Compartilhar

Bab 6

Autor: Jihan Maharani
Hari ini adalah hari ulang tahun Ricky. Biasanya, setelah merayakannya dengan teman-temannya, Ricky akan kembali merayakan ulang tahunnya secara pribadi dengan Alisha.

Alisha pun tersenyum getir pada dirinya sendiri.

Yang disebut “janji” itu, bukankah tidak lebih dari mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Ricky, lalu memuaskan Ricky di atas ranjang?

Alisha menutup ponselnya, membuka laptop dan bersiap mendaftar ke sebuah kampus di luar negeri.

Tahun ini, Alisha baru genap berusia 20 tahun dan sudah menempuh kuliah selama dua tahun. Sejak lulus ujian masuk perguruan tinggi di usia 18 tahun, sebenarnya Alisha sudah berencana untuk kuliah di luar negeri, memperdalam bidang pembuatan animasi yang paling disukainya.

Hanya karena bertemu Ricky, Alisha melepaskan kesempatan untuk belajar ke luar negeri tersebut. Dia memilih Kota Anala sebagai tujuan kuliahnya, pindah ke tempat yang paling dekat dengan Ricky.

Pada akhirnya, dua tahun hidupnya pun terbuang sia-sia.

Mulai sekarang, di sisa hidupnya, dia tidak boleh lagi menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak berguna ini.

Setelah selesai mengisi data pendaftaran, Alisha mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam. Hampir pukul tujuh. Alisha pun pergi membangunkan Belinda.

Sebelumnya, Belinda sudah memesan ruang VIP di Janara. Ketika Belinda menyebutkan tempatnya, Alisha pun menjadi tertegun untuk sesaat.

Janara adalah salah satu dari tiga restoran kelas atas terbaik di Kota Anala. Malam ini, Ricky juga merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya di restoran yang sama.

Akan tetapi, raut wajah Alisha segera saja kembali seperti biasa.

Sesampainya di ruang VIP, Alisha bertanya dengan penasaran, “Kak, kali ini Kakak datang ke Kota Anala untuk membicarakan proyek apa?”

“Mengintegrasikan sistem kecerdasan buatan ke dalam jaringan stasiun pengisian daya bersama milikku.”

“Jangan-jangan, Perusahaan Teknologi Gemilang Abadi, ya?”

Belinda tersenyum puas. “Alisha memang pintar.”

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan kecerdasan buatan melaju sangat pesat. Perusahaan Teknologi Gemilang Abadi melejit dalam waktu singkat dan sekarang nilai pasarnya mencapai beberapa puluh triliun.

“Perusahaan Teknologi Gemilang Abadi sedang berada di puncak kejayaan dan merupakan perusahaan yang menjadi pemimpin di industri kecerdasan buatan. Dengan gaya kerja Kakak, Kakak pasti akan memilih Perusahaan Teknologi Gemilang Abadi.”

“Kamu memang benar-benar adik kandungku, benar-benar memahamiku,” kata Belinda sambil menatap Alisha dengan penuh sayang. “Tapi, jangan terlalu memikirkan bisnis Grup Avandra. Kamu cukup fokus belajar dengan baik dan melakukan apa yang ingin kamu lakukan.”

Alisha tidak kuasa menahan rasa iba kepada Belinda. Secara kodrati, stamina wanita memang lebih lemah dibanding laki-laki. Namun, karena generasi Keluarga Avandra ini tidak memiliki anak laki-laki, Belinda sebagai putri sulung terpaksa memikul masa depan Grup Avandra. Sejak kecil, tuntutan keluarga kepada Belinda sangatlah ketat.

Sebaliknya, hidup Alisha jauh lebih santai.

“Kak, apa pekerjaan Kakak melelahkan?”

Sambil memesan makanan, Belinda pun berkata, “Tentu saja melelahkan, makanya aku nggak tega melihatmu menanggung beban ini.”

Alisha tahu, Belinda sangat pandai bermain piano. Sejak kecil, kakaknya itu sangat menyukai piano. Akan tetapi, keluarga mengatakan bahwa setelah dewasa, Belinda harus mengelola Grup Avandra. Belajar piano terlalu menyita waktu. Oleh karena itu, Belinda tidak diizinkan belajar piano.

Sejak usia sepuluh tahun, Belinda tidak hanya harus meraih nilai terbaik di sekolah, tetapi juga harus menyisihkan waktu untuk mulai belajar manajemen perusahaan lebih awal.

Oleh karena itu, sejak kecil, Belinda tidak bisa melakukan hal-hal yang disukainya.

Alisha sering berpikir, andai saja di rumah ada seorang kakak laki-laki atau adik laki-laki, Belinda tentu tidak perlu sebegitu bersusah payah.

Saat sedang makan, ponsel Alisha berdering. Itu telepon dari Ricky.

Alisha pun menutup teleponnya.

Akan tetapi, Ricky kembali meneleponnya dan Alisha tetap menutup teleponnya.

Belinda pun memandang Alisha. “Siapa yang menelepon? Kenapa nggak diangkat?”

“Telepon iseng. Kak, Kakak makan saja dulu, aku mau ke toilet sebentar.”

Alisha keluar dari ruang VIP. Baru saja tiba di depan toilet, sambil menunduk dan bersiap membalas pesan Ricky, tiba-tiba sebuah tangan menggenggamnya dan Alisha pun ditarik masuk ke dalam toilet.

Alisha didesak Ricky ke balik pintu dan aura kuat pria itu menekan mendekatinya. Bertemu Ricky di tempat ini bukanlah hal yang mengejutkan bagi Alisha.

“Kenapa nggak membalas pesan, juga nggak mengangkat telepon?”

Wajah tampan Ricky tampak sedikit muram, seakan dia merasa kesal.

Alisha berpura-pura tidak tahu. “Aku sedang bersama kakakku.”

“Dulu waktu kamu bersama kakakmu, kamu nggak pernah mengabaikan pesanku.”

Apakah Ricky sudah menyadari sesuatu?

Alisha menunduk. Dia tidak lagi menatap mata Ricky yang sedalam lautan itu. Suara Alisha terdengar sedikit kecewa, “Bukankah di sisimu sudah ada wanita lain?”

Raut wajah Ricky yang tadinya dingin dan muram mulai memudar.

Jawaban Alisha jelas sudah membuat Ricky merasa senang.

Ujung jari Ricky yang panjang dan indah itu mengangkat dagu Alisha. Sementara, senyum tipis tersungging di bibir Ricky yang tipis itu. “Cemburu?”

Alisha terdiam.

Ricky menempelkan dahinya ke dahi Alisha. Keduanya begitu dekat, hingga napas mereka nyaris berpadu.

Saat bibir Ricky mendekat hendak menciumnya, Alisha memalingkan kepala untuk menghindar.

“Kamu benar-benar cemburu?” Senyum di bibir Ricky makin lebar. Kedua telapak tangannya yang besar mencengkeram pinggang Alisha yang lembut dan ramping itu. “Istri seorang teman hendak bepergian dan aku mengantarnya ke bandara. Jangan berpikir macam-macam, hmm?”

Dia yang berpikir macam-macam, atau Ricky yang terus-menerus berbohong?

Jelas-jelas wanita itu istrinya sendiri!

Alisha menatap mata Ricky yang dalam itu dan Ricky sama sekali tidak menghindar.

Apakah semua pria memang bisa berbohong tanpa sedikit pun merasa malu atau jantungnya berdegap kencang?

“Aku sudah keluar terlalu lama. Sebentar lagi kakakku pasti mencariku. Aku kembali dulu ke ruang VIP.”

Ricky masih mencengkeram pinggang Alisha erat-erat dan sama sekali tidak berniat melepaskannya.

“Ricky Devanta, lepaskan aku!”

“Panggil aku Ricky.”

Alisha terdiam sejenak, lalu dengan suara lirih dan lembut memanggilnya, “Ricky.”

“Alisha.”

Terdengar suara Belinda di luar.

Alisha panik bukan main. Dia menatap Ricky dengan wajah cemas.

Akan tetapi, Ricky justru menutup bibir Alisha dan menciumnya dengan penuh gairah.

Ciuman Ricky begitu bergairah dan membara. Untuk sesaat, Alisha tidak bisa bereaksi dan malah hampir terhanyut dan nyaris berteriak.

Teringat kakaknya ada di luar, Alisha pun menahan diri dan tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Kedua tangannya menahan dada bidang Ricky dan berusaha mendorongnya agar menjauh.

Ricky melepaskan bibirnya dengan enggan, seakan masih belum puas. Sementara matanya yang hangat, dalam dan terlihat rupawan itu masih menatap Alisha sambil tersenyum tipis.

Sementara itu, Alisha sendiri sudah nyaris panik tak karuan.

Di saat seperti ini, Alisha makin tidak boleh membiarkan kakaknya mengetahui tentang hubungannya dengan Ricky.

Tepat di saat itu, terdengar suara di luar sana, “Permisi, toilet di sini sedang dalam perbaikan. Silakan menggunakan toilet di ujung lorong yang lain.”

“Baik, terima kasih.”

Alisha baru benar-benar merasa lega setelah mendengar suara sepatu hak tinggi Belinda yang beradu dengan lantai itu terdengar makin menjauh.

Alisha mengepalkan tangannya, lalu memukul dada Ricky.

Ricky jelas-jelas sudah menyuruh orang untuk berjaga di luar, tetapi masih saja sengaja menakut-nakuti Alisha.

Ricky menangkap tangan Alisha, menempelkannya ke bibirnya dan mengecupnya. Kemudian, Ricky berkata dengan suara yang serak, “Temani kakakmu makan. Cari cara untuk keluar secepatnya.”

“Hari ini kayaknya aku nggak bisa keluar ….”

Sebelum Alisha bisa menyelesaikan kata-katanya, ponselnya sudah terlebih dahulu berdering. Alisha mengeluarkan ponselnya dan melihat bahwa yang menelepon adalah Belinda.

Alisha pun meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya dan mendesis pelan, memberi isyarat agar Ricky tidak bersuara.

Namun, begitu telepon tersambung, Ricky menggigit pelan daging lembut di belakang telinga Alisha. Alisha pun menjerit tertahan dan suaranya terdengar agak sensual.

Suara cemas Belinda langsung terdengar di ujung telepon. “Alisha, kamu sedang apa?”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 50

    Suasana hati Alisha sedang buruk ketika ponselnya berdering. Ternyata Belinda yang menelepon.Begitu telepon tersambung, suara Belinda terdengar panik.“Alisha, Adjie terluka. Sekarang sedang dirawat di ruang unit gawat darurat Rumah Sakit Umum Kota Anala. Bibi Arini dan Paman Lutfi sedang berlibur ke luar negeri. Bibi Arini sudah meneleponku. Mereka nggak bisa pulang secepat itu. Katanya, karena kamu berada di Kota Anala, dia meminta tolong agar kamu pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie terlebih dulu dan membantu merawatnya.”“Terluka karena apa? Apakah parah?”“Aku sendiri juga kurang jelas. Bibi Arini juga nggak ada di lokasi. Kamu kan lebih dekat, pergilah dulu untuk melihatnya.”“Oke.”Urusan perjodohan itu bermula karena dirinya, maka sudah seharusnya Alisha juga yang menyelesaikannya.Terlepas dari semua itu, mengingat hubungan antara kedua keluarga, karena sudah dihubungi, Alisha memang seharusnya pergi menjenguk.Alisha pun bergegas ke rumah sakit dan berlari menuj

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 49

    Ricky mendekap Alisha erat-erat. Sambil meronta, Alisha berkata, “Lepaskan aku! Pergi saja cari wanita lain, mulai sekarang jangan temui aku lagi!”“Alisha, dengarkan aku,” bujuk Ricky dengan lembut. “Aku benar-benar nggak ada apa-apa dengannya. Aku khawatir kamu salah paham, makanya aku nggak bilang kalau aku pergi menemuinya.”Alisha berbalik dan menatap mata Ricky. “Kalau begitu, katakan padaku, sebenarnya apa hubungan kalian?”“Sudah kubilang, dia istri temanku. Aku dititipi untuk membantu menjaganya.”Masih saja membohonginya!Padahal mereka sudah menikah.“Benarkah?”“Hmm. Aku sudah janji pada temanku untuk menjaganya baik-baik. Dia sedang hamil. Kalau ada urusan, dia mencariku. Jadi, aku harus datang. Alisha, jangan marah lagi, ya?”Ricky tampak penuh kasih sayang dan bersungguh-sungguh, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda sedang membohonginya.Sebenarnya, Alisha tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya ingin segera mendapatkan videonya, sekaligus ingin menguji apakah Ricky m

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 48

    Alisha melangkah keluar dari Farley. Mobil Ricky belum pergi. Di bawah cahaya lampu jalan, masih terlihat dua orang di dalam mobil itu sedang membicarakan sesuatu.Alisha bergegas menghampiri mobil Ricky. Lalu, dengan pura-pura riang, dia mengetuk jendela mobil.Ricky menurunkan kaca jendelanya. Begitu melihat Bella duduk di kursi penumpang depan, senyum di wajah Alisha langsung membeku.Kemudian, Alisha berbalik dan berlari pergi.Ricky pun bergegas membuka pintu mobil.“Alisha!”Ricky mengejarnya, lalu meraih pinggang Alisha dan memeluknya dari belakang.Bella yang masih duduk di dalam mobil, mengepalkan tangannya erat-erat.“Lepaskan aku!”Alisha meronta."Alisha, dengarkan aku dulu!"Saat keluar tadi, Alisha masih memakai sepatu hak tinggi yang dia kenakan untuk bekerja di siang hari. Dia lalu menginjak kaki Ricky dengan sekuat tenaga.Ricky merasakan sakit di kakinya dan cengkeramannya sedikit mengendur. Alisha pun menyingkirkan lengan Ricky, lalu berlari pergi.Ricky menahan saki

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 47

    Barulah Ricky bangun dengan perasaan kesal. Dia lalu mengambil ponselnya di atas meja, di samping tempat tidur.Benar saja, setelah selesai menerima telepon, Ricky langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, Ricky keluar dan mulai berganti pakaian.Setelah Ricky selesai berpakaian, Alisha juga sudah selesai merapikan pakaiannya yang berantakan.Ricky mendekat dan berkata dengan suara serak, “Maaf, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan di luar. Malam ini … aku utang padamu, besok kutebus.”“Ricky, sudah selarut ini, kamu mau ke mana?” tanya Alisha dengan sengaja. “Apa kamu mau menemui wanita yang kutemui di rumah sakit waktu itu?”“Alisha, jangan berpikiran macam-macam. Aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Aku ada janji, malam ini nggak pulang. Besok pagi aku jemput kamu, kita berangkat ke kantor bersama, ya?”Alisha seperti biasa, tidak bertanya lebih jauh.Begitu Ricky keluar dari kamar tidur, Alisha cepat-cepat berganti pakaian dan menyusul kelu

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 46

    Ramah dan santun, terpelajar dan berwibawa.Tutur kata Ricky juga terdengar begitu menyenangkan di telinga.Namun, justru Ricky-lah yang bersikeras ingin menghancurkan Alisha.Selesai makan, mereka pulang ke Kediaman Alisha.Begitu mobil berhenti, Ricky langsung menarik Alisha ke dalam pelukannya dan menciumnya dalam-dalam.Malam ini, restoran bergaya klasik tempat mereka makan menyajikan minuman keras dari buah.Ricky menghabiskan satu botol.Minuman ini rasanya asam manis dan enak diminum. Namun, seperti anggur merah, efeknya baru terasa belakangan.Terlihat jelas bahwa Ricky sedikit mabuk. Di sela bibir dan giginya masih tersisa aroma harum dan lembut dari minuman keras berbahan buah itu.Beberapa hari terakhir ini, bukan sekali dua kali Ricky menginginkannya.Ciuman di dalam mobil tadi sudah menjadi isyarat.Tak lama kemudian, Ricky turun dari mobil, lalu menggendong Alisha masuk ke kamar utama.Ciuman bertubi-tubi menghujani Alisha bagai badai.Alisha tahu bahwa setelah minum, has

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 45

    “Kenapa nggak memberitahuku?”“Aku takut kamu khawatir. Aku baik-baik saja, cuma kap mesin dan bumpernya yang rusak.”“Aku akan carikan sopir untukmu. Aku nggak tenang melihatmu seperti ini.”“Benar-benar nggak perlu. Aku cuma kurang hati-hati kali ini, nggak sempat menginjak rem. Aku jamin nggak akan terulang lagi.”Alisha sama sekali tidak ingin Ricky menempatkan satu orang lagi di sisinya.Ricky tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia membukakan pintu mobil dan Alisha duduk di kursi penumpang depan. Kemudian, mobil melaju dan berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan.Alisha pun bertanya dengan bingung. “Kamu mau beli sesuatu?”“Nggak belanja bahan masakan?”Alisha tiba-tiba ingat, setiap kali Ricky pulang ke Kediaman Alisha, Alisha selalu memasak sendiri.Tentu saja, kadang-kadang Ricky juga memasak.Entah saat Alisha sedang sakit, atau saat tidak enak badan karena datang bulan.Orang biasanya menjadi rapuh secara psikologis dalam keadaan seperti itu, sehingga perhatian-perhatian Rick

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status