LOGIN“Udah berapa kali kamu bercinta pagi ini?” “Tiga kali sama Andree. Dua kali sama Giancha,” jawab Yessica tergagap. “Dan kemarin kamu juga ngelakuin hal yang sama bareng kita semua,” imbuhnya. Yesica bersandar sepenuhnya ke tubuh Kairo, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Masih mau lagi nggak?” bisik lelaki itu sambil mengecup ujung telinga Yessica, lalu turun menyusuri tengkuknya. “Mauuu!” *** Menjadi Asisten CEO dengan gaji besar tidak selalu menyenangkan. Selain menangani bidang administratif, Yessica harus melayani empat Boss tampan sekaligus, baik secara profesional maupun pribadi. Awalnya Yessica menerima tawaran kontrak aneh itu karena ia pikir ini adalah langkah awal untuk mengembangkan karirnya di dunia profesional. Namun semua itu salah besar, setelah ia menyadari bahwa Stefan, Giancha, Kairo, dan Andree ternyata sedang merekrut seseorang yang harus selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan hasrat Binatang mereka. Bisakah Yessica tetap berpikir jernih dan bekerja secara profesional dalam situasi seperti itu? Atau ia akan menerima sepenuhnya perannya dan menjalani hidup sebagai peliharaan milik Ke-4 Bos Posesif?
View More“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?”
Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh kulit halus tersebut, Yesica langsung mengembuskan napas panjang yang terdengar lega. Seluruh aset Yesica terbuka lebar di hadapannya, sama seperti hidangan yang siap disantap. Kairo ingin mencicipi setiap bagiannya sampai merasa puas. Kairo segera menggerakkan lidah menyusuri setiap lekukan kulit itu. Ia berhenti sejenak tepat di bagian yang paling peka. Sebuah kacang merah sudah mencuat panjang di sana. Suara rintihan pun terdengar dari mulut Yesica. Mendengar itu, senyum di bibir Kairo semakin melebar. Ia memusatkan seluruh perhatiannya di bagian itu. Kairo mengisap bagian tersebut dengan kuat dan berulang kali. “Ahhhh .... Ehhhhmmm Kairo… ohhhh!” Suara seruan itu memecah keheningan ruangan rapat. Kemungkinan besar Bos-Bos yang lain belum bergerak menuju ruangan ini. Namun mereka pasti akan tiba di sini dalam waktu singkat. Kairo sebenarnya ingin membuat Yesica mencapai klimaks setidaknya satu kali sebelum kedatangan mereka. Namun ia memutuskan untuk melakukan semuanya secara perlahan dan nikmat. Yesica makin mendekatkan asetnya ke mulut Kairo sambil merintih meminta lebih. Napasnya makin cepat dan suaranya pun makin melolong. Akhirnya terdengar erangan panjang dari mulut gadis itu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat ia mencapai klimaks. Cairan yang menyembur dari tubuhnya pun membasahi mulut Kairo. Tubuh Yesica menjadi lemas seketika lalu jatuh menempel pada permukaan meja. Sementara itu, Kairo kembali bersandar santai di kursinya. Ia menyeka sudut mulutnya menggunakan ujung lengan kemeja, lalu lalu tersenyum lebar saat melihat Stefan, Giancha, dan Andree yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Mereka telah melihat seluruh kejadian tersebut sejak awal. “Udah siap buat mulai meeting kita?” pekik Stefan, sang Ceo Malaka Teknologi. *** (SATU MINGGU SEBELUMNYA) "Ehmm ... permisi, Bu. Aku Yesica Melati ... datang untuk interview di Malaka Technology Group." Yesica berhasil mengucapkan kalimat itu dengan tenang, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ini wawancara kerja keempatnya sejak ia lulus kuliah, setelah mengirimkan lima puluh surat lamaran. Jika kali ini gagal juga, dia harus pulang ke kampung halaman membantu orang tuanya di kebun dan mengubur mimpinya untuk sukses di Jakarta. Wanita resepsionis itu melirik sekilas sebelum menekan tombol interkom dan menempelkannya ke telinganya. "Ada Yesica Melati di sini, Pak." Dia diam sejenak, lalu matanya kembali menatap Yesica. "Ohh ... Baik." "Astaga, apa ada yang salah dengan baju ini?" gumam Yesica buru-buru mengecek kancing blus putihnya dan memastikan rok pensilnya tidak bergeser. Benar saja, salah satu kancing terasa agak ketat di bagian dada, tapi mau bagaimana lagi? Cuma itu ukuran terbaik yang ada. Dia belum punya uang untuk membeli baju baru atau menjahitnya. Untuk saat ini, dia bersyukur masih bisa membeli tiket kereta untuk bulan depan. "Silakan naik sekarang." Wanita itu menyodorkan kartu akses dengan senyum tipis. "Pakai lift di belakang, ya. Kartu ini untuk ke lantai paling atas. Jangan lupa dikembalikan saat keluar." "Makasih." Yesica mengambil kartu dan berjalan menuju lift. Di sana banyak orang berlalu lalang, tapi lift yang ditunjuknya kosong melompong. Dia pun menarik napas panjang sebelum menekan tombol itu. Matanya mengamati lobi yang ramai. Sebuah harapan besar mulai membuncah. "Semangat ... Aku harus bisa jadi salah satu dari mereka. Kerja, lalu nongkrong bareng sama teman-teman baru, setelah pulang kantor," batinnya. Tentu saja dia harus cari teman dulu, tapi di perusahaan sebesar ini pasti banyak cewek seusianya yang mau berteman. Pintu lift terbuka. Inilah saatnya. Yesica menggesek kartunya, dan lift mulai bergerak naik. " Pengalamannya memang minim, tapi justru itu alasannya dia butuh pekerjaan ini. "Ya Tuhan, semoga saja diterima." Dari semua lowongan yang dia lamar, ini yang paling dia inginkan. Malaka Technology Group adalah perusahaan keamanan siber ternama. Posisi asisten eksekutif ini bukan cuma soal administrasi, tapi bisa jadi batu loncatan untuk kariernya ke depannya. Ting! Lift sampai di tujuan. Saat pintu terbuka, Yesica hampir tak kuasa menahan kekagumannya. Lantai ini sangat mewah, modern, dan terlihat sangat berkelas. Langkah kakinya terdengar nyaring di lantai. Di tengah ruangan ada meja resepsionis kecil yang mengelilingi beberapa ruang kerja dan satu ruang rapat besar. Jendelanya yang luas menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di sekitar SCBD. "Nona Melati." Suara berat itu terdengar jelas, membuat Yesica refleks berbalik. Pandangannya, pertama kali jatuh ke dada bidang yang tersampir rapi dalam setelan jas mahal itu. Pelan-pelan dia mendongak, melihat dagu yang tercukur rapi, bibir tebal yang tersenyum ramah, hidung mancung, hingga sepasang mata biru bening yang sangat memikat. Rambut hitamnya diikat rapi. Pria ini sungguh tampan luar biasa. Wajah Yesica pun langsung memanas. "Gawat, kalau bosnya sekeren ini, bisa kacau kerjaanku nanti. Bisa-bisa kertas yang aku pegang belepotan karena ngiler, dan aku bakal terus natap dia kayak orang kelaparan!" batinnya. Pria itu mengulurkan tangan. Yesica buru-buru menenangkan diri. "Tenang ... Aku butuh kerjaan ini." Saat tangan mereka bersentuhan, ada aliran aneh yang terasa. Alis pria itu terangkat, dan senyumnya makin lebar. "Aku Kairo Raveen, Direktur Teknologi." "Senang bertemu." Jantung Yesica berpacu cepat. Dia buru-buru melepaskan jabatannya, takut kalau kelamaan ia bisa melantur yang tidak-tidak. Kairo menunjuk ke arah ruang rapat. "Ayo ikut aku!" "Ayo dong, ke mana aja deh asal sama kamu," jawab Yesica dalam hatinya. Untung saja Kairo langsung berbalik, memberinya waktu sebentar untuk mengatur napas sebelum mengikutinya. Saat Kairo menarikkan kursi untuknya, Yesica duduk dengan hati-hati. Ada senyum kecil yang terlihat mengembang di bibir Kairo saat dia berjalan mengelilingi meja dan duduk di hadapannya. "Maaf ya, yang lain sebentar lagi datang. Mereka lagi rapat." Kairo menyatukan kedua tangannya di atas meja. Yesica sadar pikirannya mulai melantur membayangkan tangan-tangan itu menyentuh tubuhnya sendiri. Ini wawancara kerja, dan kualifikasinya pun sebenarnya pas-pasan. Tapi untungnya saat wawancara di telepon dengan Giancha Prajiwaksono, dia terlihat cukup menjanjikan meski minim pengalaman. Yesica sudah berjanji kalau dia akan berusaha untuk cepat beradaptasi dan tidak akan mengecewakan. Secara teknis ijazahnya lengkap, tapi pengalaman kerjanya belum seberapa dibanding ekspektasi mereka. Ini adalah langkah besar, mimpi besar, dan kalau diterima, masa depannya pasti cerah. Kairo tersenyum santai. "Ceritain sedikit tentang diri kamu dong sambil nunggu. Ehemmm ... Nggak bakal lama kok." Yesica menyilangkan kaki dan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Aku lulusan magister manajemen dengan nilai terbaik dari Universitas Negeri Malang. Selama liburan, aku sering magang di beberapa perusahaan di Jakarta." Kairo mengangkat tangan, memotong pelan. "Terus kenapa nggak kerja di tempat kamu magang dulu?" Pertanyaan klasik yang selalu muncul. Bahkan sampai saat ini Yesica belum menemukan jawaban yang pas. "Visi mereka berbeda dengan apa yang aku mau. Aku nggak mau cuma lakuin hal kecil dan duduk di depan komputer delapan sampai sepuluh jam sehari. Aku butuh tantangan lebih dari sekadar bikin laporan dan menyeduh kopi. Tapi ... aku juga jago bikin kopi lho." "Oke, noted. Aku bisa jadi monster kalau belum minum kopi pagi-pagi." Kairo bersandar santai, lalu matanya menyapu seluruh tubuh Yesica dari atas ke bawah. Yesica merasakan bulu kuduknya merinding. "Maaf kami terlambat." Suara itu terdengar familiar. Yesica langsung mengenalinya sebagai suara Giancha Prajiwaksono yang dia dengar lewat telepon. Suara yang merdu. Yesica berdiri menyambut. Lututnya rasanya lemas sekali. Di depannya sekarang berdiri tiga pria yang tampak baru keluar dari majalah Playboy. Semua tinggi, ganteng, dan berwibawa sama seperti Kairo. Jantung Yesica pun berdegup kencang bukan main. "Stefan Wongso, CEO." Pria berambut pirang rapi dengan mata biru tua yang tajam melangkah maju dan mengulurkan tangan. Yesica berusaha keras agar tidak terlihat kepanasan atau malah pingsan, lalu menjabat tangan pria itu dengan percaya diri. Sentuhan tangan besar yang kuat itu membuat gairah menjalar ke seluruh tubuhnya."Aku senang kamu baik-baik aja. Mau kue cokelat? Aku punya satu. Baru beli di toko tadi." Maoo menunjuk ke arah apartemennya sambil melangkah.Dada Yessica sedikit lega. Ia tidak merasa Maoo adalah pelakunya. Memang, Maoo punya kesempatan. Tapi bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan video yang ada di apartemennya?Maoo hanya pernah masuk sekali dan selama itu tidak pernah lepas dari pengawasannya.Giancha melangkah maju seolah ingin menghentikan Maoo berbicara, tetapi Yessica meletakkan telapak tangannya di tengah punggung Giancha. Bagaimanapun juga, Maoo selalu bersikap baik kepadanya, meski terkadang membuatnya tidak nyaman."Nggak malam ini." Yessica tersenyum lelah. "Hari ini panjang banget. Aku cuma pingin pulang."Tubuh Giancha sedikit menegang di bawah sentuhan tangannya."Oh, ya sudah." Wajah kecewa Maoo kembali berubah ceria. "Kalau kamu butuh tempat tinggal, apartemenku masih ada ruang. Aku pernah bilang, kan? Di sana a
Yessica ingin menginjak benda itu sampai hancur berkeping-keping. Namun, perangkat itu mungkin masih bisa memberikan petunjuk. Keinginannya mengetahui kebenaran jauh lebih besar daripada dorongan untuk menghancurkannya."Bisa jadi pemberani buat aku? Bisa lakukan sesuatu buat aku?"Giancha mengangkat dagunya, dan Yessica kembali tenggelam dalam tatapan mata hijau pria itu. Giancha memperlakukannya dengan sangat hati-hati, sesuatu yang memang ia butuhkan saat ini. Pria itu juga yang menariknya keluar dari mimpi buruknya.Kalau Giancha memintanya untuk berani, ia akan melakukannya. Yessica mengangguk. Giancha menempelkan dahinya ke dahi Yessica."Berdiri di posisi yang sama seperti di video, di dalam shower. Aku mau cari sudut kameranya."Tubuh Yessica menegang sesaat, tetapi ia tetap melangkah masuk ke area shower."Masih ada alat lain di sini?""Ada yang sedang aktif mengirim sinyal sekarang."Itu bukan jaw
Giancha mengusap pelan bagian yang baru saja ditampar, sementara Yessica mencengkeram erat celana Giancha."Kamu harus tetap sadar, Harimau Betina. Fokus pada apa yang ada di sekitarmu. Jangan biarin dirimu tenggelam lagi dalam pikiranmu sendiri."Tangan Giancha pun perlahan bergerak mendekati sela pahanya, membuat tubuh Yessica kembali menegang sedikit.Giancha kembali menamparnya tiga kali dengan pelan."Aku di sini," jawab Yessica dengan nada sedikit menantang saat Giancha kembali mengusap bokongnya.Giancha pun terkekeh pelan mendengar nada suaranya yang mulai berubah."Apa yang paling memberatkan pikiranmu saat ini?"Tangannya menyusuri bagian dalam paha Yessica, lalu berhenti sesaat sebelum menyentuh area paling sensitifnya. Yessica mengembuskan napas panjang dengan berat."Mereka memasang kamera di kamar mandiku. Di kamar mandiku sendiri, Giancha. Mereka melihat semuanya. Saat aku ganti pembalut, buang ai
"Hubungan ini bakal jadi seperti apa pun yang kita sepakati." Andree mengangkat bahu. "Kalau kami memutuskan lanjut, komunikasi tetap terbuka. Kita ngobrol kalau ada masalah. Kalau suatu saat kamu mau pergi, kamu bebas pergi. Kalau kami merasa ini nggak berjalan baik, kita akhiri saja. Tanpa ada yang sakit hati.""Gimana, Wilona?" Kairo menggenggam tangan Wilona lalu menatap langsung ke matanya. "Mau ikut wawancara untuk posisi itu?"Wilona membasahi bibirnya, lalu memandang mereka satu per satu. "Persetan. Ya, aku mau."(Flash Back Close)Hari ini benar-benar kacau. Baru hari Kamis, tapi Giancha sudah muak setengah mati dengan minggu ini. Mulai dari menemukan hal menjijikkan itu di ponsel Yessica sampai berurusan dengan polisi, dia sama sekali tak bisa fokus. Orang yang mengirim semua itu bahkan menambah satu foto telanjang Yessica, saat ia mengunduh seluruh isi ponselnya. Siapa pun dia, orang itu jelas gila dan haru
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.