LOGIN“Say it,” Kael growled, his hand tightening around her throat—not enough to hurt, just enough to remind her who he was. “I’m yours,” Maya whispered, trembling. His lips hovered near hers, breath hot. “Even after I left you to die?” She swallowed. “Even now.” He kissed her like a curse—hungry, dangerous, and full of things he’d never say aloud. --- Maya never believed in fate—until the night her skin burned with the mark of the most feared Alpha in the realm. Weak, powerless, and exiled for a bond she never asked for, Maya finds herself hunted by the same man fate chose for her: Alpha Kael of Silverclaw. He claims she’s a mistake. A curse. But Maya is more than just a fragile girl. She’s the second chance of a woman long thought dead. Kael once loved Andrea, a powerful and noble wolf who descended into madness under a deadly curse. Her death shattered him. But when Maya bears the same mark and stirs the same soul-deep bond, Kael believes it’s the curse reborn—and rejects her violently to protect them all. Now on the run, Maya is saved by Rowan—Kael’s former Beta and best friend turned outcast. As truths unravel and passions ignite, Maya becomes the center of a dark prophecy that could destroy everything. But fate doesn’t care who you love. And true mates never stay strangers for long.
View MoreEllysia pulang dengan kondisi mabuk. Kaki sempoyongan berusaha berdiri tegak dan berjalan menuju mobil. Namun belum sampai pintu mobil itu terbuka. Ellysia terjatuh pingsan.
Seorang pria asing berhasil menangkapnya. Karena melihat kondisi Ellysia yang tak memungkinkan, ia pun berpikir untuk mengantarnya pulang.
Berbekal identitas di tas Ellysia. Pria asing itu mengetahui nama dan alamat yang bisa dituju.
Tiba di depan sebuah rumah mewah yang sangat besar. Pagar tinggi menyambut kedatangan Ellysia. Seorang tenaga keamanan mengintip dari bilik kecil yang tersedia khusus untuknya. Agar mampu mengetahui siapa yang datang.
Melihat mobil Ellysia yang sedang menunggu. Ia pun segera membukakan pintu pagar. Membiarkan mobil itu melaju sedikit kencang dan terparkir sempurna di belakang mobil lainnya yang terparkir di halaman.
"Kencang banget bawa mobilnya," ucap penjaga rumah tadi. Ia pun berjalan mendekat dan membukakan pintu mobil seperti yang sering ia lakukan pada majikan mudanya.
Seorang yang asing muncul dari balik pintu. Mengejutkan mata satpam rumah kediaman keluarga Prayogi.
"Anda siapa?" tanya satpam tersebut.
"Saya bawa majikan kalian. Lebih baik tunjukan, di mana pintu masuk rumahnya?" ucap pria asing tersebut.
Setelah penjaga itu menunjukkan pintu masuk kediaman keluarga Prayogi. Sementara penjaga lain melaporkan apa yang sedang terjadi pada Nona Ellysia. Ada seorang yang terlihat sangat dewasa turun dari tangga melingkar di dalam rumah kediaman Ellysia.
Sosok itu mengenakan setelan piama santai. Tapi tidak dengan langkah kakinya yang sangat tidak santai.
"Pak, Nona Ell sudah pulang," ucap seorang asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan Pak David ayo bi tak lain merupakan Papa dari Ellysia.
"Mana pria asing yang membawa putriku?" tanya David. Suaranya seketika menggema memenuhi ruang tamu yang sangat luas itu.
"Sedang menuju ke sini Pak!" jawab si asisten rumah tangga yang selalu berucap dengan menundukkan wajah.
David pun segera menuju sofa di ruang tamu. Diperhatikan pintu besar yang sudah terbuka. Ia menunggu kedatangan putrinya yang sudah sejak tadi dinanti sambil menahan emosi.
Emosi yang terpendam dan kembali tersulut karena ulah putri tunggalnya itu.
Pria asing itu mulai masuk ke pintu utama. Berjalan cepat sampai di sofa ruang tamu keluarga Prayogi. Diletakkan perlahan tubuh Ellysia di sofa.
"Tunggu!" ucap David mencegah pria asing tadi yang langsung berhenti melangkah.
David semakin mendekat ke tempat putrinya yang tak sadarkan diri. Diperhatikan tiap inci tubuh Ellysia. Kemudian ia melihat dengan dekat sosok yang membawa putrinya.
Pria asing itu terlihat berpendidikan dan dingin. Ada juga ketenangan yang terpancar dari matanya. Setelan jas dan sebuah jam tangan yang terlihat mahal sangat cocok melekat sempurna. Sepertinya dia bukan pria sembarangan. Meski begitu, David tidak akan melepaskan siapapun yang pernah menyentuh kulit putrinya. Termasuk pria di depannya.
"Sudah kamu apakan anak saya. Bagaimana bisa dia pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya David. Ia semakin mendekat ke arah putrinya yang sedang tak sadarkan diri.
"Saya tidak melakukan apapun. Saya tidak sengaja melihatnya akan mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Maka dari itu saya berusaha menolongnya. Ini kunci mobil putri Bapak. Saya, lebih baik pamit. Ini sudah malam," ucap pria asing itu dengan santai.
"Baik. Tapi, tolong sebutkan nama dan anak siapa kamu. Kalau kamu mau pergi dari sini dengan selamat. Sebab, jika nanti terjadi sesuatu sama anak saya. Saya tinggal cari kamu," jelas David tegas.
"Anda tidak perlu khawatir. Putri Bapak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, kalau Bapak berniat ingin tahu nama saya."
"Sudah sebutkan saja, siapa namamu! Aku tidak akan melepas kamu begitu saja."
"Nama saya, Alvan Raditya Anderson. Saya anak dari Tomi Pratama. Pemilik dari perusahaan Anderson yang ada di kota ini."
"Maksud kamu, Anderson Group?"
"Iya Pak. Kalau begitu, saya permisi," ucap pria yang mengaku bernama Alvan itu. Ia lalu pergi menuju pintu utama untuk keluar.
"Jadi, dia anak tunggal Tomi," pikir David mulai mencerna keadaan. "Kalian, cepat bawa Nona Ell ke kamarnya!" perintah David pada asisten rumah tangga yang sedang bersiap menunggu perintah.
**
Pagi cerah mulai menyapa bumi. Dingin embun sudah hilang sejak tadi. Matahari bersinar terang, sinarnya masuk melalui jendela kaca yang tirainya sudah dibuka.
"Aku masih mau tidur!" ucap Ellysia di atas tempat tidurnya. Ia menarik tubuhnya agar merasa rileks. Selimut kembali menutupi dirinya menghalangi cahaya menyilaukan matanya.
"Nona Ell, ayo cepat bangun. Ini sudah siang!" pinta Tita, asisten rumah tangga yang usianya hanya di atas Ellysia dua tahun. Wajahnya cantik, namun tinggi badannya cukup mungil.
"Aku masih mau tidur!" teriak Ellysia dari tempat tidur.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan sangat keras. Seorang pengawal yang sekaligus menjadi sopir pribadi David bernama Alan masuk tanpa permisi. Langkahnya diikuti David dari belakang.
"Selamat pagi Tuan David!" sapa Tita pada papa Ellysia. Tampak sekali wajah majikannya itu geram.
"Cepat bangun dan ikut Papa, Ell!" pinta David di tepi tempat tidur Ellysia.
Ellysia tak menjawab, ia bahkan tak peduli kehadiran sang Papa di kamar.
"Cepat bangunkan Ell, suruh dia siap-siap. Aku mau mengajaknya keluar pagi ini. Ada urusan penting yang harus segera dilakukan," terang David lagi.
"Baik Tuan!" jawab Tita sambil menundukkan wajah memberi hormat.
**
Mobil yang dikendarai David dengan sopirnya telah sampai di depan sebuah gedung. Kini mobil tersebut mulai mencari tempat untuk parkir.
"Pa, Papa mau ajak Ell ke mana sih?" tanya Ellysia yang masih belum tahu apa-apa.
"Ke restoran seafood dekat kantor Papa," jawab Pak David datar.
"Hah, ngapain? Aku kan udah sarapan, terus di sana ada apa, sama siapa? Papa jangan aneh-aneh deh!"
"Di sana ada dokter sama psikiater!"
"Ngapain ada dokter sama psikiater? Pa, mereka bukan buat Ell kan?" Ellysia makin cemas. Ia sedang mencerna apa rencana sang papa untuk dirinya.
"Ya buat kamu lah!"
"What, are you sure Pa?"
"I am sure honey."
**
Tiba di sebuah restoran, Ellysia dan Papanya menuju ke sebuah bagian restoran yang berada sedikit jauh dari keramaian.
"Papa!" panggil Ellysia, gadis itu berharap akan mendapatkan sedikit penjelasan.
"Hemb!" sahut Papanya tak peduli.
"Kita ngapain sih Pa, ke sini?"
"Papa cuma pingin tahu, apa pria yang semalam pulang sama kamu. Benar-benar nggak ngapa-ngapain kamu!"
"Maksudnya, ngapa-ngapain gimana?"
"Jangan-jangan kamu sudah ditiduri sama pria itu."
Ellysia mengingatnya. Ia semalam diantar seorang pria yang bahkan wajahnya pun sudah ia lupakan.
"Pa, ya nggak mungkin lha itu terjadi!" Ellysia menyangkal. Padahal tak ada satupun yang diingat selain dirinya hampir pingsan saat akan masuk ke dalam mobil.
"Kamu pulang dalam keadaan pingsan. Mana mungkin kamu tahu! Itu dia, mereka yang akan memastikan apa kamu masih gadis," ucap David sambil mengarahkan pandangannya ke sebuah meja yang sudah dihuni oleh dua orang.
"Papa, udah gila. Mending aku kabur!" batin Ellysia menyusun rencana.
The morning came slow.The sun peeked through the thick canopy above us, casting long stripes of light across the forest floor. I had barely slept, and what little rest I got felt thin, like I was only pretending to be unconscious. My body ached in strange places—from the mark, from the dream, from being dragged into something far bigger than I knew how to control.Rowan was already packing up camp when I sat up. He looked tired, too, but focused. Always focused.“You good to move?” he asked me without turning around.I nodded, then stopped and winced. “Yeah. Just sore. And the mark…”“It’s still there,” he said. “I can tell.”I touched the side of my neck gently. It wasn’t burning like before, but it pulsed faintly. Like Kael’s voice was sitting just behind my ear, whispering my name with every heartbeat.“I dreamed of him,” I said.Rowan paused. Then straightened up and looked at me.“He was reaching for me,” I continued. “Telling me I was slipping away. He looked… I don’t know. Lo
When I opened my eyes, it took me a moment to remember where I was.The ceiling above me wasn’t smooth stone or carved wood. It was open sky, still touched with the faint, silvery blue of early morning. The air smelled like pine needles and damp earth, and somewhere not far away, I could hear birds beginning to stir.I was wrapped in a blanket—warm, surprisingly clean—and lying on soft moss beside a small fire. The flames flickered quietly, casting light that danced along the surrounding trees. For a moment, I felt safe. Hidden.Then the ache in my neck reminded me.The mark.It still throbbed, but not like before. This pain was duller now, like a bruise pressed too hard, but I could still feel it—still feel him. Kael. His presence lingered in my chest like a whisper I couldn’t shut out.I groaned softly and tried to sit up. My arms were weak, but I managed.Rowan sat a few feet away with his back against a tree, watching me. He didn’t look surprised to see me awake.“How long was I
The hallways were darker than usual.Not because it was night. It was just that the mansion felt heavier, like the shadows had grown thicker on purpose, like they were trying to warn us not to do this.I moved slowly, one careful step after another. My heart was beating so loudly in my ears, I was almost sure one of the guards would hear it.Rowan walked ahead of me, his tall figure dressed in black, blending into the dim hallway like he belonged in the shadows. He looked back at me often, his eyes calm but alert. He had done this before—I could tell. He knew how to move without being seen.I, on the other hand, was a mess. My hands were sweating, my knees felt weak, and I kept feeling like we were going to get caught at any second.I clutched the bag in my hands tightly. It wasn’t much—just some food, a bottle of water, a change of clothes, and a little book I had been writing things in. Things I couldn’t afford to forget.Rowan raised a hand, motioning for me to stop. I froze behind
After Kael slammed the door, the room fell into a silence so deep it hurt.I didn’t move. I didn’t cry. I just sat there on the edge of the bed, staring at the door like maybe it would open again and he would walk back in. Apologize. Say he didn’t mean it. Say he wasn’t really angry with me, just with everything going on.But the door didn’t open.And the silence stayed.His words echoed in my head, again and again, louder every time.“You’re under me. I am your mate. Whatever I say is final.”I clenched my hands in my lap, trying not to let them shake. I didn’t know if I was more angry, confused, or just… hurt. Maybe all of them. Maybe none. I just felt full. Like my chest was stuffed with something I couldn’t swallow, and now it was choking me.I knew I had lost control. I knew I could’ve hurt them—did hurt them. That part was my fault. I hated that it was. I hated remembering the way Rowan had flown across the room. The sound of Kael’s voice when I tore into him.But what Kael sai
The room felt colder once the witches left, as if they’d taken some of the warmth with them when they shut the door behind themselves.We went back to my room.I sank onto the edge of the bed, fingers twitching nervously against the quilt. Their words—so heavy, so full of warning—echoed relentlessly
MAYA'S POV The first thing I felt was warmth.It wrapped around me like a blanket—not just the literal one tucked around my shoulders, but something deeper. Softer. Like the warmth of safety after a storm. I blinked against the gentle light filtering through the curtains and winced as a dull ache
The moment I woke up, I knew something had changed.My breath caught in my throat as I blinked at the soft morning light trickling through the curtains. A cool breeze fluttered the linen, carrying scents I hadn’t noticed before—the musky sweetness of old wood, the tang of metal, and a trail of herb
It had been nearly a week since that night—the night that changed everything and yet seemed to change nothing at all. Since then, Kael hasn't come to see me. Not once. Not even to check if I was still breathing.At first, I told myself I didn’t care. That I was relieved. That it was a good thing he






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.