MasukAlena Maheswari terpaksa mencari uang dalam jumlah besar untuk menyelamatkan keluarganya dari masalah yang hampir menghancurkan hidup mereka. Di tengah keputusasaan, Adrian Wijaya, seorang CEO kaya dan dingin, tiba-tiba menawarkan sebuah pernikahan kontrak selama 365 hari dengan bayaran yang sangat besar. Syaratnya sederhana: mereka tidak boleh saling mencintai, tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi masing-masing, dan setelah 365 hari mereka harus bercerai. Alena menerima tawaran itu karena tidak punya pilihan lain. Namun, ia tidak tahu bahwa Adrian memiliki alasan tersembunyi di balik pernikahan tersebut.
Lihat lebih banyakHujan turun begitu deras malam itu. Alena Maheswari berdiri di depan rumah sakit sambil menggenggam ponselnya erat. Layar ponsel itu masih menampilkan pesan yang baru saja ia terima.
Pembayaran harus dilunasi paling lambat besok pagi. Alena menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak ketika kembali melihat angka tagihan tersebut. Sejak ayahnya dirawat, ia sudah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan uang, mulai dari meminjam kepada teman hingga menjual beberapa barang berharga miliknya. Namun, jumlah yang terkumpul masih jauh dari cukup. “Kenapa harus sebanyak ini...” gumam Alena. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan dan air mata. Di dalam rumah sakit, ayahnya masih terbaring lemah, sementara Alena tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika pengobatannya harus dihentikan. Alena menundukkan kepala. “Ayah... aku harus bagaimana?” Belum sempat ia memikirkan jalan keluar, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tidak jauh darinya. Pintu belakang terbuka dan seorang pria turun dengan langkah tenang. Ia mengenakan jas hitam dengan penampilan rapi, sementara wajahnya terlihat dingin dan sulit ditebak. Pria itu berjalan mendekat hingga berhenti beberapa langkah di hadapan Alena. “Alena Maheswari?” Alena mengangkat wajah dan mengerutkan kening. Ia tidak mengenal pria tersebut. “Ya. Anda siapa?” Pria itu menatapnya beberapa detik sebelum menjawab, “Adrian Wijaya.” Nama tersebut membuat Alena terdiam. Ia mengenal Adrian sebagai seorang CEO muda yang beberapa kali muncul dalam pemberitaan. Namun, ia sama sekali tidak mengerti mengapa pria seperti Adrian datang mencarinya di rumah sakit. “Ada apa mencari saya?” Adrian tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru mengeluarkan sebuah map hitam dari tangannya dan menyerahkannya kepada Alena. “Aku punya tawaran untukmu.” Alena menerima map tersebut dengan ragu. “Tawaran apa?” “Baca.” Alena membuka map itu. Matanya langsung membesar ketika melihat tulisan di halaman pertama. PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK Ia membaca beberapa baris berikutnya dengan wajah tidak percaya sebelum kembali menatap Adrian. “Ini... bercanda?” “Tidak.” “Kamu mau aku menikah denganmu?” “Selama 365 hari.” Alena hampir tertawa karena merasa semua ini tidak masuk akal. Ia bahkan baru pertama kali berbicara dengan pria tersebut, tetapi Adrian tiba-tiba mengajaknya menikah. “Pak Adrian, kalau Anda ingin bercanda, cari orang lain.” “Aku tidak bercanda.” Adrian mengambil selembar kertas dari dalam map dan menunjukkannya kepada Alena. “Sebagai imbalannya, kau akan mendapatkan uang yang cukup untuk membayar seluruh biaya pengobatan ayahmu.” Seketika senyum Alena menghilang. Matanya tertuju pada angka yang tertulis di kertas tersebut. Jumlahnya sangat besar, bahkan jauh melebihi biaya pengobatan yang selama ini membuatnya hampir putus asa. Alena menelan ludah. “Kenapa saya?” Adrian menatapnya tanpa berkedip. “Karena aku membutuhkan seorang istri.” “Kenapa tidak menikahi wanita lain?” “Itu bukan urusanmu.” Jawaban dingin itu membuat Alena semakin curiga. Ia menutup map tersebut dan mengembalikannya kepada Adrian. “Maaf, tapi saya tidak bisa.” Alena berbalik hendak pergi. Namun, baru beberapa langkah, suara Adrian kembali menghentikannya. “Kalau kau menolak, besok pagi rumah sakit bisa menghentikan pengobatan ayahmu.” Langkah Alena seketika terhenti. Tangannya mengepal, lalu ia berbalik dengan mata berkaca-kaca. “Jangan gunakan ayah saya untuk memaksa saya.” “Aku tidak memaksamu. Aku hanya memberikan pilihan.” “Pernikahan bukan permainan.” “Aku tahu.” Alena menatapnya dengan perasaan campur aduk. “Lalu kenapa harus saya?” Untuk pertama kalinya, tatapan Adrian berubah. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuat Alena merasa bahwa ada sesuatu yang tidak dikatakan pria itu kepadanya. “Karena aku punya alasan sendiri.” Alena mengerutkan kening. “Alasan apa?” Adrian tidak menjawab. Ia justru mengambil sebuah pena dari saku jasnya dan meletakkannya di atas map. “Pikirkan sampai besok pagi.” Adrian kemudian berjalan menuju mobilnya. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak dan menoleh kepada Alena. “Kalau kau menerima tawaran ini, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.” Setelah mengatakan itu, Adrian masuk ke dalam mobil. Beberapa detik kemudian, mobil hitam tersebut meninggalkan halaman rumah sakit, menyisakan Alena seorang diri di bawah hujan. Alena kembali melihat map di tangannya. 365 hari. Hanya satu tahun menjadi istri seorang pria yang bahkan tidak ia kenal. Sebagai gantinya, ayahnya bisa mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. Ia tahu tawaran ini terlalu aneh. Namun, ketika membayangkan ayahnya terbaring lemah di dalam rumah sakit, keraguannya kembali berbenturan dengan rasa takut kehilangan. Alena membuka map tersebut sekali lagi. Pena yang ditinggalkan Adrian masih tergeletak di atasnya, seolah menunggu keputusan yang akan mengubah hidupnya. “Maaf, Ayah...” Tangannya meraih pena itu dengan gemetar. Setelah menarik napas panjang, Alena mulai menuliskan namanya di atas kontrak tersebut. Alena Maheswari. Dan sejak tanda tangan itu tercetak di atas kertas, sebuah pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan pun dimulai. Namun, di detik yang sama, pintu IGD terbuka dengan keras. Seorang perawat berlari keluar sambil berteriak panik. “Keluarga Alena Maheswari! Ayah Anda kritis!”Alena masih berdiri terpaku setelah panggilan dari Adrian terputus. 365 hari itu tidak akan pernah sampai selesai. Kalimat tersebut terus terngiang di kepalanya. “Apa yang terjadi pada Adrian?” tanya Alena panik. Dimas menatapnya serius. “Dia sudah mulai mengetahui terlalu banyak. Orang-orang yang mengejar kita tidak akan berhenti sebelum semua bukti hilang.” Alena menggenggam flashdisk di tangannya semakin erat. “Kalau begitu, aku harus memberikan ini kepada Adrian.” “Jangan.” Alena menatap Dimas. “Kenapa?” “Karena kau belum tahu siapa yang bisa dipercaya.” Alena terdiam sejenak sebelum menjawab dengan tegas. “Adrian suamiku.” “Suami karena kontrak.” Ucapan Dimas membuat Alena terdiam. Pernikahan mereka memang dimulai karena sebuah kontrak. Namun, beberapa hari terakhir membuat perasaan Alena terhadap Adrian perlahan berubah. “Entah kenapa... aku percaya padanya.” Dimas menghela napas pelan. “Kalau begitu, jangan berikan flashdisk ini sekarang. Simpan sampai kau tah
Langkah Alena terasa semakin berat ketika mendekati alamat yang dikirimkan oleh orang misterius itu. Tempat tersebut berada di pinggir kota, jauh dari keramaian, dengan sebuah bangunan tua yang berdiri di antara gudang-gudang kosong. Cat dindingnya sudah mengelupas dan beberapa jendelanya bahkan pecah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitar tempat itu. Alena berhenti di depan pintu sambil menggenggam ponselnya erat. “Aku benar-benar datang ke tempat seperti ini sendirian...” Tangannya terasa dingin. Kakinya gemetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap melangkah karena teringat ancaman tentang ayahnya. Seketika, ia teringat pesan terakhir Adrian. Jangan pergi sendirian hari ini. Alena menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Kreeek... “Permisi?” Tidak ada jawaban. Alena melangkah masuk dengan hati-hati. Ruangan itu dipenuhi debu dan aroma lembap. Di atas sebuah meja tua terdapat kotak hitam dengan selembar kertas kecil yang tertempel
Malam itu, Alena tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan perkataan Adrian. “Awalnya karena dendam.” Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang seharusnya. Alena membalikkan tubuh sambil menatap cincin pernikahan yang melingkar di jarinya. Tanpa sadar, ia mulai berpikir bahwa mungkin memang ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Namun, sekarang Alena tidak tahu lagi apa yang harus dipercayainya. Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu. Tok... tok... tok... “Ini aku.” Suara Adrian membuat Alena segera menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka. Adrian berdiri di sana dengan wajah serius. Tatapannya berhenti pada mata Alena yang terlihat sedikit merah. “Kau menangis?” “Tidak.” Adrian berjalan mendekat lalu menarik kursi di dekat tempat tidur. Ia duduk sambil memperhatikan Alena beberapa saat. “Jangan bohong.” Alena mengalihkan pandangan. “Aku hanya sedang banyak pikiran.” Adrian menghela napas pelan. “Jangan terlalu memikirkan perkataanku tadi. Aku hanya mengatakan apa
Pagi itu, Alena terbangun lebih awal dari biasanya. Ia masih berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar, tetapi pikirannya sudah dipenuhi percakapan dengan ayahnya kemarin. Jangan terlalu percaya pada keluarga Wijaya. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Alena akhirnya bangun dan berjalan menuju jendela. “Kenapa semuanya harus serumit ini?” gumamnya. “Karena kau terlalu banyak berpikir.” Alena langsung terkejut. Ia menoleh dan mendapati Adrian berdiri di dekat pintu balkon. “Jangan tiba-tiba muncul seperti hantu.” Adrian hanya mengangkat alis. “Ini rumahku.” “Bukan berarti kamu boleh mengagetkanku.” Sudut bibir Adrian terangkat sedikit. “Takut?” Alena memelototinya. “Tidak. Aku cuma kaget.” Adrian kemudian berjalan mendekat. Tatapannya sempat memperhatikan wajah Alena sebelum akhirnya ia bertanya, “Kau sudah sarapan?” “Belum.” “Kalau begitu, turun.” Alena menghela napas sebelum akhirnya mengangguk. “Baik.” Mereka pun berjalan turun bersama.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.