MasukDi tengah hujan deras malam itu, Nanda menemukan bayi malang dan memutuskan untuk merawatnya, berpikir bahwa anak malang itu telah dibuang. Namun, setelah menghabiskan hari-harinya hidup bersama bayi mungil itu, suatu hari, seorang pria asing tiba-tiba datang dan mengakui bayi itu sebagai putrinya yang hilang.
Lihat lebih banyakDuaaarrr!
Suara petir membuat Nanda terlonjak, ia terbangun dengan ekspresi wajah syok dan napas terengah. Matanya mengerjap, sedetik kemudian ia langsung merasa aman. "Ah, aku ketiduran ternyata." Nanda menyandarkan diri ke sandaran kursi sembari mengatur napas. Sepasang mata Nanda menyapu ruang praktek barunya yang sudah sepi, sementara kebalikannya, di luar, cuaca justru seperti sedang mengamuk dengan kilat yang terlihat beberapa kali membelah langit yang hitam menggantung. Nanda sudah sepenuhnya tenang dan terbangun. Ia perlahan membongkar ingatannya, seingat Nanda, tadi ia menunda pulang untuk menyelesaikan berkas kepindahan yang belum selesai, ia baru saja pindah lokasi praktek ke kota ini. Namun, mungkin karena kelelahan, ia jadi tertidur di mejanya. Dan sekarang pun sepertinya ia belum bisa pulang juga karena sedang hujan deras. Nanda akhirnya menghela napas dalam-dalam, menyeka keringat, lalu bangkit dari kursi dan berdiri di depan jendela. "Masih lamakah redanya?" Klinik ini terletak di sebuah kota kecil. Nanda sengaja memilih pindah ke sini untuk berganti suasana, jauh dari hingar bingar ibu kota. Di sini, suasananya lebih tenang, orang-orangnya tidak bergerak seperti dikejar sesuatu. Belum lagi kalau malam– "Oek ... Oek ..." Bulu kuduk Nanda meremang. Di sela sayup-sayup suara hujan, telinganya mendengar suara tangis. “Ba … yi?” gumam Nanda. Suara tangis itu cukup familiar bagi Nanda yang seorang dokter spesialis anak itu. "Itu benar suara bayi? Bayi manusia?" Nanda masih belin percaya, ditajamkannya telinga, memastikan pendengarannya. "Oek ... Oek ..." Benar! Tangisan itu tangis bayi! Tapi bayi siapa? Klinik ini tidak menerima rawat inap dan klinik sudah tutup sejak pukul 8 tadi. Apa ada orang yang sedang berteduh di klinik?” Nanda berbalik. Kakinya melangkah cepat, naluri dokternya memaksanya segera keluar ruangan. Menyusuri koridor klinik hingga sampai di pintu depan. Semua sudah pulang, bahkan security yang biasanya berjaga sampai dini hari, sudah izin pulang sejak beberapa jam yang lalu. Saat akhirnya ia membuka pintu, mata Nanda membelalak, selisih beberapa langkah dari tempat Nanda berdiri, ada sebuah kardus setengah basah itu diletakkan begitu saja di lantai teras. Nanda segera mendekat dan terkejut ketika tahu di dalamnya, ada seorang bayi yang tengah menangis, hanya berselimutkan selimut warna merah jambu. "Bayi siapa ini? Ya Tuhan!" Nanda terpekik. Selimutnya basah, baju yang melekat di badan bayi itu pun basah. Bayi itu mengigil kedinginan. Tanpa menunggu lagi, wanita itu membawa si bayi ke dalam gendongan. Ketika bayi itu berpindah, seuntai kalung jatuh dari sana. Nanda mengabaikan benda itu. Tangannya bergerak cepat, menyalakan inkubator di ruangan bayi, melepas semua pakaian itu dan menggantinya dengan pakaian bersih dan kering. Setelahnya, Nanda segera mengambil stetoskop, memeriksa detail bayi dan menghela napas lega ketika hasil pemeriksaan bayi itu dalam kondisi stabil, hanya kedinginan dan sedikit dehidrasi. Setelah membetulkan pakaian bayi, Nanda segera meletakkan bayi ke dalam inkubator, mengatur suhu dan lain sebagainya. Bayi itu hanya butuh dihangatkan saja dan jangan lupa ... diberi susu. Sejenak Nanda berpikir keras, apakah klinik ini punya stok susu formula untuk bayi yang dia perkirakan baru lahir kemarin itu? "Di laboratorium farmasi." Nanda segera melesat keluar, menyambar kunci yang tergantung di lemari yang ada di belakang meja resepsionis. Langkahnya tergesa, bayi itu masih merintih. "Seharusnya ada." Sembari mendesis lirih, Nanda menggeledah almari dan di laci yang ada di sudut ruangan, beberapa kaleng susu untuk bayi baru lahir ada di sana. Lengkap dengan spuit, cup feeder bahkan dot bayi juga. Satu kaleng susu sudah berada dalam pelukan Nanda, namun untuk memberikannya pada bayi itu, apa yang harus Nanda pilih untuk dia gunakan? "Dot!" Nanda meraih dot itu, membawanya kembali ke ruangan bayi setelah menutup ruang farmasi. Ia segera mensterilkan dot dengan mesin, menunggu sesaat sembari terus memperhatikan bayi yang ternyata berjenis kelamin perempuan, sama seperti anaknya ... bayinya yang kemarin harus pergi meninggalkan dia dengan banyak stigma dan cap buruk yang kemudian melekat pada diri Nanda. Perlahan tapi pasti, Nanda mulai menyeduh susu sesuai petunjuk. Ia tersenyum ketika sudah berdiri di depan inkubator, mengulurkan tangan dan dot-nya untuk memberinya susu. "Mimik dulu, Sayang. Pelan-pelan, ya?" *** Nanda menghela napas panjang ketika bayi itu tertidur selepas susu dalam dot-nya habis. Hangatnya inkubator dan perutnya yang sudah kenyang, membuatnya langsung terlelap. Mungkin dia juga lelah menangis meraung-raung sebelum Nanda temukan tadi. Nanda mengusap kaca inkubator, sama sekali tidak melepaskan pandangan dari bayi yang beratnya hampir 4 kilo itu. "Siapa yang tega membuangmu?" Hati Nanda terasa pedih, membayangkan saat ia harus melepas darah dagingnya ke liang lahat. Bayangan peti mati kecil itu mengingatkan Nanda pada kardus yang menjadi alas bayi ini ketika dia temukan tadi. Nanda bergegas bangkit, kembali menuju ruang tunggu klinik di mana ia meninggalkan kardus itu dari. Matanya langsung tertuju pada kalung yang tergeletak di lantai yang membuat Nanda segera berjongkok untuk memungut benda itu. Kalung itu mempunyai liontin dengan batu berwarna biru. Terlihat sangat elegan dan mahal. Nanda membalik batu itu, ada ukiran nama di sana, mungkinkah nama ibu atau keluarga dari bayi ini? "George?" Nama itu terukir di sana, pandangan Nanda segera beralih pada kardus. Di sana ada selimut berwarna pink, dan sebuah ... Nanda buru-buru mengambil kertas itu, kertas yang agak basah dengan beberapa tinta yang luntur, ada di salah satu sudut kardus. Dengan penasaran, Nanda segera membukanya. Mata Nanda membaca kata demi kata yang ada di sana, alisnya berkerut. Orang yang menulis itu meminta siapapun yang menemukan bayi ini agar merawat dan melindungi si bayi. Menjaga bayi ini dengan baik, seperti anak kandung sendiri. Namun ada satu kalimat yang membuat Nanda menegang, kalimat yang membuat jantung Nanda berdegup dengan sedikit rasa takut. [Dia ada dalam bahaya.] Nanda mengangkat wajah, menatap sekeliling klinik dengan jantung berdegup tidak karuan. "Mampus aku, jadi i-ini ...." Nanda tercekat, tangannya masih mencengkeram kertas itu erat-erat. Memang siapa yang mau membunuh bayi yang bahkan belum ada 1 minggu lahir ke dunia itu? Kalaupun benar ada, apa alasan orang itu? Nanda buru-buru melipat kertasnya, kepanikan membelenggu Nanda sampai telapak tangannya terasa begitu dingin. "A-aku harus bagaimana?"Orientasi seksual menyimpang? Chris hampir terbahak mendengar tuduhan Aston pada anak lelakinya sendiri. Namun untungnya Chris masih bisa mengendalikan diri. Ia menarik napas panjang, menjawab segala cecaran ayah dari bosnya itu dengan baik tanpa melanggar kode etik pekerjaan dan mengkhianati Bastian. "Saya kira tuan Bastian masih laki-laki normal, Tuan. Namun mengenai segala pertanyaan perihal wanita seperti apa yang tuan sukai, kenapa nanti tidak tanyakan langsung saja?"***Nanda melambaikan tangan ke arah Darren, lelaki itu balas tersenyum, bergegas mendekati pintu mobil dan membukanya begitu Nanda sampai. "Terimakasih, Darren." ucap Nanda yang selalu merasa seperti orang penting karena keberadaan Darren sebagai supir yang mengantarkannya pulang-pergi bekerja. "Kita langsung pulang, Dokter?" tanya Darren sebelum menutup pintu. "Tentu. Aku tidak ingin di pecat oleh bos kita."Darren terkekeh, segera menutup pintu mobil dan menyusul masuk ke dalam. Tidak ada percakapan yang ter
"Dokter?"Darren menyentuh bahu Nanda, membuat Nanda tersentak dan membalas tatapan khawatir itu dengan terkejut. Kepalanya menggeleng, sejenak ia berusaha membuang semua ingatan buruk yang hinggap di kepala. "Ti-tidak. Aku baik-baik saja." kilahnya dengan ekspresi gugup. "Aku izin masuk ke dalam, masih ada beberapa pasien dan presentasi kasus sore nanti.""Okay."Darren tidak bisa menghalangi Nanda pergi, ia bersandar di mobil sembari menatap sekeliling. Apa yang membuat dokter itu terkejut macam tadi? Apakah ia melihat seseorang atau ... Tidak ada orang-orang yang nampak mencurigakan, mereka ada di area parkir dan tidak banyak orang kecuali mobil yang terparkir. Darren masih berpikir keras, ia tentu harus waspada jika ada sesuatu yang mencurigakan. Kisah keluarga George setahun yang lalu cukup pedih dan dia sudah mendapat briefing untuk selalu waspada pada siapapun. Sementara itu Nanda sedikit tergesa masuk ke dalam bangunan rumah sakit, ia merogoh saku, menemukan masker dan men
"Mama ada dipihak Bastian?"Stefani menatap Helga dengan senyum datar di wajah. Ia mengusap pipi anak gadisnya itu lalu menarik napas panjang. "Kamu perempuan, kamu akan menjadi ibu nantinya. Saat itulah, kamu akan paham apa alasan mama, Dear." jawab Stefani lirih. Nampak wajah itu tidak terima. Tentu Stefani bisa baca dan langsung pahami perubahan wajah itu. Dia yang melahirkan Helga. "Mama tahu opa akan semurka apa nanti?"Stefani terkekeh, wajahnya berubah masam. Ia berusaha tetap tenang, duduk dengan secangkir teh hijau dengan irisan lemon di sana. "Tentu mama paham, mama kenal papa mertua mama jauh sebelum kamu lahir." "Lalu?"Helga terus mengejar, sangat terlihat dia butuh Sekutu untuk mensukseskan rencananya. Ia mau, semua anggota keluarga ada dipihaknya, semua tanpa terkecuali. Stefani menyesap teh dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia terdiam sejenak, meletakkan cangkir pada cawan lalu menatap Helga dengan penuh pertanyaan. Cawan berisi cangkir ia letakkan di mej
"Jangan terlalu memanjakan dia."Bastian mendengus, menoleh ke arah Helga yang terus berada di sisinya. Wajah adik perempuannya itu nampak kesal, entah apa yang terjadi padanya, Bastian tidak peduli. "Cia? Lalu menurutmu siapa yang harus memanjakan dia?"Helga menghentakkan kaki ke lantai, Bastian menghentikan langkah, menatap adiknya itu dengan tatapan tidak mengerti. "Sebenarnya ada apa?" ia bosan, setiap mengobrol dengan Helga, ujungnya mereka hanya saling ribut dan bertengkar. "Perempuan itu sudah kurang ajar padaku!"Alis Bastian berkerut, ia lirik Chris yang nampak angkat bahu dan memggeleng perlahan sebagai kode bahwa dia tidak mengerti apapun tentang ini. "Siapa yang kamu maksud?"Sorot mata Helga berubah tajam, nampak jelas terlihat dia marah pagi ini. "Perempuan yang kamu punggut dan pekerjakan."Bastian mendengus, ia mengusap wajahnya lalu menatap baik-baik sang adik. "Dia tidak pernah cari gara-gara padaku." ucap Bastian santai. "Dan kamu lebih percaya pada topeng y












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan