Chapter: Bab 102“Kalian tadi dengar kan apa yang aku bilang?” tanya Hendra serius. “Jangan membuat skandal. Terus kalian ngapain di hotel sekamar?”“Gak usah berpikiran aneh-aneh, Hen,” Prana menyambar cepat, mencoba meredam kecurigaan yang memancar dari mata Hendra.“Shanum saat itu menguntit Fadil sendirian. Dia nekat datang ke hotel itu tanpa rencana, dan sialnya dia hampir ketahuan di koridor karena Fadil mendadak keluar kamar,” jelas Prana.Hendra menaikkan sebelah alisnya, tak lantas percaya. “Lalu?”“Kebetulan Menyewa kamar yang posisinya persis di depan kamar Fadil sebelum jadwal operasi. Begitu aku lihat Shanum hampir tertangkap basah, aku langsung menariknya masuk ke kamarku sebelum bajingan itu tahu,” jelas Prana datar.Shanum menunduk, wajahnya memanas. Kejadian itu memang terasa sangat memalukan sekaligus menakutkan baginya. “Iya, Mas Hendra. Kalau gak ada Mas Prana waktu itu, mungkin Fadil sudah menghabisiku di koridor hotel.”Hendra terdiam sebentar, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu
Terakhir Diperbarui: 2026-05-14
Chapter: Bab 101Begitu Shanum dan Prana melangkah masuk, atmosfer ruangan kerja Hendra. Pengacara ternama itu berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja slim-fitnya, lalu menyambut mereka dengan cengiran lebar yang terasa terlalu ceria untuk sebuah rencana perceraian.“Wah, Shanum! Lama gak ketemu, makin cantik saja ya setelah sekian lama?” goda Hendra sambil mengedipkan sebelah mata.“Duduk di sini saja, Sayang.” Prana membimbing Shanum duduk di sofa dengan posesif. Mendengar panggilan 'Sayang', kepala Hendra berputar secepat kilat, penuh tanda tanya. Dan Prana membalasnya dengan tatapan tajam—sebuah peringatan bisu agar Hendra menjaga lidahnya kalau tak ingin meja disana melayang.“Apa kabar, Shanum?” Hendra akhirnya memilih mengabaikan Prana.“Baik, Mas,” jawab Shanum pelan. Senyumnya tipis sarat rasa canggung.Terakhir kali ia bertemu Hendra adalah lima tahun lalu, saat pria itu menjadi saksi hancurnya hubungannya dengan Prana akibat perjodohan paksa.“Dulu aku pikir Prana benar-benar mem
Terakhir Diperbarui: 2026-05-14
Chapter: Bab 100“Sayang, dimana sekarang?” Suara Prana langsung menyambar melalui speaker ponsel begitu Shanum menekan tombol hijau, terdengar nada khawatir disana.“Di rumah. Aku baru saja sampai,” jawab Shanum sembari menyandarkan punggungnya pada pintu jati yang baru saja tertutup rapat. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung yang masih berantakan. Intimidasi dingin Fadil di mobil tadi masih terasa.“Kamu baik-baik saja? Ibumu atau Fadil melakukan sesuatu?” Pertanyaan Prana datang beruntun. Kalimat itu tajam, seakan ia siap memutar balik kemudi dan menerjang siapa pun yang berani menyentuh Shanum jika wanita itu mengiyakan.Shanum menghela napas lelah. Bayangan tatapan predator Fadil dan bisikan ancaman di samping telinganya tadi kembali berputar. “Aku baik, Mas. Cuma sedikit pening.”“Aku sebentar lagi sampai. Jangan kemana-mana, aku lagi putar arah!”Tanpa menunggu balasan, sambungan telepon diputus sepihak. Shanum tahu Prana tak sedang menerima penolakan. Ia segera bergera
Terakhir Diperbarui: 2026-05-13
Chapter: Bab 99Hendra mendorong pintu kaca ruangannya dengan langkah lebar, melirik jam tangan peraknya yang baru menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Langkahnya terhenti saat melihat sosok Prana sudah duduk santai di kursi kulit tamu sembari menyesap kopi hitam yang aromanya memenuhi ruangan."Bukannya janjian kita jam sembilan ya? Kenapa kamu sudah ada di sini?" tanya Hendra heran. Ia meletakkan tas jinjingnya ke atas meja kerja yang masih rapi.Prana hanya mengangkat cangkir kopinya tipis. "Aku butuh waktu lebih awal untuk menunjukkan sesuatu padamu sebelum Shanum sampai di sini nanti."Kedua netra Hendra kini mengalihkan pandangan pada pria yang duduk di sebelah Prana. Pria itu tampak masih sangat muda, mengenakan kacamata dengan bingkai tebal dan kemeja kotak-kotak yang dikancingkan sampai ke leher.Tipikal anak muda kutu buku yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar monitor daripada di bawah sinar matahari.“Kamu gak praktek? Lagi cuti atau bagaimana?” selidik Hendra se
Terakhir Diperbarui: 2026-05-13
Chapter: Bab 98Fadil mulai memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari gerbang rumah Dokter Bobby. Matanya sesekali melirik spion, memastikan sosok mertuanya sudah hilang dari pandangan sebelum ia melepaskan topeng keramahannya.“Jadi apa yang ibumu bahas tadi?” tanya Fadil curiga.Shanum tetap bungkam. Ia merapatkan hoodie kremnya, menarik talinya lebih kencang hingga dagunya tersembunyi sempurna.Ia menggigit bibirnya menahan rasa sesak mengingat ucapan ibunya yang masih terngiang jelas di telinga. “Mungkin ada yang kurang dari caramu melayani dia.”“Makin kemari kamu banyak tingkah ya? Bukannya jawab, malah pura-pura gak dengar,” desak Fadil lagi, suaranya mulai meninggi, kehilangan kesabaran yang tadi ia pamerkan di depan Ani.“Ibu cuma minta aku lebih baik ngurus kamu,” jawab Shanum datar. Matanya menatap kosong ke arah jalanan di depannya.Fadil mendengus, tawa remeh keluar dari sela bibirnya. “Oh itu… Ibumu memang benar. Akhir-akhir ini kamu emang banyak tingkah,” gerutu Fadil sambil memutar k
Terakhir Diperbarui: 2026-05-12
Chapter: Bab 97“Bagus ya! Menginap di sini tanpa izin suami, terus handphonenya sengaja dimatikan!” gertak Fadil di teras rumah orang tua Shanum tanpa memperdulikan keberadaan mertuanya.Shanum menunduk. “Ponselku mati habis baterai, Mas. Aku ketiduran di kamar tamu, gak sempet cek handphone.”“Ketiduran? Sampai lupa suami baru pulang dari Jepang, bela-belain jemput ayahmu, terus istrinya ketiduran?!” bentak Fadil lagi.“Iya, maaf,” jawab Shanum benar-benar sudah malas menanggapi Fadil.“Ayo pulang! Jangan buang-buang waktu lagi di sini!” Fadil berseru dengan nada yang tak terbantahkan.Tanpa menunggu jawaban, pria itu berputar arah dan berjalan lebar-lebar menuju mobil yang terparkir di depan pagar, meninggalkan Shanum yang berdiri terpaku di teras.Shanum menghela napas panjang, merapatkan tudung hoodie krem yang masih melekat di kepalanya. Ia memastikan tali tudung itu terikat cukup kuat untuk menyembunyikan tanda kemerahan di lehernya. Dengan langkah berat, ia masuk kembali ke dalam rumah untuk
Terakhir Diperbarui: 2026-05-12
Chapter: Spesial part 9Saat fajar menyingsing di Jakarta, menandai keberhasilan misi penyelamatan di Spanyol, Abimanyu bergerak. Ia telah menerima konfirmasi dari Aldrich bahwa Damian dan Riri selamat, dan Dimitri telah dilumpuhkan. Kini saatnya menutup simpul di Indonesia.Tim pengawasan Abimanyu memastikan Budi Santoso masih berada di apartemen Menteng, tampak gelisah, mungkin karena komunikasinya dengan Dimitri terputus.Abimanyu memimpin tim kecil, terdiri dari agen keamanannya yang paling tepercaya, termasuk beberapa personel dari tim Adiwangsa Balian yang dipanggil kembali. Aurelia ada di dalam mobil di lokasi tersembunyi, seperti yang ia janjikan, hatinya dipenuhi campuran ketakutan dan tekad baja.Tim Abimanyu bergerak cepat dan senyap. Mereka mematikan aliran listrik di lantai apartemen Budi sebelum mendobrak pintu.Budi Santoso terkejut saat melihat beberapa pria berpakaian hitam bersenjata mengepung ruang tamunya. Ia mencoba meraih telepon, tetapi Abimanyu sudah berdiri di hadapannya, tatapannya
Terakhir Diperbarui: 2025-11-27
Chapter: Spesial part 8Malam telah tiba di pegunungan terpencil dekat Granada. Dinginnya angin malam menusuk, tetapi Aldrich dan Arkana tidak merasakannya. Mereka memarkir mobil mereka beberapa kilometer dari cortijo tua itu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Aldrich memimpin, gerakannya senyap dan efisien, sepenuhnya kembali pada keahliannya sebagai Rayzen yang terlatih. Arkana mengikutinya, meskipun ia seorang pengusaha, adrenalin dan amarah telah mengasah insting lamanya. Aldrich memegang perangkat komunikasi yang terhubung langsung dengan tim pengintai ABG yang sudah berada di perimeter. "Status?" bisik Aldrich melalui earpiece. "Lima pria bersenjata di perimeter, Tuan Aldrich. Dua di gerbang depan, satu di belakang, dua melakukan patroli di halaman. Ada tiga mobil di gudang samping. Satu mobil di antaranya adalah van pengangkut," lapor suara operator ABG. "Target di dalam. Kami mengamati ada dua sosok yang terlihat melalui jendela lantai atas; kemungkinan mereka Tuan Damian dan Nyonya
Terakhir Diperbarui: 2025-11-27
Chapter: Spesial part 7Setibanya di Barcelona, energi kota yang ramai terasa kontras dengan ketegangan yang menyelimuti Aldrich dan Arkana. Mereka tidak membuang waktu. Marcus, kontak Aldrich, sudah mengatur pertemuan di sebuah klub malam yang sepi di kawasan Gothic Quarter—tempat pertemuan yang sempurna untuk urusan yang membutuhkan kerahasiaan dan bayangan. Di sudut tersembunyi, diterangi cahaya remang-remang dari lilin di atas meja, mereka bertemu dengan Diego. Pria itu bertubuh besar, dengan mata yang tajam dan sikap yang angkuh. "Tuan Rayzen," sapa Diego dengan sedikit senyum mengejek, mengacu pada nama lama Aldrich. "Saya dengar Anda sudah pensiun. Saya tidak tahu kalau operasi pencarian orang hilang termasuk dalam daftar layanan pensiunan Anda." Aldrich tidak tersenyum. Ia mendorong amplop tebal berisi uang tunai Euro yang telah disiapkan Arkana. "Nama saya Aldrich Wira. Pria ini adalah kakak saya, Arkana. Kami mencari dua pria: Budi Santoso dan Nobel. Mereka beroperasi di Spanyol, mungkin terkait
Terakhir Diperbarui: 2025-11-27
Chapter: Special part 6Setelah menutup telepon, Aldrich dan Arkana duduk berhadapan. Di antara mereka, laptop masih menampilkan wajah Budi Santoso dari foto lama. Pria berusia lima puluhan dengan wajah keras dan mata yang licik."Kita harus ke Barcelona," kata Aldrich tiba-tiba. "Marcus punya kontak di sana yang mengelola pasar informasi gelap. Jika Nobel ada di Spanyol, orang-orang itu pasti tahu."Arkana mengangguk. "Polisi Madrid akan tiba siang ini untuk mengambil alih investigasi resmi. Tapi kita tidak bisa menunggu birokrasi mereka. Kita bergerak sekarang, dengan cara kita sendiri.""Kakak yakin?" tanya Aldrich, menatap kakaknya tajam. "Cara kita berarti cara yang tidak bersih. Ini caraku sebagai Rayzen."Arkana menatap balik adiknya dengan mata yang berkilat dingin. Sesuatu yang jarang terlihat di wajah pengusaha tenang ini. "Mereka mengambil Papa dan Mama, Al. Mereka menyeret keluarga kita ke dalam permainan kotor mereka. Jika mereka mau bermain kotor, kita akan bermain lebih kotor."Aldrich terseny
Terakhir Diperbarui: 2025-11-25
Chapter: Spesial part 5Pagi itu, matahari baru saja menyingsing di langit Málaga ketika ponsel Aldrich berdering keras. Ia yang baru tertidur sebentar langsung terbangun, meraih ponsel dengan refleks yang terlatih."Rayzen," suara Kenzie terdengar tegang di seberang. "Kami menemukan sesuatu. Sesuatu yang sangat tidak kami harapkan."Aldrich langsung bangkit, berjalan ke meja kerja sambil menyalakan laptop. "Bicara.""Kami berhasil melacak perpindahan uang mencurigakan yang masuk ke Spanyol tiga minggu sebelum orangtua anda tiba di sana. Jumlahnya besar, hampir dua juta euro. Uang itu ditransfer melalui serangkaian perusahaan cangkang, tapi kami berhasil menelusuri sumbernya.""Darimana?" tanya Aldrich, jantungnya mulai berdegup kencang."Jakarta, Rayzen. Dan yang lebih mengejutkan, uang itu berasal dari rekening yang terhubung dengan nama lama. Budi Santoso."Aldrich membeku. Nama itu seperti pukulan langsung ke ulu hatinya. Budi Santoso. Teman satu sel Candra di penjara dulu. Pria yang seharusnya sudah tid
Terakhir Diperbarui: 2025-11-25
Chapter: Special.part 4Di kamar sebelah, Aldrich duduk di meja kerjanya, laptop terbuka, menghubungi satu per satu jaringan yang pernah ia bangun saat masih menjadi Rayzen. Kini, jaringan itu telah ia transformasikan menjadi bagian dari Adiwangsa Balian Group, perusahaan keamanan swasta warisan dari Candra yang telah ia ambil alih dan kelola dengan cara yang lebih legal, setidaknya di permukaan. Layar laptopnya menampilkan wajah seorang pria Asia berusia empat puluhan dengan bekas luka di pipi kiri. Namanya Kenji, mantan anggota yakuza Jepang yang kini menjadi kepala operasional Adiwangsa Balian Group di Asia. "Rayzen," sapa Kenji dengan hormat. "Sudah lama anda tidak menghubungi kami dengan nada seperti ini." "Ini darurat, Kenji. Orangtuaku diculik di Spanyol. Aku butuh semua intelijen yang kalian punya tentang jaringan kriminal yang beroperasi di Eropa Barat, khususnya yang memiliki motif balas dendam terhadapku atau keluargaku." Haruto mengangguk, wajahnya serius. "Kami akan langsung mengaktifkan jar
Terakhir Diperbarui: 2025-11-24
Chapter: Bab 264: Desakan“Banyak orang kemarin melihat Anda bersama Nona Ivana Markov berjalan-jalan di pasar, Baginda,” ucap Karov dengan nada yang sengaja ditekan agar terdengar seperti nasihat tulus.“Kabar itu menyebar lebih cepat daripada api di musim kering. Rakyat mulai berspekulasi, dan mereka menyukai apa yang mereka lihat. Mereka merestui apabila Baginda meresmikan Nona Ivana sebagai ratu Odissian.”Ruang kerja pribadi Erion terasa lebih menyesakkan daripada medan perang mana pun yang pernah ia lalui. Di hadapannya, Tuan Domin Karov berdiri dengan dagu terangkat, memegang sebuah gulungan perkamen panjang yang dipenuhi segel lilin merah.Erion mengerutkan kening, meletakkan pena bulunya dengan bantingan pelan yang bergema. “Itu hanya kebetulan, Karov. Aku sedang melakukan sidak dan kebetulan bertemu dengannya.”“Mungkin kebetulan itu sebuah takdir dari dewa, Baginda. Dan rakyat tidak peduli pada kata 'kebetulan', Baginda,” sela Dragan Markov yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, wajahnya memancarka
Terakhir Diperbarui: 2026-05-14
Chapter: Bab 263: Ivana Markov“Apa yang kalian lakukan?!” bentak salah satu melihat seorang wanita dengan gaun sederhana tengah berlutut di atas tanah pada dua pria sangar berpakaian lusuh.Kedua preman itu menatap bengis ke arah seorang wanita itu. “Menyingkirlah! Jangan ikut campur jika tidak ingin wajah cantikmu terluka,” geram salah satu dari mereka sambil meludah ke samping.“Nenek tua ini harus belajar aturan. Berdagang di sini berarti harus bayar upeti, atau barang dagangannya akan jadi sampah!” sahut preman yang bertubuh gempal.Wanita itu tidak beranjak. Ia justru merentangkan tangannya, melindungi sang nenek yang gemetar di belakangnya.“Kalian punya tangan dan kaki yang kuat, gunakan untuk bekerja, bukan untuk merampas rezeki orang tua yang lemah. Aku tidak akan pergi sampai kalian meninggalkan tempat ini!”“Kau benar-benar cari mati!” teriak preman satunya. Ia mengangkat tangannya yang besar, siap melayangkan pukulan keras ke arah wanita yang keras kepala itu.Sebelum kepalan tangan itu mendarat, sebua
Terakhir Diperbarui: 2026-05-14
Chapter: Bab 262: Dragan Markov“Mau sampai kapan mereka melayangkan protes di pelataran seperti itu?” tanya Erion kesal.Kini Erion tengah berdiri di balkon istana barat, langsung menghadap pelataran utama istana. Di bawah sana para dewan kerajaan muda telah melakukan protes soal Erion menolak mengangkat ratu berdarah murni Odissian.Di sampingnya, Marib berdiri dengan sikap siaga, memperhatikan raut wajah rajanya yang kaku.“Dewan tidak akan berhenti, Baginda,” ucap Marib memecah kesunyian. “Tuan Karov dan Tuan Marko sepertinya sudah mulai menyusun kekuatan di balik pintu tertutup. Mereka menganggap penolakan Anda hari ini sebagai penghinaan terhadap silsilah Odissian.”Erion mendengus, “Mereka menyebutnya silsilah, aku menyebutnya jeratan. Mereka ingin aku menikahi boneka agar mereka bisa menarik talinya dari kursi dewan.”“Tetap saja, membawa nama Yasmina dari Pervane di depan mereka adalah tindakan yang sangat berisiko. Anda tahu sendiri bagaimana sejarah menuliskan nama Hazir di tanah ini,” lanjut Marib.Langk
Terakhir Diperbarui: 2026-05-14
Chapter: Bab 261: Perjodohan“Sudah tiga hari berlalu, Baginda,” ujar Tuan Karov—ketua dewan kerajaan—sambil melangkah maju. “Takhta Odissian tidak boleh dibiarkan kosong tanpa pendamping. Rakyat butuh simbol kesuburan dan stabilitas. Kami membawa putri bangsawan pilihan terbaik dari keluarga-keluarga paling setia di negeri ini.”Erion mengepalkan tangan di atas sandaran kursi. “Aku sudah memberikan jawaban tiga hari yang lalu, Karov. Aku tidak butuh daftar nama ini.”Aula agung istana Odissian dipenuhi oleh ketegangan yang nyaris meledak. Erion duduk di atas takhta emasnya, matanya yang tajam menatap satu per satu wajah para anggota dewan kerajaan yang berdiri di hadapannya.Di belakang para pria tua berjubah mewah itu, berjejer gadis-gadis muda dengan gaun terbaik mereka—putri, keponakan, dan adik dari para bangsawan yang berharap bisa menduduki kursi ratu.“Tapi Baginda ini adalah sebuah kewajiban dari seorang pemegang kuasa,” seru salah satu dewan kerajaan dari sudut ruangan, sambil mendorong keponakannya maj
Terakhir Diperbarui: 2026-05-13
Chapter: Bab 260: Kosong“Jahit saja. Aku bisa menahannya,” sahutnya tidak terbantahkan. Tekad yang tertanam di hatinya jauh lebih keras daripada rasa takut akan ujung logam. “ luka ini tidak boleh menjadi penghalang untukku menyelamatkan kakakku.”Tabib tua itu tertegun, tangannya yang keriput sempat ragu sebelum akhirnya mengambil kain bersih yang dipintal menyerupai bantal kecil. Ia menyerahkannya pada Yasmin, mengisyaratkan agar sang putri menggigitnya sebagai penyangga rasa sakit.Dengan gerakan terampil yang tenang, tabib itu mulai membakar ujung jarum di atas api kecil hingga memerah, lalu mencelupkannya ke dalam cairan yang menyengat.Saat jarum pertama menembus kulit bahunya, tubuh Yasmin menegang hebat. Rasa sakit yang tajam meledak, menjalar melalui saraf menuju otaknya seperti sengatan api. Ia tidak berteriak. Yasmin justru menggigit kain di mulutnya sekuat tenaga, menahan erangan yang meronta ingin lepas dari tenggorokan.“Rrrggghhh…” geraman tertahan Yasmin terdengar memilukan.Setiap tarikan be
Terakhir Diperbarui: 2026-05-13
Chapter: Bab 259: Penyelamatan“Beraninya kalian mengacau di tempat kekuasaan Baginda!” teriak pemimpin yang datang bergerombol dari arah jalur Odissian, tepat saat para penyerang itu bersiap melakukan serangan akhir mendorong Pasukan elit Pervane ke jurang.Sebuah panah perak melesat dari kejauhan, menembus kepala salah satu penyerang yang hendak mengayunkan pedang ke arah Haman.“Ksatria Odissian!” seru salah satu prajurit Pervane yang tersisa dengan sisa harapan.Para penyerang itu tampak terkejut. Koordinasi mereka yang semula rapi mendadak kacau saat pasukan Odissian menerjang masuk ke tengah pertempuran. Pemimpin pasukan itu, seorang ksatria dengan helm tertutup, melompat dari kudanya dan langsung menebas dua musuh sekaligus dengan satu ayunan pedang besar.Yasmin tersungkur di atas tanah berlumpur, masih memegang belati kecilnya dengan posisi waspada saat beberapa prajurit Odissian mendekatinya. Ia tampak berantakan, jubah beludrunya robek, bahunya berdarah, dan sekujur tubuhnya tertutup lumpur.“Tuan Putri
Terakhir Diperbarui: 2026-05-13

Menggoda Ayah Mantan Kekasihku
Dikhianati kekasih depan umum, Naraya merasa kehilangan segalanya, harga diri, kepercayaan, dan hatinya. Pria yang dicintainya selama dua tahun, Kenzie, justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri Alicia. Lebih kejamnya lagi, mereka berciuman tepat di depan mata Naraya, sambil menertawakan dan merendahkannya, dengan alasan Naraya tak bisa memenuhi kebutuhan gairah Kenzie.
Sebuah fakta mengejutkan terungkap, Kenzie ternyata anak dari Ares Mahardika, CEO tempat Naraya bekerja sekarang. Seorang duda tampan, dingin, karismatik dan terkenal sebagai playboy berbahaya. Dan Naraya melihat itu sebagai kesempatan membuat Kenzie menyesal dengan cara paling kejam dan berisiko, yaitu Naraya akan menggoda ayah Kenzie.
Dengan penampilan baru yang lebih berani dan menggoda, Naraya mulai memainkan perannya. Bahkan memakai strategi "salah kirim" foto tanpa busana pada Ares. Raya berhasil menjerat Ares dalam jaringannya.
Dari sanalah segalanya dimulai, hubungan bergairah, tanpa ikatan, tanpa janji. Ares memberinya segalanya, apartemen mewah, mobil, kemewahan yang tak pernah ia bayangkan.
Namun di balik hubungan yang seharusnya hanya tentang tubuh, Ares juga memberi sesuatu yang lain, perhatian dan kehangatan. Membuat Naraya menjatuhkan hati pada pria yang tak bisa menjanjikan hubungan.
Kenzie sendiri kembali dan bertekad merebut Naraya dari pelukan ayahnya.
Apakah Ares benar mencintainya atau Naraya hanya alat pelampiasan di ranjang?
Apakah Kenzie akan membongkar rahasia ayahnya demi merebut kembali Naraya?
Baca
Chapter: Epilog : The Great EscapeKapal pesiar mewah The Majestic Star membelah ombak dengan anggun. Di salah satu dek privat kelas VVIP, Ares Mahardika berdiri dengan setelan kasual linen, menyesap wine merahnya dengan ekspresi paling rileks yang pernah dilihat dunia. Di sampingnya, Raya tampil mempesona dengan dress sabrina putih, membiarkan angin laut mempermainkan rambutnya. "Ares, kamu yakin ini tidak keterlaluan?" Raya bertanya, meskipun tangannya dengan manja melingkar di lengan suaminya. "Kita benar-benar mematikan semua ponsel. Bagaimana kalau Karin menangis atau Kelana berkelahi dengan temannya?" Ares terkekeh, suara baritonnya menyatu dengan deru mesin kapal yang halus. Ia merogoh saku, mengeluarkan dua ponsel yang layarnya gelap gulita. "Biarkan saja, Sayang. Karin sudah SMP, dia harus belajar bahwa dunia tidak selalu berputar di sekitar tangisannya. Kelana sudah SMA, dia calon penerus Mahardika, harus bisa menyelesaikan masalah tanpa mengadu pada Daddynya." Ia menjeda, lalu tertawa licik. "Lagi pula
Terakhir Diperbarui: 2026-03-31
Chapter: End Chapter (Penutup)Di Villa pribadi keluarga Mahardika di Lombok. Ares duduk bersandar di kursi malas. Rambutnya kini telah memutih sempurna, menyisakan gurat-gurat ketampanan maskulin yang bertransformasi menjadi kewibawaan seorang pria senja yang matang. Di sampingnya, Raya sedang sibuk menyesap teh melati hangat. Meski kerutan halus mulai menghiasi sudut matanya, binar di sana tetap sama seperti tiga puluh tahun lalu saat ia masih menjadi sekretaris yang galak bagi Ares. "Ares, lihat itu," tunjuk Raya ke arah bibir pantai. Di sana, Kelana yang sudah menjadi CEO tangguh menggantikan ayahnya, sedang menggendong putra kecilnya. Tak jauh dari mereka, Karin tertawa lepas bersama suaminya, sementara Kenzie—si anak hilang yang akhirnya pulang—sedang asyik memanggang daging bersama David dan istrinya. Kenzie dan David juga sudah menua. "Sebahagia ini ya kita bisa kumpul semuanya," bisik Raya. Ares mengalihkan pandangannya dari anak-cucunya, lalu menatap Raya. Ia meraih tangan istrinya, menggenggam je
Terakhir Diperbarui: 2026-03-30
Chapter: Extrapart 9Televisi masih menyala, menampilkan serial Netflix yang tadi ditonton Karin dan Gia, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar fokus ke layar.Karin duduk di karpet dengan kaki ditekuk, jemarinya terus memutar-mutar ujung bantal sofa. Sesekali ia melirik jam dinding, lalu beralih menatap pintu depan yang masih tertutup rapat. Di sofa, Kelana tetap dengan laptopnya, namun jika diperhatikan lebih dekat, kursor di layarnya hanya bergerak berputar-putar tanpa mengetik satu kata pun. Gia, yang menyadari ketegangan itu, hanya diam sambil sesekali mengusap bahu Karin untuk menenangkan."Kak, kok lama banget sih?" gumam Karin, suaranya serak. "Dokter Indri kan biasanya cepat kalau periksa Mami. Jangan-jangan... jangan-jangan beneran ada bayi?"Kelana menghela napas, menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. Ia menatap adiknya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Karin, tenang. Mau ada bayi atau enggak, itu bukan kiamat. Yang paling penting itu kondisi Mami. Usi
Terakhir Diperbarui: 2026-03-30
Chapter: Extra part 8Setelah prosedur transvaginal dimulai, resolusi di layar monitor menjadi jauh lebih tajam. Dokter Indri menggerakkan alatnya dengan perlahan, mencari setiap sudut rahim Raya. "Nah, ini dia sumber kegelisahan kalian," ujar Dokter Indri pelan. Raya memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya berdebar hingga ke telinga. Raya memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya meremas sprei rumah sakit. "Dokter... katakan saja. Ada janin di sana? Apa saya benar-benar hamil di usia empat puluh lima tahun?" Sementara Ares mencondongkan tubuhnya, wajahnya hampir menempel pada monitor. "Itu dia kan, Dok? Titik hitam itu? Dia sedang bersembunyi?" Dokter Indri mematikan mesin USG, melepaskan sarung tangannya, kemudian memberikan tisu pada Raya untuk membersihkan diri. Raya bangkit dengan kaki yang terasa lemas. Ares merangkul pinggang istrinya, menuntunnya seolah Raya adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Begitu mereka duduk, Dokter Indri memutar layar monitor ke arah mereka. "Ibu Raya, Pak
Terakhir Diperbarui: 2026-03-30
Chapter: Extra part 7"Silakan duduk, Pak Ares, Ibu Raya," sapa dr. Indri ramah. Ia telah mengenal pasangan ini sejak kehamilan Karin dua puluh tahun yang lalu. "Wah, sudah lama sekali ya. Ada keluhan apa hari ini?" Ares berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak sedikit serak. "Istri saya. Dia... yah, telat datang bulan. Sudah dua bulan." Dokter Indri mengangkat alisnya, lalu tersenyum simpul sambil mencatat di rekam medis. "Dua bulan?" "Iya, Dok. Biasanya gak pernah telat. Tadi sempet tespack, garisnya dua tapi samar banget," jawab Raya lirih. Wajahnya memerah. Ia merasa seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan, padahal ia sedang duduk bersama suaminya yang sah. "Baik, usia empat puluh lima ya. Kita periksa dulu. Silakan berbaring di bed, kita lihat lewat USG," ujar dr. Indri sambil memakai sarung tangan lateksnya. Raya merebahkan diri dengan perasaan campur aduk. Ares berdiri tepat di samping kepala Raya, menggenggam tangannya seolah-olah istrinya sedang akan menjala
Terakhir Diperbarui: 2026-03-27
Chapter: Extra part 6Ares dan Raya menuruni tangga. Ares tampak gagah dengan kaos polo dan celana bahan, sementara Raya terlihat anggun dengan dress kuning meski wajahnya menyiratkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.Karin sedang asyik bersandar di karpet bulu bersama Gia, pacar Kelana di ruang keluarga menonton film di netflix. Iamenoleh pertama kali. "Loh, Daddy sama Mami mau ke mana? Rapi banget, mau kondangan?" tanya Karin heran.Dahinya mengernyit melihat orang tuanya sudah rapi seperti hendak menghadiri jamuan penting. Di sofa, Kelana yang sedang fokus dengan laptop di pangkuannya—postur tubuh dan tatapan matanya yang tajam benar-benar duplikat Ares di masa muda—turut mendongak."Mau ke dokter," jawabnya dengan nada penuh semangat yang tidak biasa.Ares menyunggingkan senyum lebar, seolah baru saja memenangkan tender proyek raksasa. Kelana seketika menghentikan jarinya yang sedang menari di atas keyboard. Ia menutup setengah layar laptopnya. "Ke dokter? Siapa yang sakit? Daddy tensinya nai
Terakhir Diperbarui: 2026-03-27