Mag-log inBeberapa hari kemudian, Alena menerima telepon dari Noel. Pria itu memberitahukan jadwal persidangannya dan meminta Alena datang untuk memberikan dukungan. Alena sudah berjanji, jadi ia datang menepati janjinya. Alena mengenakan pakaian tertutup, masker, dan topi bisbol untuk menutupi wajahnya. Ia sengaja menyamar agar Aaron tidak mengenali dirinya. Di ruang sidang, ia memilih tempat duduk di barisan paling belakang agar tidak menarik perhatian. Suasana di ruangan itu tampak dipenuhi ketegangan. Noel duduk di kursi penggugat bersama pengacaranya. Sementara di seberang mereka, Aaron dan kliennya juga sudah duduk rapi dan terlihat sangat percaya diri. Selama persidangan berlangsung, Alena memerhatikan kedua belah pihak dengan harap-harap cemas. Keduanya tampak kompeten dalam menyampaikan argumen masing-masing. “Yang Mulia, klien kami telah memenuhi kewajibannya dengan mengirimkan tanaman hias sesuai kesepakatan. Tapi pihak tergugat menolak melunasi pembayaran dengan alasan
Pagi harinya, Damian terbangun dengan kepala berat akibat alkohol. Ia perlahan mengangkat kepalanya. Rasa pening langsung menyerang, membuatnya kembali bersandar pada bantal. Ia mengerutkan kening sambil memijat pelipisnya. Mulutnya terasa kering, sementara kepalanya berat seolah baru saja dipukul. Sial. Ia benar-benar minum terlalu banyak semalam. Damian menghela napas, lalu hendak mengubah posisi tidurnya. Namun, gerakannya terhenti ketika menyadari ada seseorang yang menggenggam tangannya. Ia menunduk dan mendapati Alena tertidur di sisi ranjang. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada tepi kasur. Rambutnya sedikit berantakan, sementara satu tangannya masih menggenggam tangan Damian. Damian terdiam beberapa saat. Ia berusaha mengingat kejadian semalam, tetapi ingatannya hanya menyisakan beberapa potongan yang tidak jelas. Ia ingat dirinya minum bersama Leon dan Heinry. Setelah itu, semuanya terasa kabur. Damian kembali menatap Alena. Ia hendak menarik tangannya, teta
Christian mengorek telinganya yang tidak gatal dengan jari telunjuk, lalu meniup ujung jarinya seolah-olah baru saja mengeluarkan kotoran dari sana. “Aku tahu. Kau tidak perlu mengulanginya.” Ia melirik Alena dengan malas. “Aku juga tidak akan tidur di ranjang kalian. Jadi, jangan bersikap seolah aku ingin mengganggu kalian.” Alena terdiam. Ia berusaha menahan amarahnya menghadapi kelancangan adik iparnya itu. Christian melipat kedua tangan di depan dada. Ia tidak peduli apakah Alena menyukainya atau tidak. Saat ini, ia hanya ingin memastikan kondisi Damian tetap stabil sampai pagi. Selain itu, ia juga harus memastikan kedua orang tuanya tidak mengetahui keadaan Damian malam ini. Dua tahun lalu, Damian sendiri yang meminta mereka merahasiakan penyakitnya setelah melihat betapa terpukulnya Elsa ketika mengetahui kondisi putra sulungnya. Christian tidak berniat mengingkari permintaan itu hanya karena Damian kembali melakukan hal bodoh. “Kalau kau tidak punya urusan lain, s
Bibir Damian terasa panas saat menyentuh bibirnya. Aroma anggur yang kuat bercampur dengan napas pria itu, meninggalkan rasa manis samar dengan sedikit sensasi pahit alkohol. Alena membeku. Kedua tangannya masih bertumpu di dada Damian, tetapi ia tidak segera mendorong pria itu menjauh. Ia seharusnya menghentikan ini. Damian sedang mabuk, sementara mereka baru saja terlibat dalam masalah yang membuat hubungan mereka berada di ujung tanduk. Namun, ketika Damian perlahan memperdalam ciumannya, pikiran Alena mendadak kosong. Kali ini, Alena membalas ciuman Damian bukan untuk menggodanya. Entah karena terkejut atau karena perasaan yang selama ini berusaha ia abaikan, jemarinya tanpa sadar mencengkeram kemeja Damian. Ia bahkan tidak menyadari kapan matanya terpejam. Saat Damian sedikit melonggarkan ciumannya, Alena justru bergerak mendekat. Bibirnya kembali menyentuh bibir pria itu, membalas ciuman tersebut tanpa sempat memikirkan apa yang sedang dilakukannya. Gerakan kecil i
Damian akhirnya berhenti minum. Ia menyandarkan punggung ke sofa, lalu meraup wajahnya dengan kasar. Heinry menghela napas lega. Ia meletakkan gelas di atas meja sebelum berbicara. “Jujur saja, aku memang tidak pernah memiliki kesan yang baik tentang istrimu. Kita semua tahu reputasinya sebelum menikah denganmu. Tapi aku tidak menyangka dia juga terlibat dalam kejahatan ayah dan kakak tirinya.” Tatapan Heinry beralih kepada Damian. “Tapi kalau kau memang sudah menganggapnya sebagai perempuan yang tidak bisa dipercaya, kenapa kau begitu marah? Bukankah sejak awal kau sudah tahu bahwa pernikahan kalian tidak akan berjalan mulus?” Damian tidak langsung menjawab. Ia terdiam sambil mencerna kata-kata Heinry. Memang benar, sejak awal ia sudah tahu bahwa Alena dan keluarganya tidak bisa dipercaya. Pernikahan mereka pun hanya didasarkan pada sebuah kesepakatan. Namun, entah sejak kapan, ia mulai berharap bahwa Alena berbeda dari ayahnya. Ia berharap perempuan itu tidak sama deng
Kesabaran Damian hampir habis menghadapi kebungkaman Alena, sampai akhirnya suara dering ponsel yang nyaring menginterupsi ruang kamar yang tegang. Tangan Damian terkepal erat. Kilatan amarah terlihat jelas di matanya. “Jawablah. Mungkin itu panggilan dari seseorang yang sedang kau tunggu.” Bibir Alena terbuka, hendak mengatakan sesuatu. Namun, Damian sudah berbalik dan melangkah menuju pintu sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata pun. Punggung pria itu tampak begitu dingin dan kaku. Alena menatapnya dengan hati yang terasa perih, merasakan jarak di antara mereka yang semakin jauh. Pernikahan ini, Alena tidak tahu apakah dirinya masih bisa mempertahankan Damian di sisinya. Setelah mengetahui sebagian rahasianya, pria itu mungkin tidak akan segan-segan meninggalkannya. Mungkin, sejak awal, ia memang hanya perlu menunggu sampai Damian merasa muak dan memutuskan untuk membuangnya. Ponselnya di atas meja terus berdering bahkan setelah tiga kali Alena mengabaikannya. Kar







