Wanita Sewaan Pak Elian

Wanita Sewaan Pak Elian

last updateDernière mise à jour : 2026-06-12
Par:  Gummy_SmileMis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Note. 1 commentaire
12Chapitres
17Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Elian sedang mencari wanita Sewaan untuk di kenalkan kepada Ibunya sebagai kekasih, agar Ibu nya tidak terus memaksanya menerima perjodohan. Elian perlu seorang wanita yang binal, sexy dan berpenampilan berani. Seorang wanita yang sama sekali bukan tipe Ibunya. Dan pilihan itu jatuh kepada Vior , staff admin nya yang teladan dan baru saja putus cinta. "Ubah penampilanmu. Dan ingat, begitu bertemu dengan Ibuku, jangan ada lagi rasa malu. Kau adalah wanita sewaan yang tidak punya harga diri, paham?"

Voir plus

Chapitre 1

Undangan Perak #1

Kediaman keluarga Elian adalah sebuah mansion megah dengan arsitektur klasik yang meneriakkan kekayaan turun-temurun. Begitu mereka turun dari mobil, Vior menyemprotkan parfum dengan wangi musk yang sangat kuat dan menyengat, hampir membuat hidung siapa pun yang menciumnya merasa pening.

​Di dalam, Ibu Elian, Nyonya Saraswati, sudah menunggu di meja makan yang penuh dengan hidangan perak. Begitu pintu terbuka, wanita paruh baya yang terkenal sangat menjunjung tinggi etika itu mematung. Matanya membelalak menatap sosok blonde yang menggandeng putranya.

​"Kau... kau Vior, kan??" tanyanya dengan suara bergetar.

​Vior tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyeringai lebar, memperlihatkan lipstik merahnya yang mencolok. Elian menarikkan kursi untuk Vior di samping ibunya.

​"Vior... penampilanmu agak... berbeda" Ny. Saraswati mencoba menahan diri, meski matanya terus melirik ke arah dada Vior yang terekspos karena jas Elian sudah diletakkan di sandaran kursi.

​"Oh, maaf ya, Tante. Eh, Ibu maksud saya," Vior tertawa dengan nada yang sengaja dibuat cempreng.

"Di kantor saya memang harus pakai 'kostum' membosankan itu demi gaji. Tapi beginilah saya kalau sedang ingin bersenang-senang. Elian suka kok kalau saya tampil berani begini, ya kan, Sayang?"

​Vior mengedipkan sebelah matanya pada Elian. Elian sedikit tersentak; akting Vior jauh lebih natural dari yang ia bayangkan. Ia merasa bangga, sekaligus sedikit kesal melihat cara ibunya memandang Vior dengan jijik.

​"Makanlah dulu. Chef sudah menyiapkan steak dan wine terbaik," ucap Nyonya Saraswati, suaranya mendingin.

​Sandiwara dimulai. Vior langsung menyambar pisau dan garpu tanpa memperhatikan urutan etika makan fine dining. Ia mengambil potongan daging besar, memasukkannya ke mulut, dan mulai mengunyah dengan suara mengecap yang nyaring.

Cap, cap, cap.

​Nyonya Saraswati meletakkan garpunya sendiri dengan denting pelan di atas piring porselennya. Ia tampak benar-benar kehilangan selera makan.

​"Ah, enak sekali! Maaf ya Bu, selera makan saya memang tinggi kalau habis 'main' sama Elian," ucap Vior tanpa malu, sengaja memberikan implikasi kotor dalam kalimatnya.

​Wajah Nyonya Saraswati memucat. Ia menatap Elian dengan pandangan menuntut penjelasan. Elian hanya diam, menyesap wine-nya dengan tenang, seolah perilaku Vior adalah hal yang wajar.

***

Dua Minggu sebelumnya kejadian itu, undangan pernikahan berwarna perak itu tergeletak di atas meja kerja Vior, tampak kontras dengan tumpukan dokumen yang berantakan. Kertas bertekstur mahal itu memancarkan aura yang menyesakkan; nama "Rio & Enzy" tercetak dengan tinta emas timbul yang berkilauan, seolah mengejek di bawah lampu kubikal kantor yang dingin.

​Vior terpaku. Dunianya seolah menyusut hanya sebatas meja kerja dan benda terkutuk di hadapannya. Tujuh tahun. Angka itu berputar di kepalanya seperti film rusak. Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari yang ia lalui bersama Rio—pria yang mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri, pria yang tahu persis takaran kayu manis dalam kopi paginya, pria yang dulu menggenggam tangannya di bawah meja perpustakaan kampus—kini telah menjadi orang asing. Dan yang lebih menyakitkan, pria itu memilih Enzy, rekan kerja satu divisi yang baru ia kenal beberapa bulan lalu.

​Ingatan tentang perpisahan mereka kembali menyerang. Rio mengakhiri tujuh tahun itu dengan kalimat klasik yang klise

"Kita sudah tidak cocok lagi."

Jika benar tidak cocok, bagaimana mungkin mereka bertahan selama tujuh tahun? Vior sering mempertanyakan kapan hubungan mereka akan melangkah ke jenjang pernikahan. Namun, setiap kali topik itu muncul, Rio selalu berlindung di balik alasan stabilitas finansial. Padahal, jika gaji mereka digabungkan, mereka sudah lebih dari mampu untuk membangun rumah tangga, bahkan untuk menyekolahkan dua anak sekalipun.

​Yang lebih perih adalah rahasia yang disimpan Rio selama ini. Pria itu tidak pernah mengunggah foto Vior di media sosial dengan alasan privasi—bahwa hubungan bukan konsumsi publik. Namun, lihatlah sekarang. Enzy dirayakan, diratukan, dan dipamerkan ke seluruh penjuru dunia maya. Dalam sebulan setelah resmi berpacaran, mereka sudah bertunangan, dan kini, dua bulan kemudian, mereka melangkah ke pelaminan. Enzy mendapatkan segalanya yang selama tujuh tahun Vior nanti-nantikan tanpa perlu menunggu lama. Vior merasa seperti penonton yang dibuang di tengah pertunjukan yang seharusnya menjadi miliknya.

​Lamunannya buyar oleh suara ketukan keras di meja. Vior tersentak, napasnya tertahan. Ia mendongak dan mendapati Elian, kepala divisinya, berdiri menjulang dengan tatapan tajam. Elian dikenal sebagai atasan yang bengis, setiap kesalahan kecil akan ia balas dengan omelan dingin yang mampu membuat mental karyawan menciut.

​"Laporan kuartal terakhir, Vior. Sudah selesai?" tanya Elian.

Suaranya datar, namun ada tekanan yang membuat Vior merasa terpojok.

​Vior menatap layar komputernya yang kosong, lalu beralih ke undangan perak itu. Pertahanan emosinya hampir runtuh. Dengan suara yang sedikit bergetar karena ia harus menahan air mata yang mendesak naik ke pelupuk, Vior menjawab,

"Saya... saya minta waktu tambahan sedikit lagi, Pak. Hari ini saya agak sulit berkonsentrasi."

​Biasanya, jawaban seperti itu akan memicu badai. Vior sudah menyiapkan kupingnya untuk mendengar rentetan sindiran tentang profesionalisme. Namun, kali ini sunyi. Elian terdiam, tatapannya sedikit melunak saat melihat undangan yang masih terbuka di meja Vior, lalu beralih ke wajah wanita itu yang terlihat pucat.

​"Baik," jawab Elian singkat.

"Selesaikan besok pagi sebelum rapat dimulai. Jangan biarkan urusan pribadi menghancurkan kinerjamu lebih jauh. Kamu terlalu berharga untuk terlihat hancur di depan orang yang bahkan tidak tahu nilai dirimu."

​Vior membeku. Perkataan Elian bukan sekadar perintah, melainkan sebuah teguran yang sangat menohok. Elian kemudian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Vior sendirian dalam kesunyian kantor yang mulai ditinggalkan karyawan lain.

​Malam semakin larut. Vior masih duduk di kursinya, namun kali ini ia tidak lagi menatap undangan itu dengan perasaan nelangsa. Ruangan kantor yang kini temaram menciptakan suasana yang jauh lebih intim bagi batinnya yang sedang bergejolak. Ia meraih undangan perak itu, bukan lagi dengan jemari yang gemetar, melainkan dengan ketegasan yang baru ia temukan.

​Ia menyadari bahwa tujuh tahun itu memang bukan tentang kecocokan, melainkan tentang pengorbanan sepihak. Rio tidak pernah berniat menikahinya. Pria itu hanya menjadikan Vior sebagai tempat singgah yang nyaman sampai ia menemukan "piala" baru yang bisa ia pamerkan kepada dunia. Enzy bukan orang yang menang. Enzy hanyalah wanita berikutnya yang akan menanggung pola yang sama jika Rio tetap menjadi pria yang sama.

​Vior menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan serpihan harga dirinya yang berserakan. Ia teringat kembali kata-kata Elian. Selama ini, ia terlalu sibuk menjadi pendukung utama dalam kehidupan Rio hingga ia lupa membangun dunianya sendiri. Ia telah memberikan tujuh tahun terbaiknya untuk pria yang bahkan enggan mengakuinya di hadapan publik.

​Dengan gerakan perlahan namun mantap, Vior mengambil undangan pernikahan itu. Ia tidak merobeknya dengan penuh amarah seperti adegan film drama yang murahan. Ia justru melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam laci meja paling bawah, di bawah tumpukan dokumen kerja yang akan ia selesaikan malam ini. Ia tidak perlu membuangnya untuk melupakannya; ia hanya perlu menyimpannya sebagai pengingat bahwa bab itu telah tertutup. ​Ponselnya berdenting. Notifikasi media sosial muncul, Rio membagikan foto baru. Vior membiarkannya. Ia tidak lagi penasaran. Ia tidak lagi merasa perlu mengintip kebahagiaan semu yang disuguhkan di layar kaca itu. Vior justru membuka aplikasi pengeditan dokumen dan mulai mengetik angka-angka laporan yang diminta Elian.

​Ada kelegaan yang perlahan menjalar di dadanya. Pekerjaan yang tadinya terasa sebagai beban, kini menjadi jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kesedihan. Ia menyadari bahwa di kantor ini, di balik meja kerja yang dulu ia benci karena terasa seperti kurungan, ia memiliki kendali. Ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu, untuk mencapai target, dan untuk mendefinisikan ulang masa depannya tanpa perlu validasi dari siapa pun.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu Elian, yang entah mengapa kembali ke meja Vior setelah hampir dua jam menghilang. Pria itu membawa dua cangkir kopi panas di tangannya.

​"Kamu masih di sini?" tanya Elian sambil meletakkan salah satu cangkir di meja Vior.

​Vior mendongak, terkejut.

"Saya sedang menyelesaikan laporan, Pak."

​"Istirahatlah sebentar," ujar Elian seraya menarik kursi kosong di depan meja Vior.

"Kopi ini dengan satu sendok gula, karena saya dengar kamu tidak suka jika kopimu terlalu manis."

​Vior terpaku menatap cangkir itu. Bagaimana mungkin atasannya yang bengis tahu detail kecil tentang seleranya? Elian tersenyum tipis—sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah dilihat karyawan lain di kantor ini.

​"Dunia tidak berakhir karena sebuah undangan pernikahan, Vior," lanjut Elian dengan nada yang jauh lebih manusiawi.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

commentaires

Gummy_Smile
Gummy_Smile
Hai semuanya, saksikan kegilaan Vior di depan calon Ibu Mertuanya ya !
2026-06-12 10:12:45
0
0
12
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status