LOGINPerlahan, Arbi membuka kedua kaki istrinya. Di sana, sebuah pemandangan yang teramat indah dan sakral tersaji untuknya. Warnanya merah muda, sangat bersih, terawat, dan begitu memesona.Arbi benar-benar takjub, tidak tahu bagaimana cara istrinya bisa menjaga bagian paling privat itu hingga tampak begitu sempurna. Jakun Arbi sampai naik turun, menelan ludah dengan berat memandang milik istrinya yang begitu menggoda.Arbi mulai mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan hangat di sana sebelum akhirnya mengeluarkan ujung lidahnya. Ia mulai bermain dengan lihai di titik sensitif kecil yang menyerupai mutiara itu.Sentuhan tak terduga itu instan membuat Alicia seperti orang yang kehilangan kesadaran. Ia sudah tidak mampu lagi menahan gejolak gairah yang meledak-ledak di dalam rahimnya. Wanita itu menjerit tertahan, kedua tangannya meremas kuat rambut Arbi."Arbi... ah! Hentikan... Arbi..."Arbi terdiam sesaat, namun hasrat yang sudah di ujung tanduk membuatnya tidak berhenti. Lidahnya just
Malam semakin larut di kota Paris. Keramaian pesta pernikahan yang megah di ballroom hotel perlahan surut, menyisakan keheningan yang intim di dalam kamar penthouse suite khusus pengantin baru.Kamar itu sudah didekorasi sedemikian rupa dengan taburan kelopak mawar merah di atas tempat tidur king-size, serta pencahayaan temaram dari lampu tidur yang menghadirkan atmosfer sangat romantis sekaligus mendebarkan.Alicia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan jubah tidur satin putihnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Sepuluh hari pingitan yang menyiksa, rindu yang menggebu-gebu, dan fakta bahwa pria di hadapannya ini sudah sah menjadi suaminya, membuat atmosfer di antara mereka terasa begitu pekat oleh hasrat yang memuncak.Arbi melangkah mendekat setelah selesai membersihkan diri. Rambutnya yang sedikit basah dan aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat seluruh pertahanan Alicia goyah seketika.Pria itu berlutut di hadapan Alicia, me
Di sebuah meja bundar besar yang terletak tepat di area tengah ballroom, berkumpullah barisan para daddy-daddy tampan pemburu takhta bisnis global: Michael, Samuel, Noah, Leo, dan Attar dan Darren. Meskipun ia bergerak di industri hiburan, tetap saja ikut bergabung. Walau bagaimanapun, ia tetap memiliki bisnis, meskipun belum sesukses Michael dan Samuel. Mereka mengenakan setelan jas tuksedo hitam rancangan desainer ternama yang membuat ketampanan matang mereka terlihat begitu mencolok. Tepat di sisi mereka masing-masing, para istri cantik nan menawan berjejer rapi menampilkan pesona mamah muda sosialita: Yura, Violet, Aishwa, Anisa, dan Jasmine.Obrolan di meja utama ini mendadak terbagi menjadi dua kubu pembicaraan yang sangat kontras dan berlawanan arah, berawal dari Michael yang berdehem pelan lalu membuka suara dengan nada baritonnya yang berat dan berwibawa."Jika kita melihat pergerakan pasar global belakangan ini, saham di sektor teknologi digital, kecerdasan buatan, dan rant
"Iya juga, ya... Bagaimana cara memasukkannya agar pas?" tanya Arbi polos, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Alicia terdiam dan berpikir keras di tengah suasana kamar yang temaram. Detik berikutnya, sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya. "Daripada kita bingung menebak-nebak... bagaimana kalau kita menonton video tutorialnya saja?"Arbi langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanda setuju. Tanpa membuang waktu, pria itu meraih ponsel pintarnya di atas nakas, membuka sebuah situs edukasi dewasa yang legal, lalu mulai memilih film atau video instruksi yang sesuai dengan kebutuhan mendesak mereka saat ini.Mereka berdua akhirnya duduk berdampingan di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh, fokus menatap layar ponsel pintar yang menampilkan visual pertempuran ranjang. Namun, bukannya tercerahkan dengan tekniknya, efek visual dari video tersebut justru menjadi bumerang. Setelah menonton sekitar lima menit, gairah di dalam tubuh Arbi dan Alicia justru kembali tersulu
"Betul apa kata Kiara, Aruna. Lagipula, kamu tidak perlu cemas berlebihan. Kalau sampai Arbi berani macam-macam, bersikap dingin, atau sampai membuat putri bungsu kita ini menangis di Indonesia nanti... tenang saja! Kita para perkumpulan ibu-ibu dan oma-oma ini yang bakal maju paling depan untuk menjewer kedua kupingnya sampai merah!" seru Lusi dengan nada menggebu-gebu yang langsung memicu tawa renyah di antara mereka semua.Mendengar gurauan kompak dari anak-anak dan menantunya, oma Mawar yang duduk di tengah-tengah mereka langsung tersenyum teduh. Matanya yang masih sangat tajam memancarkan kebijaksanaan menatap lurus ke arah kerumunan anak, menantu, cucu, hingga cicitnya yang memenuhi ruangan."Keluarga kita sudah tumbuh semakin besar dan kuat," ucap oma Mawar dengan suara baritonnya yang pelan namun berwibawa. "Melihat kalian semua bisa duduk berdampingan, berkumpul dalam keadaan sehat dan penuh kasih seperti ini... rasanya separuh dari beban usiaku yang sudah tua ini menguap hil
Ballroom mewah yang menjadi saksi bisu bersatunya Arbi dan Alicia kini telah berubah menjadi lautan kebahagiaan. Setelah ketegangan akad nikah yang menguras air mata itu berlalu dengan penuh keharuan, acara kini berlanjut ke sesi pesta keluarga yang jauh lebih santai namun tetap terasa begitu khidmat. Musik instrumental klasik bergaung lembut, berpadu dengan gemerincing sendok perkakas perak dan tawa renyah dari para tamu undangan kelas atas yang hadir dari berbagai belahan dunia.Seluruh ornamen bunga mawar putih yang didatangkan langsung dari perkebunan terbaik, serta jajaran lampu gantung kristal di langit-langit setinggi sepuluh meter seolah ikut merayakan bersatunya dua hati. Dua anak manusia yang telah membuktikan bahwa jarak ribuan mil antara Paris dan Indonesia, serta waktu empat tahun penantian, bukanlah halangan jika takdir sudah digariskan oleh Tuhan.Namun, di salah satu sudut strategis ballroom, tepat di dekat meja hidangan pencuci mulut yang dipenuhi air mancur cokelat b
Wati tiba-tiba berdiri. Kursi yang didudukinya bergeser keras, menggores lantai marmer dengan suara nyaring.“Tidak!” bentaknya. “Aku tidak setuju!”Suara itu menggema di ruang tamu—kasar, penuh kuasa, seolah Anisa masih anak kecil yang bisa diputuskan nasibnya begitu saja.Leo menegang. Rahangnya
Mobil Sandy berhenti di halaman rumah dengan suara mesin yang berat, seolah ikut memikul beban di dada pemiliknya.Lampu depan mobil masih menyala ketika pintu rumah terbuka.Wati sudah berdiri di teras sejak beberapa menit lalu. Ia menunggu dengan tidak sabar. Begitu melihat mobil Sandy masuk, waj
Anisa berdiri dari duduknya dan melangkah dengan cepat.“Aku bilang pelan-pelan, Ais,” suara perempuan itu terdengar familiar. Terlalu familiar.Anisa membuka mata.Aishwa berdiri beberapa meter dari mereka, sedang Noah mendorong stroller kecil berwarna abu-abu. Di dalamnya, seorang bayi berusia sa
Sandy berdiri dengan tubuh yang masih terasa lemah.Percakapan dengan Anisa barusan masih bergema di kepalanya. Setiap kata seperti palu yang menghantam tanpa henti. Dadanya terasa sesak—entah karena malu, penyesalan, atau kenyataan bahwa putrinya sendiri sudah menolaknya.“Aku… akan pergi,” katany







