LOGINMalam pertama di rumah seharusnya tenang. Setidaknya, begitu yang dibayangkan Reyhan. Lampu kamar utama telah diredupkan. Tirai ditutup setengah. Udara sejuk dari pendingin ruangan mengalir pelan, tidak terlalu dingin, tidak terlalu hangat—hasil kompromi panjang antara Reyhan yang paranoid dan Keinarra yang masih menyesuaikan tubuh pascamelahirkan. Keinarra berbaring miring, satu lengan melingkar di sekitar Arelio yang tertidur di boks bayi kecil tepat di sisi ranjang. Bayi itu tampak damai—mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia memang diciptakan khusus untuknya. “Mas,” bisik Keinarra pelan. “Hm?” “Dia tidur nyenyak banget.” Reyhan tersenyum, suaranya ikut direndahkan. “Aku sampai takut bernapas terlalu keras, takut dia terganggu.” Keinarra terkekeh kecil, lalu memejamkan mata. Akhirnya. Malam pertama. Bertiga. Setelah drama panjang hubungan mereka. Dua puluh menit pertama berlalu dalam keheningan yang hampir sakral. Lalu—
Hari ini, Keinarra dan Arelio akhirnya diperbolehkan pulang.Keinarra sangat bersemangat,Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar rawat, mengenakan gaun longgar berwarna krem yang Reyhan pilihkan khusus—sederhana, nyaman, dan tidak menekan tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan. Rambutnya diikat rendah, wajahnya nyaris tanpa riasan, tapi ada ketenangan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.Di lengannya, Arelio terlelap.Dibedong rapi, topi kecil menutupi kepalanya. Wajah mungil itu tampak damai, seolah dunia memang diciptakan untuk menyambutnya dengan penuh suka cita.“Sebentar lagi kita pulang,” bisik Keinarra pelan.Arelio tidak bergerak, hanya menghela napas kecil.Reyhan berdiri di belakangnya, memperhatikan dari cermin. Dadanya terasa penuh—terlalu penuh untuk diberi nama. Ia melangkah mendekat, menyentuh bahu Keinarra dengan hati-hati.“Siap, sayang?” tanyanya.Keinarra mengangguk. “Lebih dari siap.”Reyhan tersenyum kecil. “Aku sudah cek semuanya. Kursi bayi di
Pagi berikutnya datang dengan cahaya yang lebih terang.Bukan karena matahari lebih terik, melainkan karena ruangan itu telah berubah. Tidak lagi hanya kamar rumah sakit, melainkan tempat di mana sebuah nama mulai mencari bentuk—bukan sekadar rangkaian huruf, tetapi identitas, doa, dan garis kehidupan.Keinarra terbangun dengan Arelio masih tertidur di dadanya.Napas bayi itu teratur, dadanya naik turun pelan. Setiap tarikan napasnya terasa seperti pengingat bahwa hidup baru ini benar-benar nyata. Tangannya yang kecil sesekali menggenggam kain baju Keinarra, refleks sederhana yang entah mengapa selalu membuat dada Keinarra menghangat.Reyhan duduk di sofa kecil dekat jendela, setengah terjaga. Ia belum benar-benar tidur sejak malam sebelumnya—tidak karena cemas, melainkan karena merasa dunia terlalu berharga untuk dilewatkan hanya dengan memejamkan mata.“Kamu sudah bangun?” tanyanya pelan.Keinarra mengangguk. “Dari tadi.”Reyhan tersenyum kecil. “Dia tenang banget ya, nyaman
Pagi datang pelan-pelan ke rumah sakit.Tidak tergesa. Tidak gaduh. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh lembut ke lantai kamar rawat, menyentuh dinding putih yang semalaman menjadi saksi perjuangan, tangis, doa, dan kelahiran.Keinarra terbangun dengan tubuh yang terasa asing—lelah, nyeri, tapi anehnya ringan. Seolah sebagian besar beban yang ia pikul selama sembilan bulan terakhir kini berbaring tenang di sisi kirinya.Tangis kecil itu.Pelan. Lirih. Seperti panggilan yang tidak menuntut, tapi meminta.Keinarra menoleh.Bayi laki-laki itu terbaring di boks transparan di samping ranjangnya, dibedong rapi. Kulitnya kemerahan, matanya masih sering terpejam, tapi napasnya teratur—hidup, hangat, nyata.“Selamat pagi…,” bisik Keinarra lirih.Dadanya menghangat. Air mata kembali menggenang—bukan karena sakit, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang terlalu besar untuk ditampung diam-diam.Pintu kamar terbuka pelan.Reyhan masuk dengan langkah hati-h
Malam di rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya.Lampu-lampu koridor menyala konstan, tanpa emosi, seolah tidak peduli bahwa di salah satu ruangan itu—sebuah kehidupan sedang berjuang untuk lahir ke dunia.Keinarra menggenggam seprai dengan kedua tangan. Keringat membasahi pelipisnya, rambutnya menempel di dahi. Napasnya berat, terputus-putus, mengikuti irama kontraksi yang kini tidak lagi bisa ditawar.“Tarik napas… hembuskan… bagus, Kei… bagus….”Suara Reyhan terdengar dekat. Terlalu dekat untuk diabaikan. Terlalu nyata untuk dihindari. Ia berdiri di sisi ranjang, satu tangan menggenggam tangan Keinarra, satu tangan lain menopang punggung istrinya setiap kali tubuh Keinarra menegang.Kontraksi datang lagi.Lebih kuat.Lebih lama.Keinarra mengerang tertahan, matanya terpejam rapat. “Mas… sakit….”Reyhan menelan ludah. Dadanya terasa diremas. Tapi ia memaksa suaranya tetap stabil.“Aku tahu… aku di sini. Lihat aku, sayang. Lihat aku.”Keinarra membuka mata dengan s
Malam itu Jakarta terlihat biasa saja dari balik jendela kamar—lampu-lampu kota berkelip, suara kendaraan berlalu lalang, kehidupan berjalan seperti tidak ada apa-apa yang berubah.Padahal di dalam rumah itu, semua sedang menunggu satu hal yang tak bisa dijadwalkan dengan pasti.Kelahiran.Keinarra sedang berdiri di depan jendela, kedua telapak tangannya menopang perut yang kini benar-benar besar. Kulit perutnya terasa tertarik, napasnya lebih pendek. Ia tidak kesakitan—belum—tapi tubuhnya memberi sinyal yang jelas.Waktu hampir tiba.“Mas,” panggilnya pelan.Reyhan yang sejak sepuluh menit lalu berpura-pura membaca laporan di sofa—padahal satu kalimat pun tidak ada yang masuk ke kepalanya—langsung bangkit.“Iya sayang? Kamu kenapa?”Keinarra menggeleng kecil. “Enggak apa-apa. Cuma… rasanya beda.”Reyhan langsung berdiri tepat di hadapannya, refleks protektifnya muncul tanpa diminta. Satu tangannya menahan pinggang Keinarra, satu telapak tangan lainnya terasa hangat di perut







