Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

last updateLast Updated : 2026-05-07
By:  Berri StoreyUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pergi merantau ke Ibukota untuk mengubah nasib, Joanna terjebak dalam pekerjaan paruh waktu setelah beberapa perusahaan menolaknya. Tetapi, siapa sangka, seseorang menawarkan pekerjaan yang menjanjikan, menjadi seorang istri paruh waktu dari laki-laki bernama Arkatama Dewangga seorang pria yang terkenal dingin. Menjadi istri jauh dari rencananya, tetapi uang menjadi faktor utama Joanna rela terjebak dalam pekerjaan konyolnya, menjadi seorang istri Arkatama. Tanpa adanya cinta dan sayang. Akankah Joanna mampu atau berhenti dari pekerjaannya setelah mengetahui semua rahasia dari Tama? Mampukah dia mempertahankan pernikahannya?

View More

Chapter 1

Bab 1

Namanya Joanna Nathalie, gadis berusia 22 tahun yang tahun lalu resmi mendapatkan gelar sarjananya. Si sulung yang nekat merantau ke ibukota untuk menghidupi keluarganya. Namun, ekspektasi tak seindah realita, bukan? 

Sudah hampir setahun Joanna merantau, tapi sampai saat ini belum ada satu pun balasan untuk surat lamaran yang dia kirim ke puluhan perusahaan. Alhasil, Joanna menganggur cukup lama.Kenapa Joanna tidak pulang ke kampung halamannya? Alasannya, Joanna malu. Joanna malu kepada ibunya karena belum bisa memberikan timbal balik, setelah semua yang ibunya berikan untuk Joanna melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. 

Selama setahun ini Joanna hanya bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Bukan kafe terkenal, hanya kafe biasa yang letaknya di depan gedung perusahaan besar. Tak jarang Joanna menyalahkan dirinya sendiri tiap kali melihat para pekerja kantoran berlalu lalang di depan kafe tempatnya bekerja. 

Kenapa Joanna tidak bisa seperti mereka? Apa yang salah dengan dirinya? Itu yang selalu terpikir di benak Joanna. 

"Kerja, Mbak, jangan ngelamun mulu!" Suara bariton yang tidak asing lagi di telinga Joanna membuat gadis itu terlonjak kaget. 

Joanna berdecak, seraya meraih gelas kotor yang ada di atas meja. "Ngapain sih ke sini terus setiap hari? Lo nggak punya kerjaan lain apa?" dengus Joanna kepada Harris, temannya sejak mereka masih berstatus mahasiswa baru. 

"Lah, gue kan emang pengacara," sahut Harris seraya duduk di salah satu kursi. "Pengangguran banyak acara maksudnya," imbuh Harris, lalu tersenyum lebar hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi. 

"Enak ya jadi anak orang kaya kayak lo, kerja nggak kerja duit tetap ngalir," monolog Joanna seraya mengelap meja. 

"Mulai …. Udah deh jangan adu nasib mulu, semua orang di dunia ini punya masalah mereka sendiri," tutur Harris. "Mendingan lo duduk dulu di sini, ada yang mau gue omongin ke lo," ujar Harris seraya menarik lengan Joanna dan membuat gadis itu duduk di hadapannya. 

"Apa?" tanya Joanna malas-malasan. "Kalau lo mau curhat soal cewek-cewek lo yang bejibun itu, nggak dulu deh. Masih ada hal penting yang harus gue lakuin—"

"Gue punya tawaran kerjaan buat lo," sambar Harris, lalu tersenyum penuh arti sambil menaik turunkan kedua alisnya. 

Kedua mata Joanna langsung terbelalak ketika mendengar ucapan Harris. Gadis itu seketika terlihat sangat antusias. "Gue mau, please! Apa pun itu, asal gue punya gaji tetap dan bisa biayain ibu sama adek gue!" 

Harris sontak melipat kedua lengannya di depan dada. "Kerjaannya gampang," cetus Harris. 

"Apa tuh?" 

Harris perlahan memajukan wajahnya, seraya meminta Joanna untuk mendekat. "Jadi istri," bisik Harris. 

Joanna terdiam sejenak, sambil mencerna ucapan Harris. Setelah tersadar, dia berkata, "Lo ngibulin gue ya?!" 

Harris spontan menjauhkan wajahnya dari Joanna ketika melihat tangan gadis itu terangkat, sudah siap memberinya jeweran maut andalannya. "Dengerin gue dulu makanya," ujar Harris. 

"Ris, soal kerjaan gue nggak minat bercanda, sumpah," kata Joanna. "Gue bener-bener se-hopeless itu. Gue butuh kerjaan yang gajinya bisa menghidupi ibu sama adek gue." 

"Bisa banget!" seru Harris. "Kerjaannya gampang juga—"

"Lo kalau mau bohong pinteran dikit dong, jadi istri itu bukan kerjaan!" sambar Joanna sambil menginjak kaki Harris yang ada di bawah meja. "Udah deh, gue mau lanjut kerja!" 

"Tunggu dulu!" Harris menahan pergelangan tangan Joanna agar tidak pergi. Ekspresinya seketika berubah, seakan ingin meyakinkan Joanna bahwa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. "Jadi gini, sepupu gue lagi nyari istri. Tapi yang harus ditekankan di sini, dia cari istri paruh waktu." 

Joanna mengerutkan kening, kebingungan. Saking random-nya, Jonna sampai bingung apakah Harris sedang serius atau bercanda. "Istri paruh waktu?" 

Harris mengangguk. "Sepupu gue ini berani bayar lo perbulan dengan nominal berapapun yang lo mau, tentunya syarat dan ketentuan berlaku." 

"Tunggu." Joanna makin bingung. "Lo lagi bercanda, kan?" 

Harris menghela napas panjang. "Terserah lah, gue tawarin kerjaan ini ke cewek lain aja!" 

"Eh, tunggu dulu!" sergah Joanna. "Coba jelasin yang bener. Apa alasan sepupu lo cari istri, dan kenapa dia cari istri paruh waktu?" 

Harris mengedikkan bahu. "Gue nggak tau, yang jelas dia bilang ke gue kayak gitu." 

Joanna memicingkan kedua mata. "Jangan-jangan … sepupu lo gay, dan dia cari istri buat menyembunyikan itu?!" terka Joanna. 

"Sembarangan lo! Nggak lah! Sepupu gue itu normal, dia masih suka cewek!" sanggah Harris. 

"Terus kenapa dia cari istri paruh waktu coba? Logikanya kalau dia normal, dia pasti cari istri sendiri sesuai kemauannya dia." 

"Udah nggak usah mikir alasannya, yang penting sekarang lo mau atau nggak?" 

Joanna terdiam, dia bimbang. Sejujurnya pekerjaan yang ditawarkan Harris ini sangat tidak masuk akal. Istri paruh waktu? Sangat tidak masuk akal. Namun, di sisi lain Joanna juga butuh pekerjaan, dan tawaran Harris sangat menggiurkan. "Syarat dan ketentuannya apa?" tanya Joanna. 

Harris mengedikkan bahu. "Kalau lo berminat, lo bisa temui sepupu gue dulu." 

"Umur sepupu lo berapa?" tanya Joanna. 

"Tahun depan tiga puluh tahun." 

Joanna melotot. "Tua banget?!" 

Harris mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. "Eitt … jangan salah, meskipun umurnya segitu tapi visual dia masih keliatan muda. Sepupu gue tuh ganteng banget, kayak anime, badannya juga bagus banget kayak model. Lagian tiga puluh belum tua-tua amat, standar lah perbedaan usia delapan tahun itu." 

"Tapi lo tau sendiri, gue nggak suka cowok yang lebih tua. Maksimal lebih tua tiga tahun, nggak lebih," cakap Joanna. 

"Yaudah, jadi lo mau duit apa nggak?" tanya Harris dongkol. 

"Ya … mau. Tapi …." 

"Nggak usah banyak nawar," pungkas Harris, sembari mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya. "Ini kartu nama sepupu gue. Kalau lo minat, lo bisa kirim dia email. Abis itu, dia bakalan menghubungi lo." 

Joanna menatap kartu nama yang ada di atas meja, lalu perlahan meraihnya. Diamatinya kartu nama yang terlihat sederhana, tapi elegan itu. Kemudian tatapan Joanna jatuh kepada sebuah nama yang tertera di sana. 

Arkatama Dewangga.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status