Masuk"Kamu harus ingat, setiap kali kamu terlambat, kita harus lakukan hal ini sebagai hukuman buat kamu!" "Ba—baik, Pak." "Sekarang, lepas Rok kamu!" "I—iya, Pak." "Duduk di atas meja, dan buka kakimu! Mulai sekarang, aku mau kamu datang tepat waktu, atau bahkan lebih awal. Kamu gak bisa berharap kami bersikap baik kalau kamu sendiri gak bisa mengendalikan jadwalmu, mengerti?" *** Dari lima puluh surat lamaran kerja hingga empat kali wawancara yang gagal, ini adalah kesempatan terakhir Yessica untuk bertahan hidup di kerasnya Kota Jakarta sebelum uang simpanannya benar-benar habis. Jika kali ini kembali gagal, ia harus mengubur semua impiannya dan pulang ke kampung halaman. Namun, wawancara terakhir itu jauh dari kata biasa. Alih-alih menghadapi satu pewawancara, Yessica justru berhadapan dengan empat pria yang luar biasa tampan, berkuasa, dan penuh misteri. Stefan, sang CEO dingin dan dominan. Giancha, pria tenang dengan aura penuh wibawa. Kairo, sosok memikat dengan tatapan tajam yang sulit ditebak. Dan Andree, pria hangat yang selalu berhasil membuatnya gugup. Mereka menawarkan gaji fantastis, apartemen mewah, serta berbagai fasilitas eksklusif dengan satu syarat, Yessica harus bekerja sekaligus tinggal bersama mereka. Semakin lama berada di dekat keempat pria itu, semakin sulit bagi Yessica membedakan antara perhatian profesional dan godaan yang berbahaya. Di balik kontrak kerja yang tampak sempurna itu, tersimpan aturan-aturan aneh, rahasia yang sengaja disembunyikan, serta sebuah perjanjian yang dapat mengubah seluruh hidupnya. Mampukah Yessica tetap menjaga batas profesionalnya di tengah godaan empat pria yang selalu membuat jantungnya berdebar? Atau justru ia akan terjerat dalam permainan mereka dan menghadapi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya?
Lihat lebih banyakRahim Yessica kembali berdenyut. Yessica menginginkan mereka semua."Kita sebaiknya pergi ke ruang permainan?"Kairo mendekat ke sisi Yessica dan tangannya menyusuri tubuh Yessica. Kehangatan jemarinya menyentuh kulit, mengirimkan gelombang sensasi ke seluruh tubuh Yessica. Dia ingin mendekat pada sentuhan itu dan merasakan jemari Kairo di kulitnya.Tangan Andree di tengah punggung Yessica menekan tubuhnya ke meja dapur. Marmer dingin menjadi kontras tajam dengan kulitnya yang panas. Yessica mendesis ketika putingnya menyentuh permukaan dingin itu."Giancha, keberatan? Aku perlu membersihkan diri.""Tentu."Tangan Giancha bertumpu di punggung Yessica di samping tangan Andree. Suara ritsleting terdengar di tengah keheningan ketika Giancha mengambil posisi di belakang Yessica.Perut Yessica terasa bergejolak. Sentuhan singkat kepala rudal Giancha di pintu masuk rahimnya menjadi satu-satunya peringatan sebelum dia
Andree menggerakkan jarinya masuk dan keluar dari tubuh Yessica dengan ritme lambat dan stabil yang sengaja dibuat untuk membuatnya gila. Napas Andree mengacak rambut di dekat telinga Yessica, mengirimkan sensasi merinding ke sepanjang tulang belakangnya. Ibu jarinya mengusap kacang nikmat Yessica, meningkatkan gairah di setiap sentuhannya.Yessica melakukan apa yang Andree perintahkan dan meletakkan tangan satunya di meja di hadapannya."Anak manis."Gelombang euforia menerjang tubuh Yessica. Dia sudah sangat dekat. Mengetahui Andree sedang membawanya menuju klimaks sementara pria-pria lain tidak menyadari apa yang terjadi membuat semuanya terasa semakin menggairahkan.Pelepasan Yessica pun menerjang. Dia menggigit bibir agar tidak berteriak sambil melengkungkan tubuh ke belakang, menempel pada Andree.Rahimnya berdenyut di sekeliling jari-jari Andree saat pria itu membawanya melewati puncak kenikmatan sebelum menarik jarinya keluar.
Yessica bersandar di meja dapur yang berseberangan dengan mesin pencuci piring sementara Andree memasukkan piring-piring itu."Sekitar satu jam lagi, mungkin." Andree menatap Yessica dengan tatapan penuh arti. "Kamu mau melakukan sesuatu?"Yessica tersenyum kepadanya. "Ya. Tapi mungkin aku ganti baju dulu."Andree menutup mesin pencuci piring dan mencuci tangannya sebelum menghampiri Yessica lalu menjepit tubuhnya di antara dirinya dan meja dapur.Sensasi geli menyebar di tubuh Yessica karena Andree begitu dekat. Yessica menghirup aroma tubuh Andree dan ingin menyerahkan diri kepadanya. Yessica bertelanjang kaki, sementara Andree menjulang di atasnya. Rambut pirangnya yang berantakan jatuh ke mata gelapnya.Yessica tidak mampu menahan diri. Dia mengusap rambut Andree lalu mencengkeramnya agar bisa melihat mata pria itu."Kita bermain malam ini?""Ya, Kucing Kecil. Kita akan bermain. Mau aku membantumu bersiap?"
"Tadi aku bicara dengan Marry."Yessica menunjuk ponselnya. Pipinya kembali memanas, dan tubuhnya terasa lemas saat mengingat bagaimana Kairo berada begitu dalam di mulut dan rahimnya beberapa jam lalu. Pantry seolah menjadi tempat mereka setiap kali berduaan, jadi Yessica sudah menunggu dengan antusias, apa yang akan dilakukan Kairo selanjutnya.Kairo mengangguk lalu melirik ke belakang sebelum berjalan mendekati meja dan menarik kursi di sebelah Yessica. "Kamu nggak perlu memastikan apa pun dengan kami." Kairo meraih tangan Yessica dan menggenggamnya. Mata birunya menarik perhatian Yessica, seperti langit indah yang sulit untuk tidak dikagumi. "Kamu boleh bertemu temanmu kapan saja.""Masalahnya, ini agak aneh. Aku nggak tahu apa yang boleh kuceritakan dan apa yang harus kusimpan."Yessica mengangkat bahu lalu menundukkan pandangan ke tangan mereka."Aku mengambil sesuatu untukmu ketika tadi sore aku menyimpan b
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan