LOGINPERINGATAN >> UPDATE 4-5 BAB SEHARI! Aku selalu dihina, tapi aku tidak bisa diam saja. Aku harus bangkit dan membuktikan pada semua orang kalau aku bisa jadi Penguasa!
View More"Lestari..." Suara Joko keluar lebih mirip bisikan parau.
Lestari menoleh, diikuti tiga pasang mata lainnya. Senyum semanis madu itu memudar, berganti kerutan jijik di dahinya yang mulus. "Joko? Mau apa kamu ke sini?" tanyanya ketus.
Joko menelan ludah, terasa seperti menelan kerikil. "I-ini... untukmu," katanya, menyodorkan bunga kamboja itu. "Aku... aku suka sama kamu, Lestari."
Hening sejenak, lalu meledak menjadi tawa sinis dari teman-teman Lestari.
Lestari menatap bunga di tangan Joko, lalu ke wajahnya yang pucat pasi. Tatapan matanya menusuk, dingin dan merendahkan. "Joko, Joko... kamu ini waras atau tidak?" desisnya.
"Kamu mau melayat siapa? Bawa-bawa bunga kuburan begini!"
"Benar itu, Tari!" sahut Dina, temannya. "Dia pikir kamu ini kuntilanak apa, dikasih bunga beginian!"
"Aku serius, Lestari," bisik Joko, mengabaikan ejekan itu.
"Serius?" Lestari tertawa hambar, suara yang lebih menyakitkan dari tamparan. Ia bangkit, melangkah mendekat. "Joko, dengar baik-baik. Kamu mau kasih makan aku apa? Cinta? Memangnya cinta bisa buat beli skincare dan kuota internet? Lulusan SMP sepertimu itu paling banter jadi kuli bangunan. Gajimu sebulan bahkan tidak cukup untuk uang jajanku seminggu!"
"Lihat saja dirimu!" timpal Susi, menusuk lebih dalam. "Baju butut, sandal jepit. Apa kamu mau ajak Lestari tinggal di gubuk reotmu itu, sama kakekmu yang batuk-batuk terus?"
Setiap kata adalah tamparan. Hati Joko terasa diremas.
Lestari menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Joko, sadar diri. Kita ini beda kasta. Kamu itu tanah, sementara aku ini langit. Sekarang, pergi. Bunga busukmu ini bawa saja kembali ke kuburan."
Ia bahkan tidak sudi menyentuh bunga itu.
Hancur.
Seluruh dunia Joko hancur.
Dengan kepala tertunduk, diiringi gelak tawa yang membahana, Joko berbalik dan berlari. Ia berlari meninggalkan harga dirinya yang terkoyak di saung itu.
Napasnya tersengal saat tiba di depan gubuknya. Namun, rasa malu itu seketika sirna, digantikan oleh horor yang mencekik. Dari celah pintu, terdengar suara batuk yang parah, disusul erangan lirih. Suara kakeknya.
"Kakek!"
Joko menerobos masuk. Pemandangan di depannya adalah palu godam yang menghantam sisa-sisa jiwanya.
Kakeknya terbaring di dipan, menggigil hebat seolah demamnya bisa membekukan api. Wajahnya sepucat kertas, bibirnya membiru, dan setiap tarikan napasnya terdengar seperti serutan kelapa basah, berat dan menyakitkan. Bau minyak angin yang tajam bercampur dengan aroma anyir darah yang samar-samar membuat perut Joko mual.
"Kakek!" teriak Joko, suaranya pecah. Ia luruh ke lantai di samping dipan, menggenggam tangan keriput itu.
Dingin. Sedingin es.
"Kakek kenapa?! Bertahan, Kek! Kita ke mantri sekarang!" racau Joko, pikirannya kacau balau. Ia hendak bangkit, menarik tubuh ringkih itu jika perlu, namun sebuah genggaman yang luar biasa lemah, namun tegas, menahannya.
"Ndak... usah, Le..." desis sang kakek di sela batuknya yang menyiksa. Matanya yang berkabut menatap Joko, dan di dalam tatapan itu, Joko melihat lautan kasih sayang yang tak bertepi. "Percuma... Ajal itu... kalau sudah memanggil... ndak bisa ditawar."
"Jangan ngomong gitu, Kek! Kakek pasti sembuh! Kakek orang paling kuat yang Joko kenal!" isak Joko, air matanya mulai menggenang. "Joko cari bantuan! Joko panggil Pak RT!"
"Ssssttt... Duduk, Le... duduk sini... dekat Kakek," pinta sang kakek, suaranya nyaris tak terdengar. "Sudah... ndak ada waktu lagi..."
Dengan berat hati, Joko kembali berlutut. Tangan kurus sang kakek terangkat dengan susah payah, menyentuh pipi Joko. Kulitnya terasa seperti kertas tua, rapuh dan dingin.
"Kamu itu... anak baik, Joko. Cucu Kakek satu-satunya," bisiknya. "Maafkan Kakek... ndak bisa... kasih kamu harta. Maafkan Kakek... kalau hidupmu... susah..."
"Joko nggak butuh apa-apa, Kek! Joko cuma butuh Kakek di sini!" tangis Joko pecah, membasahi tangan ringkih itu.
"Darahmu... itu beda, Le," lanjut sang kakek, matanya menatap lurus seolah menembus jiwa Joko. "Darah kita... itu darah... Lelaki Kencana. Tugas Kakek menjagamu... sudah selesai... sekarang... tugasmu yang melanjutkan."
Joko hanya bisa menggeleng, tidak mengerti sama sekali. Lelaki Kencana? Apa itu? Kepalanya terlalu penuh dengan rasa takut kehilangan.
Sang kakek terbatuk hebat, tubuhnya melengkung menahan sakit. Setitik darah segar muncul di sudut bibirnya. Matanya yang sayu bergerak liar, menunjuk ke sebuah lemari kayu tua yang miring di sudut ruangan.
"Joko... dengarkan Kakek baik-baik..." napasnya semakin pendek dan cepat. "Di... di balik lemari itu... ada... warisan..."
"Warisan apa, Kek?"
"Ambil... Cepat, Le... waktunya... sempit sekali..." desak sang kakek, cengkeramannya menguat sesaat.
Joko bimbang, hatinya menjerit tak mau meninggalkan sisi kakeknya barang sedetik pun. "Tapi, Kek, Joko mau di sini..."
"Sekarang, Joko!" Suara kakeknya tiba-tiba menggelegar, penuh wibawa dan keputusasaan. Matanya yang tadi sayu kini berkilat tajam. "Lakukan perintah Kakek!"
Tersentak oleh perintah terakhir yang penuh kekuatan itu, Joko bangkit. Dengan air mata yang mengaburkan pandangan, ia mengerahkan seluruh tenaganya mendorong lemari tua itu. Bau debu dan kayu lapuk menusuk hidungnya.
Lemari itu bergeser dengan suara derit yang memilukan, memperlihatkan sebuah lubang di lantai papan.
Di dalamnya, terbungkus kain belacu kusam, sebuah benda tergeletak.
Saat menyentuhnya, sengatan halus namun tajam menjalar di lengannya. Ia meraih bungkusan itu dan bergegas kembali.
Napas kakeknya kini hanya helaan-helaan pendek. Matanya setengah terpejam.
"Ini, Kek... sudah Joko ambil..." isaknya, menunjukkan bungkusan itu.
Mata kakeknya sedikit terbuka, tatapannya menyiratkan kelegaan yang luar biasa. "Bagus...," bisiknya. "Ingat pesanku, Le... Jangan... dibuka... sembarangan..."
Ia berhenti, mengumpulkan sisa napas terakhirnya.
"Benda itu... hidup... dia minta... darahmu... sebagai... kuncinya..." lanjutnya terbata-bata. "Gunakan... dengan... bi...jak... Jangan sampai... dikuasai..."
"Dikuasai? Maksud Kakek apa?" tanya Joko panik, mengguncang pelan lengan itu.
Sang kakek mencoba tersenyum, senyum terakhirnya. "Jaga... diri... Le..."
Setelah kata terakhir itu, genggaman tangannya melemas total. Dadanya tak lagi bergerak. Kilat di matanya yang sayu telah padam selamanya. Helaan napas terakhir telah dihembuskan tanpa suara.
Keheningan yang memekakkan telinga.
Joko terpaku. Otaknya menolak. "Kek? Kakek...?" panggilnya dengan suara bergetar.
Hening.
"KEK!"
Sebuah lolongan pilu akhirnya pecah dari dadanya, raungan panjang dari seorang anak laki-laki yang dunianya, dalam satu jam yang singkat, telah dirampas, dihancurkan, dan dibakar menjadi abu.
Ia memeluk tubuh yang mendingin itu. Di sampingnya, tergeletak anak panah ketiga warisan misterius dengan pesan terakhir yang ganjil. Ia sendirian sekarang. Benar-benar sendirian.
Dengan air mata yang masih mengalir, Joko menggenggam bungkusan itu. Berat dan terasa memancarkan hawa hangat. "Kek," bisiknya pada keheningan. "Joko bersumpah. Joko akan gunakan ini. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk membangun takdir di mana tak seorang pun berani merendahkan Joko lagi, jika memang pusaka ini akan merubah hidup Joko."
Sumpah itu terucap.
Di dalam genggamannya, ia bisa merasakan bentuk dari pusaka itu. Sebuah Keris Semar Mesem. Pusakanya yang menandai kembalinya Sang Penguasa!
Langkah kaki Joko terasa berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban dosa dunia di pundaknya. Napasnya menderu kasar, memecah keheningan malam yang mencekam. Di punggungnya, tubuh kaku Ki Banyu terkulai, lengan-lengan panjang pria itu berayun-ayun tak bernyawa mengikuti irama langkah Joko, sesekali menyentuh semak belukar yang mereka lewati.Joko menghindari jalan raya. Ia menyusup melewati pagar pembatas yang rusak, masuk ke dalam area lahan kosong bekas sengketa yang luas, tempat yang sama di mana ia bertemu bayangan Eyang Giri Sewu dalam visi sebelumnya. Namun kali ini, ini bukan visi. Ini nyata. Darah yang merembes membasahi punggung kemejanya adalah darah asli. Bau amis yang menusuk hidungnya adalah bau kematian yang sesungguhnya.Area itu gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya bulan yang mengintip dari balik awan mendung. Ilalang setinggi dada manusia tumbuh liar, menyembunyikan pergerakan Joko dari mata dunia luar. Suara serangga malam terdengar nyaring, seolah
Kekuatan pukulan Joko begitu besar hingga dada Ki Banyu amblas ke dalam. Tulang rusuknya patah, menusuk paru-paru dan jantungnya seketika.Hempasan tenaga dalam itu kemudian meledak, melemparkan tubuh Ki Banyu ke belakang seperti layang-layang putus.BUM!Tubuh Ki Banyu terbang melintasi jalan raya, menghantam batang pohon besar di seberang jalan dengan suara gedebuk yang keras, lalu jatuh merosot ke tanah. Ia tidak bergerak lagi. Punggungnya tersandar di pohon, kepalanya terkulai miring dengan sudut yang tidak wajar.Seketika itu juga, kabut putih yang menyelimuti jalanan lenyap.Seperti tirai yang ditarik paksa, ilusi air itu menguap menjadi udara kosong. Pemandangan jalan raya malam hari kembali terlihat jelas. Lampu jalan kembali bersinar kuning. Suara jangkrik kembali terdengar.Joko berdiri mematung di tengah jalan. Tangan kanannya masih terulur ke depan dalam posisi memukul. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercampur dengan cipratan darah
Kabut putih itu bukan sekadar uap air. Itu adalah penjara hidup.Joko terbatuk-batuk hebat, tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Udara di sekitarnya terasa lengket dan basah, setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup air laut yang asin dan pekat. Paru-parunya terasa terbakar, memohon oksigen yang semakin menipis. Pandangannya benar-benar buta. Putih. Hanya putih sejauh mata memandang, diselingi oleh bayangan-bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti belut raksasa di sekelilingnya.“Sia-sia, Nak,” suara Ki Banyu terdengar bergema dari segala arah, memantul-mantul di dalam dinding kabut, membuatnya mustahil untuk dilacak. “Kau mungkin punya tenaga dalam yang besar, kau mungkin punya kulit yang keras, tapi bisakah kau bertarung melawan udara yang kau hirup?”Sreeet!Sebuah sabetan air yang tajam tiba-tiba muncul dari samping kanan. Joko terlambat menghindar. Bahu kirinya tergores, kain kemejanya robek, dan darah segar merembes keluar. Lukanya terasa perih luar biasa, seol
Joko masuk ke dalam mode fokus penuh. Dunia di sekelilingnya melambat. Ia melihat lintasan pukulan api itu. Ia menepis pukulan ke arah wajah dengan telapak tangan, mengelak pukulan ke rusuk dengan memutar pinggang, dan menahan pukulan ke perut dengan lututnya.Tak! Buk! Plak!Suara adu fisik terdengar cepat dan ritmis. Mereka bertukar serangan dengan kecepatan tinggi di tengah jalan yang sunyi. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, terjadi letupan kecil antara energi emas dan api merah.Joko mulai merasakan pola serangan Ki Agni. Kuat, eksplosif, tapi… emosional. Terlalu mengandalkan amarah.“Dia petarung kasar,” bisik Khodam. “Dia boros tenaga. Jangan adu kekuatan, bocah. Gunakan kelincahanmu. Matikan apinya dari sumbernya.”‘Sumbernya?’ tanya Joko dalam hati sambil menunduk menghindari sabetan tangan Ki Agni yang nyaris membakar rambutnya.“Pusat napasnya! Ulu hati! Di situlah dia mengumpulkan panasnya!”Joko mengerti.Saat Ki Agni menarik tangannya ke belakang untuk melancarkan puk






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore