LOGINSerena mendapati kejanggalan dari kematian mendiang suaminya. Membuatnya curiga bahwa ada seseorang yang mencoba menghancurkan keluarganya. Sampai di titik di mana ia menemukan seorang laki-laki yang selama ini diberikan kepercayaan oleh mendiang suaminya untuk mengurus perusahaan yang ada di luar negeri. Laki-laki yang akan menjaga Serena dan menggantikan posisi Vito dalam kehidupan Serena.
View MoreSerena menatap kosong foto mendiang suaminya yang masih ia simpan tepat di atas nakas samping kasurnya. Menurut Serena, ada yang janggal dengan kematian Vito. Selama dua tahun ia menikah dengan laki-laki kaya raya itu, ia tidak pernah menemukan tanda-tanda bahwa suaminya itu memiliki penyakit jantung. Dan dua hari lalu, suaminya itu ditemukan tak sadarkan diri di kantornya.
Yang menjadi titik keanehannya dokter yang bertugas mengatakan bahwa suaminya mengalami kematian karena jantungnya berhenti secara mendadak. Serena sudah mencari tau tentang segalanya tentang kejanggalan itu. Memeriksa CCTV kantor, mengintrogasi beberapa orang yang dekat dengan mendiang suaminya, dan bahkan membayar kepolisian untuk segera mengusut tuntas permasalahan itu. Namun tidak ada satupun tanda-tanda bahwa kejanggalan itu akan terkuak. Saat sedang terdiam, Serena mendengar suara nada dering dari ponselnya. Membuat Serena tersadar dan langsung mengambil benda pipih itu. Ia melihat ada panggilan masuk dari Venus, salah satu petinggi kepolisian. "Apakah ada kabar baik?" tanya Serena sesaat setelah menjawab sambungan telepon itu. "Maaf sebelumnya, saya belum mendapatkan bukti apapun," jawab Venus dari seberang. "Namun, saya rasa, ada satu orang yang bisa membantu Anda dalam kasus ini," lanjut Venus menatap layar komputer yang ada di hadapannya. "Benarkah? Siapa orangnya?" tanya Serena bangkit dari kasurnya. "Arkana Nebula. Dia adalah tangan kanan suami Anda yang dikirim keluar negeri satu tahun lalu. Dia yang mengatur dan memimpin perusahaan milik suami Anda yang ada di luar negeri selama ini. Namun saya tidak bisa mengakses data lebih dalam karena sepertinya suami Anda sudah membayar orang untuk menutupi segala informasi tentangnya. Saya rasa, ada beberapa dokumen tentangnya di ruang kerja suami Anda," ujar Venus. Arkana Nebula. Nama yang asing. Serena tidak pernah mendengar suaminya menyebutkan nama itu. Dan suaminya tidak pernah mengenalkannya padanya. Namun itu adalah salah satu petunjuk yang ada sekarang. Membuat Serena berpikir bahwa jika seandainya ia bisa menemukan keberadaan orang itu, maka ada seseorang yang bisa membantunya. "Kabari aku saat ada kabar baru," ujar Serena mematikan sambungan telepon. Serena keluar dari kamar. Melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang letaknya ada di sudut. Ruangan kerja Vito. Sebelumnya Serena tidak mau masuk ke sana karena berpikir bahwa itu adalah ruangan yang membosankan. Karena hanya ada komputer dan beberapa dokumen usang di sana. Namun siapa sangka, Serena akan masuk ke sana sekarang. Serena masuk ke dalam ruangan itu. Menyalakan lampu dan melihat beberapa dokumen yang tertata rapi di rak buku. Meja, kursi, dan komputer yang berada di tengah-tengah ruangan. Serena berjalan menuju ke arah meja kerja. Duduk di atas kursi dan meraih beberapa dokumen yang tergeletak di atas meja kerja. "Sepertinya bukan ini," gumam Serena saat melihat beberapa dokumen itu terdapat nama perusahaan milik suaminya. Serena menatap ke arah rak buku. Ada banyak kertas dan dokumen di sana. Jika memang di sana, maka itu artinya Serena membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk Serena menemukan apa yang ia cari. "Ah, yang benar saja," keluh Serena menyandarkan punggungnya pada kursi. Saat itu Serena melihat ke arah laci. Tanpa alasan yang jelas Serena membuka laci itu. Tidak banyak barang yang ada di sana. Hanya ada bolpoin, sticky notes dan sebuah foto. Serena mengambil sticky notes yang ada di sana. Namun kening Serena mengkerut saat menyadari bahwa tulisan yang ada di sticky notes itu bukanlah tulisan suaminya. Serena tau betul bagaimana bentuk dari tulisan tangan Vito. Dan menurutnya itu tulisan tangan orang lain. Tidak ada satupun tulisan yang dapat Serena mengerti, karena tulisan itu menggunakan bahasa asing. Namun saat sedang membalikkan satu-persatu sticky notes itu, Serena menemukan sebuah alamat rumah. "Apakah ini tempatnya?" tanya Serena mengambil ponsel miliknya. "Ayolah angkat," desak Serena saat menelepon asisten pribadi suaminya. Tidak lama pemilik nomor dengan nama Violet itupun menjawab sambungan telepon yang ada. "Halo, Violet. Bisakah kamu memesankanku hotel dan pesawat di Jerman?" tanya Serena dengan cepat. "Tentu saja saya bisa memesankannya. Anda hanya perlu mengatakan kapan akan berangkat, di mana kotanya, dan sampai kapan Anda akan berada di sana. Saya akan mengatur segalanya untuk Anda," jawab Violet. "Aku ingin pergi ke Kota Hannover. Selama seminggu," balas Serena menatap alamat yang ada di sticky notes. "Seminggu? Mohon maaf sebelumnya, bukankah itu terlalu lama? Anda harus menghadiri beberapa acara penting menggantikan mendiang Tuan Vito. Dan ada beberapa dokumen kantor yang harus Anda tanda tangani," jelas Violet. Serena diam sejenak. Benar apa yang dikatakan oleh sekertaris suaminya itu. Ia tidak memiliki waktu sebanyak itu. Perusahaan yang ditinggalkan oleh suaminya, harus ia pimpin. Jika tidak, maka semua perusahaan itu akan jatuh ke jurang kehancuran. "Berapa waktu yang aku miliki?" tanya Serena dengan wajah serius. "Tiga hari," jawab Violet. "Itu sudah cukup. Siapkan pesawat dan tempat tinggal ku selama aku berada di sana," ujar Serena. "Sesuai perintah Anda. Saya akan menyiapkan pesawat pribadi dan hotel selama Anda berada di Jerman," balas Violet mengulang perintah yang akan ia kerjakan. Serena mematikan sambungan telepon. Menyalakan komputer yang ada di hadapannya. Jerman. Itu adalah kata kuncinya. Jika seandainya Serena bisa menemukan catatan tentang negara itu. Serena akan mendapatkan garis besar yang akan mengantarkannya pada seseorang yang selama ini telah membantu suaminya dalam balik layar.Arkana meminum habis satu gelas air putih di tengah kegelapan rumah. Matahari sudah terbenam sejak lama. Arkana keluar dari kamar setelah memastikan Serena sudah tertidur. Dan mengingat jam sudah menunjukkan pukul 23.32, membuat Arkana sangat yakin bahwa perempuan itu tidak akan terbangun dalam waktu dekat. Membuatnya bisa keluar kamar untuk menghilangkan rasa dahaganya.Rumah besar yang sudah lama tidak dihuni itu, kembali digunakan karena Serena meminta Shopia menginap di rumahnya. Untung saja, sejak dini hari, Arkana sudah membayar beberapa orang untuk membersihkan serta merapihkan bagian dalam rumah itu. Sehingga saat mereka datang, rumah itu sudah siap untuk ditinggali."Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya seorang wanita dari belakang tubuh Arkana.Arkana tubuh Arkana saat mendengar itu. Matanya membulat sempurna. Dan tangannya menggenggam gelas lebih erat dari sebelumnya.Bukan Serena. Arkana bisa paham dari suara yang ia dengar. Shopia. Y
Sudah cukup lama, Serena tidak bertemu dan berbicara dengan Shopia. Dan kali ini, mereka bisa bertemu kembali setelah sekian lama fokus pada urusan mereka masing-masing. Pada sore menjelang malam ini, Serena dan Shopia bertemu di sebuah restoran. Arkana juga ada di sana. Namun laki-laki itu memilih untuk tidak duduk bersama mereka. Laki-laki itu memilih berdiri di depan restoran. Terlihat sibuk dengan panggilan masuk dari salah satu orang penting dari perusahaan yang mulai membahas beberapa masalah yang harus mereka selesaikan dalam waktu cepat. "Bagaimana dengan kondisinya? Aku membaca berita tentang penusukan saat itu," tanya Shopia melihat sosok Arkana dari balik tembok kaca restoran. "Masih dalam pemulihan," ujar Serena mulai memegang gelas berisikan minuman hangatnya. "Butuh lebih dari satu minggu untuk lukanya benar-benar mengering. Setidaknya sebelum bulan berganti, aku ingin dia lebih banyak menggunakan waktunya unt
Serena keluar dari kamar mandi. Dengan bagian rambutnya yang masih sangat basah dan tubuhnya terbalut oleh jubah mandi yang berwarna putih bersih, ia melihat ke arah kamarnya yang terlihat sangat sepi. Seseorang yang seharusnya ada di sana, kini pergi entah ke mana.Serena sempat memandang ke arah balkon kamarnya, namun tidak ada orang itu di sana. Membuat Serena berpikir bahwa kemungkinan besar laki-laki itu sedang berada di luar. Membuat Serena mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu.Dan baru saja keluar dari kamar, Serena dapat menemukan apa yang ia cari. Laki-laki itu sedang duduk di atas meja dengan tangan memegang sebuah gelas berisikan teh hangat sedangkan tangan kirinya memegang sebuah ponsel. Arkana terlihat sangat fokus dengan layar benda pipih itu."Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Serena tidak beralih dari tempatnya berdiri. Masih di depan pintu kamarnya."Hanya menikmati teh hangat," ja
Serena duduk nyaman, bermalas-malasan di atas sofa. Setelah sekian lama, akhirnya ia kembali lagi ke apartemen. Jerman memang terasa menyenangkan, ada banyak makanan yang ia coba untuk pertama kalinya, ada banyak hal baru yang ia temui, namun tetap saja apartemennya adalah tempat paling ternyaman untuknya. Karena di sana, ia bisa bersantai tanpa harus memikirkan apapun.Saat Serena sedang bersantai di atas sofa, Serena tidak sengaja melihat Arkana yang sedang berjalan menuju kamar membawa koper."Hei, Arkana," tegur Serena tepat setelah Arkana membuka pintu kamarnya sendiri."Kenapa?" tanya Arkana berbalik menatap Serena."Apa yang sedang ingin kamu lakukan?" tanya Serena menunjuk Arkana."Apa yang sedang ingin aku lakukan? Bukankah sudah jelas ingin memasukkan kembali pakaianku ke dalam lemari kamarku?" tanya Arkana dengan kening mengkerut."Tidak-tidak," tolak Serena."Masukkan bajumu ke lemari kamarku. Bukankah kita s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.