LOGIN“Dok, itu tadi siapa sih? Nyebelin banget. Udah kayak orang hebat aja,” geram suster yang sejak tadi menemani Nadira.“Emang orang hebat kali. Orang have,” jawab Nadira menahan kesal.Baru kali ini di direndahkan oleh keluarga pasien sampai di larang memeriksa pasiennya.Tentu saja harga diri Nadira terluka, dengan perlakuan kasar Agnes yang meragukan keterampilannya.“Pasien kelas satu aja gayanya minta ampun. Padahal VVIP aja gak gitu ya, Dok,” geram suster itu.“Mana minta dirawat sama Dokter Arjuna dan Dokter Raka. Dih! Emang dia siapa?” Suster iti terus menggerutu.Nadira menoleh sebentar ke suster di belakangnya. “Udah, biarin aja. Jangan lupa bawa darahnya ke lab dan bilang ke Dokter Ilham ya,” pesan Nadira.“Baik, Dok. Akan saya sampaikan semua hasilnya nanti ke Dokter Ilham.”Nadira mengangguk. Mereka kembali berjalan bersama menuju ke lift yang akan membawa mereka turun.Saat di dalam lift, Nadira mendapat panggilan dari Raka. Ibu hamil itu keluar dari lift lebih dulu, karen
“Loh ... kamu kan—““Kamu ... kamu istrinya Arjuna kan?” tanya Agnes yang juga mengenali Nadira.“Bu Agnes,” ucap Nadira yang juga mengenali teman lama suaminya.Agnes melihat ke suster yang ada di samping Nadira. Matanya bergerak liar, seperti ada yang sedang dia cari.Mata Agnes kembali melihat Nadira. “Kamu sendiri di sini? Mana dokternya?” tanya Agnes.“Dokter? Saya dokternya, Bu,” jawab Nadira.“Kamu? Gak! Saya gak mau ditangani sama residen kayak kamu. Saya gak mau mama saya nanti makin sakit gara-gara dokter gak pengalaman.”“Maaf Bu, tapi Dokter Nadira ini pengalamannya sudah banyak, Bu,” ucap suster itu membela Nadira.“Meski udah banyak pengalaman, tetap aja dia belum resmi jadi dokter spesialis.”Agnes melihat ke suster itu. “Denger ya, saya sengaja pindahin mama saya ke sini itu biar di rawat oleh dokter terpercaya yang saya kenal!” tegas Agnes.“Maaf Bu, kalo Ibu tidak berkenan jika saya yang memeriksa mama Anda. Tapi yang pasti saya di sini juga berdasarkan perintah,” uc
“Pa Dok, liat ini,” ucap Nadira sambil menunjukkan ponselnya ke sang suami.Arjuna melihat ponsel istrinya. Dia melihat sebuah foto yang tergambar di sana.“Apa ini? Kayaknya ini rumah ya?” tanya Arjuna mencoba menebak.“Iya. Itu rumah kayaknya.” Nadira melihat ke suaminya. “Pa Dok, gak ngenalin rumah itu?”Arjuna diam sambil menggerakkan kepalanya, mencoba mengenali gambar di ponsel istrinya.Tapi meski dia sudah melihatnya beberapa kali, tetap saja dia tidak mengenalnya.“Rumah siapa sih ini?” tanya Arjuna menyerah.Arjuna melihat ke istrinya lalu memberikan ponsel itu kepadanya. “Emang kamu dapet ini dari mana?” tanyanya lagi.Nadira melihat ke suaminya. “Dari story IG nya Bu Sinta. Ini bari diposting kemarin loh.”“Story-nya Sinta? Kamu berteman sama dia?” tanya Arjuna kaget.Nadira langsung menggeleng. “Enggak. Aku aja gak sengaja tau kok.”“Trus, gimana kamu bisa tau.”Nadira mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi instagramnya lalu menunjukkan di mana dia menemukan akun Sinta
“Siapa, Jun? Dari mereka lagi?” tanya Wisnu sambil sedikit melirik ke arah sahabatnya.“Bukan. Nadira kok.”“Ya, Sayang. Ada apa?” sapa Arjuna saat menerima panggilan telepon istrinya.“Pa Dok ... Pa Dok udah pulang? Udah selesai belum?” tanya Nadira di seberang sana.“Udah. Ini udah di jalan, mau pulang. Ada apa?”“Hmm ....” Nadira ragu ingin mengatakan apa yang dia inginkan.“Mau apa? Pengen sesuatu?” tanya Arjuna sabar karena sudah hafal dengan tingkah istrinya.Nadira tersenyum sendiri. “Pengen makan sate,” jawab Nadira malu.“Sate?” Arjuna menoleh ke Wisnu. “Wis, ibu hamil boleh gak sih makan sate? Kan di bakar itu?” tanya Arjuna pada sahabatnya.“Boleh aja sih, asal gak banyak. Ato beli taican aja,” jawab Wisnu.“Beli sate taican aja ya?” tanya Arjuna kembali pada obrolannya dengan sang istri.“Maunya sate yang dibakar itu, Pa Dok.” Nadira mengusap perutnya.Arjuna diam sebentar. “Ya udah gini aja, aku beliin, tapi nanti kamu ambilnya dikit aja. Bumbunya aja diambil trus di maka
“Sinta?? Maksud kamu Sinta yang lakuin ini???” tanya Mahendra tidak suka putrinya selalu di tuduh.Arjuna langsung menoleh ke Wisnu. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu akan mengatakan hal itu.Suasana yang tadinya santai, mendadak menjadi sangat tegang.Wisnu yang ingin mengutarakan dugaannya, kini jadi tidak enak sendiri. Mahendra sangat tidak menerimanya, apa lagi dengan kabar kalau Sinta sedang sakit.“Mas, maksud kamu apa? Kenapa kamu nuduh Sinta yang lakukan ini?” tanya Dina.“Setau aku, Sinta bukan orang yang tertarik sama manajemen rumah sakit. Makanya dia sampai ikhlas kalau Mas Arjuna yang gantiij Om Mahendra,” lanjut Dina.“Emm ... maksudku bukan gitu. Aku gak nuduh Sinta yang lakukan itu. Aku cuma nanya aja,” jawab Wisnu mencoba kembali mencairkan ketegangan.Mahendra melihat ke Wisnu dengan tatapan tidak suka. “Meski Sinta gak suka sama Nadira, tapi untuk yang satu ini, saya percaya Sinta gak melakukannya!” Mahendra membela putrinya.“Dia udah tenang sekarang dan gak
“Mas Arjuna,” sapa seorang wanita yang menyambut kedatangan Arjuna dan Wisnu di rumah Mahendra.Alis Arjuna berkerut. “Dina. Kok kamu di sini?” tanya Arjuna yang kaget melihat kehadiran sepupu mantan istrinya di rumah itu.“Ada urusan, Mas. Masuk yuk, Mas udah ditunggu sama Om Mahendra.”Dina membuka pintu lebih lebar. Mempersilakan tamu Mahendra masuk.“Duduk dulu, Mas. Aku panggilin Om Mahendra dulu,” pamit Dina.Arjuna hanya mengangguk. Dia kemudian mengajak Wisnu duduk di sofa ruang tamu.Wisnu yang sedari tadi diam, mendekat ke Arjuna. “Jun, itu bukannya sepupunya Sinta ya?” tanya Wisnu.“Iya.”“Bukannya dia tinggal di Amerika ya?”“Iya. Terakhir yang aku denger juga dia di sana.”“Trus, kok dia di sini sekarang?”“Mana aku tau!”Arjuna yang juga tidak mengetahui alasan Dina kembali ke Indonesia.“Hmm ... jangan aja dia mau deketin kamu lagi. Dulu kan dia ditendang Sinta. Mungkin aja dia tau kalo kamu cerai ama Sinta terus mau deketin kamu lagi.” Wisnu memprediksi kehadiran Dina
“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar perm
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika







