TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM

TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM

last updateآخر تحديث : 2026-08-23
بواسطة:  DityaRتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 تصنيف. 1 review
151فصول
8.6Kوجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

"Kamu harus ingat, setiap kali kamu terlambat, kita harus lakukan hal ini sebagai hukuman buat kamu!" "Ba—baik, Pak." "Sekarang, lepas Rok kamu!" "I—iya, Pak." "Duduk di atas meja, dan buka kakimu! Mulai sekarang, aku mau kamu datang tepat waktu, atau bahkan lebih awal. Kamu gak bisa berharap kami bersikap baik kalau kamu sendiri gak bisa mengendalikan jadwalmu, mengerti?" *** Dari lima puluh surat lamaran kerja hingga empat kali wawancara yang gagal, ini adalah kesempatan terakhir Yessica untuk bertahan hidup di kerasnya Kota Jakarta sebelum uang simpanannya benar-benar habis. Jika kali ini kembali gagal, ia harus mengubur semua impiannya dan pulang ke kampung halaman. Namun, wawancara terakhir itu jauh dari kata biasa. Alih-alih menghadapi satu pewawancara, Yessica justru berhadapan dengan empat pria yang luar biasa tampan, berkuasa, dan penuh misteri. Stefan, sang CEO dingin dan dominan. Giancha, pria tenang dengan aura penuh wibawa. Kairo, sosok memikat dengan tatapan tajam yang sulit ditebak. Dan Andree, pria hangat yang selalu berhasil membuatnya gugup. Mereka menawarkan gaji fantastis, apartemen mewah, serta berbagai fasilitas eksklusif dengan satu syarat, Yessica harus bekerja sekaligus tinggal bersama mereka. Semakin lama berada di dekat keempat pria itu, semakin sulit bagi Yessica membedakan antara perhatian profesional dan godaan yang berbahaya. Di balik kontrak kerja yang tampak sempurna itu, tersimpan aturan-aturan aneh, rahasia yang sengaja disembunyikan, serta sebuah perjanjian yang dapat mengubah seluruh hidupnya. Mampukah Yessica tetap menjaga batas profesionalnya di tengah godaan empat pria yang selalu membuat jantungnya berdebar? Atau justru ia akan terjerat dalam permainan mereka dan menghadapi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya?

عرض المزيد

الفصل الأول

Wawancara Kerja

“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?”

Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.”

Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh kulit halus tersebut, Yesica langsung mengembuskan napas panjang yang terdengar lega. Seluruh aset Yesica terbuka lebar di hadapannya, sama seperti hidangan yang siap disantap. Kairo ingin mencicipi setiap bagiannya sampai merasa puas.

Kairo segera menggerakkan lidah menyusuri setiap lekukan kulit itu. Ia berhenti sejenak tepat di bagian yang paling peka. Sebuah kacang merah sudah mencuat panjang di sana. Suara rintihan pun terdengar dari mulut Yesica. Mendengar itu, senyum di bibir Kairo semakin melebar. Ia memusatkan seluruh perhatiannya di bagian itu. Kairo mengisap bagian tersebut dengan kuat dan berulang kali.

“Ahhhh .... Ehhhhmmm Kairo… ohhhh!”

Suara seruan itu memecah keheningan ruangan rapat. Kemungkinan besar Bos-Bos yang lain belum bergerak menuju ruangan ini. Namun mereka pasti akan tiba di sini dalam waktu singkat.

Kairo sebenarnya ingin membuat Yesica mencapai klimaks setidaknya satu kali sebelum kedatangan mereka. Namun ia memutuskan untuk melakukan semuanya secara perlahan dan nikmat.

Yesica makin mendekatkan asetnya ke mulut Kairo sambil merintih meminta lebih. Napasnya makin cepat dan suaranya pun makin melolong. Akhirnya terdengar erangan panjang dari mulut gadis itu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat ia mencapai klimaks. Cairan yang menyembur dari tubuhnya pun membasahi mulut Kairo.

Tubuh Yesica menjadi lemas seketika lalu jatuh menempel pada permukaan meja. Sementara itu, Kairo kembali bersandar santai di kursinya. Ia menyeka sudut mulutnya menggunakan ujung lengan kemeja, lalu lalu tersenyum lebar saat melihat Stefan, Giancha, dan Andree yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Mereka telah melihat seluruh kejadian tersebut sejak awal.

“Udah siap buat mulai meeting kita?” pekik Stefan, sang Ceo Malaka Teknologi.

***

(SATU MINGGU SEBELUMNYA)

"Ehmm ... permisi, Bu. Aku Yesica Melati ... datang untuk interview di Malaka Technology Group."

Yesica berhasil mengucapkan kalimat itu dengan tenang, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ini wawancara kerja keempatnya sejak ia lulus kuliah, setelah mengirimkan lima puluh surat lamaran. Jika kali ini gagal juga, dia harus pulang ke kampung halaman membantu orang tuanya di kebun dan mengubur mimpinya untuk sukses di Jakarta.

Wanita resepsionis itu melirik sekilas sebelum menekan tombol interkom dan menempelkannya ke telinganya. "Ada Yesica Melati di sini, Pak." Dia diam sejenak, lalu matanya kembali menatap Yesica. "Ohh ... Baik."

"Astaga, apa ada yang salah dengan baju ini?" gumam Yesica buru-buru mengecek kancing blus putihnya dan memastikan rok pensilnya tidak bergeser.

Benar saja, salah satu kancing terasa agak ketat di bagian dada, tapi mau bagaimana lagi?

Cuma itu ukuran terbaik yang ada. Dia belum punya uang untuk membeli baju baru atau menjahitnya. Untuk saat ini, dia bersyukur masih bisa membeli tiket kereta untuk bulan depan.

"Silakan naik sekarang." Wanita itu menyodorkan kartu akses dengan senyum tipis. "Pakai lift di belakang, ya. Kartu ini untuk ke lantai paling atas. Jangan lupa dikembalikan saat keluar."

"Makasih."

Yesica mengambil kartu dan berjalan menuju lift. Di sana banyak orang berlalu lalang, tapi lift yang ditunjuknya kosong melompong. Dia pun menarik napas panjang sebelum menekan tombol itu.

Matanya mengamati lobi yang ramai. Sebuah harapan besar mulai membuncah. "Semangat ... Aku harus bisa jadi salah satu dari mereka. Kerja, lalu nongkrong bareng sama teman-teman baru, setelah pulang kantor," batinnya.

Tentu saja dia harus cari teman dulu, tapi di perusahaan sebesar ini pasti banyak cewek seusianya yang mau berteman.

Pintu lift terbuka.

Inilah saatnya.

Yesica menggesek kartunya, dan lift mulai bergerak naik. "

Pengalamannya memang minim, tapi justru itu alasannya dia butuh pekerjaan ini.

"Ya Tuhan, semoga saja diterima."

Dari semua lowongan yang dia lamar, ini yang paling dia inginkan. Malaka Technology Group adalah perusahaan keamanan siber ternama. Posisi asisten eksekutif ini bukan cuma soal administrasi, tapi bisa jadi batu loncatan untuk kariernya ke depannya.

Ting!

Lift sampai di tujuan. Saat pintu terbuka, Yesica hampir tak kuasa menahan kekagumannya. Lantai ini sangat mewah, modern, dan terlihat sangat berkelas.

Langkah kakinya terdengar nyaring di lantai. Di tengah ruangan ada meja resepsionis kecil yang mengelilingi beberapa ruang kerja dan satu ruang rapat besar. Jendelanya yang luas menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di sekitar SCBD.

"Nona Melati."

Suara berat itu terdengar jelas, membuat Yesica refleks berbalik. Pandangannya, pertama kali jatuh ke dada bidang yang tersampir rapi dalam setelan jas mahal itu. Pelan-pelan dia mendongak, melihat dagu yang tercukur rapi, bibir tebal yang tersenyum ramah, hidung mancung, hingga sepasang mata biru bening yang sangat memikat. Rambut hitamnya diikat rapi. Pria ini sungguh tampan luar biasa.

Wajah Yesica pun langsung memanas. "Gawat, kalau bosnya sekeren ini, bisa kacau kerjaanku nanti. Bisa-bisa kertas yang aku pegang belepotan karena ngiler, dan aku bakal terus natap dia kayak orang kelaparan!" batinnya.

Pria itu mengulurkan tangan. Yesica buru-buru menenangkan diri. "Tenang ... Aku butuh kerjaan ini."

Saat tangan mereka bersentuhan, ada aliran aneh yang terasa. Alis pria itu terangkat, dan senyumnya makin lebar.

"Aku Kairo Raveen, Direktur Teknologi."

"Senang bertemu."

Jantung Yesica berpacu cepat. Dia buru-buru melepaskan jabatannya, takut kalau kelamaan ia bisa melantur yang tidak-tidak.

Kairo menunjuk ke arah ruang rapat. "Ayo ikut aku!"

"Ayo dong, ke mana aja deh asal sama kamu," jawab Yesica dalam hatinya.

Untung saja Kairo langsung berbalik, memberinya waktu sebentar untuk mengatur napas sebelum mengikutinya.

Saat Kairo menarikkan kursi untuknya, Yesica duduk dengan hati-hati. Ada senyum kecil yang terlihat mengembang di bibir Kairo saat dia berjalan mengelilingi meja dan duduk di hadapannya.

"Maaf ya, yang lain sebentar lagi datang. Mereka lagi rapat." Kairo menyatukan kedua tangannya di atas meja.

Yesica sadar pikirannya mulai melantur membayangkan tangan-tangan itu menyentuh tubuhnya sendiri.

Ini wawancara kerja, dan kualifikasinya pun sebenarnya pas-pasan. Tapi untungnya saat wawancara di telepon dengan Giancha Prajiwaksono, dia terlihat cukup menjanjikan meski minim pengalaman. Yesica sudah berjanji kalau dia akan berusaha untuk cepat beradaptasi dan tidak akan mengecewakan.

Secara teknis ijazahnya lengkap, tapi pengalaman kerjanya belum seberapa dibanding ekspektasi mereka. Ini adalah langkah besar, mimpi besar, dan kalau diterima, masa depannya pasti cerah.

Kairo tersenyum santai. "Ceritain sedikit tentang diri kamu dong sambil nunggu. Ehemmm ... Nggak bakal lama kok."

Yesica menyilangkan kaki dan mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

"Aku lulusan magister manajemen dengan nilai terbaik dari Universitas Negeri Malang. Selama liburan, aku sering magang di beberapa perusahaan di Jakarta."

Kairo mengangkat tangan, memotong pelan. "Terus kenapa nggak kerja di tempat kamu magang dulu?"

Pertanyaan klasik yang selalu muncul. Bahkan sampai saat ini Yesica belum menemukan jawaban yang pas.

"Visi mereka berbeda dengan apa yang aku mau. Aku nggak mau cuma lakuin hal kecil dan duduk di depan komputer delapan sampai sepuluh jam sehari. Aku butuh tantangan lebih dari sekadar bikin laporan dan menyeduh kopi. Tapi ... aku juga jago bikin kopi lho."

"Oke, noted. Aku bisa jadi monster kalau belum minum kopi pagi-pagi." Kairo bersandar santai, lalu matanya menyapu seluruh tubuh Yesica dari atas ke bawah.

Yesica merasakan bulu kuduknya merinding.

"Maaf kami terlambat." Suara itu terdengar familiar. Yesica langsung mengenalinya sebagai suara Giancha Prajiwaksono yang dia dengar lewat telepon. Suara yang merdu.

Yesica berdiri menyambut. Lututnya rasanya lemas sekali. Di depannya sekarang berdiri tiga pria yang tampak baru keluar dari majalah Playboy. Semua tinggi, ganteng, dan berwibawa sama seperti Kairo.

Jantung Yesica pun berdegup kencang bukan main.

"Stefan Wongso, CEO." Pria berambut pirang rapi dengan mata biru tua yang tajam melangkah maju dan mengulurkan tangan.

Yesica berusaha keras agar tidak terlihat kepanasan atau malah pingsan, lalu menjabat tangan pria itu dengan percaya diri. Sentuhan tangan besar yang kuat itu membuat gairah menjalar ke seluruh tubuhnya.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

المراجعات

Lily Noona
Lily Noona
good imagine
2026-07-23 12:34:54
1
1
151 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status