MasukPintu mobil terbuka, Alendo turun dari mobil perlahan-lahan, lalu berjalan memasuki lokasi.Kejadian yang menimpa Alendo beberapa waktu ini juga telah menarik perhatian banyak orang.Saat dia muncul di lokasi lelang, semua orang merasa agak kaget.Setelah mengalami kerugian besar dalam bisnis, Alendo masih bisa menghadiri acara lelang dengan santai. Kelihatannya dia benar-benar tidak memedulikan kerugian itu.Ini membuat lebih banyak orang lagi menghormati mental kuatnya itu."Alendo, kenapa hari ini kamu ada waktu untuk datang ke sini?"Mendengar suara agak heboh, Jayden Jamando, Tuan Muda Keluarga Jamando menoleh untuk melihat. Dia tidak menyangka dia bisa melihat Alendo di sini.Saat ayahnya Alendo masih hidup, dua keluarga sering berinteraksi, boleh dibilang mereka berdua juga adalah teman.Kali ini, bertemu di lokasi acara lelang, tentu saja dia merasa agak penasaran."Yah, karena nggak bisa bertemu Tuan Besar keluarga kalian, aku hanya bisa mencari cara lain."Alendo berbicara ju
Karena kekurangan dana, ada banyak barang yang terpaksa dijual. Walaupun merasa agak enggan, tetapi bisa mempertahankan bisnis, juga boleh dibilang bisa mengembalikan sedikit martabat.Hanya saja, dia juga mengerti kalau terus begini, orang-orang Keluarga Siantar akan mengintervensi bisnisnya, ini juga akan membuat reputasinya hancur."Apa hari ini acara lelangnya?"Alendo sangat sibuk, tetapi dia tetap memikirkan cara untuk menyenangkan hati Tuan Besar Keluarga Jamando."Acara lelang diadakan pada malam ini. Hari ini ada sebuah vas bunga antik yang sangat diminati. Sepertinya Tuan Besar Keluarga Jamando nggak bisa hadir, tapi generasi muda keluarganya akan menghadiri acara tersebut."Lucas memberi tahu bosnya informasi yang diketahuinya.Demi bisa menyenangkan hati Tuan Besar Keluarga Jamando, meminta pria itu untuk mengatakan informasi di balik layar, maka Alendo hanya bisa mengeluarkan modal besar."Bagaimana hasil penyelidikan latar belakang Ardika?"Kebetulan lagi senggang Alendo
Asalkan pernah melakukan registrasi di Hotel Biston, Wesanto bisa memikirkan segala macam cara untuk memperoleh data orang tersebut.Namun, setelah dia melakukan penyelidikan lagi dan lagi, dia tetap tidak mendapatkan informasi apa pun.Hal ini membuatnya sangat keheranan. Jelas-jelas orang tersebut pernah menginap di tempat itu, bahkan tinggal di sana cukup lama, seharusnya ada informasi tentangnya. Namun, selain beberapa lembar gambar yang kabur, dia tidak menemukan informasi apa pun."Ini benar-benar aneh. Sebenarnya apa latar belakang orang ini? Bisa-bisanya dia begitu misterius.""Terakhir kali Alendo telah menyinggung seseorang sampai-sampai dia kehilangan proyeknya lagi dan lagi. Sekarang dia ingin menyelidiki Ardika yang misterius ini. Apa mungkin ada hubungan antara dua hal ini?"Sebagai seorang detektif yang terkenal, dia bukan hanya bisa memperoleh informasi orang lain, dia juga mengerti cara menganalisis situasi.Makin dilihat, hal ini makin berbahaya.Ini membuatnya berpik
Kala itu, saat Ardika menarik Kesya keluar dari Hotel Biston, kebetulan mobil tersebut sedang menyalakan kamera mobilnya dan menangkap bayangan dua orang tersebut.Tidak mudah bagi Lucas untuk mendapatkan foto ini.Jadi, sekarang dia hanya bisa mencari ahlinya untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan keahlian tersebut.Dengan adanya foto, seharusnya mereka bisa menyelidiki latar belakang Ardika, juga bisa menyelidiki beberapa informasi tentang pria itu.Lucas berjalan masuk dari pintu samping, lalu berjalan melewati halaman lantai satu dan naik ke lantai dua.Setibanya dia di lantai dua, dia mengetuk pintu dengan lembut. Tanpa waktu lama, terdengar suara langkah kaki dari dalam.Seorang pria yang mengenakan kaus dan rambut tampak berantakan menatap Lucas dengan tatapan mengantuk."Oh, Kak Lucas, itu kamu! Kalau ada apa-apa, telepon saja. Untuk apa sampai datang sendiri seperti ini?"Sambil berbicara, Wesanto Basuki menyingkir ke samping untuk mempersilakan Lucas masuk.Lucas menatap te
"Baik, aku mengerti."Selesai berbicara, Lucas tidak langsung pergi."Ada apa lagi?"Lucas masih berdiri di sana, itu artinya masih ada hal penting yang belum dikatakannya. Namun, dilihat dari ekspresi ragunya, sudah tahu itu adalah hal yang sangat merepotkan."Kita sudah kehilangan beberapa proyek. Awalnya kita berencana menggunakan proyek-proyek itu untuk membalikkan keadaan, tapi ada yang mengakuisisinya dengan harga tinggi."Selesai berbicara, Lucas melangkah mundur satu langkah dan menundukkan kepalanya untuk menunggu ledakan amarah Alendo."Lupakan saja, hal ini juga bukan salahmu."Awalnya Alendo memang ingin melampiaskan amarahnya, tetapi pada akhirnya dia meletakkan gelas anggurnya dalam diam.Dia tahu ini bukan kesalahan Lucas.Dia sendiri yang tanpa sadar telah menyinggung seorang tokoh hebat, sampai-sampai ditargetkan seperti ini."Sebelumnya aku memintamu untuk membuat janji temu dengan Tuan Besar Keluarga Jamando, apa sudah berhasil?"Terakhir kali saat di pesta ulang tah
Hanya saja, dia tidak akan membocorkan informasi ini pada ibunya.Saat memikirkan hal-hal itu, Kesya merasa kepalanya agak berdenyut sakit. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membenamkan dirinya ke dalam air.Saat dia merasa hampir tidak bisa bernapas, dia tetap tenang. Ini adalah momen dirinya menikmati waktu sendiri.Saat dia benar-benar sudah tidak tahan lagi, dia baru keluar dari dalam air, lalu menghirup udara segar, seakan-akan semua beban dalam hatinya sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.Setelahnya, Kesya terus dikurung di dalam rumah, tidak bisa keluar.Andelin benar-benar tidak hanya sekadar omong saja soal ini.Ditambah lagi pesta ulang tahun Kesya sudah berakhir, tidak ada cara penting yang perlu dihadirinya lagi.Karena kejadian sebelumnya, Andelin masih ditertawakan oleh orang-orang di belakang, juga membuatnya merasa sangat malu.Namun, dengan identitasnya, terlepas dari seberapa arogan orang-orang itu, mereka juga tidak berani mengatakan apa pun di hadapannya, ja
Kedua kaki Gibran langsung lemas, ekspresinya sudah sepucat secarik kertas putih.Dia tahu, kali ini dia benar-benar sudah tertimpa masalah besar.Tak lama kemudian, mereka sudah memahami kronologis kejadiannya.Hari ini, Handoko dan beberapa orang temannya bermain bola di lapangan olahraga.Fio yang se
"Kami adalah anggota Aliansi Lautan Berlian. Kalau nggak ingin mati, cepat buka gerbangnya!" teriak pemimpin kelompok pembunuh itu dengan marah.Begitu gerbang terbuka, dua puluh orang itu langsung melenggang masuk.Namun, begitu mereka memasuki kompleks mewah tersebut, pemimpin kelompok pembunuh itu
Sigit berusaha membujuk Ardika dengan suara rendah.Tadi, saat Ardika ditangkap, dia lihat keluarga Ardika bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membelanya.Sigit merasa kecewa dan sakit hati untuk Ardika.Sekarang jelas-jelas dia sedang dituduh oleh orang lain, tetapi bahkan keluarganya pun
"Eh? Apa-apaan ini? Apa yang sedang dilakukan oleh menantu idiot Keluarga Basagita itu?""Penyakit idiot itu pasti kumat lagi. Apa dia pikir Tuan Alden bisa hidup kembali dan menyelamatkannya?"Tindakan Ardika ini benar-benar di luar perkiraan semua orang dan menjadi bahan tertawaan semua orang.Mereka







