LOGINSetelah putus dari Duna, Chandani hanya fokus berkarir. Semula, pikiran tentang pernikahan tak ada di benaknya. Hingga suatu hari, pertemuan dengan Noval - ayah pasiennya, mengubah pikirannya tentang pernikahan.
View MoreTing..
Chandani tersenyum melihat layar ponsel berisi notifikasi masuk ke rekening bank miliknya. Setelah itu ada sebuah pesan masuk dari kakaknya. Mas Auriga : [Buat beli novel] Meskipun Chandani sudah berusia tiga puluh tahun, dan memiliki penghasilan sendiri. Setiap bulan kakaknya selalu saja mengirim uang jajan. Nominalnya memang tidak banyak, tapi Chandani sangat bersyukur. Sekalipun ada banyak manusia di dunia ini yang menyebalkan, dia masih memiliki kakak yang begitu menyayanginya. “Kerja, kerja, kerja. Semangat bekerja.” Chandani menyemangati dirinya sendiri. Lima menit kemudian Rika datang sambil membawa tiga bungkus nasi liwet. “Mbak Cahya suruh bawain nasi liwet. Tapi yang biasanya tutup.” Rika meletakkan nasi liwet di meja dapur. “Mbak Chandani sudah sarapan belum?” Chandani menyalakan parafin dan mengatur suhunya. “Sudah sarapan roti.” “Sarapan nasi liwet dulu mbak. Manusia Indonesia sarapan tanpa nasi mana kuat.” “Iya, nanti aku makan.” Rika membantu Chandani menyiapkan alat-alat fisioterapi. “Mbak, tappingnya habis ya?” “Ada di tas. Aku sudah beli. Nanti aku ambilin.” Chandani masih sibuk memeriksa infrared. “Mbak, nanti mau nolongin aku nggak?” “Nolongin apa?” “Ikut aku homecare yuk mbak.” Rika mendekati Chandani. Dia menarik ujung seragam Chandani seperti anak kecil. “Ini pasiennya temenku. Temenku sudah masuk profesi di Solo. Jadi dia nggak bisa homecare lagi.” Chandani masih belum menjawab. Dia terlihat sibuk menata tapping. “Mbak, tolongin dong. Please…” Rika memohon. Dan terus memohon. Chandani mendesah pelan. Ada kalanya Rika memang seperti bocah yang sedikit menyebalkan. “Iya deh, iya.” “Terima kasih mbak Chandani.” Rika memeluk Chandani erat. “I love You mbak Chan.” “Idih.” Chandani menyentil dahi Rika dengan pelan. Hari ini pasien cukup ramai. Langit Jogja tampak sedikit mendung. Akhir-akhir ini, Jogja hampir setiap hari diguyur hujan deras. Chandani melakukan peregangan ringan sebelum memegang pasien. Pasien terakhir Chandani adalah pemain futsal dengan post operasi rekonstruksi ACL. Pasien itu tampak bersemangat menjalani fisioterapi. Chandani memasang alat dan melakukan terapi latihan. Dan dalam waktu satu jam, sesi fisioterapi selesai. Pasien Rika dan Cahya juga sudah selesai. Mereka bertiga tampak sedikit kelelahan. Chandani mengambil es teh jumbo dari dalam kulkas. Dia juga mengambil pisang goreng yang tadi dibawa Cahya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Wanita dengan tubuh kecil terlihat sedang terlentang di matras setelah menutup klinik. Angkasa Chandani Soetomo, berusia 30 tahun. Dia adalah pemilik Griya Physio. 2 tahun yang lalu, Chandani membuka klinik bersama sahabatnya - Cahya. Chandani menyelesaikan pendidikan Master Of Physiotherapy di University of Canberra, Australia. Saat ini Chandani memilih untuk menetap di Jogja. Chandani berasal dari Salatiga. Ayah, mama serta kakak laki-lakinya berada di sana. Pertanyaan kapan menikah, membuat Chandani merasa Salatiga adalah tempat yang menyeramkan. "Mbak Chandani cantik." Rika mendekati Chandani yang tengah sibuk menikmati es teh jumbo “Ada apa lagi ini?” Chandani tampak curiga. "Jadi berangkat kan ya?" tanyanya dengan sedikit ragu. “Jangan mau Chan.” kini Cahya yang menjawab "Kamu sendirian aja ua?" Chandani menggoda Rika. “Ah… Jangan dong mbak.” Rika menggandeng tangan Chandani. Dan meletakkan kepalanya di bahu Chandani. “Masa nggak kasihan sama adekmu yang cantik ini.” “Sejak kapan kamu jadi adeknya Chandani. Ngaku-ngaku. Chandani nggak mau lah punya adek berisik kayak kamu.” Cahya tambah menggoda Chandani. “Ayo dong mbak, please.” Rika tampak memohon. “Ini kasus pasiennya cerebral palsy spastik quadriplegi dengan congenital heart disease. Aku nggak berani kalau pegang sendirian.” "Haa." Chandani terkejut. Ini kasus yang lumayan berat. "Tolong lah mbak. Kalau sendiri aku kurang berani. Ayolah mbak bantu aku, please." Rika terus memohon. Masih belum ada jawaban. Chandani masih sibuk menghabiskan es teh jumbonya. Sedangkan Cahya sibuk memperbaiki bedaknya karena sebentar lagi akan pergi dengan pacarnya. “Emang kamu sendiri nggak berani?” Cahya mengambil pisang goreng dari tangan Rika. “Nggak PD mbak kalau sendiri. Makanya minta tolong mbak Chandani nemenin.” Chandani masih belum menjawab. "Mau nggak mbak?" Rika masih mencoba memohon. "Mau ya mbak. Please." Rika terus merengek seperti anak kecil. Chandani mendesah pelan. "Ya udah deh." "Horeeee." suara Rika melengking hingga membuat orang satu ruangan protes. “Ayo mbak berangkat sekarang. Kata temenku, ayahnya pasien ini dutam.” “Apa itu dutam?” Chandani tampak penasaran. “Duda tampan.” Chandani dan Cahya terkekeh pelan. Memang Rika ini adalah tipe orang yang konyol dan suka asal bicara. “Ayahnya pasien baik kok mbak.” “Emang kamu udah ketemu?” “Kata temenku.” Rika tampak yakin “Kalau ternyata nggak baik gimana?” Rika menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri, sambil menggelengkan kepala. “Baik kok, pasti baik. Kita harus positif thinking. Nanti aku traktir makan deh mbak.” “Di Element ya?” “Haduh, nggak nyampai mbak uang ku. Level ku masih warteg.” “Jangan mau Chan. Rika aslinya banyak duit.”Cahya malah semakin menggoda Rika. Ting.. Sebuah email masuk. Mata Chandani membulat melihat nama pengirim email itu. Jantungnya berdetak kencang. adunaorel@g***l.com : [Hai Ichan] Chandani segera menghapus email itu. Wajahnya terlihat kesal.Hari Sabtu akhirnya datang. Sudah sepuluh hari Chandani tidak bertemu Noval. Rasanya, hari-hari berlalu sangat lambat saat dia tidak bisa bertemu Noval. Bagi Chandani, sepuluh hari terasa jauh lebih panjang daripada yang seharusnya.Pria itu sedang berada di Bali untuk mengerjakan sebuah proyek besar yang menyita hampir seluruh waktunya. Dalam sehari, Noval bahkan hanya bisa menghubunginya ketika pekerjaannya sedang memberikan sedikit ruang untuk bernapas.Kadang hanya sebuah pesan singkat.Mas Noval ❤ [Sudah makan?]Atau sebuah panggilan selama beberapa menit menjelang tengah malam. Dan setiap kali layar ponselnya menyala dengan nama Noval, tanpa sadar senyum Chandani akan muncul. Meskipun hanya sebentar. Meskipun setelah panggilan berakhir, rasa rindu itu justru semakin terasa.Siang ini, Chandani berada di rumah Noval. Bukan untuk bertemu pria itu. Melainkan untuk melakukan Home Care kepada Nadel.Anak kecil itu sedang berada di ruang khusus yang Noval buat untuk terapi, Nadel ber
Basement apartemen malam itu cukup ramai. Beberapa mobil baru saja masuk dan suara mesin terdengar bergema di antara deretan kendaraan yang terparkir.Noval berjalan di samping Chandani menuju lift. Di tangan kanannya ada dua kantong plastik besar berisi bahan makanan yang baru saja mereka beli. Tangan kirinya menggenggam tangan Chandani.Langkah mereka tidak terlalu cepat.Noval bahkan beberapa kali memperlambat langkah ketika menyadari Chandani berjalan sedikit di belakangnya."Berat?" tanya Chandani sambil melirik kantong belanjaan."Enggak kok sayang.”"Aku bantu bawain ya?”"Enggak usah sayang.""Serius?""Iya, sayang." Noval tersenyum.Mereka telah sampai di depan lift. Noval menekan tombol berbentuk bulat, kemudian berdiri sambil tetap menggenggam tangan Chandani.Beberapa detik kemudian, suara mobil terdengar dari belakang. Chandani menoleh ke belakang. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat mobil berwarna putih yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka. Noval mengikut
Sore itu, suasana di ruang kerja Noval terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Chandani duduk di sofa panjang di sudut ruangan, dengan kedua tangan menggenggam gelas air putih yang sejak tadi belum banyak disentuh. Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika berada di rumah sakit, tetapi Noval masih memperlakukannya seolah-olah, Chandani masih sakit. Di atas meja, di hadapan Chandani terdapat beberapa berkas milik Noval, laptop yang sedang terbuka, serta satu kotak kecil berisi biskuit.Noval yang duduk dibalik meja sedang berbicara dengan Zaidan mengenai pekerjaan.“Kalau struktur bagian belakang tetap seperti gambar terakhir, kita harus mengubah posisi kolomnya.” ujar Zaidan sambil menunjuk layar laptop.Noval mengangguk. “Geser dua puluh sentimeter. Jangan mengorbankan luas ruang keluarga hanya karena kita mempertahankan posisi kolom.”“Anggarannya?”“Aku hitung ulang malam ini.”Chandani hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesekali matany
Sudah dua hari. Dua hari tanpa pesan dari Noval. Dua hari pula Chandani tidak berani menghubungi laki-laki itu.Awalnya Chandani mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Noval mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan. N and N Architect sedang menangani beberapa proyek sekaligus, dan Chandani tahu betul betapa padatnya jadwal laki-laki itu.Namun, semakin lama, rasa tenang itu justru berubah menjadi kegelisahan. Pagi itu Chandani duduk di dapur klinik sambil menatap layar ponselnya. Percakapan terakhir mereka masih berada di sana. Tidak ada pesan baru.Jarinya sempat bergerak membuka ruang percakapan Noval. Mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya dengan cepat. Chandani menghela napas panjang.“Kenapa cuma mau mengirim pesan saja susah sekali?” gumamnya.Chandani takut. Bukan takut Noval marah, melainkan takut dirinya mengganggu.Bagaimana kalau Noval sedang rapat? Bagaimana kalau pekerjaannya sedang berantakan? Bagaimana kalau pesan darinya justru membuat Noval mer






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore