로그인Genta terbangun dari tidurnya selama perjalanan menuju ke luar kota, sebuah kota yang lumayan jauh hingga ia harus menggunakan pesawat untuk sampai disana. Ayu disampingnya juga baru saja membuka matanya, mereka harus terbang ke pulau berbeda untuk pertemuan proyek dengan kolega baru. Genta menginjakkan kaki di bandara, menuju hotel penginapannya. Genta teringat, seandainya Zeta masih bekerja mungkin saat ini gadis itu akan ikut untuk proyek perusahaan. Kelebihan Zeta dalam hal intelektual mengakibatkan dirinya terus terlibat dalam kegiatan diluar kantor, termasuk dengan Genta. Genta menyesal ia baru menyadari Ketika semesta terus menempatkan dirinya dan gadis itu dalam sekitar, sayangnya penyesalan selalu berada diakhir. Genta hanya bisa diam, memendam dan mencoba untuk melupakan. Memaksa, dirinya untuk selalu untuk menjalani kehidupannya. Sama seperti Zeta yang mungkin sekarang sudah tidak terbayang-bayang oleh keberadaan Genta. Nampaknya gadis itu benar-benar
Seorang lelaki tengah berteduh sejenak di sebuah emperan toko, apakah lelaki itu meneduh dari hujan? Tidak panas hari ini begitu terik. Tapi lelaki itu tengah memandang rumah di seberang jalan yang kini tertempel sebuah papan bertuliskan ‘dikontrakan’. Tandanya sang penghuni lama telah meninggalkan rumah tersebut. Genta menghisap putung rokok yang sejak tadi sudah ia hisap, sampai hampir habis. Genta tidak bosan, ia menatap kosong bagaikan seseorang yang sedang menikmati pemandangan padahal hanya sebuah rumah. Kenangannya yang paling dalam, biasanya disini ya tepat disini Genta biasanya menurunkan Zeta, dengan alasan perempuan itu tidak ada yang menjemputnya atau alasan lainnya yang terkadang membuat Genta muak dan terkadang Genta sengaja pulang lebih dulu agar Zeta tidak meminta bantuan kepadanya. Tiba-tiba, ada seseorang yang keluar dari toko yang Genta gunakan untuk berteduh. Genta menyipitkan matanya seperti familiar dengan wajah seorang gadis yang keluar dar
"Genta!” Ucap Ayu yang sejak tadi berdiri disamping Genta namun diabaikan oleh lelaki itu, terlalu sibuk melamun. “Ya?” Tanya Genta terhenyak dari pandangan kosongnya berganti menatap Ayu. “Nggak denger ya tadi ngajak ngobrol.” Ucap Ayu dengan wajah cemberutnya. Genta hanya tersenyum canggung ia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Ia terlalu terlena dengan bayangan Zeta yang terus menghantuinya tanpa ampun menyiksanya dengan caranya sendiri seolah tidak menerima dengan sepenuh hati apa yang sudah dilakukan Genta kepadanya. Ayu tampak tidak suka dengan Genta yang semenjak kepergian Zeta, terus melamun dan menghabiskan waktu sendiri untuk merenung, Ayu memandang sinis meja kerja yang dulunya Zeta tempati. Lagi pula kenapa tidak ada segera digantikan jutsru meja itu dibiarkan kosong. “Genta kangen Zeta ya?” Tanya Ayu dengan wajah sinisnya membuat Genta menatap Ayu dalam diam. “Lo mendingan cabut deh, Yu! Tidak ada urusan denga
Seorang lelaki yang tak kunjung pulang, ia sedang menatap meja kerjanya, ah bukan lebih tepatnya ia sedang menatap sebuah tulisan yang sedikit berdebu yang ia tempelkan sebagai note untuk ia baca setiap harinya, Tulisan seorang gadis yang dulunya satu ruangan dengannya, kini mejanya kosong belum juga mendapatkan pengganti. Hampa, benar-benar Genta rasakan. Ia tidak memungkiri perasaannya bahwa ia merindukan Zeta. Gadis yang kini entah ia tidak mengetahuinya beberapa kali ia coba menanyakan pada Salsa tapi sahabat Zeta itu tetap diam memilih tidak tahu menahu sesuatu yang ditanyakan Genta. Berpura-pura tidak memahaminya, Genta setengah gila yang dilakukannya sekarang hanya menatap layer ponselnya barang kali Zeta sudi mengirimkan pesan kepadanya seperti dulu lagi. Sayangnya, harapan tinggalah harapan. Di ponselnya tidak ada seseorang yang menghubunginya Genta membaca satu pesan pertamanya untuk Zeta, pesan pertama yang tidak meninggalkan kesan baik sama sekali.
enam bulan kemudian…. Arzeta tengah menunggu mamahnya pulang bekerja, ia menatap pemandangan pantai yang dapat ia lihat dari jendela kamarnya. Ia mengusap pelan perutnya yang membesar, sudah genap delapan bulan kandungannya. Sebentar lagi, dia akan melahirkan seorang anak yang ia jaga dengan sepenuh hati. Meski pada awalnya, ada niatan jahat. Zeta menatap langit yang tiba-tiba mendung, ini seharusnya sudah pergantian musim tapi terkadang semesta bertindak sesukanya. Ia melihat jam dinding menunggu sang mamah sudah pulang atau belum. Seharusnya sudah perjalanan. Zeta memandang sebuah foto, foto sahabatnya. Ira dan Salsa, tapi pikirannya merindukan seseorang, sampai detik ini Zeta masih berangan-angan untuk bertemu dengan Genta. Sayangnya tidak mungkin, ia terlanjur menghapus jejaknya yang tidak mungkin diketahui orang-orang termasuk Genta. Ia terlanjur melangkahkan kaki memilih pergi dari Genta, membawa sebuah kenangan dan juga darah daging Genta. Ia tidak lagi menuntut tanggung ja
Tiga sahabat, ah tidak hanya dua sahabat yang saling terhubung, bukan satunya hanya menjadi center. Dua dari mereka masih saling mengenal melalui nama, mulai berteman hari dimana mereka bertemu pertama kali melalui Zeta. Ira dan Salsa menatap Zeta sendu, melihat Zeta yang sejak tadi bolak balik kamar mandi karena merasa mual. Mila dengan telaten, memijat tengkuk Zeta agar rasa mual sedikit reda, merasa kasihan karena disaat Zeta mengandung janin dalam rahimnya, ia merasakan keluhan seorang hamil muda seperti kebanyakan orang. Ditambah, Zeta sampai di masa yang akan datang ia mengandung dan membesarkan buah hatinya tanpa didampingi lelaki, pasangannya. Mila benar-benar merasa bercermin dengan pada situasi yang dialami anak semata wayangnya, Zeta. Mila hanya bisa meratapi sebisa mungkin memberikan perlindungan dan rengkuhan hangat untuk Zeta tetap berjalan menempuh masa depan. Mila sangat yakin, jika saja dirinya tidak memergoki obat keras yang dimiliki Zeta. Mungkin saat ini Zeta sud
“Ira!” Panggil Zeta dengan suara yang sedikit bervolume dibandingkan sebelumnya. Membuat sag pemilik nama Ira menghentikan motornya yang baru saja ia akan menancap gas.“Ini, lupa kan?” Tanya Zeta menyodorkan sebuah kotak bekal yang rupanya berisikan bolu yang ditawarkan.“Oh iya lupa Ta!” Ucap Ira







