LOGIN"Ahhh... Emmhh..." Alicia melenguh pasrah di sela ciuman mereka. Kedua tangannya meremas rambut Arbi yang agak lembap, menyalurkan sensasi panas yang mendadak menyengat seluruh pembuluh darahnya.Sembari mengunci bibir sang istri, jemari kekar Arbi bergerak turun. Kali ini ia tidak ingin terburu-buru seperti tadi. Dengan sentuhan yang sarat akan pengalaman dari video edukasi yang ia tonton, jemarinya membelai paha mulus Alicia, memijatnya lembut untuk merilekskan otot-otot istrinya, lalu perlahan menuntun kedua kaki jenjang itu untuk kembali terbuka lebar.Ketika Arbi melepaskan tautan bibir mereka, napas keduanya sudah memburu pendek-pendek. Di bawah temaram lampu, Arbi bisa melihat lorong kecil Alicia yang kini sudah benar-benar siap—berkilau basah oleh cairan alami yang melimpah akibat godaan demi godaan tadi."Ini akan sedikit sakit di awal, Sayang... tapi berjanjilah untuk tetap rileks. Percaya padaku," bisik Arbi dengan suara berat yang teramat seksi, mengecup kening Alicia deng
Kamar penthouse suite itu kembali diselimuti keheningan, namun bagi Arbi, keheningan ini justru menyiksa. Di sampingnya, Alicia sudah tampak lebih tenang, napasnya mulai teratur. Sementara Arbi? Pria itu sama sekali tidak bisa memejamkan mata atau sekadar tidur dengan tenang.Pikirannya kacau balau. Ada rasa penasaran yang amat besar bergejolak di dalam dadanya sebagai seorang pria normal, namun di sisi lain, rasa tidak tega dan protektif yang berlebihan terhadap sang istri jauh lebih mendominasi. Bayangan air mata Alicia saat kesakitan tadi benar-benar mengunci akal sehatnya.Arbi menghela napas berat untuk kesekian kalinya, menatap langit-langit kamar yang temaram dengan tangan kanan yang dijadikan bantalan kepala.Namun, di tengah lamunan malamnya, Arbi tiba-tiba merasakan selimut tebal di sampingnya bergerak. Sedetik kemudian, sebuah aroma manis dari tubuh Alicia mendekat, diikuti oleh dekapan hangat yang tiba-tiba menempel di lengan kirinya.Arbi menoleh lambat-lambat. Di sana, A
Perlahan, Arbi membuka kedua kaki istrinya. Di sana, sebuah pemandangan yang teramat indah dan sakral tersaji untuknya. Warnanya merah muda, sangat bersih, terawat, dan begitu memesona.Arbi benar-benar takjub, tidak tahu bagaimana cara istrinya bisa menjaga bagian paling privat itu hingga tampak begitu sempurna. Jakun Arbi sampai naik turun, menelan ludah dengan berat memandang milik istrinya yang begitu menggoda.Arbi mulai mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan hangat di sana sebelum akhirnya mengeluarkan ujung lidahnya. Ia mulai bermain dengan lihai di titik sensitif kecil yang menyerupai mutiara itu.Sentuhan tak terduga itu instan membuat Alicia seperti orang yang kehilangan kesadaran. Ia sudah tidak mampu lagi menahan gejolak gairah yang meledak-ledak di dalam rahimnya. Wanita itu menjerit tertahan, kedua tangannya meremas kuat rambut Arbi."Arbi... ah! Hentikan... Arbi..."Arbi terdiam sesaat, namun hasrat yang sudah di ujung tanduk membuatnya tidak berhenti. Lidahnya just
Malam semakin larut di kota Paris. Keramaian pesta pernikahan yang megah di ballroom hotel perlahan surut, menyisakan keheningan yang intim di dalam kamar penthouse suite khusus pengantin baru.Kamar itu sudah didekorasi sedemikian rupa dengan taburan kelopak mawar merah di atas tempat tidur king-size, serta pencahayaan temaram dari lampu tidur yang menghadirkan atmosfer sangat romantis sekaligus mendebarkan.Alicia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan jubah tidur satin putihnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Sepuluh hari pingitan yang menyiksa, rindu yang menggebu-gebu, dan fakta bahwa pria di hadapannya ini sudah sah menjadi suaminya, membuat atmosfer di antara mereka terasa begitu pekat oleh hasrat yang memuncak.Arbi melangkah mendekat setelah selesai membersihkan diri. Rambutnya yang sedikit basah dan aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat seluruh pertahanan Alicia goyah seketika.Pria itu berlutut di hadapan Alicia, me
Di sebuah meja bundar besar yang terletak tepat di area tengah ballroom, berkumpullah barisan para daddy-daddy tampan pemburu takhta bisnis global: Michael, Samuel, Noah, Leo, dan Attar dan Darren. Meskipun ia bergerak di industri hiburan, tetap saja ikut bergabung. Walau bagaimanapun, ia tetap memiliki bisnis, meskipun belum sesukses Michael dan Samuel. Mereka mengenakan setelan jas tuksedo hitam rancangan desainer ternama yang membuat ketampanan matang mereka terlihat begitu mencolok. Tepat di sisi mereka masing-masing, para istri cantik nan menawan berjejer rapi menampilkan pesona mamah muda sosialita: Yura, Violet, Aishwa, Anisa, dan Jasmine.Obrolan di meja utama ini mendadak terbagi menjadi dua kubu pembicaraan yang sangat kontras dan berlawanan arah, berawal dari Michael yang berdehem pelan lalu membuka suara dengan nada baritonnya yang berat dan berwibawa."Jika kita melihat pergerakan pasar global belakangan ini, saham di sektor teknologi digital, kecerdasan buatan, dan rant
"Iya juga, ya... Bagaimana cara memasukkannya agar pas?" tanya Arbi polos, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Alicia terdiam dan berpikir keras di tengah suasana kamar yang temaram. Detik berikutnya, sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya. "Daripada kita bingung menebak-nebak... bagaimana kalau kita menonton video tutorialnya saja?"Arbi langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanda setuju. Tanpa membuang waktu, pria itu meraih ponsel pintarnya di atas nakas, membuka sebuah situs edukasi dewasa yang legal, lalu mulai memilih film atau video instruksi yang sesuai dengan kebutuhan mendesak mereka saat ini.Mereka berdua akhirnya duduk berdampingan di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh, fokus menatap layar ponsel pintar yang menampilkan visual pertempuran ranjang. Namun, bukannya tercerahkan dengan tekniknya, efek visual dari video tersebut justru menjadi bumerang. Setelah menonton sekitar lima menit, gairah di dalam tubuh Arbi dan Alicia justru kembali tersulu
Aishwa kembali dengan es krim di tangannya, wajahnya berseri-seri seolah semua lelahnya hilang begitu saja. Ia menjilat es krim itu sambil tertawa kecil, lalu naik ke motor Noah.“Enak banget, Mas. Mau coba?” tawarnya sambil mengulurkan es krim.Noah melirik sekilas, lalu menggeleng. “Makan aja sen
"Sam, lihat mobil itu melintas." Michael berkata ketika berhasil menangkap keberadaan mobil.Nathan memperhatikan mereka, takjub sekaligus bangga. “Kalian berdua seperti detektif profesional saja…”“Tapi waktu kita tidak banyak,” potong Rizky. Wajahnya masih diliputi kecemasan. “Aku dan Nathan kelu
Lampu neon di dalam diskotik kecil itu berkelip liar, memantul di wajah para pengunjung yang sudah setengah mabuk. Di tengah kerumunan, Sherly tampak all out. Rambutnya terurai acak, dress mini berkilau perak, dan tangan memegang gelas cocktail entah keberapa. Musik EDM menghentak, tapi suara Sherl
Malam itu berakhir indah. Mobil melaju pulang dengan tenang, keduanya terdiam namun senyum tak pernah hilang dari bibir Aruna. Ia bersandar di kursi, hatinya penuh kehangatan, sementara tatapan Albert sesekali mencuri pandang ke arahnya, seolah tak puas melihat betapa bahagianya gadis itu malam ini







