LOGINHelikopter mendarat dengan sangat halus di atas gedung tinggi yang menjulang di kawasan Manhattan.Baling-baling masih berputar ketika pintu dibuka.Angin kencang menerpa rambut dan pakaian.Bunda Arshavina refleks memegang rambutnya sambil menatap sekeliling.Tatapannya bergerak perlahan.Gedung-gedung tinggi.Langit New York.Dan rooftop luas dengan area landing privat.Meski ini bukan pertama kalinya mereka datang ke New York—tetap saja ada sensasi berbeda.Karena kali ini mereka datang bukan sebagai tamu hotel.Tapi menginap di penthouse anak mereka.Sementara di sampingnya—ayah Kama turun dengan ekspresi dingin seperti biasa.Namun tatapannya tetap mengamati sekeliling diam-diam.Seorang staf menyambut. “Welcome, Mr. Gunadhya.”Ayah hanya mengangguk singkat.Mereka berjalan masuk melewati akses privat menuju lantai tempat penthouse Ryley berada.Begitu pintu terbuka—suara langkah kecil langsung terd
Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu lalu—rumah bapak di Lembang pagi itu terasa berbeda.Tidak ramai. Tidak heboh. Tidak penuh dengan candaan.Justru terlalu tenang.Itu disebabkan oleh koper besar yang berjajar di ruang tengah.Dokumen sudah dimasukkan berkali-kali ke dalam tas.Paspor dicek entah untuk yang ke berapa kali.Dan semua orang sibuk memastikan tidak ada yang tertinggal.Tapi tetap saja—ada sesuatu yang terasa menggantung di udara.Hari ini Ratu berangkat.Hari ini mimpi itu benar-benar dimulai.***Bandara terlihat sangat ramai.Troli didorong perlahan.Satria berjalan paling depan sambil sesekali mengecek dokumen keberangkatan di ponselnya.Di sebelahnya bapak membawa tas kecil.Ibu menggenggam tangan Ratu sejak turun dari mobil.Sementara Kaluna berjalan pelan di samping Ratu dengan satu tangan sesekali memegang perutnya sendiri yang sudah besar.Ratu tampak gelisah.Tatapannya terus bergerak ke berbagai arah.Pintu masuk. Area drop off.Or
Sore itu suasana kantor pusat AG Group di Jakarta tampak sibuk seperti biasa.Beberapa staf berlalu-lalang membawa dokumen proyek.Layar besar di area utama menampilkan progress beberapa pembangunan resort dan kawasan komersial yang sedang berjalan.Di lantai paling atas—sebuah ruang kerja besar dengan dominasi kaca dan kayu gelap terlihat tenang.Ayah Kama sedang berdiri menghadap jendela.Jas abu gelap yang dikenakannya masih sangat rapi meski jadwal hari itu cukup padat.Tatapannya tertuju pada deretan gedung Jakarta yang berjejer di depannya.Tok.Tok.“Masuk,” ujarnya melantangkan suara.Pintu terbuka.Om Kaivan masuk sambil membawa tablet dan map proyek.“Sorry telat.”Ayah Kama menoleh lalu tersenyum tipis.“Enggak. Gue juga baru selesai meeting.”Mereka berdua duduk di sofa set yang berada di tengah ruangan.Hari itu agenda mereka cukup jelas.Membahas pembangunan resort baru di Sulawesi Utara.Om Kaivan membuka beberapa gambar konsep.“Ini untuk area cliff
Setelah makan siang selesai, mereka sempat berfoto sekali lagi di depan restoran.Kali ini lebih santai.Tanpa pose resmi.Tanpa arahan fotografer.Hanya keluarga kecil yang sedang berbahagia.“Pak senyum.”“Bu lihat kamera.”“Ratu jangan nangis lagi.”“Kaluna jangan makan kerupuk pas difoto.”Seketika semuanya tertawa.Dan setelah itu, mereka pun berpisah.“Jangan pulang kemalaman.”Ibu mengingatkan saat berdiri di dekat mobil.“Iya Bu.”“Kamu juga jangan ngebut.”“Iya Bu.”Kaluna yang berdiri di samping Satria sampai terkekeh. “Bu, itu suami Luna bukan anak TK.”Ibu jadi tertawa.“Ya gimana, namanya juga anak.”Sementara bapak sudah masuk ke dalam mobil.Tak lama kemudian mobil bapak perlahan meninggalkan area parkir restoran.Membawa bapak, ibu, dan Ratu kembali ke Lembang.Sementara Satria dan Kaluna menuju tujuan lain.Rumah Om Kaivan.Rumah mewah. Elegan. Asr
Begitu prosesi wisuda selesai, suasana di luar gedung berubah ramai.Para wisudawan berhamburan keluar. Toga beterbangan di udara. Tawa dan tangis bercampur menjadi satu.Orang-orang sibuk mencari keluarga masing-masing.Ada yang membawa buket bunga. Ada yang membawa boneka wisuda berukuran besar.Ada pula yang langsung sibuk berfoto di setiap sudut kampus.Dan di tengah keramaian itu—Ratu akhirnya menemukan keluarganya.“AAAAAA!”Kaluna menjadi orang pertama yang melambai heboh. “Mahasiswa terbaik satu angkatan datang!”Ratu tertawa sambil menggeleng. “Kak Lunaaaa.”Kaluna membuka kedua tangannya. “Ayo sini peluk dulu.”Ratu memeluk kakak iparnya erat.“Selamat ya….” Kaluna berbisik tulus. “Aku bangga banget sama kamu.”Mata Ratu kembali memanas. “Makasih Kak.”Sementara itu Satria berdiri tak jauh dari sana.Tangannya dimasukkan ke saku celana.Senyum kecil terlihat di wajahnya.Begitu Ratu menoleh—Sat
Pagi itu Ratu bangun jauh lebih awal dari siapa pun.Jantungnya berdebar kencang bahkan sejak membuka mata.Hari yang selama ini dia tunggu akhirnya tiba.Hari wisuda.Hari ketika seluruh perjuangan begadang, revisi, laporan, penelitian, presentasi, dan sidang skripsi akhirnya mencapai garis akhir.Di depan cermin hotel, Ratu menatap pantulannya sendiri.Kebaya pemberian Zyandru membalut tubuhnya dengan sempurna.Bahkan setelah dipakai, kebaya itu terlihat jauh lebih indah dari yang dia bayangkan.Untuk sesaat, ingatannya melayang pada sosok pria yang mengirimkannya.Namun buru-buru Ratu mengusir pikiran itu.Hari ini bukan tentang Zyandru.Hari ini tentang bapak, ibu dan Satria.Tentang semua pengorbanan mereka.“Ya Tuhan ….” Ibu menjadi orang pertama yang tertegun saat Ratu keluar dari kamar. Mata beliau tampak berkaca-kaca. “Cantik sekali.”Ratu tersenyum malu. “Lebay ah Bu.”“Enggak.” Ibu menggeleng cepat
Perjalanan kembali ke Jakarta lebih hening dibanding pagi tadi.Kaluna lelah.Bukan hanya fisik, tapi juga mental.Survey berjalan sukses. Ia berhasil membuktikan kapasitasnya. Namun satu hal yang tidak bisa ia kuasai adalah pikirannya sendiri.Dan bibir itu.Setibanya di
Brian menatap ke luar dinding kaca yang menampilkan pemandangan sungai Hudson.Tatapannya kosong, pundaknya terasa berat penuh dengan beban.Dia lantas melirik arloji mahal di pergelangan tangannya, sudah lima menit dia menunggu.Andaikan saja bukan Ryley yang mengajaknya bertemu, Brian pasti su
Nightclub itu penuh.Lampu-lampu strobo memantul di dinding kaca, musik EDM menghentak hingga dada terasa bergetar. Para sosialita, pebisnis muda, selebriti, dan pewaris kaya memenuhi ruangan.Kaluna berdiri di tengah lobi VIP.“Siapkan meja,” katanya singkat pada Satria.Petu
Mobil mewah khusus operasional CEO AG Group meluncur halus meninggalkan gedung perusahaan.Sore Jakarta mulai meredup, cahaya keemasan berubah jingga di balik gedung-gedung tinggi.Kaluna bersandar di kursi belakang.Hari pertamanya berjalan baik.Terlalu baik.Ia baru saja membuktikan diri.







