Mag-log inBianca Josephina dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama mengusik hatinya. Di satu sisi, ada cinta yang hadir dengan ketulusan, kehangatan, dan penerimaan tanpa syarat. Di sisi lain, ada seseorang yang mungkin tak pandai mengungkapkan perasaan, tetapi selalu berada di sisinya dalam diam, melindunginya dengan caranya sendiri. Di tengah luka masa lalu, beban keluarga, dan rahasia yang perlahan terungkap, Bianca menyadari harus tetap memilih. Akankah ia memilih cinta yang dengan berani mengulurkan tangan untuknya? Atau cinta yang selama ini diam-diam menjaganya, meski tak pernah mampu mengucapkan apa yang sebenarnya dirasakan?
view more“Anak sialan! Kapan kamu kirim uangnya? Utang ayahmu itu terus membengkak, rumah ini bisa disita kalau tidak segera dibayar!”
Pagi itu, Bianca Josephine sedang mengantri di kafe bandara. Tadi, ia ditugaskan untuk menjemput dua putra Tuan Besar Hayes, seorang politikus yang akan segera mengakhiri masa jabatannya. Sejak merantau ke Montclair pada usia dua puluh tahun, Bianca yang kini berusia dua puluh tiga tahun bekerja sebagai asisten pribadi politikus senior tersebut. “Secepatnya Bianca kirim uangnya, Bu.” “Secepatnya itu kapan? Ethan juga dijadwalkan operasi minggu ini. Kerjamu cuma enak makan dan tidur di sana. Kamu nggak mikirin keluarga, ya!” Bianca memejamkan mata sejenak. Ia menoleh ke belakang, lalu mempersilakan pelanggan di belakangnya untuk maju lebih dulu. Bianca menghembuskan napas panjang saat panggilan terputus begitu saja. Ia menjadi tulang punggung keluarganya setelah kematian ayahnya. Usai mendapatkan pesanannya, Bianca melangkah menuju sebuah meja. Matanya terpaku pada layar ponsel berusaha menghubungi seseorang, sementara sebelah tangannya membawa kotak berisi croissant dan cinnamon roll. Dua pastry itu rasanya cukup untuk mengganjal perutnya sambil menunggu kepulangan kedua putra Tuan Besar Hayes. "Tuan Leo ini ke mana, sih? Harusnya komisi penjualan lahan itu sudah masuk sejak kemarin," gumamnya, tersisip kekhawatiran. Bianca sempat mengambil pekerjaan sampingan sebagai makelar tanah karena persentase komisi yang cukup menjanjikan. Bianca menjatuhkan diri ke sebuah kursi tanpa sempat memperhatikan siapa yang duduk di sebelahnya. Seorang lelaki berwajah dingin yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya menoleh melirik tajam ke arahnya, keningnya sedikit berkerut. Namun, karena terlalu sibuk dengan ponsel, Bianca sama sekali tak menyadari keberadaan pria itu. Semua itu karena satu panggilan Bianca pada sang klien tidak terjawab membuatnya frustasi. "Dia nggak mungkin kabur, kan? Aku benar-benar mengandalkan uang itu." Bianca masih saja fokus pada layar ponselnya. Bianca merapikan helai rambut yang sempat menutupi sebagian wajahnya, lalu menyelipkannya ke balik telinga. Gerakan sederhana itu membuat tatapan lelaki di sampingnya terpaku pada bekas luka jahitan di pelipis Bianca. Seketika, pikirannya terlempar kembali pada malam yang dingin dan kelam itu. Dilanda kegelisahan, Bianca meraih gelas kopi dingin di atas meja lalu menyesapnya. Senyum Bianca seketika merekah saat menerima pesan dari Tuan Leo hingga lesung di pipinya melengkung. Pria itu menentukan jadwal pengiriman dana komisi yang telah dijanjikan. “Syukurlah,” ucapnya lega, kembali menyesap minuman. Sementara itu, lelaki di sampingnya masih memperhatikannya dengan seringai tipis dengan apa yang ia lihat. Deheman kasar terdengar, membuat Bianca seketika membeku. Perlahan ia menoleh ke samping dan mendapati lelaki di sebelahnya sedang menatapnya dengan raut wajah datar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia salah meja! Keduanya saling menatap cukup lama. Lelaki itu menatap Bianca seolah menghafal setiap inchi wajahnya. Tersadar oleh tatapan yang menyihir itu Bianca meringis canggung lalu buru-buru berdiri sambil membawa kotak pastry dan minuman di atas meja. "Maaf, saya salah meja. Maaf sekali." Lelaki itu tidak menjawab, hanya menatap wajah Bianca tanpa berkedip. Lalu tatapannya bergeser pada tangan Bianca yang menggenggam gelas kopi miliknya. Bianca mengikuti arah pandang itu, mata membelalak sadar ia telah mengambil minuman lelaki itu. Tidak… Bianca tidak memesan minuman, tapi … ia sudah meminumnya. Satu… oh, tidak, dua tegukan malah. "Oh Tuhan..." Dengan wajah yang semakin memerah, Bianca buru-buru meletakkan kembali gelas itu ke meja. "Maaf... maaf lagi." Ia membungkuk kecil beberapa kali, lalu berbalik dan melicit lari keluar dari kafe. Jangan ditanya seberapa merah wajah Bianca saat itu. Ia terus berjalan menuju pintu kedatangan. Tak lama seorang lelaki bertubuh tinggi dengan jas hitam formal tampak berjalan mendekatinya yang memegang papan sambutan bertuliskan nama kedua putra Tuan Besar Hayes. Adrian Mason Hayes, seorang jaksa yang baru dipindah tugaskan ke kota ini dan Liam Zachary Hayes, putra bungsu yang dipersiapkan untuk mengikuti jejak ayahnya di dunia politik. Selama tiga tahun bekerja untuk Tuan Besar Hayes, Bianca belum pernah sekalipun melihat wajah kedua putra tuannya. Ia lebih sering berurusan dengan rumah dinas dan pekerjaan kantor dibanding rumah utama keluarga itu. Dari arah lain, seorang lelaki berpakaian kasual dengan jaket dan topi hitam berjalan mendekat dengan ekspresi datar. Bianca mengenali wajah itu, sangat mengenalinya. Tunggu… lelaki di kafe tadi? Mau apa dia? Pada saat yang sama ponsel Bianca berdenting. Pesan dari Tuan Besar Hayes masuk berisi foto seorang pria yang sedang duduk di kafe bandara. [Bianca, Liam sudah tiba di bandara sejak tadi. Hubungi dia.] Di bawah pesan itu tertera kontak telepon. Membaca pesan itu membuat darah Bianca seolah berhenti mengalir. “Tidak mungkin. Lelaki di kafe tadi... Tuan Liam Hayes?" Bianca mengangkat pandangan. Tatapan Liam dingin dan tajam seolah menghunus jantung Bianca tanpa ampun membuat wanita itu membeku di tempat. "Tamatlah riwayatmu, Bianca," batinnya. “Bianca? Kamu Bianca, kan?” Seketika Bianca tersadar, menoleh menatap lelaki yang ia yakini anak sulung Tuan Besar Hayes. "Ya, Tuan. Perkenalkan saya Bianca Josephina, asisten pribadi Tuan Besar Hayes." "Saya tahu. Ternyata kamu lebih cantik dari yang saya bayangkan," jawab pria itu dengan senyum yang merekah. Bianca membeku sesaat, matanya sedikit membulat. "Just kidding. Lucu sekali, wajahmu memerah,” kekeh Adrian. Adrian pun mengulurkan tangannya. "Saya Adrian. Adrian Mason Hayes." Bianca ragu sejenak, tetapi akhirnya tetap menyambut uluran tangan putra sulung Tuan Besar Hayes itu. Pandangan Bianca lalu beralih pada lelaki yang menyapa dan menjabat tangan Adrian. Barulah Bianca mengulurkan tangan pada lelaki berwajah dingin itu, seketika Liam menerima uluran tangannya. “Bianca–” Kalimat itu terhenti saat Liam sedikit menarik tubuh Bianca membuat wanita itu tersentak dan jarak mereka menyempit, lalu berbisik, “Tentu saja saya tidak akan melupakan orang yang lancang meminum minuman saya tanpa permisi.”Liam menghempaskan tangan Bianca dengan kasar. Gerakannya membuat wanita itu sedikit tersentak. “Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud—” “Kalau pekerjaanmu sudah selesai, kamu boleh pulang.” Bianca terdiam sesaat. Ia menoleh pada mejanya, kemudian mengangguk kaku. “Ah, iya. Sudah selesai.” Liam tidak lagi menghiraukan keberadaan Bianca. Tatapannya kembali tertuju pada berkas di hadapannya. Bianca menarik napas pelan. Ia kembali ke mejanya untuk merapikan barang-barangnya, memastikan tidak ada lagi miliknya yang tertinggal. “Saya permisi, Tuan.” Tidak ada jawaban. Bianca menatap Liam selama beberapa detik sebelum akhirnya memilih pergi. Suara pintu terbuka, membuat Liam mengangkat pandangannya. Tatapannya tertuju pada punggung Bianca yang kemudian hilang dan pintu tertutup rapat. Liam mengusap wajahnya kasar. Ia menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. Apa dirinya baru saja tertidur? Sementara itu, Bianca masih berdiri di depan
“Per pokok masalah, Tuan?” tanya Bianca ragu. Ia melirik sekilas ke arah sudut layar tabletnya yang sudah menunjukkan jam pulang kantor, lalu beralih menatap nanar tumpukan berkas yang tingginya hampir menyamai kepalanya. Pandangannya kemudian tertuju pada Liam, seolah meminta kepastian.“Keberatan?” tanya Liam balik, nada bicaranya memang terdengar datar, tapi sarat intimidasi.Tentu saja Bianca keberatan! Selain karena jam kerja sudah berakhir, menyortir dokumen per pokok masalah berarti sedikit banyak Bianca harus membaca berkas-berkas itu. Dan itu akan memakan banyak waktu. Namun, alih-alih protes, Bianca terpaksa menggeleng sambil mengulas senyuman manis yang palsu.“Bagus. Kamu tidak sedang terburu-buru karena tidak harus ke coffee shop, ‘kan? Atau… kamu memang sangat ingin menikmati sore ini dengan minum kopi bersama saudara saya?” sindir Liam tajam.“Tidak tuan. Tidak sama sekali. Saya akan langsung mengerjakannya,” jawab Bianca cepat.Liam mendengus samar, lalu berbalik kembal
Meski ragu, Bianca menerima amplop tersebut. Matanya melirik Liam yang duduk dengan wajah datar, sama datarnya dengan lelaki paruh baya yang duduk di sampingnya. Perlahan, Bianca membuka amplop itu dan mengeluarkan berkas di dalamnya. Matanya sedikit membesar ketika menyadari bahwa dokumen tersebut merupakan surat penugasan sementara yang menetapkannya sebagai asisten Liam. ‘Bukan surat pemutusan kerja?’ batinnya. Sudut bibir Liam terangkat tipis saat melihat Bianca membaca surat tersebut. Bianca kembali mengangkat pandangan. Tatapannya bertemu dengan Liam yang sejak tadi memperhatikannya. Entah mengapa, sorot mata lelaki itu membuat Bianca merasa tidak nyaman. “Tolong dampingi Liam sampai saya menemukan asisten yang tepat untuknya,” ujar Tuan Besar Hayes. “Saya merasa tidak pantas menerima tugas ini, Tuan,” elak Bianca. Rahang Liam seketika mengeras. “Randy lebih cocok.” “Randy masih saya plot untuk menangani mega proyek.” “Lalu bagaimana dengan Tuan?” Bianca memasang raut waj
Begitu Bianca duduk di kursi penumpang depan dan menutup pintu, Liam langsung menyalakan mesin. Namun, baru beberapa detik mobil melaju, suaranya terdengar datar. "Barista tadi kekasihmu?" Bianca sontak menoleh. "Hah?" Liam tetap menatap jalan di depannya, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting. Bianca terdiam sejenak, sampai akhirnya ia seperti paham dengan siapa yang Liam bicarakan. Akhirnya, ia kembali bersuara, “Gery bukan kekasih saya, dia pemilik coffee shop itu.” Liam tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas. Dan bukannya merespon jawaban Bianca tadi, Liam justru menunjuk layar mobil yang menampilkan GPS dan berkata, “Masukkan alamat tempat tinggalmu.” “Tapi, Tuan—” “Bisakah tidak terus membantah, Bianca?” potong Liam cepat sambil menatap Bianca sejenak. Bianca menelan ludahnya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Akhirnya, dengan ragu ia memasukkan alamat kosnya ke sistem navigasi. Tak ada lagi suara yang keluar, kecuali deru mobil yang melaju dengan tenang. Bah


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore