Chapter: Bab 121: Pertemuan Mantan SahabatErion tidak kembali ke markasnya. Langkahnya keluar istana di sisi barat, menuju bangunan yang memancarkan kemewahan sekaligus keangkuhan. Erion melangkah masuk tanpa menunggu pengumuman dari penjaga, yang segera menyingkir begitu mengenali sosok Panglima Agung.“Ah, Erion,” sapa Jetmir sambil menyesap anggur merah dari gelas kristal.Ia tampak tidak terganggu melihat sosok Erion muncul dari kegelapan. Senyum akrab tersungging di bibirnya.“Apa yang membawa seekor singa perang datang ke sarang merpati di jam sunyi seperti ini?”Erion berdiri tegak, membiarkan air hujan menetes dari jubahnya ke lantai marmer Jetmir yang bersih. “Hanya ingin memastikan, kau tidak mati kesepian karena terlalu sibuk menyusun urusan logistik kerajaan.”“Masuklah, Erion. Tuangkan anggur untuk dirimu sendiri. Kau terlihat lelah.”Erion duduk di depan Jetmir. “Anggurmu terlalu manis untuk lidahku. Aku lebih suka rasa yang murni. Tanpa campuran intrik atau racun yang disembunyikan di balik label harga.”Jetmir
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 121: Getaran Yang SamaYasmin berlutut di depan nisan Diellza, jemarinya mencari sesuatu di balik nisan dan tanah. Hari ini ia membawa pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab."Kalau kau melakukan ritual untuk memanggilku kesini agar aku bisa menyelamatkan hidup putrimu, seharusnya kau memberikan aku petunjuk,” ucapnya dengan nada sedikit kesal. "Asal kau tahu, novel yang kubaca dulu ternyata isinya jauh berbeda dengan kegilaan yang kujalani sekarang. Putrimu sudah menggali kuburannya sendiri."Angin bertiup lembut, menggerakkan kelopak-kelopak mawar merah di sekelilingnya. Yasmin menutup matanya sejenak, mencoba merasakan apakah ada jawaban yang tersembunyi di antara gemerisik daun. Sepi. Tidak ada apapun."Orang yang bisa memberimu petunjuk sudah terkubur di bawah sana. Kecuali kau berniat menggalinya, kau tidak akan mendapat jawaban dari batu mati."Yasmin tidak tersentak. Ia mengenali bariton rendah itu. Tanpa menoleh, ia menjawab, "Kalau kau datang hanya untuk menggangguku, lebih baik pergi. Aku seda
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 120: Menutup Kuburan Yasmina“Kau datang di waktu yang tepat, Tuan Putri,” suara Tuan Bujar berat dan serak. Pria tua itu tidak membuang waktu untuk basa-basi.Di atas meja besar, puluhan gulungan perkamen berserakan. Tuan Bujar dan Elena sudah menunggu kedatangan Yasmin sejak pagi. Sebagai saudagar terkaya di Pervane yang memiliki jaringan informan di setiap sudut pasar gelap, Tuan Bujar adalah kunci sekaligus kutukan bagi Yasmin malam ini.“Paman Bujar, apa yang kau temukan?” Yasmin mendekat, jantungnya berdegup kencang.Tuan Bujar menggeser sebuah gulungan kulit yang tampak kusam ke arah Yasmin.“Hasan mengatakan kau sedang mencari stempel pribadimu yang disalahgunakan di pasar gelap. Tapi aku punya berita buruk. Ini bukan hanya soal kejadian bulan ini.”Yasmin membuka gulungan itu. Matanya membelalak. Di sana, tertera stempel merah khas miliknya. Bukan hanya satu, tapi puluhan.“Ini...” Yasmin bergumam, tercekat.“Itu adalah surat penyelundupan logistik rakyat dari gudang pusat istana,” potong Tuan Bujar ding
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 118: Stempel PribadiErion menyambar gulungan kertas itu dari tangan Yasmin. Gerakannya begitu tiba-tiba hingga Yasmin hampir terjerembap ke tumpukan jerami jika ia tidak segera menyeimbangkan diri.Tanpa menunggu lama Erion membukanya, matanya menyipit tajam membaca deretan transaksi haram di pasar gelap tersebut. Rahangnya mengeras saat melihat stempel merah yang tertera di sana.“Stempel yang sah,” desis Erion sambil menatap Yasmin dengan sorot yang menakutkan. “Apa stempel pribadimu ada di tangan Jetmir? Kapan terakhir kali kau melihatnya?”Yasmin mengerutkan kening, tampak kebingungan. “Aku tidak tahu.”“Tidak tahu?” Erion mengulang, merasa jawaban Yasmin hanya main-main.“Maksudku, aku tidak tahu seperti apa stempelnya,” jawab Yasmin jujur.Dari pertama ia berada di istana ia tidak pernah melihat benda itu.Hasan yang berdiri di dekat kuda, langsung menghentikan kegiatannya. Ia menatap Yasmin dengan tatapan heran yang tidak bisa disembunyikan.“Putri, bagaimana mungkin kau tidak tahu bentuk stempel
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 117: Jebakan Jetmir Hasan sedang sibuk menyikat seekor kuda jantan hitam besar saat Yasmin muncul dengan napas tersengal. Wajahnya basah kuyup, rambutnya lepek menempel di pipi akibat guyuran hujan deras yang tiba-tiba menyergapnya dalam perjalanan dari istana menuju kandang kuda.“Kau terlihat seperti baru saja dilempar ke dalam sumur,” Hasan terkejut, hampir saja menjatuhkan sikat kudanya.“Jangan mulai, Paman! Aku ingin meledakan sesuatu sekarang!” Yasmin misuh-misuh. Tanpa mempedulikan gaun mahalnya, ia langsung menghempaskan diri duduk di atas tumpukan jerami kering. “Dunia ini benar-benar tidak masuk akal. Orang-orang di sini mereka semua gila hormat dan gila drama!”Hasan tertawa kecil, suara tawanya tenggelam di antara ringkikan kuda. Ia menghentikan kegiatannya dan mendekat, menyodorkan sehelai kain kasar bersih.“Pakai ini untuk mengeringkan rambutmu. Jadi, siapa yang membuatmu ingin membakar istana malam ini?”“Siapa lagi?!” Yasmin menggerutu sambil menggosok kepalanya dengan kasar. “Dia dan
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 116: Sandiwara Elara“Elara!” teriak Erion, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.Di atas lantai yang dingin, Elara tersungkur. Bahunya berguncang hebat karena tangisan. Darah segar merembes dari telapak tangannya, menetes di antara serpihan porselen yang berserakan. Di depannya, Yasmin sedang berjongkok, jemarinya memegang potongan kaca tajam yang tampak mengancam.“Apa yang kau lakukan?!” Erion menerjang maju, mencengkeram bahu Yasmin dan menyentakkannya hingga Yasmin terhuyung ke belakang.Yasmin mendongak, matanya membelalak kaget. Ia masih memegang pecahan mangkok itu saat Erion berdiri di depan Elara, melindunginya seolah Yasmin adalah monster yang baru saja menyerang mangsanya.“Apa yang kau lakukan?!” desis Erion dengan napas memburu. Matanya merah oleh amarah yang dingin.Yasmin terpaku. Kepalanya berdenyut mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Ia melirik Elara yang kini menyembunyikan wajahnya di balik jubah Erion, terisak pelan sambil memegangi tangannya yang berdarah.“Kenapa kau tiba
Last Updated: 2026-03-26

Menggoda Ayah Mantan Kekasihku
Dikhianati kekasih depan umum, Naraya merasa kehilangan segalanya, harga diri, kepercayaan, dan hatinya. Pria yang dicintainya selama dua tahun, Kenzie, justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri Alicia. Lebih kejamnya lagi, mereka berciuman tepat di depan mata Naraya, sambil menertawakan dan merendahkannya, dengan alasan Naraya tak bisa memenuhi kebutuhan gairah Kenzie.
Sebuah fakta mengejutkan terungkap, Kenzie ternyata anak dari Ares Mahardika, CEO tempat Naraya bekerja sekarang. Seorang duda tampan, dingin, karismatik dan terkenal sebagai playboy berbahaya. Dan Naraya melihat itu sebagai kesempatan membuat Kenzie menyesal dengan cara paling kejam dan berisiko, yaitu Naraya akan menggoda ayah Kenzie.
Dengan penampilan baru yang lebih berani dan menggoda, Naraya mulai memainkan perannya. Bahkan memakai strategi "salah kirim" foto tanpa busana pada Ares. Raya berhasil menjerat Ares dalam jaringannya.
Dari sanalah segalanya dimulai, hubungan bergairah, tanpa ikatan, tanpa janji. Ares memberinya segalanya, apartemen mewah, mobil, kemewahan yang tak pernah ia bayangkan.
Namun di balik hubungan yang seharusnya hanya tentang tubuh, Ares juga memberi sesuatu yang lain, perhatian dan kehangatan. Membuat Naraya menjatuhkan hati pada pria yang tak bisa menjanjikan hubungan.
Kenzie sendiri kembali dan bertekad merebut Naraya dari pelukan ayahnya.
Apakah Ares benar mencintainya atau Naraya hanya alat pelampiasan di ranjang?
Apakah Kenzie akan membongkar rahasia ayahnya demi merebut kembali Naraya?
Read
Chapter: Extra part 7"Silakan duduk, Pak Ares, Ibu Raya," sapa dr. Indri ramah. Ia telah mengenal pasangan ini sejak kehamilan Karin dua puluh tahun yang lalu. "Wah, sudah lama sekali ya. Ada keluhan apa hari ini?" Ares berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak sedikit serak. "Istri saya. Dia... yah, telat datang bulan. Sudah dua bulan." Dokter Indri mengangkat alisnya, lalu tersenyum simpul sambil mencatat di rekam medis. "Dua bulan?" "Iya, Dok. Biasanya gak pernah telat. Tadi sempet tespack, garisnya dua tapi samar banget," jawab Raya lirih. Wajahnya memerah. Ia merasa seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan, padahal ia sedang duduk bersama suaminya yang sah. "Baik, usia empat puluh lima ya. Kita periksa dulu. Silakan berbaring di bed, kita lihat lewat USG," ujar dr. Indri sambil memakai sarung tangan lateksnya. Raya merebahkan diri dengan perasaan campur aduk. Ares berdiri tepat di samping kepala Raya, menggenggam tangannya seolah-olah istrinya sedang akan menjala
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Extra part 6Ares dan Raya menuruni tangga. Ares tampak gagah dengan kaos polo dan celana bahan, sementara Raya terlihat anggun dengan dress kuning meski wajahnya menyiratkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.Karin sedang asyik bersandar di karpet bulu bersama Gia, pacar Kelana di ruang keluarga menonton film di netflix. Iamenoleh pertama kali. "Loh, Daddy sama Mami mau ke mana? Rapi banget, mau kondangan?" tanya Karin heran.Dahinya mengernyit melihat orang tuanya sudah rapi seperti hendak menghadiri jamuan penting. Di sofa, Kelana yang sedang fokus dengan laptop di pangkuannya—postur tubuh dan tatapan matanya yang tajam benar-benar duplikat Ares di masa muda—turut mendongak."Mau ke dokter," jawabnya dengan nada penuh semangat yang tidak biasa.Ares menyunggingkan senyum lebar, seolah baru saja memenangkan tender proyek raksasa. Kelana seketika menghentikan jarinya yang sedang menari di atas keyboard. Ia menutup setengah layar laptopnya. "Ke dokter? Siapa yang sakit? Daddy tensinya nai
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Extra part 5Raya berjalan mondar-mandir di depan tempat tidur, langkah kakinya menghentak karpet bulu dengan gusar. Tangannya meremas ujung daster satinnya, sesekali ia menyeka keringat dingin di pelipis. Pikirannya kacau, melayang pada liburan romantis mereka di Lombok dua bulan lalu yang seharusnya menjadi momen relaksasi, kini justru menjadi sumber kecemasan luar biasa. "Bagaimana ini?" gumamnya panik. Ia berhenti melangkah, matanya yang berkilat tajam tertuju pada sosok pria yang duduk dengan posisi terlalu santai di sofa sudut kamar. Ares dengan kacamata bacanya, tampak sangat tenang membolak-balik halaman koran bisnis seolah dunia di sekitarnya baik-baik saja. "Ares! Bisa tidak berhenti baca koran itu sebentar?" suara Raya melengking, penuh tekanan. Ares menurunkan korannya perlahan, menatap istrinya dari balik bingkai kacamata. "Sayang, aku sudah bilang sepuluh kali pagi ini. Kamu tenang saja. Kalaupun iya, kita hadapi bersama. Apa yang perlu ditakutkan?" "Apa yang perlu ditakut
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Extra part 4Ares mengendap-endap ke dapur setelah memastikan Raya sudah memejamkan mata. Mengenakan kaus oblong dan celemek bunga-bunga milik Raya yang ia temukan. "Sejauh ini aku cuma bisa masak nasi goreng, pancake, sama toast, itu pun dua puluh tahun lalu." Ares berdiri di depan kompor dengan dahi berkerut, menatap sebuah YouTube tutorial di ponselnya. "Sekarang aku harus membuat sesuatu yang berbeda. Tumis bawang putih sampai harum... oke, gampang," gumam Ares. Tapi baru lima menit berlalu, dapur sudah dipenuhi asap. Ares panik saat bawangnya gosong karena api terlalu besar. Ia terbatuk-batuk, mencoba mengibas-ngibaskan serbet ke arah detektor asap agar tidak berbunyi. "Ares? Kamu membakar rumah?" Ares membeku. Suara dingin dan datar itu berasal dari ambang pintu. Raya berdiri di sana, bersedekap dengan piyama satinnya, menatap pemandangan kacau di depannya. Cangkang telur berceceran, tepung tumpah di lantai, dan suaminya yang terlihat seperti koki amatir yang gagal. "Sayang! Kamu..
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Extra part 3Untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga Mahardika, meja makan itu terasa seperti medan perang yang sunyi. Raya duduk dengan punggung tegak, menyesap tehnya. Tatapannya lurus ke depan, sama sekali tidak melirik ke arah kursi utama. Di sisi lain, Ares berkali-kali berdehem, mencoba menarik perhatian istrinya. "Sayang, omletnya enak sekali pagi ini. Kamu yang tambahkan keju ya?" puji Ares dengan suara yang dibuat seceria mungkin. Hening. Raya hanya mengambil sepotong roti gandum tanpa menyahut, seolah-olah Ares adalah transparan. "Sayang, nanti kita jalan-jalan yuk?" Ares mencoba lagi lagi, tangannya mencoba meraih jemari Raya di atas meja. Raya segera menarik tangannya, lalu berdiri dari kursi, membawa piring kotornya ke dapur tanpa sepatah kata pun. Kelana dan Karin yang duduk berseberangan langsung saling pandang. Kelana menghentikan kunyahan rotinya, sementara Karin menatap punggung Maminya dengan dahi berkerut. "Dad, kalian bertengkar?" bisik Kelana hati-hati. "
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Extra Part 2Ares merasakan kaosnya mulai lembap. Isakan kecil Raya yang tertahan di dadanya membuat hati pria itu berdenyut nyeri. Ia mengeratkan pelukannya, mengusap punggung Raya dengan gerakan memutar yang menenangkan, seolah ingin menyerap semua ketakutan istrinya ke dalam dirinya sendiri. "Hei, kenapa jadi nangis begini?" bisik Ares, suaranya kini lebih lembut. "Kita kan lagi membicarakan masa depan, Sayang. Sebentar lagi Kelana mungkin akan melamar kekasihnya. Bayangkan, rumah ini tidak akan sepi lagi. Akan ada suara tangisan bayi, langkah kaki mungil yang berlarian di lorong." Ares menjeda, ia menarik napas panjang, menghirup aroma rambut Raya yang masih sama sejak dulu. "Tahu tidak? Aku sering membayangkan kita duduk di kursi di teras belakang menghabiskan sore bersama. Aku mungkin sudah pikun, mungkin sudah susah berjalan, tapi kalau kamu lewat di depanku, hatiku pasti tetap akan berdegup kencang, kaya orang pertama kali jatuh cinta." Ares menatap dirinya di cermin meja rias, sambil
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Spesial part 9Saat fajar menyingsing di Jakarta, menandai keberhasilan misi penyelamatan di Spanyol, Abimanyu bergerak. Ia telah menerima konfirmasi dari Aldrich bahwa Damian dan Riri selamat, dan Dimitri telah dilumpuhkan. Kini saatnya menutup simpul di Indonesia.Tim pengawasan Abimanyu memastikan Budi Santoso masih berada di apartemen Menteng, tampak gelisah, mungkin karena komunikasinya dengan Dimitri terputus.Abimanyu memimpin tim kecil, terdiri dari agen keamanannya yang paling tepercaya, termasuk beberapa personel dari tim Adiwangsa Balian yang dipanggil kembali. Aurelia ada di dalam mobil di lokasi tersembunyi, seperti yang ia janjikan, hatinya dipenuhi campuran ketakutan dan tekad baja.Tim Abimanyu bergerak cepat dan senyap. Mereka mematikan aliran listrik di lantai apartemen Budi sebelum mendobrak pintu.Budi Santoso terkejut saat melihat beberapa pria berpakaian hitam bersenjata mengepung ruang tamunya. Ia mencoba meraih telepon, tetapi Abimanyu sudah berdiri di hadapannya, tatapannya
Last Updated: 2025-11-27
Chapter: Spesial part 8Malam telah tiba di pegunungan terpencil dekat Granada. Dinginnya angin malam menusuk, tetapi Aldrich dan Arkana tidak merasakannya. Mereka memarkir mobil mereka beberapa kilometer dari cortijo tua itu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Aldrich memimpin, gerakannya senyap dan efisien, sepenuhnya kembali pada keahliannya sebagai Rayzen yang terlatih. Arkana mengikutinya, meskipun ia seorang pengusaha, adrenalin dan amarah telah mengasah insting lamanya. Aldrich memegang perangkat komunikasi yang terhubung langsung dengan tim pengintai ABG yang sudah berada di perimeter. "Status?" bisik Aldrich melalui earpiece. "Lima pria bersenjata di perimeter, Tuan Aldrich. Dua di gerbang depan, satu di belakang, dua melakukan patroli di halaman. Ada tiga mobil di gudang samping. Satu mobil di antaranya adalah van pengangkut," lapor suara operator ABG. "Target di dalam. Kami mengamati ada dua sosok yang terlihat melalui jendela lantai atas; kemungkinan mereka Tuan Damian dan Nyonya
Last Updated: 2025-11-27
Chapter: Spesial part 7Setibanya di Barcelona, energi kota yang ramai terasa kontras dengan ketegangan yang menyelimuti Aldrich dan Arkana. Mereka tidak membuang waktu. Marcus, kontak Aldrich, sudah mengatur pertemuan di sebuah klub malam yang sepi di kawasan Gothic Quarter—tempat pertemuan yang sempurna untuk urusan yang membutuhkan kerahasiaan dan bayangan. Di sudut tersembunyi, diterangi cahaya remang-remang dari lilin di atas meja, mereka bertemu dengan Diego. Pria itu bertubuh besar, dengan mata yang tajam dan sikap yang angkuh. "Tuan Rayzen," sapa Diego dengan sedikit senyum mengejek, mengacu pada nama lama Aldrich. "Saya dengar Anda sudah pensiun. Saya tidak tahu kalau operasi pencarian orang hilang termasuk dalam daftar layanan pensiunan Anda." Aldrich tidak tersenyum. Ia mendorong amplop tebal berisi uang tunai Euro yang telah disiapkan Arkana. "Nama saya Aldrich Wira. Pria ini adalah kakak saya, Arkana. Kami mencari dua pria: Budi Santoso dan Nobel. Mereka beroperasi di Spanyol, mungkin terkait
Last Updated: 2025-11-27
Chapter: Special part 6Setelah menutup telepon, Aldrich dan Arkana duduk berhadapan. Di antara mereka, laptop masih menampilkan wajah Budi Santoso dari foto lama. Pria berusia lima puluhan dengan wajah keras dan mata yang licik."Kita harus ke Barcelona," kata Aldrich tiba-tiba. "Marcus punya kontak di sana yang mengelola pasar informasi gelap. Jika Nobel ada di Spanyol, orang-orang itu pasti tahu."Arkana mengangguk. "Polisi Madrid akan tiba siang ini untuk mengambil alih investigasi resmi. Tapi kita tidak bisa menunggu birokrasi mereka. Kita bergerak sekarang, dengan cara kita sendiri.""Kakak yakin?" tanya Aldrich, menatap kakaknya tajam. "Cara kita berarti cara yang tidak bersih. Ini caraku sebagai Rayzen."Arkana menatap balik adiknya dengan mata yang berkilat dingin. Sesuatu yang jarang terlihat di wajah pengusaha tenang ini. "Mereka mengambil Papa dan Mama, Al. Mereka menyeret keluarga kita ke dalam permainan kotor mereka. Jika mereka mau bermain kotor, kita akan bermain lebih kotor."Aldrich terseny
Last Updated: 2025-11-25
Chapter: Spesial part 5Pagi itu, matahari baru saja menyingsing di langit Málaga ketika ponsel Aldrich berdering keras. Ia yang baru tertidur sebentar langsung terbangun, meraih ponsel dengan refleks yang terlatih."Rayzen," suara Kenzie terdengar tegang di seberang. "Kami menemukan sesuatu. Sesuatu yang sangat tidak kami harapkan."Aldrich langsung bangkit, berjalan ke meja kerja sambil menyalakan laptop. "Bicara.""Kami berhasil melacak perpindahan uang mencurigakan yang masuk ke Spanyol tiga minggu sebelum orangtua anda tiba di sana. Jumlahnya besar, hampir dua juta euro. Uang itu ditransfer melalui serangkaian perusahaan cangkang, tapi kami berhasil menelusuri sumbernya.""Darimana?" tanya Aldrich, jantungnya mulai berdegup kencang."Jakarta, Rayzen. Dan yang lebih mengejutkan, uang itu berasal dari rekening yang terhubung dengan nama lama. Budi Santoso."Aldrich membeku. Nama itu seperti pukulan langsung ke ulu hatinya. Budi Santoso. Teman satu sel Candra di penjara dulu. Pria yang seharusnya sudah tid
Last Updated: 2025-11-25
Chapter: Special.part 4Di kamar sebelah, Aldrich duduk di meja kerjanya, laptop terbuka, menghubungi satu per satu jaringan yang pernah ia bangun saat masih menjadi Rayzen. Kini, jaringan itu telah ia transformasikan menjadi bagian dari Adiwangsa Balian Group, perusahaan keamanan swasta warisan dari Candra yang telah ia ambil alih dan kelola dengan cara yang lebih legal, setidaknya di permukaan. Layar laptopnya menampilkan wajah seorang pria Asia berusia empat puluhan dengan bekas luka di pipi kiri. Namanya Kenji, mantan anggota yakuza Jepang yang kini menjadi kepala operasional Adiwangsa Balian Group di Asia. "Rayzen," sapa Kenji dengan hormat. "Sudah lama anda tidak menghubungi kami dengan nada seperti ini." "Ini darurat, Kenji. Orangtuaku diculik di Spanyol. Aku butuh semua intelijen yang kalian punya tentang jaringan kriminal yang beroperasi di Eropa Barat, khususnya yang memiliki motif balas dendam terhadapku atau keluargaku." Haruto mengangguk, wajahnya serius. "Kami akan langsung mengaktifkan jar
Last Updated: 2025-11-24