LOGINSuaminya gagal memberinya kepuasan. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Dara merasa beku, terperangkap dalam rutinitas pernikahan yang hambar. Keputusannya untuk menemui seks terapis adalah langkah terakhirnya. Namun, apa yang terjadi di balik pintu ruang terapi itu jauh melampaui imajinasinya. Logikanya beradu dengan hasrat terpendam. Di dalamnya, logika dan fantasi bercampur menjadi satu. Nalar dan nafsu berperang. Bisakah Dara keluar dengan jawaban yang dicari? Atau justru terjebak dalam fantasi yang lebih berbahaya dari kenyataan yang ingin ditinggalkannya?
View MoreDara terengah-engah saat merasakan pusat kenikmatannya berdenyut. Basah di dalam sana, tapi itu bukan berasal dari miliknya melainkan Arkha—suaminya yang sudah mendapatkan pelepasan.
Arkha, suaminya menarik selimut untuk dirinya sendiri. Tubuhnya sudah berpindah ke sisinya dengan senyum penuh kepuasan. “Makasih ya, Yang. Sekarang sebaiknya kita tidur. Aku capek banget, Yang, ” kata Arkha berbisik di telinga Dara. Dara tak menyahuti. Hatinya bergemuruh. Ia masih menginginkan sentuhan serta hujaman dari suaminya. Setiap melakukan hubungan seksual, ia tak pernah terpuaskan. Hanya Arkha yang selalu mendapatkan kepuasan. “Aku belum puas, Mas! Tidakkah kamu tahu itu. Aku bahkan belum keluar sama sekali! ” sungut Dara dalam hatinya. Ingin Dara mengatakan itu semua. Namun, teriakan itu hanya tertahan dalam pikirannya. Dara menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Denyut di antara pahanya perlahan mereda. Hatinya terus merasa hampa. Entah apa yang salah dengan dirinya sampai tak pernah merasakan kenikmatan lagi. Dara menarik selimut hingga ke dagu, merasakan dinginnya kain sutra yang yang menutupi tubuhnya. Hal itu terasa kontras dengan hawa panas yang masih terasa di bawah permukaan kulitnya. Di sampingnya suara napas Arkha sudah berubah menjadi dengkuran pelan dan teratur. Setiap tarikan dan embusannya seakan menegaskan jurang yang memisahkan mereka di ranjang yang sama. Dara memalingkan wajah, memandangi sosok suaminya yang sudah tertidur lelap. Ujung jari Dara bergerak, meraih tangan Arkha yang tergeletak lemas di atas seprai. Dengan sangat hati-hati dia membalikkan telapak tangan suaminya, laku perlahan-lahan menuntun tangan itu meletakkannya kembali di atas pusat kenikmatannya. Dia hanya sedang mencoba mencari kepuasannya. Tangan suaminya yang hangat dan berat itu hanya diam, tidak bergerak ataupun memberi sentuhan yang bisa menuntut lebih untuk menciptakan permainan baru. Hasrat Dara tak terbalas. Hampa itu kembali menyapa. Penasaran itu selalu terjadi setelah permainan suaminya usai. “Apa hanya aku yang merasakan hal seperti ini. Tidak mendapatkan kepuasan di atas ranjang? ” Dara menarik napasnya dalam-dalam, menahan sesak di dadanya. Pertanyaan itu tidak berhenti berputar di kepalanya. Bukan hanya kepuasan secara fisik yang tidak didapatkannya, tetapi juga emosionalnya. Dara bangkit dari tempat tidur. Kakinya membawanya ke jendela. Dari balik kaca, dia melihat bayangan dirinya sendiri, samar. Seorang wanita dengan rambut berantakan usai percintaan yang menyesakkan. Matanya menyimpan kegelisahan yang tak terselesaikan. Sepasang mata Dara mengamati pasangan di seberang jalan yang sedang berpelukan di balkon, dari kaca jendela. Tawa mesra seolah dunia hanya milik berdua. Perasaan hampa di dalam dadanya semakin menjadi. Iri dengan apa yang dilihatnya. “Apa dia juga pura-pura puas dengan suaminya?” tanyanya dalam hati. Dara menatap tangannya yang kosong, mengingat kembali bagaimana jari-jarinya sendiri lebih setia memenuhi hasratnya dari pada pasangannya di ranjang. Setidaknya sentuhannya sendiri tak pernah membuatnya merasa sendirian. *** Keesokan harinya, untuk menemukan jawaban dari kegelisahannya, Dara membuat janji temu dengan Fanny, sahabatnya. Matahari siang menyelinap lewat jendela kaca Cafe de Luna. Suara gemericik air mancur di taman tengah mall hampir tenggelam oleh bunyi mesin pembuat kopi dan bisik-bisik percakapan pengunjung lain. Fanny duduk bersebrangan dengan Dara. “Kamu kayaknya harus ke profesional deh, Ra. It's serious! Kamu nggak akan bisa kalau cuma curhat ke aku!” kata Fanny. Dara menatap sedotan panjang di gelasnya, mengaduk-aduk bubble yang sudah habis. Sisa milk tea-nya yang mencair itu seolah menjadi gambaran pernikahannya dengan Arkha. Rasa manis di awal kemudian pudar dan jadi tawar seiring waktu. “Aku bingung, Fan,” ujarnya. Suaranya lirih namun sarat beban. “Tiap kali kayak gini tuh rasanya aneh. Aku juga pengen kayak kamu. Bisa puas. Hasratku bisa ... terpenuhi.” Fanny mendesah pelan, matanya yang tajam menangkap setiap kerutan kekhawatiran di wajah Dara. Dia meraih tangan Dara di atas meja, menggenggamnya erat. “Dengerin aku, Ra. Ini bukan cuma soal kamu nggak klimaks. Ini soal kamu yang merasa sendiri di ranjang tiap kali kalian berhubungan. Itu masalah serius!” ucap Fanny menekankan, suaranya terdengar khawatir. “Kamu harus ke profesional, Ra. Aku punya rekomendasi tempat yang bagus. Ada seorang sex therapist yang terkenal. Kamu dateng ke sana buat dapet solusi, bukan cuma tempat curhat.” Dara mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Fanny yang penuh keyakinan. Ada sebentuk harapan kecil yang mulai menyala di dadanya yang sempat beku. “Terapis ... seks?” gumannya, mencoba mengucapkan kata itu di lidahnya. Rasanya asing, sedikit menakutkan, tetapi juga menjanjikan sesuatu yang selama ini ia rindukan. Sebuah kepuasan untuk hubungan romantis dengan suaminya. “Iya,” sahut Fanny meyakinkan. “Itu bukan aib, Ra. Itu sama kayak kamu periksa ke dokter kalau sakit gigi. Coba kamu bayangin, kamu bisa belajar bukan cuma soal tubuh kamu sendiri, tapi juga cara komunikasiin yang kamu inginkan ke Arkha.” Dara menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sebuah harapan kecil akhirnya terlihat di matanya yang biasanya pasrah. “Iya deh,” katanya, sambil memainkan ujung sedotan. “Nanti ... nanti aku coba omongin sama Arkha.” “Iya, Ra. Ini serius. Kamu harus pikirin saran aku kalau mau hubungan kalian di ranjang bisa balik harmonis. Percaya, deh!” Fanny terus membujuknya. Namun di balik kata-kata yang terucap dari bibirnya itu, sebuah pertanyaan menggelitik di benaknya. Bagaimana cara menyampaikan hal seserius itu pada suami yang selalu ‘selesai’ lebih dulu, saat mereka berada di dalam permainan ranjang mereka? “Terapis … seks? Apa aku harus mencobanya?” ***Di Rumah Sakit … Kamar rumah sakit terasa lebih terang pagi itu. Sinar matahari menyelinap melalui tirai, menyentuh wajah Rendra yang masih pucat. Namun, sudah ada ekspresi emosi dan sedikit warna kehidupan di wajah tampan itu. Dokter Ardhi, seorang pria paruh baya dengan kacamata dan sikap tenang, baru saja menyelesaikan pemeriksaan terakhir. Dia mengangguk puas pada perawat yang mendampingi pemeriksaan itu. “Kondisi Bapak sudah semakin baik,” ujar Dokter Ardhi sambil mencatat sesuatu di tabletnya. “Luka operasinya sudah mulai menutup, tidak ada tanda infeksi. Bapak sudah bisa melakukan rawat jalan sesuai jadwal kontrol nanti.” Dokter Ardhi menyerahkan selembar resep padanya. “Obat pereda nyeri dan antibiotiknya sudah saya resepkan. Ada juga vitamin untuk pemulihan tenaga. Diminum teratur dan jangan lupa dihabiskan, ya.” Rendra, yang sudah bisa duduk lebih tegak, mengangguk. Rasa syukur yang tulus terpancar dari matanya, meski bayangan kekhawatiran tentang Dara dan kehamilan Rian
Dara sedang bersiap untuk esok hari, pikirannya penuh dengan rencana dan kekhawatiran saat ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Jantungnya langsung berdebar kencang. Hanya Nina yang tahu dia di sini.Apakah ada yang salah?Dengan hati-hati, dia mengintip melalui lubang kunci. Seorang pria berdiri di luar, mengenakan kemeja dengan celana formal. Namun, yang mengganggu adalah topi baseball yang menutupi sebagian wajahnya. Dia tampak misterius.Dara membuka pintu, hanya selebar sisi samping dirinya. Dia juga memastikan rantai pengaman pintu masih terpasang. “Ya? Cari siapa, ya?”“Selamat sore, Mbak. Maaf saya mengganggu,” ujar pria itu, suaranya rendah dan sopan. Matanya tidak langsung menatap Dara, seolah-olah hanya fokus pada masalahnya. “Apa di kamar Mbak, pemanas airnya nyala? Ada keluhan dari kamar sebelah soalnya.”Pertanyaan yang wajar. Tapi saat melihat wajahnya yang menunduk itu, Dara merasa wajah pria
Nina membawa Dara ke sebuah hotel. Hotel kecil itu tersembunyi di gang sempit, jauh dari jalan raya utama. Bangunannya sederhana, tidak mencolok, persis seperti yang mereka butuhkan. Kamar yang dipesan Nina bersih dan minimalis, dengan jendela yang menghadap ke dinding rumah sebelah. Sebuah privasi yang benar-benar dibutuhkan Dara.“Sementara kamu di sini dulu, Kak,” kata Nina sambil meletakkan tas kecil berisi pakaian dan kebutuhan dasar yang dia beli di minimarket untuk Dara.“Di sini aman kok. Hotel ini punya Om-nya pacarku. Jadi kita bisa bersembunyi sementara.”Dara, yang sudah mandi dan mengganti pakaian dengan baju longgar pemberian Nina, duduk di tepi tempat tidur. Kelegaan sementara membuat pikirannya bisa melayang ke hal lain selain ketakutan. “Serius, Nin? Kamu kenapa belum ngenalin pacar kamu juga? Dari tahun lalu waktu Kakak ulang tahun pernikahan, kamu cuma bilang lagi ada ‘someone special’ tapi nggak pernah ngenalin juga.”
Lelah fisik dan mental membuat Rendra merasa sangat lelah. Setelah drama dengan Reva, dia berharap malam ini bisa benar-benar istirahat, memulihkan tenaga untuk berpikir jernih tentang Dara dan ancaman yang membayangi.Namun, ketenangan itu sekali lagi dirampas.Pintu kamarnya terbuka, dan Riani berdiri di sana. Dia terlihat lebih rapuh dari sebelumnya, wajah tanpa riasan, mata sedikit bengkak. Dia bahkan tak mencoba menutupi lingkaran hitam di bawah matanya dengan concealer, seperti yang selama ini dilakukannya.Namun ada sesuatu yang berbeda pada sikapnya. Bukan lagi ketakutan, melainkan sebuah keputusasaan di balik sikap tenang, dan ... sebuah keberanian yang tersembunyi.“Aku nggak tahu kalau kamu kena musibah," ucap Riani dengan suara lirih. Dia melangkah masuk tanpa diundang.“Untung aku tadi sempet ke klinik untuk ambil barang-barang aku, jadi aku tahu kamu dirawat di sini. Kata Maya, seseorang tidak dikena
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore