LOGINRumah tangga yang dibangun Almirzha Yuwana atau Eca berada di ujung tanduk. Pernikahannya selama lima tahun dengan Kumara Liantika karena perjodohan bisnis kedua keluarga menjadi tekanan untuk keduanya. Eca dituntut untuk segera melahirkan pewaris. Namun, Kumara tidak bisa mewujudkannya dengan rahasia yang ditutup Eca rapat. Karena tekanan keluarga, Kumara memaksa Eca untuk hamil apapun caranya. Eca menuruti keinginan Kumara. Diawali dengan menjalankan perintah, Eca menjalin hubungan dengan Danan Yudhistira, asisten Kumara bahkan dalam kehidupan pribadinya. Eca menyadari kesepakatannya dengan Danan telah berubah menjadi cinta terlarang yang indah. Eca juga tak ingin keputusannya menjadi penyesalan terbesar di hidupnya. Bagimana kelanjutan kisah Eca dan Danan? Apakah Kumara merelakan Eca dan Danan bersama?
View More“Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.
“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan ini, Mas.”
Sang suami yang duduk di sampingnya pun mendesah pelan. Tangannya mengacak kasar rambut yang tak sepenuhnya rapi. Ada rasa frustasi yang coba diungkapkannya.
“Aku hanya memintamu untuk hamil, Eca. Aku bahkan sudah merelakanmu untuk hamil anak orang lain, setelahnya kita akan merawat anak itu. Apa aku perlu untuk mencarikan kamu lelaki itu?”
“Sudah kubilang aku tidak mau, Mas. Itu sama saja dengan aku selingkuh.”
“Lalu aku harus bagaimana, Eca?” tanyanya lemah. “Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjawab pertanyaan orang tua kita. Apalagi orang tuaku terus mendesak hanya karena aku anak tunggal.”
“Aku mengerti mereka memaksamu untuk memiliki keturunan karena mereka membutuhkan pewaris untuk Keluarga Liantika dan Taka Grup. Namun, bukan begini juga caranya. Aku yakin masih ada cara lain yang bisa kita lakukan.”
“Apalagi, Ca? Kita sudah menikah selama lima tahun. Usaha apalagi yang kurang kita lakukan untuk memiliki anak. Kita sudah melakukan banyak program kehamilan, bayi tabung, ibu pengganti, dan semuanya gagal,” kata Kumara lirih.
“Mas, kita harus tetap optimis,” sahut Almirzha mencoba menguatkan suaminya. “Kita akan terus mencoba. Teknologi kedokteran semakin maju, pasti ada satu cara yang bisa kita coba.”
“Mau coba apalagi? Semuanya sudah kita coba. Berapa kali kita melakukan bayi tabung dan tidak ada yang berhasil? Bukan hanya di dalam negeri, bahkan kita telah pergi ke luar negeri. Aku tidak mau mendengar tekanan dari para orang tua lagi, Ca,” jelas Kumara.
“Kita bisa melakukannya lagi, Mas,” tegas Almirzha.
“Aku tidak akan melakukannya lagi.”
Almirzha menoleh pada Kumara sesaat setelah mendengar perkataan pria itu yang terkesan pasrah.
“Mengapa, Mas?”
“Apa kamu tidak mendengar perkataan mereka, para dokter itu? Mereka sudah mengatakan bahwa kita tidak akan bisa memiliki anak. Aku mandul, Eca. Dengan usaha kita selama ini, itu sudah membuktikan mustahil bagi kita untuk memiliki anak. Aku hanya ingin menyelamatkan kita berdua dari keluarga kita. Kamu akan hamil anakmu sendiri, lalu kita akan merawatnya dan membesarkannya berdua. Para orang tua juga tidak akan tahu apa yang terjadi.”
“Itu ide gila dari seseorang yang seharusnya disebut suami,” tandas Almirzha.
“Kamu akan melakukannya, Eca. Kamu akan hamil dengan siapapun dan lelaki manapun itu yang membuatmu nyaman. Dan fakta bahwa aku mandul dan siapa ayah dari bayimu akan menjadi rahasia kita berdua,” tegas Kumara tak ingin berbantah.
“Sudah kubilang aku tidak mau, Mas,” sahut Almirzha dengan nada yang mulai meninggi kembali. “Aku tidak akan pernah mengkhianati pernikahan ini.”
Kumara terdiam, tak membalas ucapan Almirzha beberapa saat.
“Aku bosan bertemu para dokter yang hanya mengatakan hal yang sama,” ucap Kumara seakan tak terpengaruh dengan kemarahan Almirzha.
“Bosan?” tanya Almirzha diiringi tawa hambar. “Lalu bagaimana denganku, Mas? Apa aku juga tidak boleh bosan dengan tuduhan dari orang tuamu? Mereka mengatakan aku istri yang belum sempurna karena belum memberikan keturunan. Bahkan sekarang mereka mulai mengatakan kemungkinan aku mandul. Aku yang harus menanggung keadaanmu, Mas. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku, Mas?”
“Aku tidak memintamu untuk diam tentang keadaanku. Aku paham perasaanmu, Sayang, karena itu aku memberikan ide ini. Kita bisa menghapus semua perkataan negatif tentang kita berdua. Pahamilah itu, Sayang!” lanjut Kumara seraya memegang bahu sang istri.
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Mas,” kata Almirzha lirih.
“Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu, Sayang. Maaf, aku harus ke kantor sekarang.”
Kumara meraih kepala Almirzha dan mengecupnya. Tak lupa lelaki itu memeluk sang istri erat sebelum beranjak. Setelah merapikan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan, Kumara meninggalkan Almirzha di kamar dengan segala kecamuk di pikirannya.
Almirzha masih terdiam di ranjang dan tak berniat untuk mengantar sang suami hingga ke depan rumah. Pagi itu dia begitu enggan untuk beranjak setelah mendengar seluruh keinginan Kumara. Saat mendengar mobil Kumara yang melaju meninggalkan halaman rumah, Almirzha berteriak sekencangnya. Bahkan, wanita itu melempar vas bunga yang ada di nakas hingga hancur berkeping-keping. Almirzha pun beranjak memasuki kamar mandi. Tak lama kemudian dia meninggalkan kamar tidurnya tanpa merapikannya.
“Nyonya,” sapa pelayan yang telah berdiri di ujung tangga lantai satu rumah itu.
“Rapikan kamar utama segera! Aku akan pergi. Kalau nanti siang Tuan pulang dan aku belum pulang, minta Tuan untuk makan siang sendiri!” perintah Almirzha yang dijawab dengan anggukan dan ucapan paham.
Tanpa menoleh lagi, Almirzha meninggalkan rumah mengendarai mobil merah kesayangannya. Dengan masih berbalut emosi, wanita itu melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan sangat tinggi. Wanita itu seakan tidak peduli dengan sekelilingnya ketika sedang meluapkan emosinya.
Beberapa jam kemudian, Almirzha tengah menikmati segelas minuman dingin dengan beberapa camilan di sebuah kafe yang tak begitu ramai pengunjung. Senyuman tersungging di bibir telah menggantikan wajah murkanya pagi tadi.
Senyum di wajah Almirzha hilang seketika saat sebuah sapaan terdengar di telinga.
“Nyonya, selamat siang!” Sapaan itu terdengar di telinga Almirzha bertepatan dengan hadirnya seorang pria di hadapannya.
“Nyonya,” kata pria itu kembali yang bertahan berdiri di hadapan Almirzha. “Tuan mengirimkan bunga dan hadiah untuk Anda.”
“Letakkan di meja, Danan!” perintah Almirzha tegas.
Danan pun meletakkan buket bunga dan hadiah itu di meja.
“Terima kasih, Nyonya. Saya permisi, Nyonya, saya harus kembali ke kantor,” pamit Danan yang berbalik pergi tanpa menunggu jawaban Almirzha.
“Tunggu, Danan!” panggil Almirzha. “Siapa yang memilih bunga dan hadiahnya?”
Danan membalikkan badan sebelum menjawab pertanyaan Almirzha. “Saya hanya melaksanakan perintah Tuan untuk datang ke toko dan dan memberikan barang pesanannya pada Anda.”
“Yang kutanyakan bukan itu Danan, kamu tahu pasti apa yang aku tanyakan. Aku mau kamu menjawab dengan jujur walau aku tahu kamu asisten yang sangat setia.”
Danan terdiam. Dipandangnya wajah sang nyonya yang menunggu jawabannya. Lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan istri dari bosnya itu.
“Maaf, Nyonya,” jawab Danan sambil menunduk dalam.
“Kamu tidak perlu minta maaf. Pergilah, Danan, sampaikan terima kasihku pada Kumara!” sahut Almirzha.
Danan pun meninggalkan Almirzha di sana. Sebelum benar-benar meninggalkan kafe, Danan menoleh. Dilihatnya di sana sang nyonya tampak duduk tenang sambil menikmati minumannya, terlihat tak tertarik dengan bunga dan hadiah di hadapannya.
“Jangan bercanda, Eca! Apa dia bukan anakku?” tanya Kumara dengan nada yang mulai meninggi.“Kamu bisa memikirkannya sendiri, Mas, apakah dia anakmu atau bukan,” terang Eca tanpa memberikan kejelasan.Tangan Kumara terayun ke atas. Namun, belum sampai pria itu melakukan sesuatu, dering ponsel di saku jas menghentikan aksinya. Setelah membaca nama penelepon, Kumara menggeser tombol hijau. Dahinya berkerut sempurna mendengar penjelasan dari seberang. Dia pun berjanji akan segera datang sebelum memutus panggilan.“Eca, Sayang, aku tidak akan mempermasalahkan tentang ayah biologis anak di dalam perutmu. Yang pasti, aku bahagia karena akan menjadi ayah dan kita akan menjadi orang tua. Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Istirahatlah, aku harus ke kantor!” ucap Kumara seakan tak mempermasalahkan percakapan mereka sebelumnya.Sebelum meninggalkan ruangan, Kumara mencium kening Eca. Lelaki itu tak melepaskan senyuman di wajahnya. Eca hanya membalas senyuman tersebut dengan wajah dingin.
“Nyonya,” teriak salah satu pelayan yang menghampiri Eca.Pelayan paruh baya itu menepuk bahu Eca pelan. Wajahnya menyiratkan kasihan pada sang majikan. Wanita paruh baya itu juga menopang tubuh Eca yang mulai melemah di kamar mandi ruang tidurnya.Eca menepuk dadanya perlahan. Tubuhnya terlihat lemah. Ditambah dengan wajah yang begitu pucat. Eca hanya menurut ketika pelayan memapah tubuhnya yang mulai meluruh. Wanita itu juga membiarkan pelayan untuk menyelimuti tubuhnya. Eca hanya memejamkan matanya mencoba meredam segala rasa di tubuhnya.“Nyonya, apa perlu saya buatkan sesuatu?” tanya pelayan paruh baya itu.“Aku tidak ingin sesuatu, Bi. Rasanya tidak nyaman sekali,” keluh Eca.“Badan Anda tidak panas, Nyonya. Apa yang Anda rasakan?” tanya Bibi pelayan kembali.“Kepalaku pusing sekali, Bi. Perutku juga tidak nyaman, rasanya mual,” jawab Eca lirih.“Anda sangat pucat, Nyonya. Jangan menolak! Saya akan membuatkan sesuatu untuk Nyonya,” sahut Bibi dengan nada khawatir.Belum sempat p
“Eca, Sayang, kamu yakin dengan yang kamu katakan?” tanya Mika sangat pelan hingga nyaris seperti gumamam.“Yakin sekali,” jawab Eca seraya mengangguk mantab.“Eca, Sayangku, Teman terbaikku, apakah kamu masih ingat terakhir kali kamu pergi ke sana?” sahut Mika merayu Eca.“Mika,” ucap Eca sambil memegang pundak temannya. “Berdo’alah itu tidak akan terjadi! Jadi, kita pergi sekarang!”“Sekarang jam berapa, Ca? Belum buka tempat itu,” ucap Mika sembari melepaskan kedua tangan Eca.“Jangan bercanda! Tempat itu milik suamimu, artinya kamu bisa masuk kapan saja,” kata Eca pura-pura marah.Benar-benar tak ingin dibantah, Mika membawa Eca ke tempat tujuannya. Mereka sampai di tempat tujuan ketika matahari telah berada tergelincir ke arah barat. Mika dan Eca berjalan di belakang karyawan yang memandu mereka menuju ruang pribadi. Tak ingin berdiri terlalu lama, Eca langsung duduk begitu pintu ruang pribadi itu tertutup. Mika hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Namun, m
“Tidak ada apa-apa, Nyonya Besar. Nyonya Eca hanya meminta saran dari saya tentang suatu hal sebelum disampaikan pada Tuan Kumara. Kalau begitu, saya permisi Nyonya Besar dan Nyonya,” jelas Danan pada wanita paruh baya tersebut.Danan menundukkan kepala tanda hormat pada wanita paruh baya yang kini berdiri di hadapannya tersebut. Wanita itu juga membalas Danan dengan menganggukkan kepala. Setelah menjabat tangan wanita tersebut, Danan benar-benar meninggalkan rumah Kumara dan Eca. “Danan sangat mengerti pada Mas Kumara, Ma, karena itu aku minta sarannya dulu sebelum mengajukan pada Mas Kumara,” kata Eca turut menjelaskan dengan khawatir berharap sang mertua tidak mendengar sedikitpun pembicaraannya dengan Danan.Eca berdiri menyambut wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. Wanita yang sebagian rambutnya telah mulai memutih tersebut masih tampak anggun. Pakaiannya yang sederhana tampak berkelas menunjukkan asal kastanya. Di jari dan pergelangan tangan serta lehernya melingk
Eca dan Danan menoleh bersamaan pada pelayan yang baru datang. Terlihat jelas wajah mereka yang tegang.“Tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Eca dengan suara tegas. “Mulailah bekerja! Sebaiknya segera, karena aku sudah sangat lapar.”“Tapi di meja sudah ada makanan, Nyonya,” sahut seorang pelayan lain ya
Mata wanita itu belum sepenuhnya terbuka, namun tangannya sudah memukul-mukul kepala pelan. Eca juga melenguh pelan tanpa mengubah posisi. Keterkejutan terlihat jelas di matanya kala menatap langit-langit kamar. Seingatnya semalam dia minum di club hingga mabuk bersama temannya. “Kepalaku sakit da
“Apa?” teriak Eca yang tenggelam ditelan suara musik yang berdentum keras.“Kamu, ya, suami kaya raya, tajir, hidup enak, masih saja mangajakku ke klub. Tumben juga kamu ngajak ke sini, sejak menikah kamu ga pernah mau diajak ke klub,” seru Mika tak kalah keras dari Eca.“Suntuk,” jawab Eca lugas s
“Gila kamu, Mas!” desis wanita berambut panjang yang masih mengenakan piyama tidur dan duduk di tepian ranjang.“Kamu sudah gila,” ucap wanita itu kembali dengan menekan setiap kata yang diucapkannya. “Kita memang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta, tapi aku tidak akan mengkhianati ikatan in






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.