LOGINShopia tidak mengerti, mengapa Arkana belum menyampaikan fakta yang ada pada Serena. Namun mengetahui ini, membuat Shopia bisa mengundang hati sahabat baiknya itu. Dengan fakta itu, Serena bisa kehilangan seluruh pijakan pastinya saat ini.Mengetahui bahwa suaminya telah berselingkuh, akan membuat Serena kembali ke titik terbawahnya."Menurutmu, kenapa Arkana tidak memberitahumu? Apakah dia merasa kasihan padamu? Atau mungkin, dia merasa bahwa Vito lebih penting dari dirimu? Maka dari itu, dia menjaga ketat rahasia itu?" tanya Shopia tersenyum lebar."Kenapa kamu mengatakan seakan kamu memiliki bukti akan hal itu?" tanya Serena balik dengan wajah serius."Aku tidak peduli jika memang kamu tidak mempercayaiku, tapi memang itulah fakta yang ada. Arkana, dia yang akan membantumu menyelesaikan ini. Dan dia juga yang akan menutupi seluruh kebusukan Vito darimu. Tanpaku, kamu tidak akan tau betapa busuknya suamimu di belakangmu selama ini," jawab Shopia.Serena benar-benar kebingungan saat
Shopia mendapatkan panggilan dari Serena. Sebelumnya, Shopia berpikir bahwa Serena akan mengundangnya untuk makan malam dan menginap di apartemennya. Namun saat bertemu dengan Serena dan melihat tatapan sahabat perempuannya itu, Shopia sadar bahwa pertemuan kali ini bukan untuk melepaskan rasa rindu di antara mereka.Serena tidak membawa Shopia ke dalam unit apartemennya. Pertemuan mereka terjadi di sky garden yang di mana pada jam itu, tidak akan ada seorang pun datang ke sana. Sehingga Serena bisa mengatakan apapun yang ada di pikirannya tanpa harus menahan diri ataupun khawatir merendahkan harga diri Shopia di hadapan orang lain."Bagaimana aku harus memulainya? Aku khawatir melukai perasaanmu," ujar Serena kebingungan."Bagaimana kalau begini? Menjauhlah dari kehidupan kekasihku," jawab Serena menatap serius wajah Shopia."Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan," jelas Shopia memaksakan senyumannya supaya suasana tidak terlalu mencekam untuknya."Saat kamu mengatakan in
Arkana pulang lebih cepat dari kantor. Bukan karena fisiknya yang masih lemah. Namun karena tiba-tiba saja Serena ingin pulang. Dan sesampainya di apartemen, Serena hanya diam seribu bahasa. Tidak mengatakan apapun, dari perjalanan pulang sampai ke apartemennya.Serena duduk diam di sofa. Menatap ke arah televisi yang sedang menayangkan sebuah berita. Dan tatapannya beralih saat ada sebuah gelas yang melayang tepat di dekat wajahnya.Saat wajahnya berpaling dari televisi, ia melihat Arkana menggunakan kemeja putih sedang mengulurkan sebuah gelas berisikan susu putih hangat ke arah Serena."Minumlah. Kamu sudah bekerja keras hari ini," jawab Arkana dengan tenang."Apa kamu menambahkan gula di dalamnya?" tanya Serena mengambil gelas putih itu."Tidak. Kemarin sebelum tidur, kamu mengatakan ingin mengurangi gula. Jadi aku membuatnya tanpa memberikan gula tambahan," jawab Arkana duduk di samping Serena. Mengisi bagian sofa yang sebelumnya kosong."Aku rasa, otakmu bekerja dengan benar," j
Shopia kembali menemui Arkana. Bukan di apartemen ataupun restoran. Melainkan di perusahaan. Shopia berkunjung secara diam-diam. Memastikan Serena tidak mengetahui keberadaannya, karena perempuan itu pasti akan mengacaukan rencananya jika tau maksud dari kedatangannya adalah untuk mencoba mendekati Arkana.Arkana dan Shopia duduk di halaman perusahaan. Di bawah pohon besar yang di sekitar pangkal pohonnya disemen untuk dijadikan sebagai tempat duduk. Arkana dengan sekaleng kopi di tangannya. Dan Shopia dengan sebatang cokelat di tangannya. "Sejauh mana kita bicara malam itu?" tanya Shopia sedikit kebingungan harus mulai bercerita dari mana."Serena yang meredam seluruh kebencianku," jawab Arkana menatap permukaan kaleng kopi miliknya."Ah, sampai sana," jawab Shopia mengangguk pelan."Sebelumnya kamu bergerak atas rasa bencimu. Kamu melakukan apapun untuk bisa mencapai tujuanmu, balas dendam. Kamu bergerak dengan cepat dan hati-hati saat itu. Tapi, sekarang kamu terlihat berjalan ter
Pertemuan tidak terjadi di club malam yang telah disiapkan oleh Shopia. Arkana menolak untuk datang ke tempat ini. Namun, Arkana memberikan pilihan tempat lain. Sebuah restoran yang juga menyediakan miras. Shopia sebenarnya tidak tertarik dengan miras yang dijual oleh restoran itu. Namun melihat ini adalah salah satu kesempatan untuk bisa berbicara dan menjalin kesepakatan dengan Arkana, maka Shopia mau menyia-nyiakan."Aku tidak terlalu menyukai tempat seperti ini," keluh Shopia melihat restoran itu jauh dari ekspektasinya."Itu karena kamu selalu menghabiskan hidupmu di tempat mewah," balas Arkana duduk di samping Shopia."Bukankah kamu melakukan hal yang sama? Tidak mungkin, Vito hanya memberikanmu sedikit uang dengan segala banyak pekerjaan yang kamu lakukan," tanya Shopia memandang Arkana."Aku tidak suka mencolok. Aku menjalani kehidupanku dengan sederhana," balas Arkana.Arkana dan Shopia duduk bersebelahan. Menghadap ke arah jendela. Menatap orang-orang yang berlalu lalang de
Arkana meminum habis satu gelas air putih di tengah kegelapan rumah. Matahari sudah terbenam sejak lama. Arkana keluar dari kamar setelah memastikan Serena sudah tertidur. Dan mengingat jam sudah menunjukkan pukul 23.32, membuat Arkana sangat yakin bahwa perempuan itu tidak akan terbangun dalam waktu dekat. Membuatnya bisa keluar kamar untuk menghilangkan rasa dahaganya.Rumah besar yang sudah lama tidak dihuni itu, kembali digunakan karena Serena meminta Shopia menginap di rumahnya. Untung saja, sejak dini hari, Arkana sudah membayar beberapa orang untuk membersihkan serta merapihkan bagian dalam rumah itu. Sehingga saat mereka datang, rumah itu sudah siap untuk ditinggali."Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya seorang wanita dari belakang tubuh Arkana.Arkana tubuh Arkana saat mendengar itu. Matanya membulat sempurna. Dan tangannya menggenggam gelas lebih erat dari sebelumnya.Bukan Serena. Arkana bisa paham dari suara yang ia dengar. Shopia. Y







