Share

BAB 40 — Ambang Kehilangan

Penulis: S.E
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-11 21:58:22
Aku tidak terbangun dengan rasa takut pagi itu.

Tidak ada bayangan ancaman. Tidak ada tekanan yang menempel di dada. Dunia berjalan sebagaimana mestinya, tenang, bahkan nyaris longgar. Jika seseorang melihatku dari luar, ia akan mengatakan bahwa aku baik‑baik saja.

Dan justru di sanalah aku menyadari perubahan itu sepenuhnya.

Tubuh ini bergerak sebelum aku sempat memikirkan arah.

Bukan dalam situasi bahaya. Bukan saat suara keras atau niat bermusuhan muncul. Melainkan dalam jeda‑jeda kosong, ketika seharusnya tidak ada alasan untuk bersiap.

Aku melangkah melewati lorong yang sudah sering kulewati. Tidak ada apa pun di sana. Namun jarakku ke pusat ruang itu selalu berhenti di titik yang sama sedikit lebih dekat dari biasanya. Bukan kebetulan. Polanya terlalu konsisten untuk diabaikan.

Aku berhenti dan mencoba mundur setengah langkah.

Tubuh ini menurut.

Namun ketika aku kembali berjalan, ia lagi‑lagi memilih jarak yang sama.

Seolah ada batas baru yang kini dianggap aman
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   BAB 42 — HARGA DARI JEDA

    Aku benar-benar pergi. Tidak ada ritual perpisahan. Tidak ada jejak yang sengaja kutinggalkan. Tempat itu berhenti menjadi bagian dari langkahku begitu aku melewati batas terakhirnya. Namun dunia di luar tidak terasa lebih ringan. Tekanannya berbeda. Bukan tekanan yang memaksa inti menegang, melainkan ruang yang terlalu luas untuk segera dipahami. Lingkungan ini tidak menyesuaikan diri denganku. Ia membiarkan aku menyesuaikan diri sendiri atau tertinggal. Aku berjalan tanpa tujuan besar. Bukan karena tidak punya arah, tetapi karena arah itu belum pantas dipaksa. Stabilisasi yang kulakukan hanya memberi izin untuk tumbuh, bukan jaminan keselamatan. Setiap langkah kuambil dengan kesadaran bahwa jeda antara kehendak dan tubuh masih rapuh. Beberapa kali tubuh ini bergerak lebih dulu. Namun tidak lagi mutlak. Ada sela. Dan di sel

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 41 — Stabilisasi Inti

    Aku tidak langsung mencari jawaban di luar. Setelah menyadari bahwa tubuh ini mulai bergerak mendahului kehendak, hal pertama yang kulakukan justru berhenti. Bukan untuk bersembunyi. Bukan pula karena takut melangkah. Aku hanya tahu satu hal dengan jelas: jika aku terus bergerak tanpa memahami apa yang berubah di dalam, maka keputusan apa pun setelah ini tidak akan sepenuhnya milikku. Aku menarik diri dari ritme sekitar. Dari langkah-langkah yang mulai terasa otomatis. Dari jarak aman yang dipilih tubuh ini tanpa persetujuanku. Aku memilih ruang sempit yang nyaris tidak layak disebut tempat berdiam. Tidak ada formasi pelindung. Tidak ada persiapan berlebih. Jika sesuatu terjadi di luar kendaliku, aku akan mati di sini tanpa perlawanan. Aku menerima kemungkinan itu. Aku duduk. Qi mulai kugerakkan p

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   BAB 40 — Ambang Kehilangan

    Aku tidak terbangun dengan rasa takut pagi itu. Tidak ada bayangan ancaman. Tidak ada tekanan yang menempel di dada. Dunia berjalan sebagaimana mestinya, tenang, bahkan nyaris longgar. Jika seseorang melihatku dari luar, ia akan mengatakan bahwa aku baik‑baik saja. Dan justru di sanalah aku menyadari perubahan itu sepenuhnya. Tubuh ini bergerak sebelum aku sempat memikirkan arah. Bukan dalam situasi bahaya. Bukan saat suara keras atau niat bermusuhan muncul. Melainkan dalam jeda‑jeda kosong, ketika seharusnya tidak ada alasan untuk bersiap. Aku melangkah melewati lorong yang sudah sering kulewati. Tidak ada apa pun di sana. Namun jarakku ke pusat ruang itu selalu berhenti di titik yang sama sedikit lebih dekat dari biasanya. Bukan kebetulan. Polanya terlalu konsisten untuk diabaikan. Aku berhenti dan mencoba mundur setengah langkah. Tubuh ini menurut. Namun ketika aku kembali berjalan, ia lagi‑lagi memilih jarak yang sama. Seolah ada batas baru yang kini dianggap aman

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 39 — Tubuh yang Mengingat

    Aku menyadari perubahan itu bukan saat bahaya datang.Justru ketika tidak ada apa pun yang menuntutku bergerak.Hari-hari berlalu tanpa benturan besar. Tidak ada tekanan yang memaksaku memilih. Jalur tugas berjalan seperti biasa, ritme dunia tampak kembali longgar. Namun ada sesuatu yang tidak pernah kembali ke tempatnya semula.Tubuh ini.Ia tidak lagi berada sepenuhnya di pinggir.Aku berjalan, dan tanpa kusadari langkahku selalu berhenti sedikit lebih dekat ke pusat kejadian. Bukan karena dorongan. Bukan karena rasa ingin tahu. Seolah ada jarak tertentu yang kini dianggap wajar oleh tubuh ini jarak yang dulu kuhindari tanpa perlu dipikirkan.Aku menyadarinya pertama kali saat bahuku menegang sebelum suara keras terdengar.Tidak ada serangan. Tidak ada niat bermusuhan.Namun otot-otot itu sudah bersiap, mengikuti pola lama yang tercetak dari tekanan sebelumnya. Reaksi itu tidak berasal dari pikiranku. Ia

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 38 — Tanpa Pilihan Bersih

    Aku tidak langsung melangkah setelah kejadian itu. Bukan karena ragu. Melainkan karena ruang di sekitarku berubah menjadi sempit dengan cara yang berbeda. Tidak ada tekanan langsung. Tidak ada ancaman yang memaksaku bergerak. Namun ada sesuatu yang tertinggal jejak dari pilihan yang belum dibuat, tapi sudah menuntut akibat. Situasi ini tidak datang sebagai serangan. Ia hadir sebagai cabang. Dua kemungkinan terbuka bersamaan, dan keduanya tidak memberiku jalan keluar yang bersih. Jika aku menghindar, jalur di belakangku akan terbuka. Tidak pada diriku, tetapi pada sesuatu yang lain. Dampaknya tidak akan langsung terlihat, namun ia akan menjalar pelan, pasti, dan tidak bisa ditarik kembali. Jika aku maju dan terlibat, tubuh ini akan kembali menerima tekanan. Bukan luka mematikan. Bukan kerusakan yang dramatis. Hanya penambahan beban pada sistem yang sudah tidak sepenuhny

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 37 — Yang Bergerak Lebih Dulu

    Tidak ada waktu untuk bersiap. Bahaya tidak datang dengan tanda khusus. Tidak lebih besar dari benturan-benturan sebelumnya. Tidak pula lebih ganas. Ia hanya muncul di sela langkah yang seharusnya aman—di jarak yang biasanya masih memberiku ruang untuk menimbang. Kali ini, ruang itu tidak ada. Aku tidak sempat memutuskan apa pun. Sebelum satu niat selesai terbentuk, tubuh ini sudah bergerak. Kakiku bergeser ke samping tanpa aba-aba. Bahuku turun, bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghindari sudut yang belum sepenuhnya menjadi serangan. Gerakan itu presisi. Terlalu presisi untuk disebut kebetulan. Kesadaranku menyusul ketika posisiku sudah berubah. Qi mengalir mengikuti jalur sempit yang kini terasa akrab. Tidak ada dorongan besar. Tidak ada teknik yang kupanggil. Tubuh ini memilih apa yang paling mungkin membuatnya tetap berdiri, dan hanya itu. Aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status