FAZER LOGINHanya karena tidak ada setetes darah di malam pertama, Alana dijatuhi talak tiga dan dituntut mengembalikan biaya pernikahan oleh mantan suaminya. Demi menyelamatkan keluarganya, ia bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Arkayudha. Namun hidupnya kembali hancur saat sang majikan menawarkan kesepakatan yang gila. "Layani suamiku, dan utang keluargamu akan lunas!" Demi melindungi orang tuanya, Alana terpaksa menerima. Namun ia tak menyangka pria yang awalnya hanya alat balas dendam itu justru perlahan mengubah hidupnya. ___
Ver mais"Sialan!"
Alana tersentak saat makian itu memecah keheningan malam. Dadanya bergemuruh, sementara tubuhnya masih terasa lemas usai menjalani malam pertama bersama Aksa. Ia berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi gerakan Aksa yang tiba-tiba berdiri membuatnya membeku di tempat. "Diam di sana, kamu menjijikkan!" bentak Aksa dengan suara menggelegar. Alana terperanjat. Semua kalimat seolah tertahan begitu saja di tenggorokan. Ia hanya mampu menatap lelaki di hadapannya dengan mata yang mulai dipenuhi air mata. Aksa berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Kemarahan yang menguasai dirinya membuat logikanya seakan lenyap begitu saja. "Siapa yang sudah melakukannya, Lana?" teriaknya lagi. Alana mengerjapkan mata beberapa kali. Kebingungan bercampur ketakutan membuat suaranya bergetar ketika akhirnya berbicara. "Ma-maksudmu apa, Mas?" "Jangan pura-pura bodoh!" bentak Aksa tanpa memberi kesempatan Alana untuk memahami tuduhannya. "Kamu sudah tidak perawan, dan sekarang bilang sama aku, siapa laki-laki yang melakukannya?" "Mas, demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan apa pun dengan laki-laki lain." Suaranya bergetar hebat. "Aku masih perawan, dan kamu adalah laki-laki pertama yang menyentuhku." "Bohong!" "Aku gak bohong!" balas Alana, kali ini lebih keras meski air matanya mulai jatuh satu per satu. Akan tetapi, Aksa sama sekali tidak percaya. Tatapannya justru semakin tajam. Ia melangkah mendekat hingga membuat tubuh Alana refleks mundur. "Kalau kamu nggak bohong, mana buktinya?" tanyanya dingin, lalu menunjuk ke arah ranjang dengan gerakan kasar. "Mana darah perawanmu?" Pertanyaan itu membuat Alana membisu. Ia mengikuti arah telunjuk lelaki itu dan mendapati apa yang dimaksud. Memang tidak ada apa pun di sana. Namun, kenyataan itu justru membuat dirinya semakin bingung. Alana menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak. Selama hidupnya, ia tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan Aksa. "Aku benar-benar gak tahu kenapa tidak ada darahnya," ucapnya lirih, berusaha menahan tangis. "Tapi aku bersumpah aku tidak pernah melakukannya dengan laki-laki mana pun." "Masih mau mengelak?" cibir Aksa. "Aku tidak mengelak!" "Lalu apa penjelasanmu?" "Aku gak tahu..." suara Alana pecah. "Aku benar-benar gak tahu, Mas." Ruangan itu kembali hening. Hanya suara isak tertahan Alana yang terdengar samar di antara napas berat Aksa. Sayangnya, tangisan itu tidak sedikit pun melunakkan hati lelaki tersebut. Di mata Aksa, semua yang ada di hadapannya seolah menjadi bukti pengkhianatan. Sedangkan di mata Alana, tuduhan itu terasa begitu kejam karena dijatuhkan tanpa memberinya kesempatan untuk dipercaya. Malam yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan mereka justru berubah menjadi mimpi buruk yang tak pernah dibayangkan Alana sebelumnya. Dan yang paling menyakitkan, lelaki yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung kini berdiri sebagai orang pertama yang meragukan kehormatannya. - Keesokan harinya, Aksa menyeret Alana keluar dari rumah dan membawanya kembali ke rumah orang tuanya. Sepanjang perjalanan, Alana terus memohon dan berharap suaminya akan mengurungkan niatnya. "Tolong, jangan lakukan ini, Mas. Aku tidak mau Ayah dan Ibu kepikiran soal ini," pintanya lirih. Namun, Aksa sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. Wajahnya tetap dingin dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu takut mereka kepikiran atau takut kelakuanmu terbongkar?" sahutnya sinis. "Mas, aku bukan perempuan seperti itu." Aksa mendengus kasar. "Kalau bukan, lalu apa? Kamu tidak perawan, dan kamu sudah menipuku!" Mendengar tuduhan itu, Alana hanya memejamkan mata. Tidak ada lagi tenaga untuk membela diri. Berkali-kali ia mengatakan yang sebenarnya, tetapi Aksa tak mau percaya. Alana pun memilih diam dan pasrah pada keadaan. Sesampainya di rumah orang tuanya, Aksa langsung masuk tanpa basa-basi. Kehadirannya bersama Alana yang tampak berantakan membuat Pak Hamid dan Bu Ningrum terkejut. "Maaf, Nak Aksa, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Alana diperlakukan seperti ini?" tanya Bu Ningrum dengan wajah cemas. Alih-alih menjawab dengan tenang, Aksa justru melontarkan kalimat yang membuat suasana di rumah sederhana itu seketika membeku. "Aku, Aksa Pratama, menjatuhkan talak tiga kepada Alana!" Pak Hamid dan Bu Ningrum terdiam. Wajah keduanya pucat mendengar ucapan itu. "Harusnya saya yang bertanya. Kenapa kalian semua menipu keluarga kami?" lanjut Aksa dengan nada tinggi. "Alana tidak perawan dan dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami yang terhormat!" "Tidak perawan?" ulang Pak Hamid lirih, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bu Candra, yang berdiri di samping putranya, menatap keluarga Alana dengan sorot mata tajam. "Iya. Akibat perbuatan anak kalian, keluarga kami menanggung malu." "Tapi, Bu, Alana gadis baik-baik. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu," bantah Bu Ningrum dengan suara bergetar. "Gadis baik-baik?" Bu Candra tersenyum sinis. "Terserah apa pun yang kalian katakan. Yang jelas, kami merasa dirugikan. Jadi, kami minta semua biaya pernikahan dan hantaran dikembalikan!" Ucapan itu membuat semua orang terkejut, termasuk Alana. Ia tak pernah menyangka Aksa dan keluarganya akan bertindak sekejam itu. **** Rentetan kejadian seminggu terakhir kembali berputar di kepalanya. Tuduhan, hinaan, dan penolakan yang terus-menerus ia terima membuat pikirannya kacau. Fokusnya buyar hingga gelas yang sedari tadi dipegangnya terlepas dari genggamannya. Prang! Suara pecahan kaca memecah keheningan rumah besar itu. Karena tuntutan mantan suaminya, Alana sekarang terpaksa bekerja sebagai pembantu di rumah majikan barunya.Ia buru-buru hendak berjongkok untuk membereskannya, tetapi derap langkah cepat terdengar di belakangnya.
"Astaga, Alana!" Lengkingan suara itu membuat Alana menoleh dengan cepat. Di hadapannya berdiri seorang perempuan berpenampilan mencolok dengan riasan tebal yang menatapnya tajam. "Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja," ucap Alana pelan dengan wajah pucat. Perempuan itu melipat kedua tangan di depan dada. "Sudah berapa banyak barang yang kamu pecahkan di rumah ini, Alana?" "Maaf, Nyonya. Saya bersedia menggantinya." "Mengganti?" Perempuan itu menatap Alana dari ujung kepala hingga kaki, lalu tersenyum sinis. Sementara Alana hanya menunduk dalam diam. Ia tidak tahu apa lagi yang akan terjadi setelah ini, tapi ia berharap perempuan itu tidak akan sampai memecatnya. "Kamu ikut saya!" ____Setelah memastikan Regan ditemukan dalam keadaan hidup dan kini berada di bawah pengawasan dokter, Arbian dan Arrana kembali mendatangi kantor kepolisian bersama pengacara. Kedatangan mereka kali ini bukan sekadar untuk memberikan kabar, tetapi juga membawa laporan tambahan mengenai kondisi Regan sekaligus meminta agar proses hukum terhadap kasus tersebut ditunda sementara waktu. Mereka ingin memberikan kesempatan kepada Regan untuk pulih agar keterangannya dapat menjadi petunjuk penting bagi penyidik dalam mengungkap siapa saja yang sebenarnya terlibat dalam penculikan tersebut.“Namun, Pak Septa sudah memberikan keterangan bahwa tidak ada pihak lain yang terlibat selain anak buahnya,” ujar salah satu penyidik setelah membaca laporan tambahan yang diserahkan pengacara Arbian.Pengacara itu mengangguk tenang. “Kami memahami keterangan tersebut, Pak. Namun, untuk membuktikan keraguan klien kami sekaligus memastikan seluruh fakta terungkap, sebaiknya kita menunggu sampai kondisi Regan s
Sesampainya di Jakarta, kedatangan Bu Ningrum dan Pak Hamid disambut langsung oleh Randu. Lelaki itu bahkan menyempatkan diri menghampiri keduanya dan menyambut mereka dengan penuh hormat. Tidak ada sedikit pun sikap merendahkan meski ia tahu pasangan paruh baya tersebut berasal dari keluarga yang sangat sederhana.Randu menundukkan kepalanya sejenak sebelum berbicara dengan suara berat. "Maaf atas semua kejadian ini. Saya sangat menyesal sudah mengizinkan Alana pulang. Seandainya saya tahu akan terjadi seperti ini, saya tidak akan pernah membiarkannya pergi."Bu Ningrum menggeleng pelan. Meski wajahnya tampak lelah setelah perjalanan panjang, perempuan itu masih berusaha tersenyum."Ini musibah, Tuan Randu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita berdoa saja semoga Alana segera disadarkan."Pak Hamid ikut mengangguk. Tatapannya terlihat penuh rasa terima kkasih "Iya, Tuan. Justru kami yang sangat berterima kasih karena Tuan sudah membawa Alana ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih
Pasangan paruh baya itu tampak tergesa-gesa menutup pintu rumah sederhana mereka. Bu Ningrum bahkan sudah memastikan pintu terkunci sebelum berbalik hendak menyusul suaminya. Namun, suara deru sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah membuat langkah keduanya terhenti. Pak Hamid dan Bu Ningrum saling berpandangan. Belum sempat mereka bertanya siapa yang datang, kaca jendela mobil diturunkan. Seorang lelaki yang sudah sangat mereka kenal menyembulkan kepalanya dari balik kemudi. "Pak, Bu, mau ke mana?" tanyanya dengan nada mengejek. Bu Ningrum menahan napas saat menyadari kalau lelaki itu adalah Aksa. "Kami mau pergi." Namun, sebelum perempuan itu sempat melangkah, Aksa kembali membuka mulut. "Oh... mau nyusul anaknya yang jadi pelacur di kota, ya?" Kalimat itu membuat Bu Ningrum spontan mengusap dadanya. Wajahnya langsung pucat, sementara Pak Hamid membeku di tempat. Pak Hamid menatap Aksa dengan mata memerah. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat di
Alana masih berada dalam kondisi yang sama. Tubuhnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan kedua mata terpejam. Wajahnya tampak pucat, sementara suara monitor dan alat-alat medis di sekelilingnya terdengar teratur, menciptakan irama menegangkan yang terus memenuhi ruangan.Randu masih menggenggam tangannya. Lelaki itu bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi ia menahan napas, berharap perempuan di hadapannya segera membuka mata."Oh, Tuhan..." gumamnya lirih.Randu mengusap wajahnya dengan tangan yang lain, lalu kembali menatap Alana."Aku pikir dia sudah bangun, tapi ternyata hanya perasaanku saja."Tadi ia sempat merasa seolah Alana membuka mata dan menyentuh kepalanya. Namun, setelah sadar sepenuhnya, ia kembali menemukan perempuan itu masih terbaring tanpa memberikan respons apa pun.Dalam diam, Randu terus memohon agar Alana segera bangun dari tidur panjangnya. Ia ingin mendengar suara perempuan itu lagi. Ia ingin melihat tatapan penuh luka yang dulu sering membuatnya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações