Share

Part 3

mobil lamborgini berwarna hitam berhenti di depan kediaman keluarga da Franch, menit berikutnya dua pelayan membukakan masing-masing pintu dimana dua pria keluar dari dalam sana. Sebastian dan Max berjalan memasuki rumah yang sudah lama tak ia kunjungi itu.

"Dimana Mommy?" tanya Bastian pada kepala pelayan rumah orang tuanya.

"Nyonya berada di ruang kerja, Tuan muda," jawab pelayan tersebut sopan. Tanpa membalas, Bastian berlalu begitu saja.

"Selamat siang, miss Clara, bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu, ya," kata Max ramah.

"Selamat siang tuan Max, seperti yang anda lihat saya sangat sehat."

"Baguslah, kau harus selalu sehat miss, karena mengurus keluarga ini adalah pekerjaan yang berat, right?" Pelayan itu hanya tersenyum membalas ucapan Max.

"Sampai kapan kau mau diam disana, Max?" Mendengar suara boss nya itu, Max pun segera menyusul Bastian yang sudah memandangnya jengah.

"Santailah sedikit, Bas," kata Max sembari menyenggol lengan Bastian dengan sikunya.

Kedua pria itu memasuki ruangan yang berada di lantai dua, dan melihat perempuan paruh baya tengah duduk di kursi kerjanya dengan kaca mata bertengger di wajah yang mulai terlihat keriput itu. Wanita itu menoleh melihat kehadiran keduanya, Max sedikit membungkuk memberi salam yang dijawab dengan senyuman oleh wanita itu.

"Akhirnya kau ingat untuk pulang, Sebastian."

"Aku pulang karena Mommy yang memintanya."

Keduanya duduk di sofa yang berada didepan meja kerja tersebut. "Jangan bertingkah kaku seperti itu, Bastian," katanya sembari melepas kacamata dan bangkit dari duduknya, "bagaimana kau mau mendapatkan istri dengan tingkah seperti itu?" lanjutnya.

Kata-kata yang sudah cukup membuat Bastian jengah, ia mengusap wajahnya kasar frustasi dengan pernyataan dan pertanyaan dari ibunya itu. Wanita itu duduk berhadapan dengan kedua pemuda itu. "Mom dan Dad sudah ingin menimang cucu darimu, Bas."

"Kalian sudah punya 2 cucu dari kakak, apa itu belum cukup? Kenapa harus membebankan cucu lagi padaku?" jawab Bastian kesal dengan permintaan wanita itu.

"Itu anak kakakmu, bukan anakmu."

"Mom, aku belum minat untuk menikah, kenapa kau terus memaksaku?"

Wanita itu menghela napasnya kasar mendengar pernyataan anak bungsunya yang keras kepala itu, "Baiklah, tidak menikah, tapi setidaknya tunjukkanlah pada kami seorang wanita. Mommy tidak akan memaksamu menikah atau menyuruhmu untuk ikut kencan buta lagi jika kau menunjukkan kekasihmu padaku," kata wanita itu membuat Bastian melongo.

Jangankan kekasih, ia bahkan tidak pernah pergi berkencan selama lebih dari 5 tahun, ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Sedangkan Max yang sedari tadi hanya diam, kini menyunggingkan senyumnya dengan ide yang menurutnya briliant.

"Anu... tante, boleh Max berkata sesuatu?"

Bastian menoleh kearah sahabatnya itu dengan tatapan bingung, seolah bertanya rencana apa yang akan kau lakukan kali ini. "Tentu saja, Max."

"Sebenarnya bastian sudah punya kekasih," Baru satu kalimat yang keluar dari mulut Max yang membuat Bastian menganga dibuatnya. Apa-apaan si brengsek ini? Begitupun dengan wanita itu yang terkejut dengan pernyataan Max, "hanya saja ia malu untuk memberitahukannya pada tante dan om, karena wanita yang dia suka bukan berasal dari keluarga ternama," lanjutnya masih membuat Bastian terheran-heran dengan sahabat laknatnya itu.

"Benarkah? kenapa kau tidak memberi tahu Mommy, Bas?" pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Bastian. Pemuda itu menatap tajam Max, seolah berkata jika ia akan membunuhnya nanti. "kalau begitu, kau harus mengajaknya kesini akhir pekan nanti. Kau tak perlu malu, Mommy akan menyambutnya dengan baik," lanjutnya, Bastian hanya terkekeh canggung karena perbuatan temannya itu.

***

Bastian menendang kaki Max sesaat setelah keluar dari ruangan ibunya cukup keras, hingga membuat pria itu meringis kesakitan, "Apa yang kau lakukan, Bas?"

"Apa yang ku lakukan? tentu saja menghajarmu, brengsek! Apa maksudmu berkata begitu pada Mommy? Kau mau mati, huh?"

"Tentu saja aku membantumu, kau kira aku berkata tanpa berpikir?"

"Cih, bukankah itu kebiasaanmu?" Bastian berlalu mendahului Max yang masih membungkuk mengusap kakinya.

"Bas. tunggu aku sialan!" Max berlari menyusul boss-nya.

Mereka memasuki mobil dan pergi dari kediaman itu, Bastian menancap pedal gasnya dengan kekuatan tinggi. "Apa rencanamu, sialan?" tanya Bastian, "Kau tahu aku tak pernah pergi berkencan selama ini, bagaimana bisa kau berkata aku memiliki kekasih pada Mommy? Kau membuatku semakin frustasi, Max!"

"Tenanglah bung. Kau hanya perlu mengenalkan seorang wanita pada mereka, 'kan. Aku sudah punya kandidat yang cocok denganmu, aku yakin orang tuamu pasti menyukainya."

"Siapa? jangan sampai kau mengacau Max, aku akan benar-benar menghabisimu!"

"Tunggu sampai kita sampai kantor, aku akan memberitahumu nanti."

Tanpa membalas ucapan sahabatnya, Bastian masih fokus menyetir menuju kembali kekantor. Ia berencana untuk tidak pulang malam ini, ia harus menetralkan pikirannya lagi.

Sesampaiya dikantor, Bastian lebih dulu meningalkan Max menuju ruangannya. Sejujurnya ia masih kesal dengan sahabatnya yang lancang itu. Bastian memasuki ruangannya tanpa menyambut sapaan sekretarisnya yang memberi salam, ia membanting pintunya cukup keras hingga membuat Gia terkejut.

Tak lama, Max menyusul memasuki ruangan Bastian. "C'mon, Bas. Kau masih marah padaku?" katanya, lalu berdecak, "Oke, maafkan aku karena tidak membicarakannya lebih dulu denganmu. Tapi aku benar-benar memiliki ide yang bagus untuk membantumu," lanjutnya.

Bastian menoleh pada sahabatnya yang tersenyum, Max berjalan mendekati Bastian dan merangkul bahunya, "Kau lihat, Gia? Itu adalah ideku," kata Max yang semakin membuat Bastian terkejut.

"Kau gila?"

"Kenapa? bukankah itu sempurna? Gia cantik, cekatan, pintar dan juga sepertinya gadis yang sangat menyayangi keluarganya, aku yakin Mommy akan menyukainya."

"Tetap saja, kenapa harus Gia?"

"Ayolah, kalian hanya akan berpura-pura menjadi pasangan selama satu malam, itu bukan hal yang buruk. Tapi tentu saja kau harus memberinya sesuatu yang setimpal karena pekerjaan tambahan, 'kan."

Bastian diam mencoba mencerna perkataan laki-laki itu, "Pikirkanlah, dude. Aku harus segera pergi, ada wanita yang sudah menungguku."

"Kau sudah mendapat pengganti Julia?"

"Tentu saja, dan kali ini dia jauh lebih hot dibandingkan Julia," kataya sembari keluar dari ruangan Bastian.

"Berhentilah menjadi murahan brengsek!"

Bastian tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu, bagaimana bisa ia mendapatkan pengganti wanita yang sudah membuatnya gila seharian dalam waktu sehari? Itu benar-benar diluar nalar Bastian. Pemuda itu kembali berkutat dengan pekerjaannya, mencoba mengalihkan pikirannya dari rencana Max dan juga acara yang akan diadakan ibunya itu.

Namun, tanpa sadar Bastian justru beberpa kali mencuri pandang kearah Gia yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ia mencoba menganalisis gadis itu, Bastian mengakui jika Gia cekatan dan bisa diandalkan, tetapi ia tak tahu lebih jauh dari itu.

Bastian meraih ponselnya dan menelpon seseorang. "Tolong cari tahu tentang seseorang, aku akan mengirim fotonya nanti. Beritahu hasilnya hari ini juga!" titahnya lalu memutus panggilan tersebut.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status