Share

Bab Tujuh

Ibu Pov

**************

"Bagas, kamu tahu kalau Kalila hamil?" tanyaku pada Bagas yang berada di seberang telepon.

"Eh, Mbak nanti aku telpon lagi, ya. Sekarang ada tamu." Bagas segera mengakhiri panggilan.

"Gas, tunggu. Bagas, halo. Halo, Gas ...." Berkali kupanggil pun percuma. Panggilan sudah terputus.

Sikap Bagas cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengetahui sesuatu tentang bayi Kalila. Dan aku yakin akan hal itu. 

"Mbak, Mbak, ada apa?" sentak Ima, sedikit membuatku terjingkat.

"Im, kayaknya Bagas tahu sesuatu tentang bayi Kalila," ungkapku.

"Masa, sih, Mbak? Emang Mas Bagas tadi bilang apa?"

"Bagas tanya, apa Kalila udah lahiran? Itu artinya dia tahu, kan, kalau Kalila hamil?" Ima pun mengangguki kata-kataku. "Dan Mbak juga yakin pasti Bagas tahu siapa ayah dari bayi itu," sambungku.

"Terus, sekarang rencana Mbak apa?"

"Im, sepertinya kita gak perlu tanya teman-teman Kalila. Mbak yakin Bagas tahu lebih banyak soal Kalila. Kamu bawa mobil?"

"Bawa."

"Kalau begitu, antar Mbak ke Apartemen Kalila. Biar Mbak kasih tahu suami Mbak dulu."

"Ya udah, ayo. Sekalian aku jenguk Kalila sama bayinya."

Kami pun mengakhiri pembicaraan di resto tersebut. Kemudian memutuskan untuk kembali ke Apartemen dengan diantar oleh Ima.

**********

Ima membelokkan mobilnya menuju basement Apartemen. Kemudian memarkirnya di sana. Kami pun bergegas turun dari mobil dan melanjutkan langkah dengan menggunakan lift menuju lantai 18.

Sebelumnya, aku dan Ima sudah sepakat untuk tidak sedikit pun menyinggung soal Bagas di depan Kalila. Biar nanti aku yang akan bicara dengan suamiku saat kami hanya berdua. 

Seperti biasa, Bi Resti yang bertugas membukakan pintu ketika ada yang membunyikan bel. Wanita baya itu, selalu saja memasang gelagat waspada setiap kali berhadapan denganku maupun suamiku. Bicara juga sangat hati-hati seperti sedang menutupi sesuatu.

Namun, aku tak berniat menggali informasi darinya. Karena, aku yakin Kalila sudah mengunci rapat-rapat bibir Bi Resti dan memaksanya untuk bersikap seolah tidak tahu apa-apa.

"Loh, Mbak, yang tadi siapa?" tanya Ima, keheranan.

"Itu ARTnya Kalila," jawabku apa adanya.

"Astaga, Kalila punya ART? Bukannya Apartemen ini sewaan? Terus, emang gajinya cukup buat bayar semua itu?" Rentetan pertanyaan itu, lolos tanpa hambatan dari mulut adik kandungku.

"Aku juga gak tahu, Im. Kan, aku udah cerita ke kamu, kalau Kalila sekarang banyak berubah. Dia gak mau lagi terbuka padaku atau pada ayahnya. Selama kami di sini, dia juga lebih banyak diam." Ima memasang pendengarannya dengan tajam saat aku bicara dengan setengah berbisik.

Kulihat juga, ia mengedarkan pandangan, memerhatikan setiap detail ruangan beserta segala isi dari Apartemen ini. Kurasa pikiran Ima pasti sama sepertiku ketika baru memasuki tempat ini.

"Apartemen ini besar sekali, Mbak. Maaf-maaf, ya, Mbak, aku kok kayak gak percaya kalau Kalila sanggup bayar sewa Apartemen ini. Ditambah lagi ada ART segala. Maaf aja, ini sih. Bukan maksudku menyepelekan Kalila." Ima, menyatakan rasa tak percayanya dengan apa yang dimiliki Kalila saat ini.

Aku pun terdiam. Bukan karena tersinggung, tetapi aku pun berpikiran sama dengan Ima. 

"Bukan apa-apa, ya, Mbak, soalnya aku juga tahu berapa perkiraan gaji seorang staff. Bukannya sombong juga, Mbak sendiri tahu Mas Amar juga punya perusahaan. Dia punya karyawan, punya sekretaris, punya asisten. Ya, meskipun perusahaan tempat kerja Kalila lebih besar, terus atasannya juga baik, tapi aku yakin kalau masalah gaji gak akan jauh beda."

Ya, benar yang dikatakan Ima. Meskipun aku tidak tahu pasti berapa gaji seorang asisten direktur, tapi aku juga tidak yakin kalau bisa memenuhi gaya hidup Kalila saat ini. 

"Kamu benar, Im. Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi, yang namanya Ibu sama anak, pasti berusaha gak berburuk sangka. Biar gimana juga, Kalila itu anakku," ujarku.

"Iya, aku ngerti, Mbak."

"Oh ya, Im, kamu kenal sama atasan Kalila itu?" Mendadak teringat dengan nama yang Ima sebutkan tadi.

"Ya kenal lah, Mbak. Dia, kan, rekan bisnis Mas Amar juga. Masa Mbak lupa? Yang rekomendasikan Kalila ke Pak Haryadi juga, kan, Mas Amar. Ya, udah pasti kenal. Kita juga sering ketemu kalau ada undangan acara-acara perusahaan. Aku juga kenal sama istrinya. Namanya Salma. Dia itu sekretarisnya Pak Haryadi. Sampe sekarang juga masih jadi sekretarisnya."

Terlalu antusias dengan pembicaraan, aku sampai lupa mempersilahkan Ima duduk. Bukan hanya aku, Ima sendiri pun seperti tak menyadari jika sedari tadi dirinya hanya berdiri sambil meneliti setiap sudut yang tertangkap oleh pandangannya.

"Duduk dulu, Im. Biar Mbak kasih tahu Kalila sama suami Mbak, kalau kamu datang."

Setelah memastikan Ima dalam posisi nyaman. Aku segera menuju kamar tamu, dimana suamiku kemungkinan besar berada.

"Yah, di depan ada Ima," kataku setelah pintu terkuak dan menampakkan suamiku yang sedang berkutat dengan laptopnya.

"Apa? Ima ke sini?" Suamiku terlihat kaget.

"Iya, dia mau jenguk Kalila," jelasku.

"Bu, aku malu banget kalau harus ketemu Ima."

"Kenapa harus malu? Ima juga ngerti, kok. Lagian kalau Ayah gak mau nemuin Ima, yang ada Ima yang ngerasa gak enak. Dia kira Ayah marah karena Ima gak mau bantuin Kalila."

Suamiku sejenak merenungi kata-kataku, hingga kemudian setuju menemui Ima. Karena, sesungguhnya semua yang terjadi pada Kalila itu di luar prediksi kami semua. Sebagai orang tua, kami juga tak luput menasihati Kalila hampir setiap saat. Agar ia bisa menjadi manusia yang berakhlak baik. Meski pada kenyataannya justru sebaliknya.

**********

"Apa kabar, Mas," sapa Ima, ketika aku dan suamiku sudah berada di depannya.

"Alhamdulillah, baik," jawab suamiku. Kemudian lanjut berbasa-basi bertanya kabar keluarga masing-masing. 

"Saya minta maaf atas apa yang terjadi pada Kalila. Saya tahu kesalahannya sedikit banyak akan membuatmu malu di hadapan keluargamu. Terutama suamimu," ucap suamiku, pada akhirnya harus mengakui jika apa yang terjadi pada Kalila adalah sebuah kesalahan besar.

"Gak usah minta maaf, Mas. Ini bukan salah Mas Ridwan, bukan salah Mbak Ira juga. Lagian semua udah kejadian begini, mau diapain lagi. Aku juga merasa bersalah, karena kemarin mengabaikan Kalila. Seharus-"

"Sstt ... Udah, Ima. Gak usah diterusin." Potongku, tak ingin Ima larut dalam rasa bersalahnya.

Usai saling bertegur sapa dan menyampaikan beberapa patah kata, aku beranjak menuju kamar Kalila. Memberitahunya akan kunjungan Ima.

"Lila, ada Tante Ima di depan. Dia mau jenguk bayimu," seruku, ketika melihat Kalila sedang menggendong bayinya.

"Tante Ima?" tanyanya, memastikan. Tak jauh beda dengan suamiku tadi. Aku pun mengangguk sambil menyentuh pipi kemerahan bayi Arla.

Tiba-tiba raut wajah Kalila berubah. Matanya mulai memerah, menunjukkan kilatan amarah.

"Lila gak mau ketemu Tante Ima."

"Lila!" peringatku, ketika ia bersuara dengan geramnya.

"Kenapa?" Kalila menatap nyalang padaku. "Lila berhak bersikap begini. Dan Tante Ima pantas menerimanya. Kalau bukan karena dia, Lila gak akan seperti ini, Bu," pekik Lila, dengan lantang.

______________________________________

Bersambung

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status