INICIAR SESIÓNRania hanya ingin menghibur diri dari rutinitas kantor yang melelahkan. Ia pun mencoba aplikasi Bubble Gum—tempat orang-orang mencari pasangan dengan cara semanis permen karet. Obrolan hangat dengan seorang pria misterius bernama Pangeran Berkuda Putih membuat harinya terasa berbeda. Ia merasa seperti menemukan seseorang yang unik,tapi benar-benar mengerti dirinya. Yang tidak pernah Rania bayangkan adalah… pria di balik layar itu ternyata begitu dekat, bahkan terlalu dekat dengan kehidupannya.
Ver másRania tidak pernah berniat terlibat dalam drama percintaan apa pun.
Tidak tahun ini. Tidak bulan ini. Dan jelas… tidak lewat aplikasi kencan dengan logo balon pink. Tapi hidup sering iseng. Malam itu, sebelum semuanya berantakan manis, Rania menatap layar ponselnya sambil memeluk guling lelah setelah pekerjaan tak berujung, diomelin bos ganteng yang menyebalkan, dan ditambah undangan pernikahan dari mantan gebetan yang membuat hatinya nyut-nyutan. Ia belum tahu bahwa semua itu akan membawanya pada sesuatu yang sama sekali tidak ia duga. --- Pagi Hari di Kantor “Eh liat nih! Match aku cakep banget!” Suara tawa riuh dari meja sebelah membuat Rania mendongak. Siska dan beberapa rekan kerja sedang menunduk ke ponsel masing-masing. “Aplikasi apa sih?” tanya seseorang. “Bubble Gum,” jawab Siska bangga. “Kalau cocok lengket, kalau enggak… pecah.” Rania mendengus kecil. “Aplikasi kencan lagi? Nanti ujung-ujungnya juga zonk.” Siska mendecak. “Ya ampun, Ran. Hidup tuh jangan serius mulu. Ini seru banget, sumpah!” Rania pura-pura kembali fokus ke laptop, tapi kupingnya tetap menangkap semua obrolan itu. Ada sedikit, sangat sedikit, rasa penasaran yang muncul. Namun sebelum ia sempat tenggelam lebih jauh, pintu ruang direktur terbuka. Seorang pria tinggi, rapi, dan dingin seperti AC 16 derajat muncul. Tatapannya menusuk seluruh ruangan. “Masih pagi. Fokus kerja dulu. Ngobrolnya nanti saat istirahat,” ucapnya datar tapi tegas. Sekejap, kantor yang riuh berubah hening. Rania menelan ludah. Tidak tahu kenapa, setiap kali pria itu muncul, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Setelah bos kembali masuk, kantornya pelan-pelan kembali berisik. “Ya ampun tatapannya…” bisik salah satu staf. “Sumpah, ganteng banget sih,” celetuk yang lain. “Aku rela dimarahin tiap hari asal ditatap gitu,” tambah yang lain sambil ngakak. Rania tersenyum kecut. Sayangnya, ia tau betul siapa yang paling sering kena marah. --- Jam Istirahat Di kantin, Siska cekikikan sendiri sambil melihat ponsel. “Heh, kamu kenapa?” tanya Rania. “Chat sama match baru,” jawabnya sambil tersipu. Rania hanya geleng-geleng, tapi rasa penasarannya makin tumbuh. --- Sore hari, setelah kerja, Rania pulang dengan langkah berat. Sampai kos, ia rebah di kasur. Biasanya ia buka drama, tapi kali ini iklan Bubble Gum tiba-tiba muncul di ponselnya. Pink. Cerah. Norak. Dan entah kenapa… menggoda. Ia baru mau menutup iklan tapi tiba-tiba ponselnya berdering. “Ran? Lagi apa?” suara ibunya lembut. Setelah obrolan singkat, sang ibu berkata: “Mamah cuma mau kamu bahagia. Kalau capek kerja terus ya wajar… tapi jangan lupa jaga hati kamu juga.” Kalimat itu menghantam lebih dalam dari yang ia kira. Setelah telepon berakhir, Rania menatap langit-langit kamar. Suara ibu seakan masih menggema. Lalu sebuah notifikasi masuk. Email. Ia buka… dan napasnya tercekat. "Undangan Pernikahan Adrian & Livia" Dengan penuh sukacita, kami mengundang Anda untuk hadir dalam acara pernikahan kami yang akan diselenggarakan di: Aurelia Garden Hall Merupakan kehormatan bagi kami apabila Anda bersedia hadir dan memberikan doa serta restu untuk pernikahan kami. Hormat kami, Adrian & Livia Dunia hening seketika. Ia menutup mata. Berusaha menahan sesak yang pecah dari dalam dada. Ia tidak menangis. Tapi rasanya seperti ada yang tertusuk --- Dengan perasaan campur aduk marah, sedih, kesepian ia membuka App Store. “Bubble Gum…” Logo balon pink itu muncul, tampak seperti mengejek sekaligus menghibur. Rania menarik napas panjang. “Ah, konyol… tapi ya sudahlah.” Ia menekan tombol d******d. Detik itu juga, hidupnya resmi berubah arah. Ia tidak tahu bahwa seseorang di ruang direktur, yang tatapannya selalu membuat kantor berubah beku, sedang membuka aplikasi yang sama. Ia tidak tahu bahwa username konyolnya nanti MartabakManis_ExtraKeju akan membuat seseorang tertawa ngakak. Ia juga tidak tahu bahwa chat pertama dari pria bernama absurd PangeranBerkudaPutih akan membuat hatinya berdetak lebih cepat dari jam kantor yang selalu ia benci. Yang ia tahu hanyalah.... Semua ini dimulai dari sebuah aplikasi, satu ketukan jari, dan sedikit… rasa kesepian. Dan dari keputusan kecil itulah, hubungan paling kacau, paling manis, dan paling tidak terduga dalam hidupnya akhirnya dimulai.Senin datang tanpa basa-basi.Gedung kantor kembali dipenuhi ritme yang sama, bunyi kartu akses, langkah cepat, suara lift yang naik turun. Namun ada sesuatu yang terasa… salah. Seolah sisa malam di resort belum sepenuhnya tertinggal di sana.Leodric tiba lebih pagi dari biasanya.Wajahnya datar. Rahangnya mengeras. Jasnya rapi, tapi auranya tidak. Ia melangkah melewati lobi tanpa menoleh pada siapa pun, tanpa sapaan singkat yang biasanya masih ia berikan.Dan semua orang merasakannya.Satu per satu karyawan yang berpapasan refleks menunduk. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada yang mendadak mengingat sesuatu lalu berbelok arah.Tidak ada yang menyapa.Tidak ada yang berani.Pintu ruangannya tertutup dengan bunyi yang tidak keras, namun cukup tegas untuk menjadi peringatan.Di dalam, Leodric meletakkan tasnya, membuka laptop, lalu menatap layar tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih berisik. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.Bad mood itu belum pergi.Dan ia tid
Di Tempat yang Seharusnya Jauh Akhir tahun datang dengan keputusan mendadak dari manajemen. Liburan bersama tim inti. Alasannya sederhana: evaluasi santai, bonding, sekaligus “penyegaran” setelah tekanan panjang. Tidak ada yang bisa menolak tanpa alasan kuat. Termasuk Rania. Termasuk juga Leodric. Resor itu terletak di pinggir kota,tenang, jauh dari gedung kaca dan rutinitas kantor. Udara lebih dingin, langit lebih lapang. Namun jarak yang mereka bawa… tetap ikut. Rania datang bersama beberapa rekan kerja. Ia mengenakan sweater sederhana, rambut terikat rapi. Senyumnya sopan, profesional, sama seperti di kantor. Leodric tiba tak lama kemudian. Tatapannya sempat mencari satu wajah tertentu, lalu berhenti seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka saling melihat. Saling menatap walaupun Sebentar. Lalu berpaling. Suasana siang hari ramai. Beberapa karyawan tertawa, mengambil foto, bercanda,tertawa lepas, seakan melepas semua penat yang terjadi di kantor. Davin ikut di
Pagi datang tanpa kejutan.Kantor kembali berjalan seperti biasa terlalu biasa, bahkan. Rania duduk di mejanya, rapi, fokus, dan tenang. Leodric keluar dari ruangannya dengan langkah terukur, wajah datar, aura atasan yang tak memberi celah untuk ditebak.Tak ada sapaan pribadi.Tak ada tatapan terlalu lama.Namun jarak itu… nyata. Meeting pagi dimulai tepat waktu.Rania mempresentasikan laporan dengan suara stabil. Slide berganti rapi, data tersusun jelas. Leodric mendengarkan sambil sesekali memberi catatan singkat.“Di bagian ini, tolong perjelas asumsi angkanya,” ucap Leodric, profesional.“Baik, Pak. Akan saya revisi,” jawab Rania tanpa ragu.Mereka bekerja seperti dua profesional yang sempurna.Tidak dingin.Tidak hangat.Netral.Namun bagi mata yang jeli, ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi senyum kecil, tidak ada lagi bahasa tubuh yang lunak. Semua tertata, semua dibatasi.Clara memperhatikan dari sudut ruangan.Ia tersenyum tipis.Setelah meeting usai, Rania membereskan
Hari itu kantor kembali dipenuhi ritme biasa suara keyboard, telepon yang berbunyi, dan langkah-langkah orang yang lalu lalang. Namun bagi Rania, semuanya terasa lebih… penuh.Pekerjaan menumpuk. Laporan bulanan, revisi legal, meeting dadakan,semuanya datang bersamaan seperti gelombang. Tapi ia fokus. Terlalu fokus.Lebih dari biasanya.Rania menunduk pada layar, jarinya bergerak cepat, menghitung, menulis, mengetik, memeriksa ulang tanpa jeda. Pandangannya tajam, ekspresinya serius. Ia tidak sedang menghindari siapa pun.Ia hanya… mencoba hidup normal lagi.Atau setidaknya berpura-pura.---Di sisi lain ruang kerja…Leodric sedang membaca laporan klien, namun matanya tidak benar-benar mengikuti kalimat di hadapannya. Ia mengetuk meja dengan ujung pena kebiasaan yang hanya muncul ketika pikirannya kacau.Ia mencoba terlihat fokus.Coba tetap jadi atasan yang profesional.Namun setiap kali ia mengalihkan pandangan, matanya selalu… selalu kembali ke arah meja tertentu.Meja yang hari it






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.