INICIAR SESIÓNInara merasa hancur saat sang suami lebih memprioritaskan mantan kekasihnya di atas dirinya dan putri mereka. Namun ketika Inara mulai lelah dengan rumah tangganya dan memilih berpisah, Damian justru berusaha mempertahankan keluarga kecil mereka agar tetap utuh! Lantas, akankah Inara bertahan atau tetap memilih pergi demi menyelamatkan hati dan mentalnya?
Ver másMalam ini, Tavira akan bertemu tunangannya – Darian, putra tunggal keluarga Haryodipura.
Beberapa jam sebelum pertemuan itu, Tavira berdiri di depan cermin, mematut diri dengan saksama. Gaun merah muda selutut membalut tubuh langsingnya dengan sempurna. Rambut panjang bergelombang ditata rapi, sebagian disingkap jepit mungil yang memperlihatkan pelipis halusnya. Semuanya sudah tampak sempurna. Hanya riasan tipis yang akan ia poleskan menjelang pertemuan nanti malam, pukul delapan. Mama ikut mengintip di depan cermin. Melihat detail gaun dari atas kepala sampai ujung kaki. Semua sudah dipersiapkan Mama dari jauh hari. Baru kali ini Mama bisa berdecak kagum setelah dikenakan putri semata wayangnya itu. Tavira sudah sangat sempurna, tapi gadis itu menghela napas panjang. Cemas pada sesuatu yang tidak Mama ketahui. “Darian akan menerimaku kan, Ma?” cemas Tavira kentara di wajah cemberutnya. Mama mengulas senyum sembari mengelus pundak anaknya. “Tentu saja. Enggak ada yang bisa menolak kamu, Sayang. Kamu cantik, dewasa, wanita baik-baik dan berprestasi. Bukan cuma pewaris Haryodipura saja yang ingin menjadikanmu istri, tapi seluruh lelaki di dunia ini.” Oke, Tavira merasa ucapan Mama terlalu berlebihan. Tapi itu sukses membuat kecemasannya menguap di udara. Setidaknya itu meningkatkan kepercayaan diri Tavira. Meski sedikit. “Tavira, kamu nggak menyesal dengan perjodohan ini, kan?” Sekarang Mama yang cemas. Entah sudah berapa kali Mama menanyakan hal serupa di setiap kesempatan. Mama takut kalau perjodohan yang dilangsungkan sedari kecil itu tidak disukai Tavira. Dan selalu pula Tavira memberikan jawaban yang sama. “Enggak, Ma. Aku suka perjodohan ini, kok. Aku sudah memerhatikan Darian dari jauh. Dia benar-benar tipe kesukaanku.” Dua puluh lima tahun lalu, di usianya yang baru lahir, Tavira Lintang Saka dijodohkan dengan Darian Alastra Haryodipura. Lelaki yang lima tahun lebih tua darinya. Terjadi kesepakatan di masa lalu hingga kedua orang tua memutuskan perjodohan. Tavira resmi bertunangan dengan Darian di usia keduanya yang terbilang belia. Hanya tunangan. Sedangkan pernikahannya sendiri akan dilaksanakan ketika Tavira genap berusia 25 tahun. Tepat hari ini. Malam kemarin Tavira baru saja merayakan pesta kecil bersama teman-teman modelnya. Malam itu sekaligus jadi pesta lajang terakhir Tavira. Esoknya, Tavira diberitahu Mama kalau dirinya akan dipertemukan dengan tunangannya – Darian, bersama orang tuanya untuk membicarakan pernikahan. Tavira sangat antusias. Dia bahkan sengaja berdiet, perawatan wajah, perawatan rambut dan kuku. Dia ingin terlihat sempurna di mata Darian. Sebab itu kali pertama mereka dipertemukan setelah dewasa. Kenapa Tavira sebegitu antusiasnya? Karena Darian – calon mempelainya, bukan orang sembarangan. Selain karena dia berasal dari keluarga konglomerat, CEO yang sukses, Darian juga tampan, kharismatik dan pernah sesekali muncul di majalah bisnis sebagai salah satu dari deretan orang-orang tersukses di dunia. Tavira sudah jadi penggemar Darian sedari dulu. Bukan saja karena mereka ditunangkan sejak kecil, tapi karena pesona Darian sendiri memang patut dijadikan idola oleh Tavira. “Terima kasih, Tavira. Kamu sudah menjaga diri dari laki-laki lain dan mempersiapkan jadi istri yang baik.” Ada butir air mata di sudut tatapan Mama. “Iya, Ma. Tavira nggak mau terlihat memalukan bagi Mama dan almarhum Papa. Tavira ingin jadi wanita yang pantas untuk Darian.” Mama memeluk Tavira. Anak gadisnya sudah dewasa. Rasanya Mama ingin mengatakan pada nisan Papa kalau dia berhasil mendidik anak gadisnya dengan baik. Mama tidak ingin apa pun selain melihat Tavira bahagia dengan lelaki yang dicintainya. “Ah, sebaiknya Mama juga bersiap dengan baju Mama. Jangan sampai anaknya sudah cantik, Mama malah terlihat memalukan dan buat kamu minder.” Tavira tersenyum bersamaan dengan Mama menuju ke kamarnya. Memastikan tidak ada kekurangan apa pun di baju maupun sepatu untuk pertemuan nanti malam. Tiba-tiba saja ponsel Tavira berdering. Dengan cekatan Tavira menekan tombol terima dan melakukan sapaan lumrah pada si penelepon. “Halo?” “Tavira Lintang Saka. Aku memintamu datang ke Palais Hotel sekarang juga.” Tidak ada sapaan. Tidak ada basa-basi. Tahu-tahu orang di seberang telepon sana meminta Tavira datang ke hotel yang terkenal elit di kawasannya. “Siapa ini?” Wajar saja Tavira bertanya. Mana mau dia menanggapi telepon iseng, apalagi di hari sepenting ini. “Darian." Tavira tercekat. Lebih tidak percaya pada apa yang baru didengarnya itu. “Jangan bercanda. Mana mungkin kamu Da-“ “Cepatlah! Jangan beritahu siapa pun kamu kemari. Dan datanglah sebelum pertemuan nanti malam.” Tavira berusaha tidak percaya, tapi ia menyebut tentang pertemuan nanti malam. Hanya dia, Mama dan keluarga Darian saja yang tahu. Mustahil yang meneleponnya ini Darian sungguhan. Untuk apa? “Beritahu aku kalau sudah sampai lobi hotel. Nanti kuberitahu nomor kamarnya.” Udara mendadak dingin sebab panggilan terputus menyisakan keheningan di kamar Tavira. Dia mematung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Darian memintanya datang ke hotel. Untuk apa? Bukankah nanti malam mereka akan bertemu. Kenapa harus sekarang. Kenapa pula harus di hotel. Tavira tidak mendapatkan jawaban hanya dengan berdiam diri. Dia lepaskan gaun juga hiasan jepit di kepala yang akan dikenakan nanti malam. Tidak ingin Darian tahu bagaimana luar biasanya gaun itu setelah dia merias diri nanti. Bergantilah Tavira menggunakan pakaian yang biasa ia kenakan sehari-hari. Blouse longgar dan celana jeans. Entah apa yang diinginkan Darian memanggilnya sebelum pertemuan nanti malam. Hanya saja Tavira tergoda curi start untuk melihat sang pujaan hati. Mungkin ini kesempatannya melihat Darian dari dekat sebelum malam nanti direcoki para orang tua. Pada akhirnya Tavira bertolak ke hotel setelah mengatakan akan keluar sebentar pada Mama. Menggunakan taksi online Tavira hanya butuh dua puluh menit ke depan hotel bintang lima yang biasa didatangi artis ataupun kalangan elit. Tavira jalan pelan ke lobi sesuai perintah Darian. Kemudian mengirimkan pesan bahwa ia sudah sampai di sana. Tak lama, muncul seorang resepsionis yang menyebutkan nama Tavira dengan fasih. “Nona Tavira?” pertanyaannya mendapat anggukan kepala dari Tavira. “Saya akan antarkan Anda ke ruangan Pak Darian.” Tavira mengikuti karena tak punya banyak pilihan. Mereka naik lift menuju lantai 39. Tavira mulai waswas. Apakah yang dilakukannya ini benar. Intuisinya berkata ada hal yang tidak menyenangkan. Terutama ketika lift berhenti di lantai 39. Begitu lift terbuka, dunia seakan berubah. Marmer putih, aroma kopi mahal dan ruangan yang hening seperti kuburan eksekutif. Tavira menggenggam erat ujung bajunya saat resepsionis membimbingnya masuk ke ruangan kamar suite. Dan di sanalah dia. Darian Alastra Haryodipura. BERSAMBUNGBalon warna-warni yang dipadukan dengan dekorasi lain khas anak-anak terlihat menghiasi halaman belakang rumah megah bertingkat itu. Meja panjang berisi hidangan dan beberapa macam snack tertata dengan rapi, sementara musik riang anak-anak juga sudah mengalun pelan. Alma tampak berdiri diapit kedua orang tuanya dengan gaun putih selutut. Di kepalanya bertengger mahkota mungil yang membuatnya terlihat seperti seorang peri kecil. Senyum cerianya tak pernah berhenti terpancar. Cukup menjelaskan kalau ia sangat senang karena tepat hari ini adalah hari ulang tahunnya yang keenam. Tentu, bukan semata karena ulang tahun itu yang membuatnya senang, tetapi karena acara ulang tahunnya kali ini berbeda dari biasanya. Dulu, dia hanya merayakan bersama kedua orang tuanya, terkadang keluarga dari sang papa juga ikut merayakan, kadang juga merayakan bersama teman-teman sekolah dan para anak-anak tetangga rumahnya. Sekarang, keluarga dari sang bunda juga turut serta di hari pentingnya ini, be
Karena tidur terlalu larut, akhirnya Inara dan Damian masih terlelap di atas ranjang ketika pagi telah menyingsing. Saling mendekap erat seakan takut kehilangan. Hingga beberapa saat kemudian, Inara mengerjap pelan. Hendak melepaskan diri dari rengkuhan sang suami, tetapi Damian justru makin merapatkan pelukan, seolah enggan membiarkan istrinya pergi. “Tidurlah kembali. Biarkan aku memelukmu sebentar lagi.” Damian mengatakan itu dengan suara serak, bahkan matanya masih setengah terpejam. Tak bisa berbuat banyak, Inara terpaksa kembali bergelung di dada pria itu. Hanya saja, ketika berusaha mencari posisi ternyaman, dia tak sengaja menoleh ke depan ranjang. Tepat saat itu, ia nyaris terlonjak begitu pandangannya tertumbuk pada bocah yang berdiri di sana dengan kedua tangan di pinggang. Wajah mungilnya cemberut. Pipinya mengembung, menunjukkan kalau ia sedang kesal, meski ekspresinya justru terlihat begitu menggemaskan. Inara langsung mendorong Damian agar melepas peluk
Inara yang saat ini tengah duduk santai di sofa, sesekali meneguk air minum sambil mengutak-atik ponsel ketika dikejutkan dengan sebuah sebuah lengan kekar yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya, memeluknya erat. Dia menoleh sedikit, melihat suaminya sudah duduk di sebelahnya dan meletakkan dagu di bahunya. Embusan napasnya yang hangat bisa dirasakan menyapu kulit lehernya. “Bagaimana performaku barusan, Sayang?” suara Damian berat, sesekali mengecup bahu Inara. “Lumayan,” jawab Inara santai, sambil menahan senyum. “Lumayan?” Damian bertanya dengan nada suara yang terdengar tak terima. Ia langsung melepas tangan dari tubuh istrinya itu, lantas merebut ponsel Inara dan meletakkannya ke meja kecil di sisinya. “Kamu ini tega sekali, Sayang. Masa cuma lumayan. Padahal, aku sudah berusaha keras agar kamu merasa puas. Tau respons kamu begitu, aku bikin kamu tidak bisa jalan sekalian.” Melihat ekspresi cemberut sang suami membuat Inara menyemburkan tawanya pelan. Ia memutar
“Sayang ....”Mendengar itu, Inara yang berdiri di dekat dinding kaca kamarnya langsung berbalik. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman manis ketika melihat Damian masuk ke kamar dan melangkah ke arahnya.Pria itu langsung memeluk dengan dagu diletakkan di bahunya seakan melampiaskan rindu.“Mereka baru membiarkanku menemuimu,” lirih Damian.“Mereka siapa?”“Ayah, Rafiq, dan Rafa. Mereka terus mengajakku mengobrol, padahal aku sudah ingin menghabiskan waktu bersama istriku.” Nada suara Damian terdengar setengah kesal.Ya, mereka sudah sepakat kembali menjadi suami istri semenjak beberapa jam lalu. Akad dilangsungkan di mansion keluarga Inara.Meskipun begitu, sebelumnya Damian dan ayah Inara sempat bersitegang. Di mana Pak Baskara marah pada Damian yang sudah menyia-nyiakan putrinya di masa lalu. Damian mengakui kesalahan dan menyesal, bahkan sampai berlutut di hadapan orang tua Inara meminta maaf.Ia juga berjanji untuk menebus dan memperbaiki semuanya. Ia sadar, selam
Inara langsung terdiam mendengar perkataan Damian. Dia cukup terharu karena di saat ia merasa dunia seolah tak berpihak padanya, masih ada satu orang yang tulus peduli padanya. Dia Damian—mantan suaminya. Dia merasa patut bersyukur, sebab dirinya tak benar-benar sendirian. Perlahan, Inara sendok
Melihat amarah putra sulungnya yang makin meledak-ledak itu, Pak Baskara hanya mampu terdiam.Gelagapan, tidak tahu harus berbuat apa? Dia benar-benar bingung saat ini. Banyak hal dan segala kemungkinan yang membuat pikirannya kacau.“Dan, apa Ayah pikir semua masalah bisa selesai dengan kata maaf?
BRAK! Pintu dibuka kasar. Tuan Baskara Wardhana yang lebih dikenal dengan nama Tuan Wardhana itu melangkah masuk dengan tergesa, dasinya ditarik hingga setengah longgar. Napasnya memburu, hingga wajahnya terlihat memerah oleh amarah yang membakar. Vas bunga kecil yang tak bersalah di meja itu ta
Langit hari ini cukup cerah ketika mobil mewah milik Inara berhenti di depan sebuah restoran bergaya klasik yang tak terlalu ramai siang itu.Menuju lantai 2, melewati deretan kursi yang hanya dihiasi beberapa pelanggan yang terlihat sibuk dengan dunianya masing-masing.Tiba di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás