Share

Bab 268

Penulis: QueenShe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 20:08:47

Tanpa Kenzie dan Raya sadari, Ares tidak sepenuhnya pergi. Ia berdiri di balik dinding koridor—cukup jauh untuk tidak terlihat, tapi cukup dekat untuk mendengar setiap kata.

"Apalagi kamu mantan yang masih aku cintai. Kenapa rasanya sesakit ini, ya?"

Tangan Ares mengepal erat di samping tubuhnya. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak. Ia menutup mata, mencoba meredam gelombang emosi yang tiba-tiba menghantam, campuran antara rasa bersalah, frustrasi, dan kelelahan yang mendalam.

Tapi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Iin Rahayu
pdhal 3 bab tp cepet sekali bacanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 457

    Waktu seolah merayap lambat bagi Ares yang kini duduk bersandar di kepala ranjang dengan mata terjaga, sementara Raya sudah beberapa kali nyaris terlelap kembali di bahunya.Melihat Raya yang berusaha keras menahan kantuk demi menemaninya, Ares merasa didera rasa bersalah. Ia mengelus pipi istrinya lembut. "Sayang, tidur saja ya? Aku sadar ini konyol, aku tidak seharusnya merengek padamu jam begini," bisik Ares penuh sesal.​Raya menggumam pelan, "Tidak apa-apa, Mas... aku temani..." Namun, kalimatnya tidak selesai karena rasa kantuk yang luar biasa akhirnya menang. Kepala Raya terkulai lembut, bersandar di bahu kokoh Ares.​Ares tersenyum tipis. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia merapikan posisi tidur Raya. Ia merebahkan tubuh istrinya ke bantal sutra, menyelimutinya hingga sebatas dada, lalu memberikan kecupan lama di kening dan di perut Raya yang masih rata.​"Tidurlah, Mami. Biar Daddy yang berjuang mencari roti itu," gumamnya pelan.​Ares kemudian melangkah keluar kamar d

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 456

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Raya sudah tertidur lelap setelah seharian penuh dengan emosi yang menguras tenaga. Di sampingnya, Ares sedang mengalami gejolak yang jauh lebih dahsyat daripada krisis saham mana pun. ​Ares terjaga dengan mata melotot menatap langit-langit kamar. Perutnya tidak lagi mual seperti tadi sore, tapi kini ada rasa kosong yang aneh. Bukan sekadar lapar, melainkan sebuah tuntutan spesifik dari dalam dirinya yang terasa sangat mendesak. Ia menelan ludah berkali-kali. Bayangan sebuah makanan tiba-tiba menari-nari di pelupuk matanya. ​"Tidak mungkin," bisik Ares pada dirinya sendiri. "Ini konyol. Aku Ares Mahardika. Aku tidak boleh termakan sugesti ngidam seperti kata Ibu Ratih." ​Ia mencoba memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan selembar roti pipih yang garing, dicelupkan ke dalam kuah kari dhal yang kental, diikuti aroma teh tarik yang berbuih sempurna. ​"Roti Canai Transfer Road..." gumamnya lirih. Bukan sembarang roti canai, tapi roti canai sp

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 454

    Raya sedang asyik menyuap nasi dengan sayur rawon kesukaannya—nafsu makannya benar-benar kembali setelah sampai di rumah.Ares, yang biasanya makan dengan elegan dan penuh wibawa, kini hanya mengaduk-aduk nasinya. Wajah tegasnya perlahan berubah menjadi merah padam, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. ​Ibu Ratih yang duduk di seberang mereka berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya, menatap menantunya dengan dahi berkerut. ​"Pak Ares? Pak Ares kenapa? Wajahnya merah sekali," tanya Ibu Ratih khawatir. "Apa makanannya terlalu pedas? Atau Pak Ares sedang tidak enak badan karena kurang tidur di rumah sakit?" ​Ares tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, ia tampak berusaha sekuat tenaga menelan sesuatu yang terasa mendesak di pangkal tenggorokannya. Matanya sayu dan berair. Ia menoleh sekilas ke arah Raya yang sedang menatapnya bingung dengan mulut yang masih penuh makanan. ​"Ares, Kamu sakit?" bisik Raya cemas, ia hendak meletakkan tangannya di dahi Ares. ​Namu

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 454

    Ares bangkit dari ranjang dengan gerakan yang jauh lebih gesit daripada sebelumnya. Senyum miringnya masih bertahan, seolah tugas "melap badan" ini adalah proyek bisnis paling menguntungkan yang pernah ia tangani. Ia melangkah menuju kamar mandi luas di kamar itu, dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air hangat yang mengisi wastafel porselen.Raya hanya bisa memperhatikan punggung suaminya dari tempat tidur, hatinya berdegup sedikit lebih kencang. Ada rasa geli sekaligus haru melihat seorang Ares Mahardika, pria yang biasanya hanya memegang pena mewah dan dokumen triliunan rupiah, kini sibuk menyiapkan baskom, handuk kecil, dan memilihkan piyama."Semuanya sudah siap, Nyonya," bisik Ares, suaranya rendah dan serak saat ia duduk di tepi ranjang.Ares kembali ke sisi ranjang dengan sebuah baskom berisi air hangat yang mengepulkan aroma lavender dan sandalwood—minyak esensial penenang yang sengaja ia campurkan. Di lengannya, tersampir handuk putih bersih yang sangat lembut dan

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 453

    "Pelan-pelan, Sayang. Jangan memijak lantai terlalu keras," instruksi Ares dengan nada sangat serius, tangannya menyangga pinggang Raya seolah istrinya itu terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja."Ares, aku cuma mau duduk di kursi roda, jaraknya cuma satu langkah," protes Raya, namun suaranya kalah telak oleh tatapan tajam Ares.Kursi roda elektrik yang dipesan Ares sudah seiap dipakai, lengkap dengan bantalan ekstra empuk yang bahkan jauh lebih nyaman daripada kursi pesawat first class.Bahkan saat Raya mencoba menggeser duduknya agar lebih nyaman, Ares langsung sigap memegangi bahunya."Kenapa? Ada yang sakit? Perlu aku panggilkan dokter?"Ibu Ratih yang berdiri di dekat pintu masuk hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah menantunya."Pak Ares, tenang sedikit. Tidak apa-apa kalau Raya bergerak sedikit untuk mencari posisi nyaman. Kalau Pak Ares terlalu tegang begini, Rayanya malah ikut stres."Ares hanya bergumam kaku, "Saya hanya ingin memastikan semuanya aman,

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 452

    Kamar rawat VVIP yang tadinya tenang dan penuh haru itu kini berubah total menjadi ruang riuh yang lebih mirip lounge eksklusif daripada kamar rumah sakit. Ares berdiri mematung di sisi ranjang, tangannya bersedekap dengan wajah yang mengeras, berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya yang sedang digempur habis-habisan oleh para "sahabat" lamanya.Geri, yang duduk dengan santai di kursi dekat nakas, menatap Ares dengan cengkeraman tawa yang tertahan. "Res, jujur ya... kami semua tadinya sempat taruhan diam-diam. Kami pikir, di usia kita yang sudah kepala empat lewat lima tahun ini, 'torpedo' kamu itu sudah masuk masa pensiun atau setidaknya sudah agak layu sebelum sempat memanjang," celetuk Geri tanpa filter sama sekali.Ares memejamkan mata rapat-rapat. Urat di pelipisnya berdenyut. Ia bisa merasakan tatapan Ibu Ratih yang duduk di sofa bersama Dio, memperhatikan gerombolan pria paruh baya yang bertingkah seperti remaja puber itu."Geri, jaga bicaramu. Ada Dio dan Ibu disini," desi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status