar tertutup.

"Fuck you too, Max," gumamnya santai sembari melangkah semakin jauh.

Maxium Van Lionhart, laki-laki berusia 30 tahun yang berstatus sebagai sahabat, orang kepercayaan dan wakil CEO-nya. Keluarga Lionhart dan De France memang sudah terkenal kedekatannya sejak dulu, kedekatan keduanya pun bukan sekedar persahabatan atau atasan bawahan melainkan sebuah keluarga.

30 menit sudah Bastian duduk di sofa yang berada di lobi bangunan tersebut, beberapa kali ia memeriksa arlojinya. Laki-aki itu berdecak saat jarum panjang itu terus berjalan sedangkan manusia yang ia tunggu pun tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

"Apa dia mati di dalam sana?" gumamnya.

Bastian beralin mengoperasikan ponselnya, ia hendak menelpon Max sebelum sebuah suara menghentikannya dan membuatnya menoleh menatap laki-laki yang berumur satu tahun diatasnya itu dengan tatapan datar. "Apa kau tak bisa membaca jam?"

"Apa kau tidak mengerti jika sahabatmu ini sedang berkabung?!" tanya Max dengan nada menyindir.

Bastian memutar bola matanya, "Perkabunganmu tidak berguna bagiku. Cepatlah, kita masih ada hal yang harus dikerjakan di kantor."

"Baiklah-baiklah, dasar killer CEO!" ujar Max yang tak dipedulikan Bastian.

Yah, ia tahu sebutan itu. Sebutan dari para karyawannya untuk seorang CEO yang terlalu disiplin waktu, pemarah, perfeksionis, dan dingin. Max pun menyadari jika itu semua memanglah benar, ia tak mungkin tak bisa setuju dengan fakta yang jelas didepan mata seperti itu, 'kan.

Kedua laki-laki itu berada disatu mobil yang sama, dengan Max yang berada dibangku kemudi sedangkan Bastian berada di sampingnya. Siang ini jalanan cukup ramai tak seperti biasanya, sudah hampir satu jam setelah mereka keluar area apartement, tetapi mereka masih menempuh setengah jalan.

Berbeda dengan Max yang fokus dengan acara menyetirnya, Bastian justru sibuk dengan tablet yang menampilkan softcopy untuk presentasi minggu depan dan beberapa lembar berkas-berkas yang sebelumnya belum sempat ia periksa lebih detail.

"Kau tak pulang kerumah orang tuamu, Bas?"

"Besok aku akan kesana," jawab Bossnya tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya, "ah, bicara tentang itu, besok temani aku kerumah, oke!"

Max menoleh dan menaikkan sebelah alisnya, "Untuk apa?"

"Kau tau bukan, apa yang akan dibahas orang tuaku nanti? Aku malas mendengarnya sendiri, lagi pula jika mereka mengenalkan seorang gadis bukankah kau juga bisa mendekatinya."

Max menghela napas, "Apa susahnya menerima perjodohan orang tuamu? Lagi pula yang mereka tawarkan bukanlah wanita-wanita sembarangan, bukankah itu menguntungkan?"

"Aku akan menikah, tapi tidak sekarang dan bukan karena perjodohan. Lagi pula wanita itu merepotkan!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status