Sahabat Suamiku Merebut Hatiku

Sahabat Suamiku Merebut Hatiku

By:  LarasatiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Geisha Roland dan Daniel Stephen menjalin cinta dari seragam sekolah hingga gaun pengantin, total lima belas tahun. Banyak orang iri melihat pernikahan sempurna mereka, iri melihat betapa dalamnya cinta Daniel kepada Geisha. Hanya Geisha yang tahu bahwa Daniel diam-diam punya simpanan di luar. Tanpa ragu, dia menyodorkan surat cerai. "Pergi kamu! Jangan pernah muncul lagi di depanku!" Tanpa disadarinya, dari sudut gelap tak jauh dari sana, sepasang mata terus mengawasi mereka, dengan senyum tipis terukir di bibirnya. … Shane Juan telah mendambakan Geisha selama lima belas tahun. Dia hanya bisa melihat Geisha dengan bahagia menjalin cinta dengan sahabat terbaiknya, Daniel. Senyum cerah Geisha terasa begitu menyakitkan di matanya. Malam itu adalah malam pengantin Geisha dan Daniel. Shane berdiri di bawah, menatap lampu di kamar pengantin yang menyala sepanjang malam. Saat kembali ke rumahnya, kedua tangannya penuh luka. Pelayannya terkejut. "Ya ampun, tangan Tuan kenapa? Kok bisa luka parah begini?" Shane tak menjawab. Dia hanya menyuruh pelayan itu menyiapkan baskom berisi air garam pekat. Semua luka itu adalah ulahnya sendiri, dibuat dengan membakar kulitnya menggunakan puntung rokok. Dia merendam kedua tangannya yang penuh luka ke dalam air garam pekat itu. Rasa perihnya menusuk hingga ke tulang. Hah, lalu kenapa kalau dia sudah menikah? Cepat atau lambat, wanita itu akan menjadi miliknya. Suatu hari nanti, namanya akan tertulis di kolom pasangan Geisha, dan bahkan setelah meninggal, mereka akan dimakamkan bersama.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Nona, udah lihat banyak banget model, nggak ada satu pun kalung yang sreg?"

"..."

"Nona?"

Geisha Roland tertegun, lalu tersadar dari lamunannya.

Dia terdiam sejenak, lalu asal menunjuk sebuah kalung berlian. "Yang ini aja. Tolong dibungkus."

Pramuniaga itu akhirnya menghela napas lega. "Baik, mohon ditunggu sebentar, ya."

Semua pramuniaga di toko perhiasan itu tampak sumringah.

Soalnya, Geisha sudah tiga bulan berturut-turut datang ke toko ini setiap hari.

Seorang pramuniaga berkata dengan nada iri, "Nona Geisha, suami Nona pasti sayang banget sama Nona, ya? Beli perhiasan kayak beli sayur, bikin iri deh."

Yang lain ikut menyahut, "Iya, bener. Katanya kalau sayang itu kelihatan dari seberapa besar dia mau ngeluarin duit. Suami Nona rela ngeluarin banyak duit, pasti cinta mati tuh."

"Udah kaya raya, bucin lagi. Nona Geisha bener-bener wanita beruntung ya."

Mendengar pujian bertubi-tubi itu, Geisha hanya menyunggingkan senyum tipis.

Pandangannya hanya tertuju pada seorang pramuniaga wanita di kejauhan.

Perempuan itu tidak ikut mengerumuninya untuk memuji, melainkan diam-diam membungkus kalung yang baru saja Geisha beli.

Sepasang tangan yang lentur dan lembut, dengan kulit putih bersih nan cantik, begitu mencuri perhatian.

Geisha merasa dirinya saat ini seperti seorang pengintip.

Dia benar-benar ingin mengamati dari dekat, wanita seperti apa yang bisa membuat suaminya yang selalu tenang dan terkendali itu jatuh hati.

Pria itu rela mengorbankan hubungan lima belas tahun mereka, mengkhianati semua janji yang pernah mereka buat saat saling mencintai, dan tanpa ragu jatuh hati pada pramuniaga yang tampak biasa saja ini.

Pramuniaga itu bernama Lucy Addison. Parasnya sebenarnya tidak bisa dibilang luar biasa cantik, hanya tampak sederhana, bersih, dan enak dipandang.

Namun, sepasang tangannya sungguh memikat. Lembut dan lentik, ramping dengan proporsi yang pas. Wanita yang melihat saja bisa terpikat, apalagi pria.

Sebelum beranjak, Geisha bertanya, "Kalian bisa bantu aku nggak?"

Sebagai pelanggan super VIP, permintaannya tentu saja dituruti.

Dia pun melepas cincin dari jari manisnya, lalu menyodorkannya pada pramuniaga itu. "Ini, tolong leburin aja."

Pramuniaga itu terkejut. "Nona Geisha, ini 'kan cincin pernikahan Nona? Lagi pula, kayaknya ada ukirannya juga ...."

Memang ada ukirannya.

[DS & GR].

Itu adalah inisial nama mereka berdua. Daniel Stephen mencintai Geisha Roland.

Ukiran itu dibuat langsung oleh Daniel sendiri.

Pramuniaga itu memastikan sekali lagi. "Nona Geisha, cincin ini pasti punya makna khusus, 'kan? Nona yakin mau dilebur?"

"Yakin," jawab Geisha dengan nada tegas. "Tolong secepatnya, ya."

Geisha tiba di rumah saat hari sudah senja.

Baru saja melangkah masuk, Geisha langsung melihat Daniel bergegas keluar.

Keduanya bertabrakan di depan pintu hingga Geisha terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris kehilangan keseimbangan.

Untungnya, sebuah tangan besar dengan sigap meraih pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh.

Daniel mengerutkan kening, keringat tipis membasahi dahinya. "Kamu dari mana aja? Kok baru pulang sekarang?"

"Iya, Nyonya. Ini sudah lewat jam tujuh lho. Kalau pulang telat, seharusnya Nyonya kabari Tuan dulu. Tadi Tuan sampai mau lapor polisi ...."

Yang bicara adalah Bi Ani, pengurus rumah tangga mereka.

Di sisi lain, tepat di belakang Daniel, berdiri asistennya, Henry.

Melihat Geisha baik-baik saja, Henry tampak menghela napas lega. Dia lalu berkata kepada orang di ujung telepon, "Maaf, Pak Polisi. Nyonya kami sudah sampai rumah. Terima kasih atas bantuannya."

Daniel membungkuk sedikit, memperhatikan kondisi Geisha dari ujung kepala sampai kaki.

Setelah yakin Geisha tidak apa-apa, raut wajah Daniel sedikit melunak. "Ponselmu kenapa nggak bisa dihubungi? Aku kira kamu kenapa-napa."

Tanpa sadar, dia mengusap pipi Geisha, lalu kembali mengerutkan kening. "Kok dingin banget?"

Geisha menepis tangan pria itu, lalu melangkah masuk melewati tubuhnya. "Di rumah sumpek, jadi keluar sebentar buat cari angin. Ponselku kehabisan baterai."

Daniel menyusulnya dengan beberapa langkah cepat, melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Geisha, lalu merangkul pundak wanita itu. "Angin malam itu dingin, jangan sampai masuk angin."

Geisha sempat berusaha melepaskan diri, tetapi tak berhasil. Akhirnya, dia pasrah saja.

Begitu masuk ke dalam rumah, Daniel langsung berpesan pada Bi Ani, "Bikinkan wedang jahe gula merah yang hangat buat Geisha, biar badannya anget."

Lalu dia berpaling pada Henry. "Kamu pergi ke Restoran Wenak dan bungkus beberapa makanan. Kamu tahu beberapa hidangan favorit Nyonya, 'kan? Bilangin ke mereka, kurangi garam dan gulanya."

"Baik, Pak Daniel."

Yang lainnya pun pergi, meninggalkan Geisha dan Daniel sendirian di ruang tengah.

Daniel masih merangkul bahunya dengan sikap yang dominan dan posesif, tetapi nada bicaranya sangat lembut. "Tadi aku agak panik, nadaku mungkin terlalu keras. Geisha, jangan marah, ya."

Geisha menggeleng. "Aku nggak marah."

"Kamu kelihatan nggak mood beberapa hari ini, apa aku ada salah?"

"Aku baik-baik aja."

"Nggak," sahut Daniel. "Kita udah kenal lima belas tahun, aku tahu kok kalau kamu lagi marah. Beberapa hari ini aku juga udah introspeksi diri, tapi jujur aku nggak ngerti salahku di mana. Bilang aja langsung, nanti aku perbaiki, oke?"

Geisha menatap pria yang telah dicintainya selama lima belas tahun itu, dan tiba-tiba merasa asing.

Wajahnya memang masih sama. Hanya saja, pria itu telah berubah dari seorang pemuda tampan yang keras kepala menjadi pria dewasa yang matang, tenang, mapan, dan sukses. Namun entah kenapa, Geisha merasa seperti tidak mengenalnya lagi.

"Kamu aja yang kebanyakan mikir. Aku cuma lagi datang bulan aja."

Daniel masih tampak kurang yakin. "Yakin cuma karena lagi datang bulan?"

Geisha mengangguk. "Iya."

Daniel menelepon seseorang. "Minggu ini aku nggak ke kantor. Kalau ada urusan, suruh Henry anter dokumennya ke rumah."

Geisha bertanya, "Mau ngapain?"

"Aku mau nemenin kamu di rumah," jawab Daniel. "Kamu lagi nggak mood. Kalau aku di rumah 'kan bisa ngobrol sama kamu."

Geisha tak bisa menahan tawa kecil.

Daniel bertanya, "Kenapa ketawa?"

"Punya suami sebaik kamu, wajar dong aku seneng?"

Daniel pun tersenyum lebar. "Geisha, kalau ada yang bikin kamu nggak senang, harus bilang ya. Kita 'kan suami istri, jangan ada yang dipendam sendiri."

"Terus kamu? Ada nggak hal yang kamu pendam dan nggak kasih tahu aku?"

Daniel mengecup bibirnya singkat, senyumnya penuh godaan. "Kita udah nikah tiga tahun, gimana kalau kita punya anak?"

Geisha tak menjawab. Dia hanya mengeluarkan setumpuk dokumen dari tasnya. "Coba lihat ini, terus tanda tangan ya."

Daniel bahkan tak meliriknya. Dia langsung membuka halaman terakhir dan membubuhkan tanda tangannya.

Lalu dia menyodorkan dokumen itu kembali. "Udah ditandatangani, nih."

Geisha bertanya, "Kamu nggak baca dulu isinya apa baru tanda tangan?"

"Apa pun yang kamu mau, pasti bakal aku kasih. Geisha, aku tahu kamu agak takut soal hamil dan punya anak. Kalau dokumen ini bisa bikin kamu merasa lebih aman, kenapa nggak aku tanda tangani?"

"Daniel, kayaknya kamu harus baca dulu aja deh isinya ...."

Ponselnya bergetar, ada pesan masuk.

Itu ponsel Daniel.

Dia melirik layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat tipis, tatapannya mendadak lembut, seolah bisa melelehkan hati.

Jemarinya mengetuk-ngetuk layar, membalas pesan tersebut.

Tak lama kemudian, dia tiba-tiba berdiri.

"Geisha, aku ke luar dulu ya, mau nelepon."

"Mm, oke."

Setelah Daniel pergi, Geisha pun beranjak dari tempatnya dan menuju garasi.

Geisha menyalakan mesin mobil, layar dasbor pun menyala.

Di sana, akun WhatsApp Daniel ternyata masih tersinkronisasi dan aktif.

Riwayat percakapannya tadi terpampang jelas di layar.

Lucy: [Hari ini cewek sultan itu beli perhiasan lagi! Yeay, gaji bulan ini gede banget. Aku traktir makan enak ya!]

Daniel: [Seneng banget?]

Lucy: [Tentu aja hehehe, semoga cewek sultan itu datang tiap hari! Aku cinta banget sama kakak sultan!]

Daniel: [Dulu aku juga belanja tiap hari, kok kamu nggak pernah sesayang itu sama aku?]

Lucy: [Ya jelas beda dong, dia 'kan pelanggan VVVIP istimewa aku!]

Daniel: [Terus aku?]

Lucy: [Kamu udah aku cuekin! Nggak ada yang bisa ngalangin langkah aku cari cuan!]

Daniel: [Habis manis sepah dibuang, nih?]

Lucy: [Haha, kita teleponan aja yuk. Kakak sultan tadi nyobain puluhan kalung, beres-beresnya bikin aku remuk. Tanganku pegal kalau harus ngetik.]

Daniel: [Oke.]

Geisha menatap nama akun [Lucy] itu cukup lama, lalu memejamkan mata.

Bayangan sosok pramuniaga bernama Lucy itu, beserta sepasang tangannya yang indah, terus saja merasuki pikirannya tanpa bisa dihalau.

Dia mematikan mesin mobil, lalu kembali masuk ke rumah.

Di atas sofa, dokumen yang baru saja ditandatangani Daniel masih tergeletak di tempat semula.

Geisha membereskan dokumen itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.

Di bagian atas dokumen itu, tercetak jelas dengan huruf hitam tebal: [Surat Perjanjian Cerai].

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status