Compartilhar

Bab 5

Autor: Jihan Maharani
Ciuman Ricky hampir mendarat di bibir Alisha, tetapi Alisha langsung memalingkan wajahnya untuk menghindar.

Alisha merasa risih dengan sentuhan intim pria itu, tetapi dia terpaksa berpura-pura bersikap manis kepadanya. “Beberapa hari ini aku sedang datang bulan.”

Ricky sedikit mengerutkan kening. “Apa yang kamu pikirkan? Memangnya aku menginginkanmu cuma untuk urusan itu?”

Jika bukan untuk itu, lalu untuk apa?

Jangan-jangan, karena mencintainya?

Alisha mencibir di dalam hati.

Dia menatap kosong mata yang dalam dan garis wajah Ricky yang tampan itu. Jemari Alisha mencengkeram kerah kemeja Ricky. Mata Alisha yang besar dan jernih itu memancarkan kesan polos yang memikat. "Bukankah setiap kali kita bersama, yang paling sering kita lakukan memang hal-hal seperti itu?"

Ricky tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia pun tersenyum tipis. "Maaf, aku kurang meluangkan waktu untukmu. Begini saja, setelah kakakmu pulang nanti, aku akan mengosongkan jadwal beberapa hari dan mengajakmu berlibur. Tempatnya kamu yang pilih, hmm?"

Pandai sekali membujuk.

Dahulu, jika Ricky mau menyisihkan waktu di tengah kesibukannya untuk menemani Alisha bepergian, Alisha pasti sudah girang setengah mati dan lupa diri.

Sekarang, setelah dipikir-pikir baik-baik, banyak hal yang terasa janggal saat dicermati.

Selain menghujani Alisha dengan hadiah dan bermesraan di ranjang sampai sulit dipisahkan, mereka hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama.

Bagi Ricky, hadiah adalah sesuatu yang paling tidak berarti.

Itu karena, Ricky tidak kekurangan uang.

Ponsel Ricky berdering.

Ricky pun melepaskan Alisha, lalu mengeluarkan ponselnya. Dari sudut matanya, Alisha melihat kata yang berkedip di layar: [Bella].

Ricky menutup panggilan itu, tetapi ponselnya langsung kembali berdering.

Barulah Ricky mengangkatnya.

Beberapa saat kemudian, Ricky mengerutkan kening. "Aku tahu, aku segera ke sana."

Setelah menyimpan ponselnya, Ricky mengecup pipi Alisha. "Kamu sedang datang bulan. Aku khawatir perutmu sakit, jadi pagi tadi aku sengaja mampir untuk mengantarkan sup ayam dengan jahe. Jangan lupa dimakan, ya. Aku ada rapat yang harus dihadiri, jadi aku mau pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, hmm?"

Alisha mengangguk pelan.

Sosok Ricky menghilang di balik ruang ganti.

Dahulu, Alisha percaya pada Ricky. Ricky memang sering pergi tergesa-gesa setelah menerima telepon. Alisha sendiri tidak pernah sekali pun melirik layar ponsel Ricky.

Dialah yang terlalu bodoh.

Bagaimana mungkin dia bisa percaya jika pria yang suka main perempuan hanya akan memiliki satu wanita saja?

Seandainya dia mau sedikit saja memperhatikan, dia pasti sudah menyadari bahwa selama dua tahun ini, selain dirinya, Ricky juga memiliki Bella.

Tentu saja bisa jadi masih ada wanita lainnya.

Dia benar-benar begitu bodoh!

Alisha lalu masuk ke kamar mandi. Di depan cermin, Alisha menyeka pipi yang tadi dicium Ricky dengan menggunakan tisu pembersih wajah.

Keluar dari kamar mandi, Alisha melihat sebuah mangkuk kristal yang tertutup di atas meja makan. Alisha mengangkatnya dan isinya masih hangat.

Perjalanan dari kediaman Keluarga Devanta ke sini memakan waktu setidaknya selama setengah jam.

Mangkuk kristal yang tertutup itu tidak memiliki fungsi penahan panas, tetapi isinya jelas masih cukup hangat.

Ricky adalah orang yang paling paham soal detail.

Justru hal itulah yang paling mudah membuat wanita terbuai dan kehilangan akal sehat.

Alisha tidak lagi terbuai oleh semua kelembutan itu. Dia memilih untuk melepaskan semua itu, sekaligus membuang mangkuk kristal itu ke tempat sampah.

Alisha lalu menyetel alarm. Ketika terbangun, waktu sudah menunjukkan jam tiga lebih.

Alisha bangun untuk mandi, lalu ada pesan masuk ke ponselnya.

Pesan itu dari Ricky.

[Aku sudah mengganti mobilmu dengan mobil Bretton. Pelat nomornya tanggal lahirmu. Kuncinya ada di kotak susu di depan pintu, jangan lupa diambil.]

Ricky memang royal.

Pantas saja para wanita yang pernah dikabarkan menjalin hubungan dengannya, semuanya memberikan penilaian sepuluh bintang.

Namun, di mata Alisha, nilai Ricky jelas buruk.

Sudah hampir jam empat, ketika Alisha selesai mandi dan keluar.

Lantaran Ricky bersikeras memberikannya, Alisha akan menerimanya. Hanya orang bodoh yang akan menolak uang.

Setelah mengambil kunci dan tiba di tempat parkir, sekali pandang saja Alisha langsung melihat sebuah mobil sport Bretton berwarna merah muda. Catnya masih baru dan berkilau di bawah cahaya matahari.

Alisha mengendarai mobil itu ke bandara, lalu berdiri di pintu keluar.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, di tengah kerumunan orang, Alisha melihat sosok jangkung Belinda.

Rambut Belinda yang lurus dan panjang tertata rapi, lalu diikat menjadi ekor kuda yang rendah dan digelung, sehingga memperlihatkan dahinya yang mulus. Riasan mata abu-abu dengan sentuhan smoky dan lipstik merah cerah membuat Belinda tampak anggun dan memikat.

Setelan kerja berwarna khaki yang potongannya pas di badan membuat sosok Belinda makin terlihat tegas dan cakap.

Sepatu hak tinggi Belinda yang ramping beradu dengan lantai dan menghasilkan bunyi yang nyaring. Langkah Belinda yang membelah lautan manusia itu bagaikan pedang yang terhunus, dengan aura yang begitu kuat.

Belinda berhenti di depan Alisha dan melepaskan genggamannya pada koper. Lalu, bibir merahnya tersenyum tipis dan dia pun membentangkan kedua lengannya ke arah Alisha.

Hidung Alisha terasa perih. Dia pun menghambur ke pelukan Belinda.

Seketika itu, semua rasa sakit hati Alisha langsung tumpah ruah.

Kedua saudari itu berpelukan erat cukup lama, hingga Belinda merasakan tubuh mungil dalam dekapannya itu gemetar.

Wajah Belinda langsung menjadi muram. Dia segera memegang kedua bahu Alisha dan mendorongnya keluar dari pelukannya. Lalu, terlihatlah mata Alisha yang berkaca-kaca itu.

"Ada apa, Alisha? Apa pacarmu menyakitimu?"

Alisha menggeleng dan suaranya tercekat. "Aku kangen Kakak."

"Bukannya kita baru ketemu waktu Tahun Baru? Itu baru lewat sebulan lebih. Kalau kangen, pulanglah kapan saja."

Belinda merangkul bahu Alisha dengan satu tangan, sementara tangan satunya menarik koper, lalu berjalan keluar dari bandara.

Kedua saudari itu mengobrol sambil berjalan.

Sesampainya di depan mobil Alisha, Belinda melihat adiknya itu sudah kembali berganti mobil baru, tetapi dia tidak berkomentar apa-apa.

Adik kesayangannya ini memang tampak penurut dan lembut, tetapi pandai mencari uang. Berganti mobil sport seharga puluhan miliar sekalipun bukanlah hal yang mengherankan. Lagi pula, seandainya Alisha tidak pandai mencari uang sekalipun, Keluarga Avandra sanggup membelikannya.

Saat kedua saudari itu hendak naik ke mobil, mereka tiba-tiba melihat Ricky!

Di samping Ricky ada seorang wanita. Alisha memang belum pernah bertemu dengan wanita itu. Namun, dari wajahnya saja, Alisha sudah tahu jika wanita itu adalah Bella yang ada media sosial itu.

Belinda pun mendengus dingin. “Dasar laki-laki berengsek!”

Ricky mengangkat pandangannya sekilas dan tak disangka tatapannya bersirobok dengan mata Alisha.

Setelah itu, Belinda mulai menasihati Alisha yang ada di sampingnya. “Lihat, ‘kan? Mulai sekarang, jangan pernah lagi menanyakan dia.”

Alisha mengalihkan pandangannya dan bersikap seakan sama sekali tidak melihat Ricky.

Ricky pun mengerutkan kening.

Bella dengan luwesnya menggandeng lengan Ricky. “Kak Ricky, apa kamu melihat orang yang kamu kenal?”

Alisha sudah menyalakan mobilnya. Di kaca spion, tampak pandangan Ricky tertuju ke arah mereka dan dia berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.

Alisha berpikir, mungkin Ricky sedang menatap kakaknya.

Mobil itu pun perlahan menjauh.

Sosok Ricky sudah tidak lagi terlihat di kaca spion.

“Kak, wanita yang bersamanya tadi wajahnya mirip Kakak.”

Wajah Belinda sedikit menegang, lalu dia pun tertawa. “Kakakmu ini dari kecil sampai besar, sudah menjadi primadona sekolah. Kalau wanita itu mirip denganku, berarti dia cantik. Lelaki hidung belang yang mana, yang nggak mencari wanita cantik? Masa mencari yang jelek?”

Belinda tidak pernah mengatakan bahwa Ricky pernah mengejarnya.

Alisha tidak tahu apa alasannya.

Jelas sekali, Bella yang berada di sisi Ricky sangat mungkin hanyalah pengganti kakaknya.

Lalu, dirinya sendiri … adalah pengganti sekaligus alat balas dendam!

Bisa dibayangkan betapa dalamnya cinta Ricky pada Belinda.

Hati Alisha terasa hancur.

Alisha makin membenci ketidakberdayaan dirinya sendiri.

Bisa-bisanya dia jatuh cinta pada pria itu sampai dua kali!

Sesampainya di apartemen.

Belinda berkata ingin beristirahat sebentar sebelum makan dan meminta Alisha membangunkannya tepat pukul tujuh nanti.

Belinda pun masuk ke kamar tidur yang lainnya.

Alisha baru saja duduk ketika notifikasi WhatsApp di ponselnya berbunyi dua kali berturut-turut.

Di notifikasi layar, muncul dua pesan WhatsApp, satu dari Ricky dan satu lagi dari Bella. Alisha membuka pesan dari Bella terlebih dahulu.

[Siapa wanita yang bersamamu hari ini?]

Setelah melihat kakaknya, bahkan Bella pun merasa terancam.

Alisha tidak membalasnya.

Alasan Alisha tidak menghapus Bella dari daftar teman adalah karena dia merasa Bella mungkin bisa memberinya lebih banyak informasi.

Kemudian, Alisha membuka kotak percakapannya dengan Ricky.

[Alisha, jangan lupa janji kita malam ini, hmm?]

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 50

    Suasana hati Alisha sedang buruk ketika ponselnya berdering. Ternyata Belinda yang menelepon.Begitu telepon tersambung, suara Belinda terdengar panik.“Alisha, Adjie terluka. Sekarang sedang dirawat di ruang unit gawat darurat Rumah Sakit Umum Kota Anala. Bibi Arini dan Paman Lutfi sedang berlibur ke luar negeri. Bibi Arini sudah meneleponku. Mereka nggak bisa pulang secepat itu. Katanya, karena kamu berada di Kota Anala, dia meminta tolong agar kamu pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie terlebih dulu dan membantu merawatnya.”“Terluka karena apa? Apakah parah?”“Aku sendiri juga kurang jelas. Bibi Arini juga nggak ada di lokasi. Kamu kan lebih dekat, pergilah dulu untuk melihatnya.”“Oke.”Urusan perjodohan itu bermula karena dirinya, maka sudah seharusnya Alisha juga yang menyelesaikannya.Terlepas dari semua itu, mengingat hubungan antara kedua keluarga, karena sudah dihubungi, Alisha memang seharusnya pergi menjenguk.Alisha pun bergegas ke rumah sakit dan berlari menuj

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 49

    Ricky mendekap Alisha erat-erat. Sambil meronta, Alisha berkata, “Lepaskan aku! Pergi saja cari wanita lain, mulai sekarang jangan temui aku lagi!”“Alisha, dengarkan aku,” bujuk Ricky dengan lembut. “Aku benar-benar nggak ada apa-apa dengannya. Aku khawatir kamu salah paham, makanya aku nggak bilang kalau aku pergi menemuinya.”Alisha berbalik dan menatap mata Ricky. “Kalau begitu, katakan padaku, sebenarnya apa hubungan kalian?”“Sudah kubilang, dia istri temanku. Aku dititipi untuk membantu menjaganya.”Masih saja membohonginya!Padahal mereka sudah menikah.“Benarkah?”“Hmm. Aku sudah janji pada temanku untuk menjaganya baik-baik. Dia sedang hamil. Kalau ada urusan, dia mencariku. Jadi, aku harus datang. Alisha, jangan marah lagi, ya?”Ricky tampak penuh kasih sayang dan bersungguh-sungguh, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda sedang membohonginya.Sebenarnya, Alisha tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya ingin segera mendapatkan videonya, sekaligus ingin menguji apakah Ricky m

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 48

    Alisha melangkah keluar dari Farley. Mobil Ricky belum pergi. Di bawah cahaya lampu jalan, masih terlihat dua orang di dalam mobil itu sedang membicarakan sesuatu.Alisha bergegas menghampiri mobil Ricky. Lalu, dengan pura-pura riang, dia mengetuk jendela mobil.Ricky menurunkan kaca jendelanya. Begitu melihat Bella duduk di kursi penumpang depan, senyum di wajah Alisha langsung membeku.Kemudian, Alisha berbalik dan berlari pergi.Ricky pun bergegas membuka pintu mobil.“Alisha!”Ricky mengejarnya, lalu meraih pinggang Alisha dan memeluknya dari belakang.Bella yang masih duduk di dalam mobil, mengepalkan tangannya erat-erat.“Lepaskan aku!”Alisha meronta."Alisha, dengarkan aku dulu!"Saat keluar tadi, Alisha masih memakai sepatu hak tinggi yang dia kenakan untuk bekerja di siang hari. Dia lalu menginjak kaki Ricky dengan sekuat tenaga.Ricky merasakan sakit di kakinya dan cengkeramannya sedikit mengendur. Alisha pun menyingkirkan lengan Ricky, lalu berlari pergi.Ricky menahan saki

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 47

    Barulah Ricky bangun dengan perasaan kesal. Dia lalu mengambil ponselnya di atas meja, di samping tempat tidur.Benar saja, setelah selesai menerima telepon, Ricky langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, Ricky keluar dan mulai berganti pakaian.Setelah Ricky selesai berpakaian, Alisha juga sudah selesai merapikan pakaiannya yang berantakan.Ricky mendekat dan berkata dengan suara serak, “Maaf, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan di luar. Malam ini … aku utang padamu, besok kutebus.”“Ricky, sudah selarut ini, kamu mau ke mana?” tanya Alisha dengan sengaja. “Apa kamu mau menemui wanita yang kutemui di rumah sakit waktu itu?”“Alisha, jangan berpikiran macam-macam. Aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Aku ada janji, malam ini nggak pulang. Besok pagi aku jemput kamu, kita berangkat ke kantor bersama, ya?”Alisha seperti biasa, tidak bertanya lebih jauh.Begitu Ricky keluar dari kamar tidur, Alisha cepat-cepat berganti pakaian dan menyusul kelu

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 46

    Ramah dan santun, terpelajar dan berwibawa.Tutur kata Ricky juga terdengar begitu menyenangkan di telinga.Namun, justru Ricky-lah yang bersikeras ingin menghancurkan Alisha.Selesai makan, mereka pulang ke Kediaman Alisha.Begitu mobil berhenti, Ricky langsung menarik Alisha ke dalam pelukannya dan menciumnya dalam-dalam.Malam ini, restoran bergaya klasik tempat mereka makan menyajikan minuman keras dari buah.Ricky menghabiskan satu botol.Minuman ini rasanya asam manis dan enak diminum. Namun, seperti anggur merah, efeknya baru terasa belakangan.Terlihat jelas bahwa Ricky sedikit mabuk. Di sela bibir dan giginya masih tersisa aroma harum dan lembut dari minuman keras berbahan buah itu.Beberapa hari terakhir ini, bukan sekali dua kali Ricky menginginkannya.Ciuman di dalam mobil tadi sudah menjadi isyarat.Tak lama kemudian, Ricky turun dari mobil, lalu menggendong Alisha masuk ke kamar utama.Ciuman bertubi-tubi menghujani Alisha bagai badai.Alisha tahu bahwa setelah minum, has

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 45

    “Kenapa nggak memberitahuku?”“Aku takut kamu khawatir. Aku baik-baik saja, cuma kap mesin dan bumpernya yang rusak.”“Aku akan carikan sopir untukmu. Aku nggak tenang melihatmu seperti ini.”“Benar-benar nggak perlu. Aku cuma kurang hati-hati kali ini, nggak sempat menginjak rem. Aku jamin nggak akan terulang lagi.”Alisha sama sekali tidak ingin Ricky menempatkan satu orang lagi di sisinya.Ricky tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia membukakan pintu mobil dan Alisha duduk di kursi penumpang depan. Kemudian, mobil melaju dan berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan.Alisha pun bertanya dengan bingung. “Kamu mau beli sesuatu?”“Nggak belanja bahan masakan?”Alisha tiba-tiba ingat, setiap kali Ricky pulang ke Kediaman Alisha, Alisha selalu memasak sendiri.Tentu saja, kadang-kadang Ricky juga memasak.Entah saat Alisha sedang sakit, atau saat tidak enak badan karena datang bulan.Orang biasanya menjadi rapuh secara psikologis dalam keadaan seperti itu, sehingga perhatian-perhatian Rick

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status