LOGINBintang menangkup kedua belah pipi Anya dengan kedua telapak tangannya yang hangat, memaksa istrinya untuk menatap lurus ke dalam sepasang netra elangnya, mencoba menyalurkan ketegasan dan ketenangan seorang prajurit langsung ke dalam jiwa Anya yang sedang rapuh.“Anya, tatap saya. Dengarkan saya baik-baik,” ucap Bintang dengan suara baritonnya yang dalam, bergetar penuh penekanan namun sarat akan kelembutan. “Semua akan baik-baik saja.”Anya sesenggukan, mata bulatnya yang berair menatap Bintang dengan pandangan memohon yang teramat sangat. “Om, please ... stop, Om. Mereka punya pangkat, mereka punya kekuasaan. Kita bisa apa? Kita nggak punya apa-apa.”“Saya punya kamu, Anya,” sahut Bintang cepat.Anya semakin manangis mendengarnya. Kepalanya ia tunjukkan dalam-dalam, tak kuasa melihat wajah laki-laki yang sangat ia cintai.“Dua puluh tahun yang lalu, ayahmu terpaksa mengalah dan memilih mundur karena dia berjuang sendirian demi menyelamatkan kamu dan ibumu," tutur Bintang, ibu jari
Bintang kembali menghela napas berat. Ia sudah menduga, jika Anya pasti tidak akan percaya dengan kenyataan yang ia temukan. Dan mungkin, semua orang juga tidak akan percaya. Namun entah mengapa, feeling-nya mengatakan jika pria yang ada dalam surat kabar tersebut adalah ayah mertuanya, Arjuna Abrisam.“Anya, dengarkan saya ….” Bintang menegakkan posisi duduknya agar bisa lebih jelas melihat wajah Anya. “Saya tahu, kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang saya sampaikan. Tapi saya yakin, feeling saya tidak akan salah. Wajahmu, senyummu, itu sangat mirip dengan laki-laki yang pernah bertemu dengan saya dua puluh tahun yang lalu. Dia sangat mirip dengan kamu, Anya.”Anya menoleh dan menatap Bintang dengan mata yang basah. “Maksud Om ... Om pernah ketemu langsung sama Ayah?” tanyanya dengan suara serak yang nyaris hilang.Bintang mengangguk pelan. Tatapannya menerawang jauh, melintasi sekat waktu, saat dirinya masih menjadi seorang remaja laki-laki berseragam SMA.“Waktu saya masih
“... kasus lama, Ma. Tapi ya … tidak penting juga.” Bintang berbohong.“Tidak penting? Kalau tidak penting, mana mungkin ada orang yang mau bunuh kamu, Bin. Pokoknya kamu harus kasih tahu mama. Mama dan Langit akan ke rumah masih liat kamu nanti malam. Tunggu adikmu pulang dinas dulu.”Bintang terdiam. Kalau Rahayu sudah membuat keputusan sulit untuk ia bantah. Lagi pula, mana mungkin ia bisa terus-terusan menyembunyikan rahasia besar dari keluarganya. Apalagi rahasia itu menyangkut ayah mertuanya sendiri.“Anya melirik ke arah Bintang yang tampak mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ekspresi wajah Sang Mayor kembali mengeras, menyiratkan beban pikiran yang teramat berat. Melihat suaminya seperti orang bisu, Anya berinisiatif mengambil alih pembicaraan. Ia mendekatkan ponsel Bintang ke bibirnya.“Iya, Ma ... nanti malam Anya tunggu sama Om Bintang di kamar rawat, ya. Tapi Mama janji harus jaga kesehatan, jangan sampai tekanan darah Mama naik karena panik,” ucap Anya lembut, mencoba men
Bintang kembali menghela napas dalam. Tatapan elangnya yang semula sedingin es saat bertemu Bima, seketika melunak begitu beradu pandang dengan netra bulat Anya yang masih digenangi sisa-sisa kecemasan.Ia tak langsung menjawab. Namun tangan kekarnya bergerak naik, meraih telapak tangan Anya yang berada di lengannya, lalu membawanya ke dalam genggaman hangatnya.“Iya, Sayang,” jawab Bintang jujur dengan suara baritonnya yang merendah, tidak ingin lagi menyembunyikan kenyataan pahit itu dari istrinya. “Kemungkinan besar memang begitu. Seseorang yang memakai seragam yang sama dengan saya.”Mendengar itu, dada Anya kembali berdenyut perih. Setitik air mata yang sempat mengering kini kembali lolos lmelewati pipinya. “Tapi kenapa, Om? Bukannya sesama tentara itu harus saling ngelindungi ya? Kenapa mereka malah mau celakain Om? Apa salah Om sampai mereka sejahat itu?”Melihat air mata istrinya jatuh, Bintang pun kembali menarik tubuh Anya dengan satu gerakan lembut, mendudukkannya di tepi
Saat Bintang menyadari arah lirikan Bima, ia langsung mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Anya. Ia tahu, Bima pasti ragu untuk bicara karena istrinya ada di antara mereka. “Bilang saja, Bim. Tidak apa-apa. Anya berhak tahu apa pun yang mengancam keselamatan kami,” ucap Bintang dengan nada baritonnya yang tegas, memberikan izin mutlak tanpa ada yang perlu dirahasiakan lagi. Kapten Bima menegakkan posisi berdirinya, lalu menghembuskan napas pendek sebelum akhirnya kembali bersuara. “Siap, Mayor. Jadi begini, kami baru saja menyelesaikan pemeriksaan awal terhadap ponsel milik eksekutor yang berhasil diringkus oleh tim kita di gedung seberang.” Bima melangkah satu langkah lebih dekat ke arah brankar. “Dari riwayat panggilan dan pesan terenkripsi yang ada di sana, pelaku tidak bergerak sendiri atas motif pribadi. Dia menerima perintah dan konfirmasi titik koordinat langsung dari seseorang.”“Siapa?” potong Bintang cepat, netra elangnya menajam seketika.“Nama kontaknya disamar
“Bagaimana keadaan kamu, Mayor Bintang?” tanya Letkol Andika. Ia baru saja tiba di rumah sakit untuk menjenguk sang anak buah. “Siap! Saya baik, Komandan.” Bintang tersenyum simpul. “Bagaimana ini bisa terjadi? Si–siapa yang melakukannya, dan … dan apa motif dia melakukan ini ke kamu?” Bintang tampak sedikit menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. “Saya tidak tahu, Komandan. Tapi yang pasti, dia ingin saya mati.” “Apa?” Letkol Andika terperanjat. Bintang hanya menanggapinya dengan diam. Namun, dua bola matanya yang tajam terus terpatri pada dua netra Letkol Andika yang menurutnya menyimpan banyak rahasia itu. Sejak ia melihat foto pria paruh baya itu di foto lawas ayahnya—bersama pria yang ia duga sebagai ayah mertuanya—kepercayaannya pada sang Komandan langsung terjun bebas. Ia bukan sekedar curiga, tapi juga mempunyai bukti yang kongkrit. Terlebih, kasus penusukan Purna Jendral Dito Prasetyo beberapa waktu yang lalu, yang semakin membuat ia berpikir jika semua kejadian
Usai puas melampiaskan rasa cemburunya dengan cara yang anti mainstream, Bintang pun kembali melajukan mobilnya dan langsung menuju ke rumah sakit tentara. Tiba di sana, ia turun sementara Anya menunggu di mobil. Tak berselang lama, pria bertubuh tinggi dengan bobot proporsional itu sudah kembali
Sepanjang jalan, Bintang terlihat diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan. Entah apa yang sedang pria dewasa itu pikirkan. Apakah dia cemburu melihat Anya bersama Satria? Menyadari perubahan sikap suaminya, Anya pun berinisiatif untuk memulai percakapan. “Makan malam, enaknya apa ya Om
Anya kembali menunduk. Cepat menyadari karena sudah salah dalam berucap yang membuat perempuan di hadapannya menjadi murka.“Apa kamu bilang?” tanya Bulan geram. Anya diam.“Heh, dengar ya? Yang ngasih kamu nilai memang bukan aku. Tapi aku bisa buat kamu nggak dapatkan nilai apa-apa dari praktek k
“Anya ...!” Aurel tampak berlari-lari kecil dan langsung menghampiri Anya. “Aurel ...!” Anya menyambut kedatangan sang sahabat dan langsung mengenyahkan tangan Rea dari pundaknya. “Ih ... kayaknya kita emang jodoh ya, bisa satu rumah sakit gini?” Aurel bahagia namun seketika ekspresi wajahnya ber







