تسجيل الدخول“Tadi Om Kemana?” tanya Anya saat mereka sudah duduk berhadapan dan siap untuk makan malam. “Aku nungguin Om depan rumah sakit. Eh, Om-nya nggak nongol-nongol.” Anya mulai menyantap makanannya. “Saya ada keperluan di pinggiran kota,” jawab Bintang jujur. “Tugas kantor?” Selidik Anya lebih jauh. “Hmm ….” Bintang tampak berpikir. “Bisa iya, tapi bisa juga tidak,” ucapnya yang lalu menyuap nasinya. Anya melirik sekilas. “Apaan bisa iya bisa tidak. Kayak kuis aja, Om.”Bintang tersenyum pelan. Beberapa saat kemudian, ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara denting sendok beradu dengan piring yang terdengar. Bintang dan Anya terus menikmati makan malam masing-masing. Hingga ponsel Sang Mayor berpendar, tepat di depan Anya. Anya langsung melirik ke arah layar benda pipih itu. Sebuah panggilan muncul tapi tak ada nama penelepon. “Siapa, Om?” “Tidak tahu.” Bintang masih menatap layar ponselnya. Anya menopang dagu dengan satu tangan, matanya menyipit penuh selidik menatap layar ponsel su
Mobil Bintang baru saja tiba di depan asrama. Begitu mesin mati, ia langsung turun dan membuka pintu. Ia mengucapkan salam, tapi tak terdengar suara sahutan.“Anya?” Bintang melangkah masuk seraya memanggil nama istrinya. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang tampak sepi itu. Keheningan di dalam asrama terasa begitu kontras dengan deru mesin mobil yang baru saja ia matikan.Tak kunjung mendengar suara istrinya, Bintang pun mengulangi panggilannya. Ia melangkah lebih dalam, meletakkan kunci mobil di atas meja kecil dekat pintu, terus memanggil dengan nada suara yang sedikit lebih lembut, khawatir jika sang istri ternyata sedang beristirahat.“Anya? Kamu di dalam?”Langkah kakinya membawa Bintang menuju arah dapur, lalu berbelok ke arah kamar tidur mereka. Pintu kamar sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya lampu dari dalam koridor masuk dan menerangi ruangan yang temaram itu.Bintang mendorong pintu secara perlahan, bersiap menemukan sosok yang sejak tadi meme
Raung sirene ambulans membelah keheningan jalanan desa. Orang-orang yang semula sibuk dengan aktivitas di sekitar rumah mewah itu, seketika menghentikan kegiatan mereka. Perhatian mereka kini sepenuhnya tersita oleh mobil putih yang melaju cepat tersebut. Sebuah tandu dikeluarkan. Tim medis masuk ke dalam rumah dan langsung mengangkat terduga purnawirawan jenderal TNI Dito Prasetyo. Polisi dan beberapa TNI yang ada di desa itu mulai melakukan investigasi dasar. Mencoba untuk mengumpulkan beberapa barang yang bisa dijadikan sebagai alat bukti sementara. “Pa ... Papa ...!” teriak wanita tua itu. Ia tak kuasa menahan tangis saat melihat suaminya dibawa masuk ke dalam ambulans, yang nantinya akan segera menuju ke rumah sakit Ibu Kota, sebab fasilitas di desa tersebut belum memadai. Bintang mendekat dan langsung merangkul kedua lengan perempuan itu. Ia mencoba untuk menenangkan serta memberi dukungan atas apa yang baru saja terjadi. “Apa yang terjadi?” tanya wanita itu pada Bintang.
“Sampai jumpa nanti sore, Om.” Anya melambaikan tangan pada Bintang. Sesaat kemudian, mobil crossover hitam itu pun sudah melaju meninggal area rumah sakit Kasih Ibu.Anya melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Kedua tangannya masih berada pada tali tas ransel kecilnya, dengan gantungan Lababa segede gaban.“Anya ....” Suara seseorang menghentikan langkah kaki Anya. Ia mundur selangkah, dan menoleh pelan ke arah samping. Tampak seorang pria berseragam polisi yang tengah cengar-cengir ke arahnya.“Mas Satria? Ngapain di belakang tiang gitu kayak cicak?” tanya Anya yang berhasil membuat Satria tergelak.Polisi tampan itu segera keluar dari persembunyiannya dan melangkah mendekati Anya. “Saya sedang sembunyi.”“Sembunyi? Dari siapa?” tanya Anya kepo.“Dari dokter Bulan, emang siapa lagi?” Wajah Satria berubah kurang bergairah saat menyebut nama itu.“Loh, bukannya dokter Bulan pacarnya Mas Satria? Kok mukanya kayak orang anemia gitu?” tanya Anya heran.“Saya sih berharapnya amnesia. Amnes
“Saya terpilih untuk ikut Latgabma, Anya,” ucap Bintang saat ia dan Anya sudah berbaring di atas ranjang tempat tidur. Suaranya tenang, tapi sedikit ada getar di ujungnya. Jujur, sudah sejak tadi ia terus memendam kalimat itu. Bahkan hingga mereka sudah berada di dalam kamar dan terbaring dengan gaya yang berbeda di atas ranjang.Anya menyamping melihat Bintang, sedang sang Mayor terlentang melihat ke langit-langit kamar.Senyum yang semula mengembang di bibir tipis Anya, seketika mengecut dan hilang dengan perlahan. “Lat—Latgab apa,Om?” tanyanya belum mengerti. “Latgabma. Latihan gabungan antar prajurit dari seluruh negara sekutu. Dan kali ini lokasinya di ... Hawaii,” jelas Bintang yang diikuti dengan menoleh ke arah istrinya.“Hah? Ha—hawaii?” tanya Anya kaget.“Eum ....” Bintang hanya berdehem dan mengangguk sekali. Menatap lekat ke arah Anya guna melihat ekspresi wajah istrinya itu.“Jauh banget, Om? Pasti lama?” ucap Anya pilu. Bibirnya mulai membentuk huruf U terbalik.“Iya,
Anne menatap sebuah foto yang ada di tangannya. Tatapannya datar tapi begitu sendu dan pilu. Ia usap dengan induk jarinya gambar wajah seseorang yang ada di foto itu. Senyum getir mengembang di bibirnya.“Aku sangat merindukanmu. Kamu ke mana? Perginya jauh sekali ya, sampai harus selama itu? Sudah mau dua dekade, Sayang. Apa kamu tidak mau melihat putri kita, yang setiap hari selalu bertanya dimana ayahnya berada? Aku rindu sekali, Sayang. Sangat rindu.”Lelah menahan, akhirnya air mata itu luruh juga. Anne menangis dengan pandang yang masih tertuju pada potret foto tersebut. Potret dirinya bersama sosok yang selama ini selalu putrinya tanyakan keberadaan dan rupanya.Ternyata selama ini Anne membohongi Anya. Ia bukan tidak punya foto sosok ayah putrinya, tapi sengaja tidak menunjukkannya kepada Anya. Sebab ada rahasia yang tidak bisa ia sampaikan kepada Anya. Hanya ia dan sang suami yang tahu alasannya.“Aku masih menunggumu ... di sini.” Anne mengusap air matanya dan menyimpan kemb
Motor Rangga sudah berhenti di parkiran kampus. Anya langsung turun dan mengucapkan terima kasih pada temannya itu. Namun Rangga justru membalasnya dengan ucapan selamat atas pernikahan perempuan pemilik lesung pipi manis tersebut.“Jujur, aku kaget waktu denger kamu udah nikah. Nggak ada kabar pac
Bagaikan punggung yang merindukan bulan. Peribahasa ini sepertinya cocok untuk Anya yang berharap jika Bintang akan menyentuhnya malam ini. Namun ternyata, harapan itu hanya berakhir pupus begitu saja. Pasalnya, bukan tergiur melihat keindahan raga Anya, laki-laki dengan perawakan tinggi dan gaga
“Anya ... selamat ya? Aku doain rumah tangga kamu sakinah, mawaddah, warahmah. Langgeng terus sampai maut memisahkan. Cepat di kasih momongan.” Doa Aurel untuk sahabatnya itu.“Amin ya Allah. Thank you, ya Rel? Kamu memang sahabatku yang paling baik. Aku doain kamu cepet nyusul,” bisik Anya di tel
Pagi menjelang. Suara azan subuh sayup-sayup mulai terdengar. Bersaing dengan suara alarm Anya yang memecah keheningan ruang kamar kos berukuran empat kali empat meter itu. Anya mengerjapkan mata sesaat. Lalu meraih ponselnya yang ada di dekat bantal dan melihat kepada angka jam yang tertera di la







