FAZER LOGINHappy Reading*****Tatapan mata sayu serta gairah yang memuncak, Elang tak ingin membiarkan istrinya melakukan hal satu itu walau dirinya sangat ingin dipuaskan. "Mas, biarkan adek menyelesaikan tugas dengan baik," pinta Ardha. "Tapi, Sayang?" Suara Elang nyaris tercekat di tenggorokan ketika tangan sang istri mulai membelai intinya. "Apa kamu nggak merasa jijik jika melakukan hal itu."Desahan singkat berhasil lolos dari bibir lelaki itu. Tangan sang istri sangat lincah memainkan pusat intinya. "Sayang, jangan lakuin ini lagi," pinta sang pengusaha muda, tetapi wajah dan tubuhnya bereaksi lain. Seperti, menginginkan perlakuan yang lebih. "Mas, diem aja. Adek nggak bakalan membiarkan Mas Awan kesakitan dan menanggung beban karena nggak bisa menyalurkan kebutuhan satu itu." "Tapi, Sayang .... Aaahh," desis Elang nikmat. Kehangatan pada pusat inti si lelaki makin terasa. Elang benar-benar tak menyangka jika istrinya bisa memenuhi kebutuhan satu itu walau tengah datang bulan. Ard
Happy Reading*****Elang mengangkat tangan kanannya yang semula berada di area pinggang bahkan kini sudah hampir menyentuh dua bulatan di bagian bawah tubuh sang istri. "Sayang, kamu kenapa kok berdarah?""Mas, perutku sakit banget," rintih Ardha. "Dek, Sayang." Elang makin gugup, tak tahu harus berbuat apa. "Apa kamu datang bulan?""Mas, tolong ambilkan obat yang ada di tasku.""Iya ... iya. Adek diem dulu." Tergopoh, sang pengusaha muda mengambil tas yang ditunjuk istrinya tadi. "Ini kenapa, sebenarnya? Kenapa harus ada tragedi begini, sih?" keluh lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya Ardha. "Mas, cepet dikit." Wajah Ardha memucat sudah seperti mayat hidup saja. "Iya." Elang menoleh ke sumber suara dan makin panik, melihat wajah istrinya pucat pasi. "Ini, ya?" "Iya."Mendengar persetujuan Arda lelaki itu segera mendekati si istri. "Sayang, kok bisa begini sih?" ucap Elang. Setelahnya, dia menyodorkan obat pada istrinya.Membantu Ardha menelan pil yang sempat dibacanya
Happy Reading*****Ardha dan Elang saling pandang ketika suara si kecil terdengar. "Mami mau pergi bulan madu, ya?" Kembali, suara si kecil terdengar. Tidak ada raut mengintimidasi ataupun marah. Zanitha malah mengerjap-ngerjapkan matanya dengan lucu. Elang mulai mengembuskan napas lega, setidaknya si kecil tidak marah ataupun merajuk seperti yang ada dipikiran Elang. Lelaki itu, kemudian melangkah mendekati putri kecil yang sangat disayanginya itu. Menyentuh pipi kiri dengan telapak tangannya yang besar, lalu berkata, "Cantik, katanya pengen punya adek kecil. Jadi, Mami sama Papi akan segera mewujudkan semua itu secepatnya.""Beneran?" tanya Zanitha kembali. Binar bahagia itu terpancar jelas di matanya. "Kalau gitu, Mami sama Papi cepetan berangkat. Za, nggak mau menghalangi lagi.""Anak pinter." Elang mengusap kepala Zanitha, lalu menciumnya sayang. "Mami, pamit, Sayang." Kini, giliran ada yang mencium puncak kepala si kecil. "Oke, Mi. Jangan lupa pulangnya bawain Za, adik yang
Happy Reading*****Elang menggerakkan kedua tangannya, berusaha mengajak sang pujaan hati untuk berdiri. Namun, uluran tangannya yang hampir berhasil menyentuh pergelangan, ditepis oleh Ardha. Ardha mendongak, menatap sang suami yang saat ini terlihat tampan berkali-kali lipat dibanding biasanya. "Selama ini, Mas Awan yang selalu mengambil inisiatif untuk menyatakan cinta lebih dulu. Kali ini, biarkan aku yang memulainya. Adek nggak mau selalu kalah dalam hal mencintai," ucap Ardha dengan senyum manisnya. "Mami hebat," celetuk si kecil bahkan kini, para tamu serta orang-orang yang berada di sekitar kedua mempelai, mulai bertepuk tangan. "Ayo ... Ayo." Mereka semua menyoraki Ardha, memberi semangat pada pengantin wanita untuk menyatakan perasaannya."Dek, Sayang. Kamu nggak perlu melakukan ini," ucap Elang. Tangannya kembali terulur, berusaha membantu sang istri untuk bangkit dari posisinya yang tak nyaman saat ini. Namun, lagi dan lagi, Ardha tak mengijinkan suami barunya itu men
Happy Reading*****"Hei, kok kamu ngaku-ngaku gitu, sih?" ucap Elang yang juga membulatkan mata saat mendengar kalimat Yandra.Sang pengacara menggaruk kepala yang tak gatal. "Kan kita sudah sepakat, Lang. Zanitha juga anakku. Jadi, kamu nggak boleh nyakitin dia."Yandra dengan cepat mengambil alih gadis kecil yang berada di genggaman Elang bahkan sang pengacara menggendongnya, melindungi diri dari amukan lelaki yang sampai saat ini belum bisa menemukan istri baruna.Suasana kembali mencair, semua orang bahkan tamu yang tadi sempat berwajah tegang kembali semringah karena ucapan klarifikasi Yandra. "Sayang, kok, kamu nggak mihak Papi?" ucap Elang masih dengan wajah memelas supaya si kecil tergerak hatinya untuk memberitahukan keberadaan Ardha. "Aku nggak mau mihak Papi, nanti malah kena marah Mami," sahut Zanitha cepat.""Sekarang, katakan di mana mamimu?" tanya Elang dengan suara yang jauh lebih rendah. Zanitha dengan cepat mengangkat kedua bahunya. Tak lama berselang, sebuah sua
Happy Reading ***** "Sayang, kamu di mana?" panggil Elang yang tak melihat siapa pun di ruangan tersebut, padahal dia sudah sangat ingin berjumpa dengan perempuan yang baru beberapa menit lalu sah menjadi istrinya. Sunyi, tak ada seorang pun di ruangan tersebut padahal jelas-jelas Elang menyiapkan kamar tersebut khusus untuk Ardha. Elang pun berbalik arah, hendak kembali ke tempat dia mengucapkan akad nikah. Namun, baru saja akan melangkahkan kakinya, suara seseorang terdengar memanggil. "Papi," panggil si kecil dari arah samping kanan tempat Elang berisi sekarang. Elang menoleh, mengerutkan kening karena melihat Zanitha yang berisi sendirian tanpa didampingi oleh siapa pun. "Za sendirian? Mami mana, Sayang?" tanya sedikit panik serta khawatir. "Coba Papi tebak. Kira-kira, Mami ada di mana?" Elang terdiam, tetapi pikirannya mengembara, begitupun dengan bola matanya, bergerak-gerak berusaha mencari keberadaan sang istri. Namun, sampai beberapa menit kemudian, Ardha tak ju
Happy Reading*****"Apa, Dek?" sahut Harjuna lembut supaya emosi si adik tidak meningkat. Menatap tajam pada saudara kandung satu-satu yang dia punya. "Kakak ini. kenapa Adek selalu merasa Kak Juna nggak suka sama Mas Awan. Perkataannya selalu memojokkan."Elang cuma bisa tersenyum ketika Ardha m
Happy Reading *****Siapa pun yang mendengar perkataan Ardha tadi, pasti akan tertawa. Demikian juga dengan seluruh anggota keluarga dan juga Danu. Semua orang menertawakan si bungsu."Hmm. Kalian ini, nggak ada yang percaya sama aku. Lihat saja beberapa berita yang viral sekarang. Sudah nggak jam
Happy Reading *****Elang terpaksa menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum salah tingkah. "Mas, ditanya kok malah senyum-senyum sendiri gitu, sih?" kata Ardha yang juga penasaran dengan jawaban lelaki yang dicintainya itu. Mana mungkin seorang lelaki seperti Elang merasa terancam, ke
Happy Reading****Harjuna dan Wisnu saling pandang. Melati bahkan menatap aneh pasangan yang akan segera meresmikan hubungan mereka. "Kalian berdua ini ngomong apa, sih?" tanya Harjuna, sepertinya juga mewakili isi hati Wisnu dan Melati."Ayah nyuruh aku pulang cepet pasti karena Za, kan?" tanya







