Mag-log inStorme: He’s my husband’s son. Craving his touch was never part of the plan. I was supposed to be a dutiful bride to his father while trying to gain the love of my father. But he came in and drowned me with his insatiable sexual appetite. Now all I have about him are wild and sinful thoughts. Theo: She couldn’t be my father’s bride. I didn’t think I could stand it once I thought about another man touching her. No other person could touch her… except me. I think I may have been bewitched by her, but I wanted to be in that hex forever. Now all I can think about is possessing her body. ***************************************** When hypersexual Storme was sold to the alpha king of the Castillo Tribe by her father, she felt that she was doomed and that there was nothing else left for her. Not until she met the alpha King’s son, Theo. Forbidden sparks fly and they’re unable to ignore the fire burning in them. But not until the same fire threatens to burn down their very existence and peace.
view moreDu Shen, seorang anak muda berusia sepuluh tahun, terlahir di sebuah tempat yang disebut desa Yaocun, desa terpencil di bagian timur Benua Yin.
Desa yang dihuni oleh kebanyakan petani dan pengrajin, tempat yang begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar. Du Shen adalah anak yang penuh semangat dan cerdas, meskipun usianya masih muda. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya, Du Liong dan Mei Hua, di sebuah rumah kayu sederhana. Kehidupan mereka dipenuhi dengan rutinitas sehari-hari yang damai—berkebun, memelihara ternak, dan sesekali berburu di hutan untuk mencari bahan makanan. Suatu pagi yang cerah, Du Shen pergi ke hutan untuk mengambil kayu bakar atas perintah ibunya. Langkahnya ringan, disertai rasa bahagia karena hari itu cuaca begitu cerah nan indah. Pikirannya melayang, membayangkan sore nanti ia bisa duduk bersama orang tuanya di teras rumah sambil menikmati makanan ringan buatan ibunya dan menikmati secangkir teh hangat. Namun, kebahagiaan itu segera berubah menjadi mimpi buruk, situasi yang tak pernah Du Shen bayangkan seumur hidupnya. Saat Du Shen tiba di tepi hutan, suara angin mendadak terasa berbeda. Ada rasa gelisah yang merayapi dirinya. Ia menoleh ke arah desa Yaocun yang terlihat dari kejauhan. Di sana, ia melihat asap tebal membubung tinggi ke langit. Hatinya berdebar kencang. Ia segera menjatuhkan kayu bakar yang baru saja dipotong dan berlari secepat mungkin. Semakin dekat dengan desa, perasaan khawatir berubah menjadi ketakutan. Du Shen melihat sesuatu yang tak bisa ia percayai. Desa yang selama ini damai dan tenang, kini dilalap api. Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri kokoh, kini hancur menjadi abu. Asap hitam pekat menggelayuti langit, dan suara ledakan api terdengar menggema di telinganya. "Ayah! Ibu!" Du Shen berteriak sekuat tenaga. Ia berlari menuju rumahnya, namun hatinya sudah dipenuhi oleh firasat buruk. Sesampainya di rumah, ia mendapati rumahnya hanya tinggal puing-puing hitam gosong. Bara api masih berkobar di beberapa tempat, namun tak ada tanda kehidupan. Du Shen merosot ke tanah, tubuhnya lemas. Ia memanggil nama kedua orang tuanya lagi, namun tak ada jawaban. Ia berlari ke setiap sudut desa, mencoba mencari mereka, berharap bisa menemukan satu jejak yang menunjukkan bahwa mereka masih hidup. Namun, usahanya sia-sia. Desa itu kosong. Tidak ada siapapun. Air mata Du Shen mulai mengalir, namun ia mencoba menepisnya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa kedua orang tuanya masih selamat. 'Mungkin mereka sedang bersembunyi di suatu tempat,' batinnya. "Aku harus mencari lagi. Ayah, ibu, dimana kalian?" panggilnya dengan nada khawatir dan gelisah. Dengan langkah yang gemetaran, Du Shen berkeliaran di sekitar desa Yaocun yang dilalap api. Ia telah berjalan beberapa waktu, tapi tak satupun penduduk terlihat di matanya. Namun, kenyataan itu terlalu berat untuk diterima. Di tengah hancurnya desa dan kehancuran hatinya, Du Shen mendengar suara jeritan yang berasal dari hutan di belakang desa. Suara itu mengerikan, penuh dengan rasa sakit dan ketakutan. Du Shen bergegas menuju hutan, jantungnya berdegup kencang. Berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada orang tuanya dan penduduk desa. Dengan langkah ragu Du Shen tiba, ia mengintip dari balik pepohonan. Apa yang ia saksikan membuat seluruh tubuhnya membeku. Sekelompok bandit berkuda tengah bersenang-senang di sekitar tumpukan tubuh warga desa Yaocun yang tak berdaya. Tawa mereka terdengar mengerikan, semakin memekakkan telinga Du Shen. Suara jeritan memecah keheningan. Du Shen bisa mendengar dengan jelas, suara ayahnya, Du Liong, yang terdengar tercekik oleh penderitaan. "Ayah!" Du Shen berteriak—dalam hati. "Tidak, ini tidak mungkin!" Matanya yang besar terbeliak. Dalam kebisuan hutan, ia menyaksikan ayahnya dipukuli tanpa ampun oleh para bandit. Mereka tidak hanya menyiksanya, tetapi juga mempermainkan nyawanya dengan sangat kejam. Du Shen merasa tubuhnya gemetar hebat, seolah otot-ototnya tak mampu lagi menahan rasa sakit emosional yang mendera batinnya. "Tidak! Tidak!" Du Shen hampir berteriak, namun tubuhnya seolah tak bisa digerakkan, mulutnya seakan disumbat. Ia hanya bisa diam, mematung, menyaksikan sosok ayahnya yang tercinta diperlakukan seperti itu. Air mata mengalir deras, namun ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa... "Ugh!" rintih Du Liong, "t-tolong... ampuni kami." katanya lirih, rasa sakit yang luar biasa menyengat seluruh tubuhnya. "Hah? Orang ini cukup tahan pukul. Tapi, ini jadi semakin menyenangkan!" seru seorang bandit di hadapan Du Liong. Tangan bandit itu terkepal erat, dilapisi sebuah rantai besi yang membuat pukulannya semakin mengerikan. "Rasakan ini! Lagi! Lagi! Lagi!" serunya sambil melancarkan pukulan bertubi-tibi ke sekujur tubuh pria paruh baya itu. Jeritan keras memekik di dalam hutan, cukup menghibur bagi komplotan para bandit Kapak Merah. Dengan setiap jeritan ayahnya yang menggemuruh di telinga, tubuh Du Shen semakin lemah. Hatinya penuh dengan kebencian yang mendera. Tiba-tiba, tubuh ayahnya terjatuh, tak bernyawa lagi. Du Shen melihat dengan jelas, menyadari betapa kejamnya dunia ini, dan betapa lemahnya dirinya. Ia ingin berlari, berteriak, melawan para bandit itu. Namun, tubuhnya tetap tidak bisa bergerak. Seakan-akan, dunia ini menjadi sangat sempit, penuh dengan kegelapan yang menenggelamkan dirinya. 'Kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa?' ucapnya dalam hati, air matanya terus mengalir. 'Kenapa aku tidak bisa menyelamatkan mereka?' Dengan satu jeritan dalam hati, Du Shen berlutut di balik pohon, tubuhnya rapuh, tergeletak di tanah. Kebencian yang mendalam mulai tumbuh dalam dirinya. Ia tidak tahu bagaimana, tetapi ia berjanji dalam hati—suatu saat, ia akan membalas perbuatan para bandit itu. Dengan kekuatan yang lebih besar, ia akan membuat mereka merasakan penderitaan yang lebih buruk dari yang ia rasakan saat ini. "Aku akan membunuh kalian semua!" gumam Du Shen dengan penuh kebencian. "Aku akan membuat kalian merasakan apa yang aku rasakan. Aku akan membalas kalian seribu kali lebih menyakitkan!" Ketika kebencian itu merasuk ke dalam jiwanya, tubuh Du Shen akhirnya tidak bisa lagi menahan beban mental dan fisiknya. Ia jatuh pingsan di tempat, tubuhnya terkulai lemah, sementara dunia sekitarnya tetap dalam kesunyian yang menyakitkan. *** Beberapa waktu berlalu, Du Shen perlahan membuka matanya. Sensasi yang dirasakannya begitu asing. Ia berada di sebuah ruangan yang gelap dan kasar. Tak ada suara, hanya ketenangan yang menekan. Tiba-tiba, sosok tua muncul di sampingnya. Seorang pria berjenggot putih lebat dengan mata yang tampak penuh kebijaksanaan. Dia tersenyum lemah, namun ada sesuatu yang dalam dari tatapannya. "Bangunlah, nak. Kau tak bisa terus-terusan tidur," kata sosok tua itu dengan suara yang dalam namun penuh kasih. Du Shen menatap sosok itu dengan bingung. "Siapa... siapa kau?" tanyanya, suara seraknya nyaris tak terdengar. "Aku hanya kakek tua yang tak sengaja menemukan berlian di tumpukan kerikil," jawab sosok itu, senyum lemah lembut tetap terukir di wajahnya. Du Shen menatap sosok itu, dan dalam hatinya yang hancur, ia merasakan bahwa sosok tua itu tak berbahaya sedikitpun, walaupun ia merasa agak sedikit bingung dengan ucapannya. "Dimana... aku, kek?" tanya Du Shen setelah mencoba untuk duduk. Si kakek tua yang tampak lemah itu tersenyum lagi, wajahnya yang keriput menunjukkan belas kasih yang dalam. "Ini tempat tinggalku," balasnya. Tiba-tiba, Du Shen teringat akan kejadiian terakhir yang menyulut kebenciannya. Wajah Du Shen mengeras seketika, jauh dalam hatinya ia mengutuk dengan benci atas perlakukan para badit itu pada keluarganya. Sosok kakek tua yang duduk tak jauh darinya memperhatikan perubahan ekspresi Du Shen. "Siapa namamu, nak?" tanya sang kakek. Du Shen buru-buru menenangkan diri, lalu menoleh ke arah lelaki tua itu. "Saya Du... Du Shen, kek." ucapnya. "Aku mengerti perasaanmu, nak. Jangan biarkan kebencian menguasai dirimu, kau harus mengendalikannya sebaik mungkin... Karena jika itu terjadi, kau tak hanya akan kehilangan sesuatu yang berharga, tetapi juga segala hal yang kau miliki... termasuk hidupmu." ucap sang kakek menenangkan Du Shen. Anak muda itu sendiri merasa terkejut, ia tak pernah mengira jikalau kakek tua itu mengetahui perasaan yang tumbuh jauh di dalam lubuk hatinya. "T-tapi, kek. Apa yang harus kulakukan, mereka semua, para bandit itu telah merenggut nyawa orang tuaku! Aku jelas tidak bisa mengampuni mereka!" ujar Du Shen, terlihat jelas amarah di wajahnya. "Nak, tak ada yang melarangmu untuk balas dendam. Tapi, kau haru tahu, kebencian hanya akan menghambat jalanmu sendiri." ucapnya, "kalau kau mau, jadilah muridku. Aku melihat potensi besar dalam dirimu, dan sepertinya kita memang telah ditakdirkan bertemu." senyum sang kakek. Du Shen menatap dengan mata bulatnya, ia perlahan mengerti ucapan kakek tua itu dan perlahan melangkah bangun dari tempat tidur yang terbuat dari tumpukan jerami. "Mulai saat ini, aku, Du Shen. Akan menjadi muridmu, kek. Aku bersedia melakukan apapun asal aku bisa menjadi kuat dan membalaskan dendam itu." seru Du Shen sambil berlutut di atas tanah gua. "Ya, begitulah seharusnya, muridku." balas sang kakek dengan senyum hangat.~Storme~The servant’s words kept ringing in my ears. The king is dead.I didn’t even have time to breathe before I heard heavy footsteps rushing down the hall. The door slammed open, and four tribe elders stormed in. Their faces looked sharp with anger, their old eyes burning with judgment.One of them pointed straight at me, his voice like a whip.“Witch! The king dies, and she gives birth to twins at the same time? This is no accident. It’s obviously dark magic!”I didn’t move. My babies were curled against my chest, their small cries barely louder than the pounding in my head. I focused on their warmth and their tiny breaths.Grace stepped forward quickly, planting herself between me and the elders. Her voice shook, but she raised it anyway.“She just gave birth to the alpha king’s babies less than an hour ago! She’s bleeding and weak, and you come here shouting accusations? Shame on you!”Another elder sneered.“Shame? No. Trut
~Storme~{SIX MONTHS LATER}Six months had passed. Six months of silence, of planning, of indulging Karen and Marcellus. I had changed in those months. I was no longer the frightened girl who once wept in her room. I had buried that version of myself. What remained now was colder, sharper, unbending. My belly had grown heavy with life, but instead of slowing me, it strengthened me. Each day I looked in the mirror and reminded myself that this child was my purpose, my weapon, and my shield.As usual, the palace was never without rumors. Some said the alpha king was cursed, that his coughing fits and frail body were signs of a dark force. Others said it was me, that my blood carried rot and witchcraft, and that I drained him with every breath I took. I did not defend myself. Why should I? The fear in their eyes gave me more power than their approval ever could.Grace brushed the last strands of my hair, which I’d grown out to shoulder length, into place and braide
~Karen~That despicable wench!She’d grown wings so much that she even speaks to the king with such insolence. I looked from her to the king, wishing that he could put her in her place. For someone who barely escaped death for the millionth time, she had a lot of guts.“You both may leave now.” The alpha king finally said after what felt like a staring competition between him and Storme.“Does this mean you’ve forgiven me, Your Majesty?” my voice was squeaky, almost too perfect for a repentant sinner.“The queen looks suspicious enough, so I do not blame you for thinking that she had tried to harm me. you were only doing your duty and I commend you for that.”I smiled and turned to Storme. “Do you accept my apology, Your Highness?” Her face was stone blank as she replied. “Keep your half-hearted apology to yourself, Karen. I don’t need it.” She bowed stiffly to the alpha king, “I’ll take my leave now.”My fingers curved into my palm. She was really b
~Storme~“The king wants to get rid of me too?” I asked Grace, moving my body slightly to look at her.I’d always known that the king only got me for his vain desires, but hearing that he wanted to eliminate me too stung a little bit. If say I really was carrying his child, this was the thought that he’d have towards his child’s mother?“Yes, Your Highness. He didn’t say it outrightly, but he looked a little too pleased after you slumped that day. It was like he hoped that the tea was really poisoned, and that it killed you.”How could I be surprised?A murderer would always be a murderer. It’s a pity though that he’d say hello to our ancient ancestors even before I do.“Where’s the king now?”“I hear he’s in the throne room with Karen.” Grace replied.“Help me dress,” I said, pushing myself to the edge of the bed, “I think I have to show myself to the king so he knows that I’m fine now.”Grace moved quickly, helping me dress. Her hands worked fas
~Storme~The bloody handkerchief slipped from his fingers and landed on the carpet with a soft thud. For a heartbeat my mind went blank. All the careful planning, the measured doses, the months of acting the dutiful queen; this was what I had wanted, wasn’t it? Marcellus dying slowly, his pow
~Theo~“Congratulations, My Prince. Your mistress has finally played you just the way I always knew she would.”I slowly turned my head to see Karen sauntering into the training yard, a venomous smile playing on her face like she just won her enemies in a battle.I didn’t believe it a
~Storme~The moment Theo reminded me that I hated spicy food, I froze. It wasn't the words that startled me. it was the way he said them. Softly, like he was holding onto a truth he didn’t want to let go of. His eyes searched mine, concern bleeding through them.The truth was, I had no id
~Storme~The moment Geniee whispered to my ears what I had to do, I didn’t waste any more time. I knew this was either a do or die affair. Alpha King Marcellus would die before accepting that his son had gotten the trophy former virgin bride that he bragged about pregnant. There was no doubt






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Mga Ratings
RebyuMore