Mag-log inSuasana di restoran hotel itu menjadi naik. Tidak sekedar panas yang tak teredam oleh udara dingin buatan mesin AC. Tetapi, akibat lirikan lari orang-orang juga menjadi faktor utama. Jennara diam seperti patung. Tetap berusaha tak ikut campur meskipun tangan nya masih digenggam erat oleh Chakra. "Ada apa, Chakra? Kenapa sewot?" sahut seorang Pria. Suaranya tegas, nyaris mirip seperti suara Chakra. Tapi, wajah tampan mereka berbeda karakter. Gadis cantik yang menjadi sebab Chakra menghampiri mereka pun berdiri. Mencuat di tengah-tengah, "hey, kalian berdua kenapa?" kata Pamela, mencoba untuk tetap tenang. Tapi, peraga gadis itu lebih condong untuk Sadewa. Pamela mendekati Sadewa dan menjulurkan tangannya. "Ayo, Sadewa. Ini, lagi ada pasangan yang lagi naik daun, kita nggak boleh naik pamor juga," ujarnya sambil terkekeh. Tapi, ketegangan dari Chakra dan Sadewa tidak serta merta langsung mereda. Malah, ada tatapan bagaikan perang petir dari keduanya. Padahal, biasanya mereka ber
*** "Cuman demi makan siang, Pak. Ngapain kita harus reservasi hotel segala?" celoteh Jennara. Gadis itu selesai memasang seatbealtnya. Dengan wajah yang cukup menekuk dibandingkan biasanya. Chakra melirik kepada Jennara. Wanita itu memang sudah duduk sempurna di kursi sebelah kiri. Tetapi, wajahnya tampak cukup murung. "Ya biar nggak ada tekanan dari orang-orang kantor. Bukannya tadi kata kamu nggak nyaman." "Ya tapi kan nggak harus reservasi hotel, Bapak Chakra. Kan kita bisa delivery order terus makan di ruangan, Bapak," terang Jennara, merasa sangat sayang dengan tindakan boros dari Chakra. "Oh, kamu terlalu nyaman ya di ruangan saya?" Pertanyaan itu menusuk relung hati Jennara. Apa yang salah dari kalimatnya sampai bisa-bisanya Chakra berbicara begitu? Mana mungkin dia terlalu nyaman? Ah! "Bapak udah deh. Bisa dicancel nggak itu makan di hotelnya? Lagipula, kita bakal balik lagi ke perusahaan jadi ngapain makan jauh-jauh." "Kok jadi kamu yang ngatur, Jennara?" Ter
Selang sekitar tiga jam Jennara tiduran di sofa ruangan CEO milik Chakra. Jennara diam, sambil menerima pesan dari Laura. Atasannya di Tim Akuntansi Keuangan itu, mendadak menjadi baik semenjak Chakra mengatakan sesuatu yang tidak dipahami oleh Jennara. Bahkan, Laura tak marah saat kini Jennara tidak hadir di rapat internal Tim Akuntansi. Padahal, biasanya telat satu menit saja langsung kena amukan!Ini bisa dibilang berkah orang dalam atau bukan, tetapi, Jennara cukup menikmatinya. Memang, dia masih butuh refreshing setelah semua yang terjadi. Dibiarkan diam dan tidak melakukan apapun di ruangan Chakra adalah benefit yang cukup bagus. Setidaknya, Jennara bisa mengistirahatkan otaknya sejenak.Sampai kini, langkahnya telah berganti tepat. Chakra membawa Jennara untuk break jam makan siang. Ke sisi tangga bawah. Grand Floor, yang biasanya berdampingan dengan Foodcourt.Lalu, penampakan lampu serba hijau yang terpampang di etalase kaca pameran, menyambut datangnya Chakra dan Jennara.Ke
Pintu telah tertutup rapat. Jennara memasuki ruangan yang terasa sangat dingin. Melirik pada monitor digital mesin AC yang suhunya memang dibuat untuk dingin. Sampai gadis itu merapatkan blazernya untuk menyamarkan rasa dingin di tubuhnya. "Laura ya Leader, kamu?" ujar Chakra, yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya. Laki-laki itu langsung bergerak runut membuka map-map, kertas-kertas dan laptopnya. "Iya, Pak..." kata Jennara, langkahnya mendekat, karena dia memang masih berada di depan ambang pintu yang sudah tertutup. Jennara, berhenti di depan meja Chakra. Berdiri sangat formal. Menanti apa yang mungkin akan diperintahkan lagi oleh Chakra. Sampai satu lirikan dari Chakra, diperoleh Jennara. Membuat gadis itu siap sedia seakan mengerti bahwa dirinya akan diberi tugas. Tapi, mendadak. Chakra berdiri dari kursinya. Tampak memutar melangkah pelan. Tiba-tiba... dia mendekati Jennara. Merengkuh tubuh Jennara, ke dalam dekapannya. Tentu saja, Jennara takut setengah mati
Jantung Jennara mencelos. Rasanya seperti jatuh ke perut. Tubuhnya melemas seketika, nyaris limbung, jika Chakra tak sigap menopang bahunya."Kenapa kamu?" tanya Chakra, suaranya sedikit berubah nada.Jennara akhirnya sadar, bahwa tubuhnya sedang dipapah oleh Chakra. Gadis itu buru-buru untuk menegakkan tubuhnya sendiri. "M-Maaf, Pak. Kaget," kata Jennara, sembari merapikan pakaiannya, sebagai pengalihan untuk rasa malu yang menderanya."Bentar," kata Chakra. Langkahnya maju, mendekati panel tombol lift.Jari laki-laki tersebut baru sama menekan tombol lift berkali-kali. Sebagai sinyal darurat bahwa transportasi gedung ini sedang bermasalah. Wajahnya masih tenang. Meskipun, ada sedikit cemas.Bagaimanapun, Chakra tidak sendiri di sini.Dia bersama dengan seorang gadis."Pak, nggak bisa ya?" ujar Jennara, setelah cukup lelah melihat Chakra menekan berulang tombol lift tapi tidak ada reaksi apa-apa.Chakra menghentikan aksinya, memundurkan langkah. Untuk bersejajar dengan Jennara. Lalu,
Penampilan Jennara sudah siap. Setelah menuruti kata-kata Chakra untuk naik ke lantai 3. Mengambil satu stel baju, yang kini terlihat cocok di tubuhnya saat Jennara sedang mengaca. Itu sebuah celana formal berwarna coklat gelap, kemeja putih dan blazer coklat sedikit bermotif pita di kerahnya. Tidak tahu baju ini ditujukan untuk siapa. Tapi, yang jelas, setelannya bagus. Jennara juga sudah berdandan cantik. Dia menatap kaca seolah sedang menghimpun kekuatan di sana. Menggenggam rapat-rapat kedua tangannya. Dia akan segera bekerja lagi. Dengan gosip yang beredar, dengan status palsu yang cukup fantastis. Bahkan, Jennara akan berangkat bersama dengan Chakra. Sudah dapat dibayangkan olehnya, akan seperti apa pemandangan yang terjadi. Semua orang pasti kepo, semua orang pasti bergunjing! Tetapi, Jennara harus berdiri tegak! "Fighting! Jennara! Kamu pasti bisa! Let's go! Everything will be ok!" tandas Jennara mantap, memberikan semangat penuh untuk dirinya sendiri. Untuk saat ini







