Mag-log inNamun, yang membuat mereka terkejut adalah, Ardika bisa menahannya hingga akhir.Tidak hanya itu saja, pada akhirnya pria itu bahkan menyerang balik pemimpin mereka, menghancurkan kecapi kesayangan Kirbi tepat di bawah pengawasan Kirbi.Mungkinkah orang ini bahkan lebih kuat dibandingkan Vita?Mereka menatap Ardika dengan tatapan terkejut.Adapun mengenai mengatakan Ardika lebih kuat dibandingkan Kirbi?Maaf, pemikiran itu tidak pernah tebersit dalam benak mereka sama sekali.Tepat pada saat ini, Kirbi mengangkat tangannya.Beberapa orang anak muda itu langsung bersikap normal kembali, menangkupkan tangan mereka pada Kirbi dengan penuh hormat, lalu melangkah mundur dua langkah.Saat ini, Kirbi menyipitkan matanya, mengamati Ardika dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Pada akhirnya, dia berkata, "Hmm, lumayan.""Aku nggak menyangka dalam kunjunganku ke ibu kota provinsi kali ini, aku bahkan bisa bertemu dengan anak muda level ini.""Nggak perlu menyebutkan kekuatan dulu, hanya dengan
"Keluar!"Ardika mengedipkan matanya pada Vita.Vita berbalik dalam diam, lalu menerjang keluar dengan langkah kaki agak terhuyung-huyung.Kirbi melirik Ardika sekilas, jari-jarinya tetap menari-nari di atas kecapi."Bergerak, bergerak. Serentak, serentak. Menerkam, menerjang, terkam!"Suara kecapi yang kacau, tetapi berirama itu menyelimuti seluruh tempat tersebut seperti badai.Ardika merasakan dirinya juga seperti dikirim ke medan perang itu.Melihat rekan seperjuangan tumbang, gugur satu per satu. Kuda perang juga tewas satu per satu.Tidak tahu berapa lama sudah berlalu, peperangan sudah berakhir. Teriakan membunuh yang menggelegar itu sudah hilang.Tidak tahu berapa lama sudah berlalu, rekan seperjuangan kala itu, telah menjadi tumpukan tulang yang tidak bisa dikenali identitasnya lagi.Bahkan kuda perang yang telah setia menemani selama bertahun-tahun, pada akhirnya juga mati karena usia yang sudah tua setelah terdengar suara isak tangis terakhirnya.Pada akhirnya, hanya seberka
Sorot mata Kirbi sangat dalam seperti pakaian berwarna hitam sehitam tinta, dia bahkan tidak melirik Cahdani sama sekali.Dia juga tidak berbicara, melainkan hanya mengulurkan jari-jari panjangnya, lalu menjentikkan kecapi di hadapannya itu dengan lembut.Suara dentingan logam yang tajam seperti menusuk telinga semua orang. Kirbi yang awalnya terkesan tenang itu langsung berubah seperti sebilah pedang tajam.Lantai sembilan Gedung Glori yang tadinya diselimuti aroma teh yang menenangkan, suasana tenang itu juga hancur karena suara kecapi tersebut. Dalam sekejap, suasana di tempat itu diselimuti dengan niat membunuh yang kuat.Tubuh Cahdani serta beberapa orang pria dan wanita muda di kedua sisi itu langsung terguncang. Bagaikan tersambar petir, raut wajah mereka juga berubah menjadi pucat pasi.Di tempat tersebut, selain Kirbi sendiri, hanya Ardika dan Vita yang sama sekali tidak terpengaruh. Ekspresi mereka tetap terlihat normal."Maju tak gentar, membela yang benar. Maju tak gentar,
Orang yang menerapkan standar ganda seperti itu memang pantas mati.Sebelumnya, saat Lizzie dan Ellias menuduhnya habis-habisan, memerintahkan anak buah untuk mengepungnya dan membunuhnya, orang-orang ini tidak buka suara untuk membelanya.Sekarang setelah dia berhasil menyerang balik, orang-orang ini malah menyalahkannya atas tuduhan tidak bermoral."Kamu ...."Tubuh pria paruh baya itu berkedut sejenak, tidak menerima kematiannya.Melihat pemandangan itu, orang-orang di tempat tersebut tampak ketakutan.Ardika ini benar-benar seorang dewa pembunuh.Dia membunuh orang-orang Keluarga Sirwanto, masih masuk akal. Bagaimanapun juga, kedua belah pihak memang sudah bermusuhan.Namun, orang yang satu ini hanya mengucapkan beberapa patah kata saja, tetapi dia juga tewas di tempat.Semua orang tahu jelas, sekarang mereka tidak boleh memprovokasi Ardika.Minat membunuh orang ini sudah tersulut.Siapa yang berani memprovokasinya, maka akan mati!"Bawa kepala Jemi."Ardika memiringkan kepalanya d
Setelah terpukul mundur sejauh beberapa meter, punggung Jemi membentur pintu di samping singa batu di arah belakangnya dengan keras.Pintu yang dilapisi dengan logam itu langsung terlepas dari tembok akibat benturan tersebut, lalu terbang menghantam lantai dengan keras, menyebabkan debu beterbangan ke mana-mana.Setelah debu yang menyelimuti udara itu memudar, orang-orang di sekeliling tempat itu dengan terkejut mendapati bawah saat ini Jemi sudah tergeletak di lantai dengan tidak berdaya seperti seekor anjing mati.Sementara itu, Ardika berdiri di hadapannya, lalu langsung menginjak dadanya."Wahai, Pak Jemi, salah satu dari empat raja preman dunia preman ibu kota provinsi, apa masih ada kata-kata terakhir?"Ardika menatap Jemi yang diinjaknya itu, ekspresinya tampak main-main, sama sekali tidak terlihat arogan.Hanya mengalahkan seorang Jemi saja, belum bisa membuat perasaannya bergejolak.Jemi menatap Ardika dengan tercengang, ekspresi kebingungan menghiasi wajahnya.Kekuatan Ardika
Benturan antara keduanya membuat Ardika terpukul mundur beberapa meter.Dengan iringan bunyi "klang", pedang dalam genggamannya patah dari bagian tengahnya, lalu terjatuh membentur lantai, hanya menyisakan patahan pedang.Sementara itu, Jemi juga mengeluarkan suara desahan teredam. Ekspresinya yang awalnya tampak tenang itu langsung memerah, tubuhnya bahkan terhuyung-huyung mundur sekitar sepuluh meter.Melihat lubang dangkal yang terbentuk di permukaan lantai akibat pijakan kedua kaki Jemi sejauh sepuluh meter ini, semua orang pun tercengang.Bagaimana mungkin?Jemi, yang dua puluh tahun lalu saja sudah bisa meremehkan seluruh ibu kota provinsi itu, malah terpukul mundur oleh Ardika?Orang-orang yang jeli bisa melihat dengan jelas, pada benturan tadi lawan Jemi jelas lebih unggul.Saat ini, Jemi sendiri juga menunjukkan ekspresi tidak percaya, karena sarung tangan Wolfram di tangannya itu sudah hancur berkeping-keping!Dibandingkan dengan satu tamparan yang dilayangkan oleh Ardika ke







