แชร์

Tujuh

ผู้เขียน: J. Hanin
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-09 13:10:26

Hujan deras yang mengguyur kota tidak mengindahkan kedua insan yang dalam perjalanan pulang, hujan yang cukup dalam  beberapa detik membuat baju basah tak mengurungkan niat Genta untuk segera pulang. Dia bahkan mengabaikan soal Arzeta yang tidak membawa mantol. Jadilah perempuan yang berada di jok belakangnya basah kuyup.

Arzeta beberapa kali menutup matanya begitu air hujan beserta angin menimpa matanya beberapa kali. Jika tidak terpejam mungkin air akan masuk dan akan terasa sakit. Ia terus merutuki dirinya dalam perjalanan pulang. Bagaimana bisa ia memaksakan diri untuk ikut pulang meski tidak memakai mantol. Lihat sekarang, hujan deras sampai rupa dan kondisi Arzeta tidak berbentuk pun lelaki di depannya tidak peduli. Sungguh malang nasibmu nak!

Perlahan motor menepi begitu sampai di seberang kontrakan Arzeta, biasanya Arzeta akan berlama-lama tapi tidak untuk sekarang.

“Makasih Bang!” Ucapnya kemudian bergegas berlari menyeberang begitu tidak ada kendaraan disana.

Ia bahkan tidak melihat untuk pertama kalinya Genta membuka kaca helmnya. Genta sedikit tersentak melihat perempuan yang berlari menyeberang, kondisinya benar-benar basah kuyup, rambutnya lepek karena dihajar hujan habis-habisan. Akankah ia merasa bersalah?

“Bukan salah gue!” Gumam Genta menancap gas melanjutkan perjalanan pulangnya.

“Astaga Zeta!” Pekik Mila melihat Zeta masuk rumah dengan kondisi basah kuyup.

Arzeta hanya menampilkan gigi kudanya berlagak tak bersalah, ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ia keramas, setelah rambutnya benar-benar kotor.

Seperti biasa setiap anaknya sudah pulang dari pekerjaan di kantor, sang Mamahnya akan menghangatkan makan malam untuknya. Mamahnya sampai rumah tiga jam lebih dulu dibandingkan Zeta. Sudah cukup waktu untuknya istirahat. Sebenarnya, ada satu sepeda motor untuk transportasi kemanapun. Hanya saja Zeta memilih untuk meminta bantuan kepada Ira, membiarkan Mamahnya saja yang menggunakannya, karena Mamahnya lebih kerap berhenti untuk belanja atau kebutuhan lainnya.

Tak berapa lama, Zeta keluar dengan handuk di leher dan rambut yang sudah disisir rapi. Zeta menghampiri mamahnya yang menyiapkan untuk dua porsi. Zeta mencembikkan bibirnya dan duduk di hadapan Mamahnya.

“Mamah juga belum makan?” Tanya Zeta meneguk susu putih di dalam gelas yang dihangatkan Mamahnya.

Meski mereka tinggal di kontrakan sederhana tetapi alat-alat dapur yang tersedia cukup mendukung karena Mamahnya hobi membeli alat-alat masak. Berharap suatu hari nanti bisa bekerja dari rumah.

“Mamah bikin nasi goreng aja biar bisa makan sama kamu.” Ucap Mila dengan senyumannya membawa penggorengan dengan nasi goreng di dalamnya, asapnya masih mengepul keluar dari sana. Zeta pun tampak menelan air liurnya menatap Mamahnya yang menuangkan nasi goreng ke piringnya.

“Pas nih sama cuacanya.” Ucap Zeta dengan senyumannya kemudian mulai mengambil satu suap meniupnya pelan dan memasukkan ke dalam mulutnya.

“Iya! Lagipula Mamah pulang tadi udah hujan. Udah nggak keburu mau belanja.” Ucap Mila sambil meniup nasi goreng di atas sendok miliknya.

“Ta! Mamah beliin mantol mau? Biar kamu kalau bareng sama temen nggak kehujanan lagi.” Tawar Mila mengingat anaknya yang pulang dengan keadaan basah kuyup.

“Nggak ah! Zeta nggak mau!” Tolak Arzeta sambil menggeleng.

“Kenapa? Ini musim hujan udah datang lagi lo!” Tanya Mila heran. Semenjak bekerja sendiri anaknya tidak mau meminta apa padahal semasa sekolah ia bergantung pada Mila sepenuhnya.

“Kamu tuh minta sama Mamah nggakpapa, kenapa sekarang jadi nggak enakan? Dikit-dikit nggak enakan.” Omel Mila kesal pada perubahan Arzeta yang menurutnya justru terkesan aneh.

Arzeta terdiam, benar yang dikatakan Mamahnya semenjak bisa menghasilkan uang sendiri ia cenderung ingin segalanya memakai uangnya padahal seharusnya bukankah hal wajar Mamahnya membelikan apa. Bukankah selamanya ia tetap menjadi putri kecil Mamahnya? Mengapa seakan ingin membuktikkan dia bisa sendiri tanpa Mamahnya?

“Nggak! Mending uangnya kita tabung aja buat nambah kalau kita mau holiday, katanya Mamah ma uke Pantai.” Ucap Zeta dengan senyuman yang langsung dibalas anggukan Mila. Anaknya memang sangat mudah membalikkan mood Mamahnya yang sedang tidak terlalu bagus.

“Lain kali nunggu hujan reda aja pulangnya! Mamah pasti nungguin kok.” Ucap Mila tampak kesal dengan kecerobohan Zeta. Sepele hanya karena perempuan itu menembus hujan.

“Iya deh iya!” Ucap Zeta mulai merasa Mamahnya sedang dalam masa cerewet layaknya emak-emak pada umumnya.

“Lagian teman kamu itu apa nggak piker temennya di belakang nggak bawa mantol, apalagi hujan deres kayak tadi. Tetep aja diterjang, emang dia nggak pakai mantol juga?” Tanya Mila pada Zeta dengan wajah yang kesal.

“Nggak!” Ucap Zeta dengan senyumannya.

“Oh ya pantes! Kalian lagi main apa sih? India-india-an gitu? Kehujanan bareng? Apa justru mengenang masa kecil kamu!” Ketus Mila melihat respon Zeta yang hanya nyengir ketika dia sudah Panjang lebar mengomel.

“Mamah udah ah! Ayo makan!” Ucap Zeta dengan nada lembut agar Mamahnya berhenti memarahi dirinya. Mila menghela nafas kemudian tersenyum, ia melanjutkan acara makan malamnya yang tertunda.

Zeta berbohong! Genta sangat jelas memakai mantol. Hanya saja karena Genta tidak mau menunggu hujan reda sebentar saja, karena Zeta tidak memakai mantol. Sayangnya, Zeta benar-benar bodoh. Demi bisa menambah data list kenangan Bersama Genta ia rela jadi perempuan bodoh. Bucin tingkat dewa, seperti masa SMA yang mau berkorban demi sang pujaan hati.

Ting…

Salsa : Ta? Udah sampai rumah? Gue lihat tadi kok lo nggak pake mantol pulang?

Sebuah pesan dari sahabatnya, sebenarnya Salsa adalah seniornya di kantor hanya karena meja mereka sebelahan menjadi sangat dekat. Zeta yang membaca pesan Salsa hanya tersenyum senang karena selain Mamahnya ada orang yang mencemaskan dirinya juga.

Zeta : Ucah Sa! Barusan nih.

Kemudian Zeta mematikan data ponselnya, ia memilih mengingat kenapa hari ini ia sangat bodoh sekali. Mau ditaroh mana mukanya jika besok berangkat bekerja. Pasti ia menjadi gossip para rekan kerja karena terlalu agresif mengejar sosok Genta.

“Bodoh!” Umpat Zeta memanyunkan bibirnya entah ia sedang kesal pada siapa.

Zeta kembali membuka ponselnya, ia menatap kontak Genta yang masih online. Ratusan pesan yang kirim tidak pernah dibaca dan dibalas oleh lelaki berumur 27 tahun itu. Zeta tersenyum ketir, meratapi nasibnya bagaimana ia bisa terlalu dalam mengagumi seorang bernama lengkap Genta Nugroho. Seorang yang hanya menatap penuh kebencian kepadanya, seseorang yang bersikap dingin hanya dengannya.

Benar-benar cinta memang buta.

Arzeta : Bang Genta

Arzeta membuang rasa malunya ia memberanikan diri mengirim pesan kepada Genta berharap lelaki itu membalasnya. Berubah fikiran, padahal sudah jelas baru saja kemarin ia menyakinkan dirinya bahwa tidak mungkin mendapatkan Genta, bagaikan dua sisi yang dibatasi tembok yang tinggi.

Ponselnya tetap menyala, membuka ruang chat dengan Genta namun sang pemilik tangan mulai memejamkan matanya rupanya cuaca sehabis hujan mampu mempengaruhi dirinya untuk terlelap. Terlebih kamarnya yang cukup hangat.

“Menunggulah sampai sang fajar tiba, tidak akan ada perubahan”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Delapanpuluh

    Sang Mentari seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernafas dengan begitu gampang, pada sosok laki-laki yang tengah tertidur kini mulai terjaga, terganggu dengan hiruk pikuk kota yang mulai ramai dengan aktivitas masing-masing. Genta yang masih merasa begitu Lelah memaksakan dirinya untuk segera bangun. Kembali bekerja perbedaannya kini, mimpi buruk tak berani lagi bersinggah dalam tidurnya. Sebab separuh raga yang dulunya benar-benar menyiksa dirinya telah ia temukan di Kota tempat ia menjalankan suatu project, Kota Mataram. Genta meraba permukaan tempat tidurnya, mencari benda pipih yang ia geletakan asal di samping bantalnya semalam. Begitu ketemu, tangannya dengan lincah menari di permukaan layer sentuh miliknya. Mencari nama seorang gadis yang mengobati luka hatinya dulu! Zeta, sejak bertemu gadis itu Genta tidak menepis jika mentalnya perlahan membaik. Bisa berbicara dan melihat senyuman tulus gadis itu begitu menenangkan dan melenyapkan keresahan hatin

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Sembilan

    Semuanya sudah bergegas dengan koper masing-masing, termasuk Genta yang tampak sudah merasa lega. Wajahnya kini tampak teduh dan damai tak seperti beberapa hari sebelum mereka berangkat melakukan proyek kantor mereka, satu-satunya orang yang menyadari perubahan Genta adalah Sam, lelaki itu sangat merasakan Genta yang tampak tenang dari hari sebelumnya, hari-hari kelam bak mayat hidup dengan pikiran kemana-mana. Apalagi jika bukan berkat Zeta yang mengobati kerinduan yang begitu dalam, hebatnya Genta simpan dengan baik tanpa melakukan sesuatu yang ceroboh demi mendapatkan hati Zeta. Setelah ucapan yang mengganjal hatinya kemarin ia lontarkan kepada Zeta, Genta benar-benar merasa salah satu beban dalam hidupnya hilang. Tidak ada kegelisahan yang begitu berarti. “Ta!” Tegur Sam yang sejak tadi mengamati Genta yang tak bisa berhenti mengulum senyumannya dari wajahnya. “Hm.?” Jawab Genta dengan deheman tanpa mengalihkan pandangannya ke Sam yang tampak penasa

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Delapan

    “Genta, nginap sini aja! Hujannya awet sampai nanti malam lo!” Celetuk Mila dari belakang membuat Genta terkejut, mendengar ucapan mamah Zeta, Genta langsung melirik pada Zeta yang rupanya ia juga sedang menatapnya. Rupanya keduanya sama-sama terkejut, Zeta terkejut karena mamahnya menawarkan tumpangan untuk tidur kepada Genta. Jauh dari dugaannya sebelumnya. “Mah!”Tegur Zeta kemudian menghampiri Mila untuk diajak bicara empat mata sebentar, ia membawa mamahnya ke dapur. Mila pun tampak heran dengan tarikan anaknya tapi ia menurutinya. “Kenapa?” Tanya Mila dengan berbisik begitu Zeta menghadap kepadanya dengan tangan berkacak pinggang. “Mamah kok biarin Bang Genta nginep sih? Yang bener aja? Apa kata orang nanti Mah?” Tanya Zeta tidak habis fikir dengan keputusan yang dibuat mamahnya, begitu sangat memperdulikan Genta yang berkunjung ke rumah. “Zeta! Kamu nggak kasian? Diluar hujan deras gimana mau pulang?” Tanya Mila membuat Zeta diam, yang d

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Tujuh

    Seharian penuh Genta menghabiskan waktu di rumah Zeta, tidak berpergian kemana-mana hanya terus mengobrol satu sama lain berharap Genta ada hal perubahan dari Zeta yang ia harapkan. Kenyataannya, setelah semua yang telah dilalui, keputusan Zeta benar-benar tidak bisa diubah, Zeta tetap tidak bisa niat Genta untuk menikahinya demi bertanggung jawab atas perbuatannya. Ah bukan, bukan lebih tepatnya kesalah mereka di malam itu, kesalahan bersama menghubungkan mereka semua. Genta tengah duduk di balkon tengah bersama Zeta yang menemaninya, mau tidak mau Zeta menemani Genta yang sedang bertamu di rumahnya. Mau tidak mau, meski hatinya mulai rapuh jika terus berdekatan dengan Genta tapi ia tidak menyerah karena ia harus bertahan karena sebentar lagi Genta akan Kembali ke kota, meninggalkan kota Mataram tempat persembunyian Zeta selama ini dari dunianya. “Gue ulangin sekali lagi Ta!” Ucap Genta setelah ia melihat waktu yang ditunjukkan jam arloji yang melingkar di tanga

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Enam

    “Kamu pagi-pagi sudah marah-marah gitu Ta, ayo sarapan!” Ajak Mila dengan senyumannya mengabaikan wajah Zeta yang tampak kesal tapi tak dihiraukan oleh mamahnya. Genta hanya tersenyum menatap Zeta yang duduk disampingnya sedangkan Zeta berdecak kesal karena kehadiran Genta benar-benar merusak mood di pagi harinya. Ia menyuapkan buah ke mulutnya, agar Kembali ke moodnya yang segar seperti ia menyambut pagi sebelum datangnya Genta. “Bang Genta! Zeta sudah bilang berkali-kali kisah kita sudah selesai!” tegas Zeta membuat Genta bungkam, rupanya gadis disampingnya masih belum bisa menerima keberadaannya, berbeda dengan mamahnya yang meski berapi-api hingga kemarahannya meluap tak terkendali, kini tampak menerima Genta dengan tangan terbuka. “Zeta! Mari makan dulu! Nggak baik, menyela waktu sarapan. Kita bicarakan nanti setelah makan!” Tegur Mila pada Zeta yang tidak bisa menahan emosinya kepada Genta yang sejak tadi memilih diam, tak menanggapi ucapan Zeta y

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tujuhpuluh Lima

    Sang fajar hampir menampakkan diri, Mila bergegas untuk menyiapkan kue yang akan diantar ke rumah pelanggannya. Ia mengeluarkan kotak boxnya hati-hati takut jika putrinya yang sedang terlelap akan terganggu. Ia menutup pintu secara hati-hati, menaruh kunci di bawah pot bunga seperti biasanya. Ini hari libur, swalayan tempatnya bekerja masih buka namun dia sedang mendapat hak untuk cuti. Deggg… Jantung Mila hampir lepas dari tempatnya kala ia berbalik badan dan menemukan Genta yang berdiri di pagar rumahnya. Mila hampir terjungkal jika saja ia lupa bahwa ia sedang membawa pesanan seseorang yang segera diantar. “Pagi tante!” Sapa Genta dengan senyum ramahnya, memberanikan diri menyapa Mila yang sejak tadi memasang wajah kesalnya kepada Genta. Lebih tepatnya, wajah dengan kemarahan yang tidak tahu kapan tersulut. “Mau apa kamu kesini!” Hardik Mila membuat Genta bungkam, pandangannya tertuju pada dua box yang sedang dibawa oleh Mila. “Su

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Tigapuluh

    DAUGTER“Ta!” Panggil Mila dari dapur membuat Zeta mau tidak mau keluar kamar menghampiri Mamahnya yang kini sedang membelakanginya. Zeta berdiri menunggu Mamahnya yang sedang konsen menyalakan mixer adonannya. Zeta berbicarapun percuma karena tidak akan terdengar. “Ta, beliin Mamah margarin bisa

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Duapuluh Sembilan

    Zeta bergegas memberesi semua alat kerjanya kemudian buru-buru untuk keluar ruangan untuk pulang. Menunggu Ira yang tadinya sedang perjalanan ke kantornya sekarang. Genta cepat-cepat menyusul dan seolah berjalan santai, ia sedang mencoba apakah Zeta akan meminta bantuannya atau tidak. Rupanya duga

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Duapuluh Delapan

    Mata mereka bertemu melalui pantulan cermin di dalam, Sam dan Genta sepertinya tidak menyadari keberadaan Zeta yang berdiri dibalik pintu dan sepertinya perempuan itu mendengarkan semuanya. Dicky merasa tidak enak, seperti sedang menguliti Zeta habis-habisan. Dicky memutuskan kontak mata mereka, be

  • Menaklukan Hati Pria Dingin   Duapuluh Enam

    Ucapan Genta sengaja digantung, raut wajahnya benar-benar menakutkan tak seperti Genta biasanya. Zeta yang tak kuasa begitu nafas hangat menyapu wajahnya spontan tangannya mendorong tubuh Genta untuk menjauh. Sayangnya tenaganya mendadak begitu lemas setiap mata elang Genta bertemu mata teduh milik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status