LOGINLima tahun lalu, Dara terpaksa pergi meninggalkan Vincent demi melindunginya, menanamkan rasa dendam mendalam di hati pria itu. Saat keluarganya berada di ambang kehancuran, takdir mempertemukan mereka kembali. Vincent Pranata kini bukan lagi pria yang hangat, melainkan pria berkuasa yang sangat dingin dan kejam. Demi membalas rasa sakit hatinya, Vincent menjerat Dara dalam kontrak pernikahan penuh intimidasi serta gairah terselubung. Di tengah rahasia kelam yang terkuak dan api cemburu yang membakar, Dara terperangkap di antara kebencian dan hasrat membara. Saat sentuhan dendam berubah menjadi gairah yang membakar, akankah pernikahan ini menjadi akhir dari kewarasan mereka—atau satu-satunya cara menyelamatkan hati yang telah mati?
View MoreSuara dering telepon kantor yang berisik terdengar seperti alarm kematian bagi Dara. Di atas meja kerjanya yang berantakan, tumpukan berkas penagihan utang berserakan bersama cangkir kopi yang sudah dingin sejak tiga jam lalu. Perusahaan logistik warisan ayahnya kini berada di ujung tanduk, hanya tinggal menghitung jam sebelum dinyatakan pailit dan disita oleh pihak bank.
Dara mengusap wajahnya yang lelah. Kulit langsatnya tampak kontras dengan bayangan gelap di bawah matanya akibat semalaman tidak tidur. Di tengah keputusasaannya, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.
Asisten pribadinya, Tiwi, masuk dengan napas yang terengah-engah dan wajah pucat. "Mbak Dara... gawat. Investor utama kita tiba-tiba menarik seluruh dananya hari ini. Dan... dan orang itu... dia sudah ada di ruang rapat utama."
Jantung Dara seolah berhenti berdetak. "Siapa? Siapa yang berani mengambil alih sisa aset kita?"
"Dia..." Tiwi menelan ludah dengan susah payah. "Dia bilang namanya Vincent Pranata. CEO Pranata Corporation."
Nama itu menghantam kepala Dara. Vincent. Darahnya mendadak membeku, sementara telinganya berdenging hebat. Rasanya ia memilih ingin pingsan saja sekarang.
Lima tahun lalu, nama itu adalah segalanya baginya. Vincent Pranata…Ya! Dia pria berdarah campuran Rusia-Indonesia dengan tinggi badan menjulang dan wajah tampan adalah kekasih yang ia tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan. Pria yang ia hancurkan hatinya demi menyelamatkan nyawa pria itu dari ancaman musuh keluarganya sendiri. Dara mengira ia tidak akan pernah melihat wajah itu lagi seumur hidupnya.
Tanpa memedulikan penampilannya yang berantakan, Dara berlari menaiki tangga menuju lantai atas. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kaca ruang rapat utama yang tertutup rapat. Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu itu terbuka.
Udara di dalam ruangan terasa jauh lebih dingin. Di ujung meja rapat yang panjang, seorang pria berjas hitam dengan kemeja putih terbuka di bagian atas—memperlihatkan leher jenjang dan dada bidang berotot yang tercetak jelas di balik kain—sedang berdiri membelakanginya, memandangi pemandangan kota dari balik dinding kaca. Kulitnya putih bersih, kontras sempurna dengan rambut hitam pendeknya yang dipotong rapi bergaya undercut, memancarkan aura bahaya yang mematikan.
"Aku tidak menyangka kamu akan datang secepat ini, Dara," suara bariton yang dingin dan rendah itu mengalun, membuat bulu kuduk Dara meremang seketika.
Vincent berbalik perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai sinis yang sama sekali tidak mencapai matanya. Tatapan tajam dari iris mata kelam itu menghujam langsung ke jantung Dara.
Dara mengepalkan tangan erat-erat, berusaha menahan lututnya yang lemas. "Jadi... kamulah dalang di balik kehancuran perusahaanku? Kamu sengaja?"
Vincent tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju, bergerak dengan keanggunan seorang predator yang mendekati mangsanya. Tinggi badannya yang menjulang membuat Dara harus mendongak saat pria itu kini berdiri tepat di hadapannya, mengurungnya dalam jarak yang sangat berbahaya. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau hujan dari luar jendela langsung menyerang indra penciuman Dara.
"Kehancuran?" Vincent berbisik tepat di telinganya, jemari dingin pria itu tiba-tiba mencengkeram dagu Dara dengan kuat, memaksanya menatap iris matanya yang menghanyutkan namun mematikan. "Aku tidak sedang menghancurkanmu, Dara. Aku hanya sedang memungut kembali apa yang dulu menjadi milikku."
Dara mendesis tertahan, merasakan sengatan panas dari sentuhan itu di kulitnya. "Lepaskan, Vincent! Kita sudah selesai sejak lima tahun lalu!"
Vincent tertawa pelan, suara tawa yang terdengar mengerikan di telinga Dara. Pria itu menurunkan tangannya perlahan, lalu merapikan kerah baju Dara dengan gerakan posesif yang membuat Dara merasa terperangkap.
"Selesai?" Vincent menatap tepat ke dalam mata Dara, seringainya semakin lebar. "Kau pikir aku membiarkanmu pergi selama lima tahun hanya untuk melupakanmu? Sayang sekali, Dara... permainan baru saja dimulai."
Vincent membalikkan tubuhnya, mengambil sebuah map hitam dari atas meja, lalu melemparkannya tepat di hadapan Dara.
"Tanda tangani kontrak ini," ujar Vincent tanpa menoleh, suaranya datar namun mutlak. "Menikahlah denganku selama satu tahun ke depan, dan aku akan melunasi seluruh utang perusahaan ayahmu. Jika kamu berani menolak, besok pagi kamu akan melihat keluargamu tidur di jalanan dan jadi gembel."
Dara terpaku. Napasnya tercekat. Ia menatap lembaran kontrak di depannya, lalu mendongak menatap punggung tegap pria itu.
Namun, sebelum Dara sempat membuka suara untuk menolak atau menerima, Vincent berbalik sekali lagi. Seringai di wajahnya menghilang, digantikan oleh sebuah ekspresi dingin yang membuat darah Dara mengental.
"Oh, satu hal lagi..." Vincent membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Dara. Bisikan selanjutnya meluncur pelan, namun sukses membuat seluruh dunia Dara runtuh seketika.
"Jangan pernah mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada ayahmu malam itu, sebelum kamu meninggalkanku lima tahun lalu... kecuali kamu ingin kubunuh dengan tanganku sendiri."
---
Dara, Vincent, dan Dimas masih berada di rumah mendiang ayah Vincent. Rumah besar itu memang sudah sepi dan tidak ditinggali lagi, tetapi semua aset penting perusahaan disimpan di sana dengan penjagaan ketat. Di sekeliling kediaman ini, ada puluhan pengawal terlatih yang berjaga dua puluh empat jam. Namun, entah mengapa mereka semua bisa sampai lengah.Rasa amarah yang meluap membuat Vincent langsung memerintahkan Dimas untuk mengumpulkan seluruh pengawal di halaman dalam rumah. Dara memilih menunggu di tepi koridor, menyaksikan dari kejauhan bagaimana suasana di sana berubah sangat mencekam.Vincent berdiri tegak di hadapan barisan puluhan pria berbadan tegap yang menundukkan kepala. Tatapan matanya tajam dan menyapu setiap wajah di depannya satu per satu."Siapa di antara kalian yang berani main di belakangku?" tanya Vincent dengan suara berat dan dingin. "Jawab! Kalau sampai aku tahu siapa orangnya, orang itu akan aku habisi!"Suasana halaman menjadi hening. Tidak ada satu pun peng
"Perusahaanmu yang kini sedang di ujung tanduk," sambung Reva melipat tangan di dada, menghapus sisa keheningan di kamar itu.Vincent tidak bergeming. Tatapannya semakin tajam, menyiratkan kemarahan yang tertahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah maju, mencengkeram lengan Reva dengan kuat, lalu menarik wanita itu keluar dari kamar utama. Reva sempat mengamuk dan berteriak memanggil nama Vincent, tetapi Vincent mengabaikannya sama sekali. Ia menyeret Reva setelah itu, membuka pintu utama apartemen, dan mendorong wanita itu keluar tanpa keraguan sedikit pun."Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi," ucap Vincent dingin sebelum mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, lalu ia mengubah password di pintunya.“Dia tahu darimana password apartemen ini? Padahal aku tidak pernah memberitahunya.” Gumam Vincent sambil menyipitkan matanya.Suara teriakan Reva yang memukul pintu dari luar perlahan memudar seiring berlalunya waktu. Vincent kembali ke kamar dengan napas sedikit me
Vincent tidak mau tahu siapa yang ada di depan pintu apartemennya itu, ia lebih mementingkan Dara sekarang.Dara memalingkan wajah, mengusap kasar pergelangan tangannya yang memerah dan mulai memar. Vincent terdiam sejenak. Ada sedikit penyesalan yang melintas di matanya saat melihat luka memar itu, tetapi ia gengsi untuk mengucapkan kata ‘maaf’ pada Dara.Ia menghela napas berat, mencoba meredam emosinya yang sempat memuncak. "Masuk ke kamar, akan aku kompres," ucap Vincent dengan nada yang melunak walau tetap terdengar datar. "Besok kamu harus ikut aku ke makan malam perusahaan. Aku tidak mau orang melihat luka itu."Tanpa membalas, Dara melangkah masuk ke dalam kamar. Vincent melangkah masuk mengekor di belakang Dara, lalu menutup pintu kamar hingga menyisakan hening yang canggung. Ia berjalan mendekat membawa wadah kecil berisi es batu dan kain kasa, berniat mengompres pergelangan tangan Dara yang memerah."Duduk di sini," ucap Vincent singkat sambil menunjuk tepi tempat tidur.Da
Cahaya lampu jalan yang sedikit gelap, terlihat jelas garis rahang wajah Vincent yang mengeras. Tanpa membuang waktu, ia mengetuk kaca jendela di sisi Dara dengan keras hingga membuat kedua wanita di dalam mobil terkejut."Buka pintunya, Dara!" perintah Vincent dari luar. Suaranya meredam di balik kaca tebal.Dara ragu-ragu, jemarinya yang bergetar tertahan di atas door lock. Belum sempat ia memutuskan, Vincent sudah menarik gagang pintu luar yang ternyata lupa dikunci Tiwi. Pintu terbuka lebar, mengembuskan angin malam yang dingin ke dalam kabin."Keluar," kata Vincent pendek."Vincent? Mau apa kamu?!" Tiwi yang duduk di kursi kemudi berteriak kaget sekaligus marah. "Jangan gila ya! Kamu memotong jalan orang sembarangan, hampir buat kita celaka!"Vincent sama sekali tidak menoleh ke arah Tiwi. Matanya terkunci pada Dara. Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokohnya mencengkeram pergelangan tangan Dara, lalu menarik wanita itu keluar dari mobil secara paksa."Lepas, Vincent! Sakit!" Da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.