แชร์

Waktu yang Tepat

ผู้เขียน: Erna Azura
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-24 20:42:07

Pagi itu, Jakarta kembali riuh.

Bukan karena kemacetan.

Bukan karena cuaca.

Tapi karena satu undangan konferensi pers yang menyebar sejak subuh.

AGN CORP — PERNYATAAN RESMI PRESIDEN KOMISARIS GUNAWAN ANGGORO

Tanpa agenda tambahan.

Tanpa keterangan detail.

Namun semua orang tahu—

jika Gunawan Anggoro bicara, dunia bisnis pasti akan mendengar.

***

Pagi itu konferensi AGN Corp penuh sesak.

Kamera televisi berjajar.

Wartawan berdiri berlapis-lapis.

Analis pasar, pemegang saham, hingga regulator duduk dengan menunjukkan ekspresi waspada.

Isu runtuhnya Gading Lestari.

Kasus Clarissa.

Sindikat perdagangan manusia.

Kebangkitan AGN Corp.

Semuanya sudah cukup mengguncang.

Tapi Gunawan belum pernah mengundang konferensi pers sendiri selama dua puluh tahun terakhir.

Dan ketika pria itu akhirnya muncul—

Ruangan mendadak sunyi.

Gunawan Anggoro melangkah ke podium.

Tanpa jas berlebihan.

Tanpa senyum basa-basi.

Tatapannya lurus.

Suaranya tenang.

“Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu,” u
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Ratna i
lega akhirnya
goodnovel comment avatar
Tenee Syafi'i
aahhhh...legaaa.....btw thoorrr, apa g kepikiran buat cerita anaknya Key yg dijodohin sama anaknya arrav martadijaya, seru pasti
goodnovel comment avatar
Gita
Akhirnya. Bahagia deh.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Berhati Mulia

    Sore hari di rumah mewah Keinarra, suasana lebih hidup dari biasa.Arelio sedang bermain dengan balok warna-warni di karpet besar ruang keluarga, suaranya memenuhi ruangan dengan tawa kecil dan ocehan tanpa makna.Keinarra sedang duduk di lantai berkarpet tebal, memperhatikan anaknya, sesekali menyodorkan balok baru atau mengusap kepala kecilnya dengan ujung jari.Pintu utama terbuka.Doni muncul dengan koper kabin, wajah sedikit lelah, kemeja kerja belum sempat diganti. Ada seringai kecil muncul ketika ia melihat pemandangan itu—rumah yang hangat, cucu yang tumbuh sehat, dan putri yang kini sudah menjalani hidup sebagai seorang ibu.“Kakek pulang .…” Doni menyapa pelan sambil melepas sepatunya.Arelio langsung menoleh—seolah punya radar khusus untuk mengenali suara orang yang paling sering mengajaknya bermain.“Bahh!” serunya.Doni tertawa kecil. “Hallo Arelio. Ada yang kangen sama Kakek enggak nih.”Keinarra berdiri dan menghampiri sambil tersenyum, mencium pipi Doni.“Sel

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Akhirnya Luluh

    Pagi itu Reyhan turun ke meja makan sambil menyingsingkan lengan kemejanya. Rambutnya masih sedikit basah, wangi sabun mandinya masih menyelimuti udara. Di meja, sudah ada sarapan yang disiapkan oleh chef rumah dan teh panas yang mengepulkan uap tipis.Tapi yang tidak ada—adalah Keinarra.Dia pikir tadi Keinarra sudah bangun dan masak sarapan.“Nyonya Keinarra pergi sejak subuh, Tuan,” kata Nanny ketika Reyhan menanyakan.“Pergi?” alis Reyhan terangkat. “Ke mana?”Nanny menggelengkan kepala.“Katanya sebentar. Hanya bawa tas kecil.”Reyhan terdiam sesaat. Kerutan halus kekhawatiran muncul di keningnya. Dia mencoba berpikir keras ke mana Keinarra pergi tanpa meminta ijinnya.“Nyonya pergi naik mobil dan driver?” tanya Reyhan lagi.“Iya Tuan.”Reyhan mengangguk lalu meminta Nanny aik ke atas menunggu Nathan bangun.Tiga puluh menit kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman. Tak lama, Keinarra muncul di pintu, cardigan tipis

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Memohon Pertolongan

    Langit pagi di Jakarta belum benar-benar biru ketika Keinarra terbangun. Hanya garis tipis cahaya yang menyusup dari sela tirai, tetapi tubuhnya sudah terasa resah sejak menjelang subuh—seperti ada sesuatu yang belum selesai, yang harus ia lakukan sebelum hari berjalan terlalu jauh.Dia menatap layar baby monitor.Arelio masih terlelap di box bayi. Napasnya naik turun dengan ritme yang begitu tenang, seolah dunia ini tidak punya satu pun beban yang patut ia khawatirkan. Di sisi ranjang, Reyhan tertidur tengkurap dengan lengan terulur ke arah Keinarra—entah mencari tubuhnya atau hanya kebiasaan.Untuk sesaat, Keinarra menatap keduanya secara bergantian dalam diam.Ada kehangatan di rumah ini itu. Ada keluarga. Ada kehidupan baru. Namun, ada pula sesuatu yang mengganjal—bayangan lelaki tua di kursi roda, suara Nadya yang berteriak histeris, tangan sekuriti yang mendorong mereka keluar dari rumah sakit.Dan rasa sakit itu—anehnya—bukan rasa sakit balas dendam atau kemenangan. Melain

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Hati yang Pemaaf

    Pagi itu datang dengan cara yang sibuk.Tidak sempat pelan, tidak sempat manis,hanya penuh dengan jadwal dan barang-barang yang harus dibawa.“Popok, tisu basah, baju ganti, selimut… apa lagi?” Keinarra bergumam sambil memasukkan perlengkapan ke dalam tas bayi.Nanny yang berdiri di sampingnya mengangguk dengan penuh kesiapan. “Susu formula cadangan, Bu. Dan kartu rumah sakit.”“Ya ampun, iya.” Keinarra menepuk kening sendiri pelan.Arelio yang kini berusia enam bulan duduk di kursi bayi dengan pipi montok dan mata yang sibuk berpindah dari satu benda ke benda lainnya. Tangan mungilnya mencakar boneka kecil dengan antusias.“Dia tidak sadar hari ini adalah hari imunisasi,” kata Keinarra sambil menatapnya penuh cinta. “Kalau dia sadar… pasti sudah protes dari pagi.”Nanny tertawa kecil. “Bayi biasanya nangis ketika disuntik.”Keinarra menggeleng santai. “Anak aku ini pemberani loh, Nan …,” kata Keinarra ringan.“Nangisnya nanti malam saja ya kalau ada Ayah.” Keinarra berujar

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Penuh Dengan Kebahagiaan

    Dunia bisnis punya cara sendiri untuk menyambut anak-anak para pemiliknya.Dan kini, dunia itu mulai mengenal satu nama baru yaitu Keinarra Athaletha Anggoro.Malam itu, Gunawan menjemput Keinarra dengan Bentley hitam. Reyhan menyusul dari kantor dengan mobil mewah yang berbeda. Tidak ada iring-iringan besar, tapi elegan, presisi, dan jelas kalau acara yang akan dihadiri Keinarra ini bukan undangan biasa.“Sayang … apa papa kamu sudah datang?” Reyhan sedang mengenakan jasnya, earphone bluetooth menempel di telinga.Mereka sedang berada di tempat berbeda, Keinarra di rumah dan Reyhan di kantor.“Kayanya sudah sampai, tadi aku denger suara mobil masuk.” Keinarra menjawab.Hening. Mereka sedang sibuk memperbaiki penampilan untuk acara malam ini.“Mas ….” Suara Keinarra terdengar ragu.“Ya sayang ….” Reyhan menyahut cepat.“Acara koperasi bank? Konferensi investor? Atau gala sosial?” tanya Keinarra sambil memakai anting kecil.“Semua dalam satu,” jawab Reyhan sambil mengancing

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Cinta yang Tumbuh Lebih Besar

    Waktu ternyata bisa berlari dan menari dalam diam.Tanpa disadari, enam bulan sudah berlalu sejak Arelio lahir—enam bulan sejak Keinarra menemukan versi dirinya yang pernah ia takutkan, pernah ia rindukan, dan akhirnya ia terima di mana sekarang Keinarra memiliki gelar baru yaitu seorang ibu.Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi, angin masih terasa sejuk, dan kamar bayi dipenuhi aroma sabun bayi dan bedak talc yang ringan. Arelio duduk di kursi bayi dengan pipi chubby yang menggemaskan, rambut tipisnya mulai tumbuh acak, dan matanya yang besar memandang dunia tanpa sedikit pun rasa takut.“Selamat pagi, Pangeran,” kata Keinarra sambil mencium pipi kanan lalu kiri. “Hari ini kita mandi pagi, makan bubur, terus bunda ajak jalan-jalan di taman.”Arelio menjawab dengan gumaman tidak jelas.“Pa-pa-ba-ba.”Keinarra terbelalak. “Kamu barusan manggil siapa? Papa? Atau Bapak? Atau lagi latihan baca mantra?”Arelio menatapnya dengan kerjapan pelan, lalu tertawa tanpa suara sambil mene

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status