Masuk😍😍😍 Hadir lebih awal ya Kira** sampai semahal kapan Willona akan kuat tahan diam, tahan cuek??? Aduhh pertanyaannya bikin puyeng wkwkwkw
Ken masih bergaya sok bijak. "Memang benar, Tuan. Cinta tak bisa dipaksakan. Tapi memaksa dua hati yang sudah terikat takdir untuk menjauh ... bukankah itu hanya sia-sia?" Alis David terangkat tinggi dengan rahang mengeras. "Kamu berani menyinggungku, Anak ingusan?" Ken menggeleng dengan wajah datar dan gaya tenangnya. "Sebab pada akhirnya, manusia hanyalah perencana yang payah di hadapan garis jodoh yang sudah dituliskan semesta. Semakin keras kita berusaha memisahkan, terkadang semesta justru semakin gemas untuk mempertemukan kembali. Permisi, Tuan besar. Jangan marah." Ken langsung berjalan cepat, sambil menahan detakan jantungnya yang tak stabil yang dari tadi. David jelas sangat terluka harga dirinya. Dia memutuskan maju di sisi brankar Galaxy. Galaxy yang duduk di brankar menoleh dengan ekspresi jengkel. "Om, nggak ada kerjaan lain? Kenapa sepertinya Om sangat hobi mencampuri urusan anak muda?" David tersenyum sinis. "Aku tidak melihat ada anak muda di sini. Aku hanya melih
Willona berdiri di sana, mematung dengan mata yang membelalak ngeri melihat pemandangan di depannya. Matanya terkunci pada kemeja putih Galaxy yang sudah merah pekat, dan tetesan darah di bawah kaki pria itu."Kak Laxy ...?" gumam Willona, terkejut.Bersamaan dengan itu, dari arah koridor yang berlawanan, David muncul dengan napas memburu. Dia berhenti tepat beberapa meter dari kekacauan. Sorot mata tajam David tertuju pada Galaxy, lalu ke arah putrinya yang tampak mulai goyah pertahanannya."Galaxy! Berhenti membuat kekacauan di rumah sakitku!" bentak David dengan suara menggelegar.Akan tetapi, Galaxy sama sekali tak menoleh. Dia hanya menatap Willona dengan tatapan sayu, seolah ingin mengatakan kalau dia berhasil menemuinya kembali, meski harus dengan cara menyakitkan.Willona masih berdiri di ambang pintu, tangannya gemetar. Sebagai dokter, instingnya meneriakkan pertolongan. Sebagai wanita spesialnya Galaxy, dadanya terus bergejolak menuntut ingin menggapai tangan itu dan mengoba
"Kalau ada pasien yang namanya ini dan wajahnya ini, jangan kalian terima. Separah apa pun kondisinya, meski pun dia sekarat. Kalau dia macam-macam, langsung hubungi aku." David menatap tajam pada para tim medis UGD.Ya, Willona akan kembali pegang kendali UGD, agar bisa lebih menyibukkan diri dan mengasah kemampuan lebih tangguh lagi dalam dunia medis. "Dan ingat baik-baik, jangan sampai ada satu huruf pun yang keluar dari mulut kalian membahas apa yang viral kemarin. Paham?! Bersikap seolah tidak terjadi apapun!" David menunjuk satu persatu wajah mereka. Semua mengangguk takut.Tak lama setelah breafing singkat David, Willona kembali mengenakan jas putihnya dan memasuki area unit gawat darurat. Dia disapa ramah dengan dokter lain dan para perawat. "Dokter Lona.""Dok.""Siang, Dok."Willona bukan wanita bodoh, meskipun bibir tertutup rapat, tapi melihat gestur dan mimik wajah mereka, sudah paham kalau mereka menahan pemikiran atau banyak tanya."Hem." Willona menjawab singkat. D
Di ruang kerjanya. Betrand mengusap wajahnya kasar. Deru napasnya kasar dan berat. Dia pemeriksa tingkat kecocokan wajah dari sketsa itu dengan wajah Matteo dan hasilnya memang 90% mirip. "Livia, bagaimana ini. Benarkah kamau kenal dan tergila-gila dengan pria brengsek seperti ini? ... Aku menyesal memutuskan pergi waktu itu." Dada Bentrand bergetar hebat. Rasa kecewa pada dirinya sendiri dan menyesal telah menjelma jadi duri tajam dan mencengkramnya. Dulu, tujuannya menerima tugas ke luar kota bahkan luar negri hanya ingin agar bisa secepatnya memperbaiki status sosialnya dan membahagiakan adiknya. Tapi setelah dia mendapatkan apa tujuannya, yang jadi tujuan utamanya malah telah pergi untuk selamanya. Pintu dibuka cepat dari luar. Samuel datang buru-buru dengan wajah panik. Bentrand gegas duduk tegap dengan mata tegang. "Gimana?" Samuel duduk sambil mengatur napasnya. Tadi dia langsung dikasih tugas untuk mencari informasi lengkap soal Matteo. "Matteo kuliah di
"Itu mereka! Dua preman yang lagi berkelahi sampai mati!" seru Willona sambil menatap Galaxy dan Betrand. Willona berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, auranya begitu dingin dengan wajah tanpa ekspresi. Di belakangnya, empat polisi berdiri tegap. Galaxy dan Betrand terdiam menatap sorot mata Willona yang lebih tajam dari sembilu. Aura garang 2 pria itu mendadak menguap. "Pak Polisi, silakan amankan mereka. Saya merasa sangat terganggu karena dua orang ini tidak tahu cara berperilaku seperti manusia beradab," ucap Willona tanpa emosi, matanya menyapu pemandangan kacau di depannya. Galaxy mengernyit keheranan dengan kemunculan Willona yang tiba-tiba, lengkap dengan pasukan berseragam. Dia segera merapikan diri, mencoba memulihkan aura dominannya meski wajahnya babak belur. "Lona, ini tidak seperti yang kamu lihat. Pria ini yang lebih dulu—" "Diam, Kak Laxy," potong Willona ketus. "Aku bukan anak kecil yang perlu dijelaskan setelah melihat ruangan berantakan dan luka leb
"Sumpah, Om. Aku bukan wanita ular yang suka adu domba. Aku datang sebagai Cinderella yang mau menyapa pangeran kesepian. Suerrrr ...." Aluna menampilkan dua jari V.Tatapan Betrand menajam. Dalam pikirannya, sempat terbesit sebuah ide kejam.Dia sangat ingin membuat Galaxy menangis darah karena kehilangan adiknya. Dia berpikir untuk menjerat Aluna dan menghancurkannya sampai frustasi.Akan tetapi, semua masih abu-abu, Galaxy belum 100% pelakunya. Dia juga tak bisa sekejam itu pada gadis yang tak bersalah.Lalu, Betrand menunjuk wajah Aluna dengan telunjuk yang bergetar karena menahan emosi, tatapannya menghunus tajam."Jangan macam-macam dan jangan banyak tingkah nanti. Kamu pikir aku tidak tahu permainan kotor keluargamu? Sekali saja kamu atau kakakmu berulah lebih jauh, aku bisa menghancurkan reputasi keluarga Kalingga dalam sekejap. Paham?!" Sentaknya.Aluna mengangguk dan menggeleng, gerakannya tak beraturan karena saking takutnya. "I-Iya, Om. Paham. Tapi ... jangan mentang-menta







