Chapter: Bab 158Deg!Langkah Nadira seketika terhenti saat dia mendengar apa yang dikatakan Sinta. Rasanya, apa yang dia khawatirkan selama ini benar terjadi.Nadira berbalik. Dia sekali lagi menatap ke arah Sinta yang berdiri di tempatnya dan melihat ke arahnya juga.Nadira menatap wajah Sinta dalam-dalam. Mencoba mencari tahu tentang kebenaran yang baru saja dia dengar.Sinta menatap Nadira. Dia sangat tahu, kalau tingkat empati dokter muda itu masih lebih tinggi dan tulus dari pada Arjuna.Sinta mengubah mimik wajahnya. Tatapan garang itu sudah menghilang, berganti dengan tatapan memelas yang sangat terlihat dengan usaha keras dia pasang.“Nad, saya sakit. Itu alasan saya minta kamu bantu saya buat bujuk Juna. Saya butuh orang buat nemenin saya,” ucap Sinta penuh permohonan.Nadira tidak menjawab. Dia masih berdiri diam, tanpa suara.Nadira sedang mencari kebenaran ucapan Sinta lewat sikap dan sorot matanya.Panca yang juga mendengar ucapan Sinta, segera berjalan mendekat ke arah Nadira.“Bu, gak
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: Bab 157“Minta tolong? Minta tolong apa?” tanya Nadira.Tatapan Nadira kini berubah jadi tatapan penuh kewaspadaan. Aroma dari pertemuan ini sepertinya sudah tidak baik.Sinta tersenyum tipis. Tapi senyumnya itu lebih mirip dengan seringai meledek, setelah melihat reaksi Nadira.Sinta kembali melihat ke Nadira. “Santai aja. Saya gak akan minta kamu gugurkan kandungan kamu. Duduklah,” ucap Sinta memberikan jaminan.“Gak perlu basa-basi, Bu. Bilang aja, Bu Sinta butuh apa dari saya?”“Duduk dulu. Apa kamu pikir sopan kamu bicara sama orang yang lebih tua tapi kamu berdiri?” tegur Sinta.Mimik wajah Sinta berubah ketus. “Ato kamu sudah beranggapan kalo derajat kamu lebih tinggi dari saya setelah Arjuna nikahin kamu?”Sekali lagi teguran dari Sinta keluar. Kata-kata wanita itu selalu pedas di telinga Nadira.Nadira diam. Ada penyesalan di dalam hatinya, kenapa dia tadi masih sempat memikirkan kalau Sinta mungkin berubah.Wanita itu tetap saja memakinya, meski tidak dengan teriakan.Demi menjaga k
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: Bab 156.Mendengar apa yang dikatakan sopirnya, Nadira langsung menoleh dengan cepat.Dan benar saja, di depannya saat ini sudah berdiri seorang wanita dengan setelan mahal di belakang keranjang belanjanya.Nadira menatap Sinta yang berdiri berseberangan dengannya. Wanita itu juga tengah melihat ke arahnya.Tatapan yang biasanya sangat angkuh dan penuh dengan aroma kesombongan itu entah kini ada di mana. Tatapan Sinta tidak terlihat seperti biasanya.Tatapannya datar, sampai Nadira sendiri bingung dengan apa yang dipikirkan oleh wanita itu.Sinta menatap Nadira. Tatapannya turun ke perut Nadira yang terlihat lebih membuncit.Kehidupan wanita itu juga terlihat sangat jauh berbeda dari saat dia temukan dulu.Pakaiannya terlihat lebih mahal dan rapi. Penampilannya juga berubah, meski tidak dengan harga fantastis seperti dirinya.Tatapan Sinta beralih ke Panca yang dengan setia menemani Nadira berbelanja.Dia tahu, pasti mantan pekerja di rumahnya itu memilih ikut dengan Arjuna dan istri barunya.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-12
Chapter: Bab 155.“Bu Sinta?”Ningsih terlihat berpikir sebelum dia menjawab pertanyaan majikannya.Ningsih menatap ke Nadira. “Hmm ... kayaknya sebelum pindah ke rumah Pak Mahendra itu, Bu Sinta sempat sakit deh Bu di rumah,” jawab Ningsih.“Sakit apa?”“Badannya anget dan gak mau makan. Beliau juga di rumah aja, gak ngapa-ngapain.”“Kalo gak salah itu gak lama setelah Pak Dokter ambil barangnya di rumah, Bu,” lanjut Ningsih.Nadira diam dan berpikir. Sepertinya Sinta hanya sakit karena stres.Mungkin depresinya masih terjadi dan itu membuat kondisi badannya menurun.Sepertinya benar kata sang suami, dia tidak perlu khawatir tentang Sinta lagi.Nadira mengangguk pelan lalu meminum teh di tangannya.“Bu Sinta udah lama pindah ke rumah Pak Mahendra?” tanya Nadira lagi.“Udah, Bu. Udah hampir dua mingguan. Tapi sebagian barangnya masih ada di sana.”“Gak pernah datang lagi?”“Beberapa hari lalu datang, mau ambil barang. Saya sekalian pamit dan di kasih pesangon.”“Bu Sinta sehat kan?”“Sehat kok, Bu. Bah
Terakhir Diperbarui: 2026-09-12
Chapter: Bab 154.“Nad, kamu kenal Sarah?” tanya Arjuna pada istrinya.Nadira tersadar dari lamunannya. Wanita hamil itu menoleh ke suaminya.Bukannya menjawab, Nadira malah kembali melihat ke Sarah.Sarah yang sedang berdiri di depan Nadira pun ikut bingung. Dia menoleh ke Arjuna dan suaminya secara bergantian.Sarah melihat ke Nadira. “Kenapa? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Sarah.Nadira tersenyum lalu menunduk. “Maaf, Bu. Saya ... saya hanya keinget sama temen saya. Orangnya mirip sama Bu Sarah. Maaf, kalo bikin gak nyaman,” jawab Nadira merasa tidak enak.Sarah tersenyum. “Gak papa. Emang kamu keinget siapa?” tanya Sarah ramah sambil duduk di samping Wisnu.“Emang temen kamu mukanya mirip ama istri saya, Nad?” tanya Wisnu.Nadira menoleh ke pasangan pemilik rumah. “Mirip, Pak. Sekilas mirip banget, saya sampe langsung inget.”“Emang temen kapan? Saya gak pernah tau kamu akrab sama seseorang,” tanya Arjuna yang tidak pernah tahu kalau istrinya punya teman dekat.Nadira menatap suaminya. “
Terakhir Diperbarui: 2026-09-11
Chapter: Bab 153.Raka mengerutkan keningnya. “Arjuna sama Sinta? Maksud kamu, Arjuna mau balik lagi ke Sinta?” tanya Raka dengan nada sedikit kesal.Punggung Nadira berdiri tegak. Tangannya bergerak seperti sedang melambai, memberi isyarat yang dikatakan Raka itu salah.“Bukan, Dok. Bukan begitu maksud saya,” jawab Nadira, takut Raka akan salah paham.“Trus maksud kamu bilang gitu apa?”Nadira menarik napas. Dia jadi agak ragu sendiri untuk memperjelas pertanyaannya.Tapi dia juga penasaran. Dan dia yakin kalau Raka pasti tahu tentang hubungan suaminya dan Sinta.“Hmm ... tapi Doktee janji dulu ya gak akan bilang ke Dokter Juna soal ini? Janji dulu,” ucap Nadira berharap Raka tidak akan mengkhianatinya.Raka menatap miring ke ibu hamil di depannya. “Kamu kayaknya takut banget sama Arjuna.”“Bukan takut, Dok. Saya cuma gak enak aja. Lagi pula itu kan masa lalu Dokter Juna. Saya gak enak aja.”Raka menyandarkan badannya ke kursi. “Nah itu udah tau. Trus kenapa sekarang malah nanya.”Nadira menipiskan bi
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Kejutan Untuk Sean“Selamat pagi Pak Sean,” sapa ramah Lisa sambil memamerkan senyum terindahnya pagi ini untuk sang atasan.Namun sayangnya lagi-lagi Lisa mendapatkan ekspresi dingin dari pria tampan itu. Sean hanya berjalan melintasinya tanpa melihat atau sekedar melirik ke arah Lisa pria itu berjalan seolah tidak ada seorangpun di sekelilingnya kecuali dia dan Bima.Lisa memonyongkan bibirnya ketika melihat Sean melewatinya begitu saja. Pria itu terus saja bersikap dingin meskipun dia selalu bekerja di dekatnya. Tapi Lisa berusaha untuk tetap tersenyum karena dia memiliki sebuah kejutan untuk Sean yang sudah dia letakkan di dalam ruang kerja sang atasan tampan.Sean masuk ke dalam ruang kerjanya bersama Bima sambil mendengarkan rentetan jadwal yang harus dia hadiri hari ini. Mata Sean terhenti pada sebuah paper bag berukuran cukup besar yang ada di atas meja kerjanya.“Apa itu?” tanya Sean.“Saya tidak tahu, Pak. Saya akan periksa,” jawab Bima yang kemudian segera mengambil paper bag itu untuk dia p
Terakhir Diperbarui: 2024-01-27
Chapter: Jackpot!“Pak Johan, saya telat ya?” tanya Ellena ketika dia baru sampai di Cafe dan sudah melihat Lisa duduk di depan Johan. “Enggak kok, nggak apa-apa. Minum dulu Ell, kayaknya kamu capek banget habis lari-larian.” Johan menuangkan air ke dalam gelas minum dan dia sodorkan pada Ellena. “Makasih, Pak,” ucap Ellena sambil meletakkan paper bag belanjaannya, lalu segera menegak habis air yang disuguhkan oleh Johan. Lisa melihat ke arah paper bag milik Ellena yang ada di atas meja, “Waduh! Curiga kita beliin barang yang sama nih, tapi lain toko,” celetuk Lisa. “Emang kamu beli apa, Lis?” tanya Johan. Lisa meletakkan paper bag belanjaannya di atas meja, headset, “Senjata untuk para introvert yang malas keluar rumah,” jawab Lisa sambil menyodorkan barang belanjaannya. “Eh, seriusan kamu juga beli headset?” Ellena kaget dengan pilihan barang yang dibeli oleh sahabatnya. “Iya. Dan kalau boleh nebak, pasti kamu juga beli barang yang sama kan?” “Beneran Ell, kamu juga beli headset?” Johan ingin
Terakhir Diperbarui: 2023-12-03
Chapter: Tantangan Dari Johan“Disingkirkan.Tubuh Ellena bergetar ketika dia mendengar kata-kata tersebut. Entah mengapa kata-kata itu terdengar seperti sebuah ancaman yang sangat menakutkan bagi dia.Kalau hanya disingkirkan dari pekerjaannya alias dipecat, mungkin Ellena masih bisa mencari pekerjaan lain. Tapi kalau yang dimaksud oleh Lisa arti disingkirkan itu adalah menghilangkan nyawa, tentu saja ini merupakan sebuah beban untuk Ellena.Dia tidak mungkin meninggalkan ibu dan adiknya yang saat ini tengah sangat bergantung pada dirinya. Ellena sampai bergidik mendengar penuturan dari sahabatnya itu.“Kamu kenapa, Ell?” tanya Lisa yang melihat ekspresi wajah Ellena berubah.“Oh enggak kok, aku nggak apa-apa. Tapi emang bener ya Pak Sean itu orangnya sekejam itu?” tanya Ellena ingin tahu dan sekedar ingin memastikan bagaimana nasibnya jika nanti Sean menemukannya.“Dari kabar yang aku dengar sih kayak gitu. Tapi nggak tau juga ya ... soalnya kan bisa aja itu cuma gosip. Tapi setahu aku Pak Sean itu emang nggak
Terakhir Diperbarui: 2023-12-01
Chapter: Cerita Lisa“Apa ini Elll?” tanya Lisa.Mendengar apa yang dikatakan oleh Lisa, Ellena segera menoleh ke arah temannya itu. Matanya langsung terbelalak lebar melihat Lisa memegang sesuatu di tangannya.Lisa menunjukkan pil penunda kehamilan yang sempat dibeli oleh Ellena di apotek beberapa hari lalu. Dia sepertinya lupa menyimpan pil itu di tempatnya, sehingga Lisa bisa menemukannya.“Loh, kok ada di sini sih. Sembarangan aja deh naruhnya,” ucap Ellena berusaha untuk tetap tenang agar Lisa tidak curiga kepadanya.Punya siapa sih, Ell? Bukannya itu kayak pil KB ya?” tanya Lisa yang tidak menyangka dia akan menemukan barang seperti itu di kamar Ellena.“Punya salah satu anak di sini,” jawab Ellena yang kemudian segera memasukkan pil itu ke dalam laci meja yang ada di kamarnya.“Punya anak di sini? Kok ada di lemari kamu? Itu bukan punya kamu kan, El?” selidik Lisa.Ellena menoleh ke arah Lisa, Menurut kamu, orang kaya aku butuh ya pil kayak gitu?” Ellena meminta pendapat dari temannya itu.Lis
Terakhir Diperbarui: 2023-11-30
Chapter: Gosip Tentang Pak Presdir“Apa sudah ketemu, Pak?” tanya Bima sedikit berbisik saat dia mengikuti langkah atasannya dari belakang.“Sudah.”Sean terus melangkah dengan pasti menuju ke ruang kerjanya kembali. Dia melangkah sedikit cepat untuk menuju ke lift yang akan mengantarkannya kembali ke ruang kerjanya.Sean memang sengaja melakukan inspeksi mendadak ke kantin, karena dia mendapatkan laporan dari Bima kalau Ellena datang ke hotel pada malam itu. Namun menurut Bima juga, Ellena tidak bertemu dengan Sean meskipun Ellena datang ke hotel.Sean semakin yakin kalau wanita yang bersamanya itu adalah Ellena. Tapi setelah kembali dari kantin, Sean kembali meragu dengan apa yang sudah dia yakini tadi.“Apa benar cuma Ellena yang memakai parfum itu, Pak?” tanya Bima ketika dia dan Sean sudah kembali ke ruang kerja Sean.“Gak. Ada dua orang lagi yang memakai parfum dengan aroma yang mirip dengan yang dipakai Ellena. Coba selidiki mereka, termasuk apa saja yang mereka lakukan setelah mereka pulang dari kantor,” peri
Terakhir Diperbarui: 2023-11-29
Chapter: Sidak“Eh eh ... lihat tuh siapa yang datang. Nggak salah tuh si ganteng makan di sini,” ucap salah satu teman Ellena yang di depannya. “Si ganteng? Siapa lagi sih itu.” Ellena memutar badannya untuk melihat orang yang ada di belakangnya. Ellena melihat ada dua orang pria masuk ke dalam area kantin kantor dan menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin itu. Suasana kantin yang tadinya riuh dengan candaan santai para karyawan, langsung menjadi sepi ketika sosok yang tampak sangat dingin itu muncul di sana. Sean seolah sedang menyebarkan aura dinginnya ke setiap sudut ruangan kantin. Banyak orang yang kini memilih untuk duduk diam dan segera menghabiskan makanan mereka, daripada harus banyak berinteraksi dengan rekan sejawat mereka seperti tadi. “Wah, gila ya. Langsung sepi loh,” celetuk Vira sambil sedikit berbisik tanpa berani melihat ke arah Sean. “Udah buruan makan. 15 menit lagi jam istirahat selesai, jangan cari masalah,” balas Ellena mengingatkan sahabatnya itu agar sege
Terakhir Diperbarui: 2023-11-28