تسجيل الدخولSatu tanda tangan. Satu malam. Lunas. Bagi suamiku, aku hanya aset untuk pelunasan. Bagi Cakra Dirgantara, aku adalah kemenangan. Tapi di balik pintu kamar terkunci, ia membuktikan aku bukan sekadar barang transaksi—dan tubuhku mengingatnya terlalu baik. Kini Adrian menagih haknya sebagai suami. Masalahnya… bagaimana caranya kembali pada pria yang menjualku, setelah aku tahu rasanya dimiliki oleh pria yang membuatku ketagihan?
عرض المزيدLampu kristal chandelier di ballroom Hotel Mulia itu membiaskan cahaya yang menyakitkan mata. Kilauannya jatuh tepat di atas gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuhku, membuatnya berkilau seolah aku adalah piala kemenangan yang baru saja dipoles.
Namun, di balik lapisan kain mahal itu, aku merasa seperti manekin etalase. Dingin. Kosong. Dan tak bernyawa.
"Senyum, El. Itu Pak Handoko, investor properti terbesar di Surabaya."
Bisikan Adrian menggelitik telingaku, hangat namun penuh tuntutan. Tangannya melingkar di pinggangku, meremas sedikit terlalu kencang. Bukan pelukan sayang, melainkan peringatan. Jangan permalukan aku.
Aku menarik sudut bibirku, menciptakan lengkungan yang sudah kulatih ratusan kali di depan cermin kamar mandi. Senyum 'Istri Bahagia'. Senyum yang menutupi fakta bahwa pernikahan kami yang baru menginjak tahun kelima ini sudah lama menjadi bangkai yang diberi parfum mahal.
"Selamat malam, Pak Handoko," sapaku. Suaraku terdengar stabil, terpelajar, persis seperti boneka ventriloquist yang dikendalikan tuannya.
Pria tua di hadapan kami tertawa renyah, matanya menyapu tubuhku dari ujung rambut hingga kaki dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan. "Adrian, kamu memang pemenang. Bisnis lancar, istri secantik bidadari. Apa lagi yang kurang?"
Adrian tertawa, suara baritonnya memenuhi ruangan. "Saya hanya beruntung, Pak. Elena adalah jimat keberuntungan saya."
Jimat keberuntungan.
Kata itu terasa asing di lidahku. Jika aku memang jimat, mengapa suamiku sendiri tidak pernah menyentuhku?
Sudah enam bulan sejak terakhir kali Adrian menyentuhku dengan hasrat. Bukan sekadar kewajiban lima menit yang berakhir dengan punggungnya yang berbalik memunggungiku, melainkan sentuhan yang membuat seorang wanita merasa diinginkan. Malam-malamku dihabiskan dengan menatap punggungnya yang naik-turun dalam tidur, sementara aku bertanya-tanya apa yang salah dengan tubuhku. Apakah aku terlalu kurus? Terlalu membosankan? Atau... aku memang wanita yang rusak?
"Sayang, aku mau ambil minum sebentar," Adrian berbisik lagi, membuyarkan lamunanku. Dia mengecup pipiku sekilas—ciuman panggung untuk dinikmati penonton—lalu melangkah pergi menuju bar.
Aku menghela napas panjang, bahuku sedikit merosot saat beban peran itu terangkat sejenak. Mataku menyapu ruangan pesta perayaan ulang tahun pernikahan kami yang megah ini. Bunga mawar putih impor di setiap meja, live music orkestra, dan ratusan tamu elit Jakarta. Semua ini tampak sempurna. Terlalu sempurna.
Seorang pelayan melintas membawa nampan tagihan ke arah manajer katering yang berdiri gelisah di sudut ruangan. Aku tidak bermaksud menguping, tapi posisiku di dekat pilar membuat suara mereka terdengar jelas di antara denting gelas.
"Maaf, Pak," ujar pelayan itu dengan suara rendah, menyerahkan mesin EDC. "Kartunya declined lagi. Kode 51. Insufficient funds."
Jantungku berhenti berdetak sejenak.
Manajer katering itu mengerutkan kening, menatap layar mesin dengan bingung. "Coba gesek sekali lagi. Ini kartu Platinum, masa limitnya habis? Pak Adrian bilang pestanya all out."
"Sudah tiga kali, Pak. Ditolak semua."
Darahku berdesir dingin. Adrian bilang bisnisnya sedang di puncak. Dia baru saja membeli mobil sport dua minggu lalu. Bagaimana mungkin kartu kreditnya ditolak untuk bayar katering?
Aku menoleh cepat mencari sosok Adrian di kerumunan. Dia tidak ada di bar.
Mataku menangkap bayangannya di dekat pintu keluar samping, di area semi- outdoor yang remang-remang. Dia tidak sedang mengambil minum. Dia sedang menelepon. Tubuhnya menghadap ke dinding, bahunya tegang, dan tangan kirinya menjambak rambutnya sendiri—gestur yang hanya ia lakukan saat panik luar biasa.
Kakiku bergerak sendiri mendekatinya. Gaun panjangku menyapu lantai marmer, tapi langkahku tak bersuara.
"...beri aku waktu, Brengsek!"
Suara Adrian terdengar tertahan, mendesis penuh amarah. Aku berhenti di balik tirai beludru tebal, napas tertahan di tenggorokan.
"Tiga hari? Kau gila?!" Adrian mendesis lagi, kali ini suaranya bergetar. Bukan karena marah, tapi takut. "Jangan bawa-bawa istriku... Dengar! Kalau kau berani menyentuh sehelai rambutnya, aku akan—"
Hening sejenak. Adrian terdiam, seolah lawan bicaranya baru saja memotong kalimatnya dengan sesuatu yang mengerikan. Tubuh Adrian merosot, bersandar lemas ke dinding. Ponsel mahal di tangannya nyaris terlepas.
"Oke... Oke..." Suaranya kini terdengar seperti rintihan tikus yang terpojok. "Lima puluh miliar. Tiga hari. Aku akan cari caranya. Jangan bunuh aku."
Dunia di sekitarku terasa berputar.
Lima puluh miliar. Ancaman bunuh.
Pesta mewah di belakangku mendadak terasa seperti pemakaman. Musik orkestra yang merdu berubah menjadi lagu kematian. Aku melihat suamiku, pria yang selama ini kubanggakan sebagai Alpha Male yang sukses, kini tampak begitu kecil dan menyedihkan di bawah bayangan pilar.
Tiba-tiba, Adrian berbalik. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Matanya yang liar bertabrakan dengan mataku.
Untuk sedetik, aku melihat ketakutan murni di sana. Tapi sedetik kemudian, topeng itu kembali terpasang. Adrian memaksakan senyum yang terlihat lebih mirip seringaian kesakitan.
"El? Sejak kapan kamu di situ?" tanyanya, suaranya serak.
Aku menelan ludah, tenggorokanku kering. "Adrian... siapa yang menelepon? Apa maksudnya 'jangan bunuh aku'?"
Adrian melangkah cepat ke arahku, mencengkeram bahuku. Cengkeramannya kali ini sakit. Jari-jarinya menancap hingga ke tulang.
"Bukan siapa-siapa. Cuma salah paham bisnis," desisnya, matanya menyapu sekeliling dengan paranoid. "Jangan tanya apa-apa sekarang. Kembali ke dalam. Tersenyum. Lakukan tugasmu."
"Tapi, Adrian—"
"Masuk, Elena!" bentaknya tertahan.
Aku tersentak. Adrian tidak pernah membentakku di tempat umum. Tidak pernah.
Dia mendorong punggungku pelan namun tegas kembali ke arah cahaya ballroom. Kembali ke panggung sandiwara.
Saat aku melangkah dengan kaki gemetar kembali ke kerumunan tamu yang tertawa dan berdansa, satu hal menghantamku dengan keras: Suamiku bukan hanya sedang dalam masalah. Dia sedang tenggelam.
Dan dia baru saja menarikku ikut bersamanya ke dasar laut yang paling gelap.
Di bawah sorot lampu ring light yang terlalu terang, aku menatap pantulan wajahku di cermin besar salon langganan para sosialita Jakarta itu. Wanita di cermin itu tampak sempurna. Rambut hitam legamnya telah di-blow bergelombang, kulitnya dipulas bedak mahal hingga pori-porinya lenyap, dan bibirnya dipulas merah marun yang bold.Cantik. Sangat cantik.Tapi matanya mati. Seperti mata ikan yang sudah dibekukan di freezer supermarket."Sempurna, Bu Elena," puji stylist salon itu dengan nada riang yang palsu, sambil menyemprotkan hairspray terakhir. "Pak Adrian pasti makin lengket kalau lihat Ibu begini."Aku ingin tertawa mendengarnya. Tawa histeris yang menyakitkan. Kalau saja dia tahu bahwa suamiku mendandaniku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk disajikan di atas piring perak bagi pria lain.Adrian muncul dari ruang tunggu. Dia sudah mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos polo kasual, tapi matanya masih menyimpan kegelisahan yang sama. Dia berdiri di belakang kursiku, menatap
Ruangan rapat di lantai 40 gedung perkantoran elit SCBD itu terasa seperti ruang operasi: steril, dingin, dan berbau kematian. Dinding kacanya menyajikan pemandangan langit Jakarta yang kelabu, sekelabu perasaanku saat ini.Aku duduk di kursi kulit hitam yang terlalu besar, merasa kerdil. Di hadapanku, sebuah dokumen setebal dua sentimeter tergeletak di atas meja marmer yang mengilap. Judulnya tertulis dengan huruf kapital tebal: PERJANJIAN PENYELESAIAN UTANG PIUTANG & KESEPAKATAN KERAHASIAAN (NDA).Di sebelahku, Adrian duduk dengan kaki bergoyang gelisah. Dia sudah mengenakan setelan jas baru—topeng retaknya sudah ditambal—meski lebam di pipinya masih terlihat jelas di bawah lapisan foundation tipis."Silakan dibaca poin-poin krusialnya, Bu Elena," ujar pria di hadapan kami.Pengacara itu—sebut saja dia Pak Anwar—memiliki wajah datar tanpa emosi, seolah dia sedang mengurus jual-beli tanah, bukan jual-beli manusia. Dia mendorong dokumen itu ke arahku dengan ujung jari.Aku menatap ker
Angin malam menerobos masuk lewat pintu balkon yang terbuka lebar, mengibarkan gorden putih seperti kain kafan yang menari-nari. Namun, dinginnya angin itu tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di tulang punggungku saat melihat pemandangan di hadapanku.Adrian berdiri di tepi pagar balkon lantai dua puluh. Tubuhnya condong ke depan, menatap kegelapan kota di bawah sana. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan mata pisau lipat itu tepat ke kulit lehernya sendiri.Darah segar menetes. Merah. Kental. Nyata."Adrian... jangan!" jeritku parau. Kakiku lemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. "Turunkan pisaunya! Demi Tuhan, turunkan!"Adrian menoleh perlahan. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat, matanya liar seperti binatang yang terperangkap."Untuk apa aku hidup, El?" suaranya pecah, bersaing dengan deru angin. "Kalau besok aku akan mati dipotong-potong rentenir, lebih baik aku mati malam ini di tangan sendiri. Setidaknya aku mati dengan sisa harga diri yan
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Detik jarumnya terdengar seperti palu godam di keheningan kamar tidur utama yang luas ini. Aku duduk di tepi ranjang, meremas jemariku yang dingin, masih mengenakan gaun tidur satin yang kupakai sejak pulang dari pesta terkutuk itu.Adrian belum pulang.Bayangan dia dihajar preman atau diculik rentenir terus berputar di kepalaku. Aku ingin menelepon polisi, tapi Adrian melarang keras. Jangan lakukan apa pun, katanya lewat pesan singkat terakhir.Tiba-tiba, suara kunci pintu digital berbunyi. Bip-bip-bip-klik.Pintu kamar terbuka perlahan. Adrian masuk.Penampilannya berantakan. Jasnya hilang, kemeja putihnya kusut dengan noda darah samar di kerah, dan wajahnya... Ya Tuhan. Sudut bibirnya sobek, pipi kirinya lebam ungu kehitaman. Dia berjalan tertatih, menyeret satu kakinya seolah menahan sakit luar biasa."Adrian!" Aku melompat dari ranjang, berlari menghampirinya.Adrian langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Berat. Dia memelukku begitu er


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.