Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku

Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku

last updateآخر تحديث : 2026-01-29
بواسطة:  Lara Lukaتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
لا يكفي التصنيفات
7فصول
7وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Satu tanda tangan. Satu malam. Lunas. Bagi suamiku, aku hanya aset untuk pelunasan. Bagi Cakra Dirgantara, aku adalah kemenangan. Tapi di balik pintu kamar terkunci, ia membuktikan aku bukan sekadar barang transaksi—dan tubuhku mengingatnya terlalu baik. Kini Adrian menagih haknya sebagai suami. Masalahnya… bagaimana caranya kembali pada pria yang menjualku, setelah aku tahu rasanya dimiliki oleh pria yang membuatku ketagihan?

عرض المزيد

الفصل الأول

BAB 1 ISTRI PAJANGAN

Lampu kristal chandelier di ballroom Hotel Mulia itu membiaskan cahaya yang menyakitkan mata. Kilauannya jatuh tepat di atas gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuhku, membuatnya berkilau seolah aku adalah piala kemenangan yang baru saja dipoles.

Namun, di balik lapisan kain mahal itu, aku merasa seperti manekin etalase. Dingin. Kosong. Dan tak bernyawa.

"Senyum, El. Itu Pak Handoko, investor properti terbesar di Surabaya."

Bisikan Adrian menggelitik telingaku, hangat namun penuh tuntutan. Tangannya melingkar di pinggangku, meremas sedikit terlalu kencang. Bukan pelukan sayang, melainkan peringatan. Jangan permalukan aku.

Aku menarik sudut bibirku, menciptakan lengkungan yang sudah kulatih ratusan kali di depan cermin kamar mandi. Senyum 'Istri Bahagia'. Senyum yang menutupi fakta bahwa pernikahan kami yang baru menginjak tahun kelima ini sudah lama menjadi bangkai yang diberi parfum mahal.

"Selamat malam, Pak Handoko," sapaku. Suaraku terdengar stabil, terpelajar, persis seperti boneka ventriloquist yang dikendalikan tuannya.

Pria tua di hadapan kami tertawa renyah, matanya menyapu tubuhku dari ujung rambut hingga kaki dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan. "Adrian, kamu memang pemenang. Bisnis lancar, istri secantik bidadari. Apa lagi yang kurang?"

Adrian tertawa, suara baritonnya memenuhi ruangan. "Saya hanya beruntung, Pak. Elena adalah jimat keberuntungan saya."

Jimat keberuntungan.

Kata itu terasa asing di lidahku. Jika aku memang jimat, mengapa suamiku sendiri tidak pernah menyentuhku?

Sudah enam bulan sejak terakhir kali Adrian menyentuhku dengan hasrat. Bukan sekadar kewajiban lima menit yang berakhir dengan punggungnya yang berbalik memunggungiku, melainkan sentuhan yang membuat seorang wanita merasa diinginkan. Malam-malamku dihabiskan dengan menatap punggungnya yang naik-turun dalam tidur, sementara aku bertanya-tanya apa yang salah dengan tubuhku. Apakah aku terlalu kurus? Terlalu membosankan? Atau... aku memang wanita yang rusak?

"Sayang, aku mau ambil minum sebentar," Adrian berbisik lagi, membuyarkan lamunanku. Dia mengecup pipiku sekilas—ciuman panggung untuk dinikmati penonton—lalu melangkah pergi menuju bar.

Aku menghela napas panjang, bahuku sedikit merosot saat beban peran itu terangkat sejenak. Mataku menyapu ruangan pesta perayaan ulang tahun pernikahan kami yang megah ini. Bunga mawar putih impor di setiap meja, live music orkestra, dan ratusan tamu elit Jakarta. Semua ini tampak sempurna. Terlalu sempurna.

Seorang pelayan melintas membawa nampan tagihan ke arah manajer katering yang berdiri gelisah di sudut ruangan. Aku tidak bermaksud menguping, tapi posisiku di dekat pilar membuat suara mereka terdengar jelas di antara denting gelas.

"Maaf, Pak," ujar pelayan itu dengan suara rendah, menyerahkan mesin EDC. "Kartunya declined lagi. Kode 51. Insufficient funds."

Jantungku berhenti berdetak sejenak.

Manajer katering itu mengerutkan kening, menatap layar mesin dengan bingung. "Coba gesek sekali lagi. Ini kartu Platinum, masa limitnya habis? Pak Adrian bilang pestanya all out."

"Sudah tiga kali, Pak. Ditolak semua."

Darahku berdesir dingin. Adrian bilang bisnisnya sedang di puncak. Dia baru saja membeli mobil sport dua minggu lalu. Bagaimana mungkin kartu kreditnya ditolak untuk bayar katering?

Aku menoleh cepat mencari sosok Adrian di kerumunan. Dia tidak ada di bar.

Mataku menangkap bayangannya di dekat pintu keluar samping, di area semi- outdoor yang remang-remang. Dia tidak sedang mengambil minum. Dia sedang menelepon. Tubuhnya menghadap ke dinding, bahunya tegang, dan tangan kirinya menjambak rambutnya sendiri—gestur yang hanya ia lakukan saat panik luar biasa.

Kakiku bergerak sendiri mendekatinya. Gaun panjangku menyapu lantai marmer, tapi langkahku tak bersuara.

"...beri aku waktu, Brengsek!"

Suara Adrian terdengar tertahan, mendesis penuh amarah. Aku berhenti di balik tirai beludru tebal, napas tertahan di tenggorokan.

"Tiga hari? Kau gila?!" Adrian mendesis lagi, kali ini suaranya bergetar. Bukan karena marah, tapi takut. "Jangan bawa-bawa istriku... Dengar! Kalau kau berani menyentuh sehelai rambutnya, aku akan—"

Hening sejenak. Adrian terdiam, seolah lawan bicaranya baru saja memotong kalimatnya dengan sesuatu yang mengerikan. Tubuh Adrian merosot, bersandar lemas ke dinding. Ponsel mahal di tangannya nyaris terlepas.

"Oke... Oke..." Suaranya kini terdengar seperti rintihan tikus yang terpojok. "Lima puluh miliar. Tiga hari. Aku akan cari caranya. Jangan bunuh aku."

Dunia di sekitarku terasa berputar.

Lima puluh miliar. Ancaman bunuh.

Pesta mewah di belakangku mendadak terasa seperti pemakaman. Musik orkestra yang merdu berubah menjadi lagu kematian. Aku melihat suamiku, pria yang selama ini kubanggakan sebagai Alpha Male yang sukses, kini tampak begitu kecil dan menyedihkan di bawah bayangan pilar.

Tiba-tiba, Adrian berbalik. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Matanya yang liar bertabrakan dengan mataku.

Untuk sedetik, aku melihat ketakutan murni di sana. Tapi sedetik kemudian, topeng itu kembali terpasang. Adrian memaksakan senyum yang terlihat lebih mirip seringaian kesakitan.

"El? Sejak kapan kamu di situ?" tanyanya, suaranya serak.

Aku menelan ludah, tenggorokanku kering. "Adrian... siapa yang menelepon? Apa maksudnya 'jangan bunuh aku'?"

Adrian melangkah cepat ke arahku, mencengkeram bahuku. Cengkeramannya kali ini sakit. Jari-jarinya menancap hingga ke tulang.

"Bukan siapa-siapa. Cuma salah paham bisnis," desisnya, matanya menyapu sekeliling dengan paranoid. "Jangan tanya apa-apa sekarang. Kembali ke dalam. Tersenyum. Lakukan tugasmu."

"Tapi, Adrian—"

"Masuk, Elena!" bentaknya tertahan.

Aku tersentak. Adrian tidak pernah membentakku di tempat umum. Tidak pernah.

Dia mendorong punggungku pelan namun tegas kembali ke arah cahaya ballroom. Kembali ke panggung sandiwara.

Saat aku melangkah dengan kaki gemetar kembali ke kerumunan tamu yang tertawa dan berdansa, satu hal menghantamku dengan keras: Suamiku bukan hanya sedang dalam masalah. Dia sedang tenggelam.

Dan dia baru saja menarikku ikut bersamanya ke dasar laut yang paling gelap.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status