FAZER LOGINBab 71Lila terlonjak kaget, detak jantungnya seakan berhenti sesaat ketika mendengar bisikan rendah nan serak itu tepat di depan wajahnya. "Serve me," suara itu bukan sekadar perintah, melainkan mantra yang seolah memiliki daya magis untuk melumpuhkan logika Lila dalam sekejap.Pandangan mereka beradu di bawah temaram lampu kamar. Mata kelam Oliver yang biasanya sedingin es, kini berkilat penuh gairah dan dominasi yang pekat. Lila merasa pening, bukan karena kepalanya yang berat, tapi karena permainan emosi yang Oliver suguhkan begitu tiba-tiba.Ia yang tadinya berusaha keras mendorong dada bidang itu, perlahan merasa tenaganya menguap. Protes yang sudah di ujung lidah tertelan kembali, digantikan oleh napas yang memburu. Kata-kata Oliver barusan seolah menghipnotisnya, menembus lapisan pertahanan harga diri yang selama ini ia bangun kokoh.Tanpa sadar, jemari Lila yang tadi mengepal untuk memukul, kini perlahan terbuka dan berpindah. Ia justru menggenggam erat lengan kokoh Oliver yan
Bab 70"Organisasi?" tanya beberapa petinggi di ruangan itu hampir bersamaan. Mereka saling lirik, merasa asing dengan istilah yang baru saja meluncur dari mulut Jonathan. Meski Oliver membisikkannya dengan sangat pelan, keterkejutan Jonathan rupanya cukup hebat hingga ia tanpa sadar menggumamkan kata keramat tersebut.Suasana rapat yang sudah kacau itu pun semakin tidak menentu. "Pak Jonathan, sebaiknya meeting hari ini ditutup saja oleh Anda," suara salah satu direktur menyela, mencoba menormalkan situasi yang makin canggung.Jonathan tersentak, ia segera menarik napas dalam dan berusaha menormalkan ekspresinya yang sempat pias. "Ah, ya. Maafkan saya. Karena sifat Oliver yang masih kekanakan seperti itu," ucapnya sembari memaksakan sebuah senyum tipis.Jonathan pun menutup meeting yang bahkan tidak dimulai itu. Ia meminta maaf yang sangat dalam atas nama Oliver, bertingkah seolah ia adalah orang tua yang sabar menghadapi anak tiri yang kurang ajar. Namun di balik topeng itu, jantungn
Bab 69Pintu ruang rapat terbuka. Oliver melangkah masuk dengan langkah yang bergema di lantai marmer. Ia menatap sekeliling ruangan yang seharusnya menjadi hak miliknya sepenuhnya jika saja Jonathan tidak merebut kendali bertahun-tahun lalu.Jonathan mengernyitkan dahi, menatap ke arah pintu yang tertutup rapat di belakang Oliver. Ia menunggu beberapa saat, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran orang asing."Oliver?" Jonathan bersuara, nada bicaranya penuh kebingungan. "Di mana tamu yang kau katakan? Delegasi dari pasar Eropa itu... mana mereka?"Bukan hanya Jonathan, para petinggi Monfalco Corp yang duduk di sana pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingung mereka. Mereka sudah bersiap menyambut investor besar, namun yang muncul hanyalah Oliver seorang diri.Oliver berjalan dengan sangat santai menuju kursi kosong di meja panjang itu. Ia duduk dengan gaya angkuh, menyandarkan punggungnya seolah dia adalah pemilik tunggal ruangan tersebut."Apa aku ada mengatakan mereka akan datang
Bab 68Lila akhirnya menyerah. Dengan langkah berat dan hati yang mendidih, ia masuk ke dalam mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela, mengabaikan kemewahan interior mobil yang biasanya akan membuat orang awam terpukau.Sopir Oliver membawanya langsung menuju apartemen pribadi sang tuan—unit penthouse yang berada di puncak gedung paling eksklusif di pusat kota. Begitu mobil berhenti dan Lila turun, ia mendongak menatap gedung tinggi itu dengan perasaan campur aduk."Tunggu, bagaimana aku bisa masuk ke dalam?" gumamnya pelan saat sudah berdiri tegak di depan pintu masuk lobi yang dijaga ketat. Ia baru sadar, ia tidak memegang kunci cadangan, kartu akses, atau apa pun milik Oliver."Apa aku batalkan saja? Mungkin ini saat yang tepat untuk kabur," pikirnya nakal.Baru saja niat untuk melarikan diri melintas di kepalanya, ponsel di genggamannya bergetar pendek. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak tersimpan, namun ia tahu siapa pemiliknya. Isinya
Bab 67Setelah menempuh perjalanan jauh yang menguras kantong dan emosinya, Lila akhirnya tiba di depan sebuah club malam tempatnya bekerja. Ia turun dari taksi dengan napas memburu, berniat untuk langsung masuk dan segera memulai sifnya agar bisa melupakan kejadian melelahkan hari ini.Namun, baru saja kakinya hendak melangkah melewati pintu masuk, sebuah tangan kekar menghadang jalannya. Lila mendongak dan mendapati Baron, salah satu petugas keamanan di sana, menatapnya dengan raut wajah yang tidak biasa."Ada apa, Baron?" tanya Lila heran. "Kenapa aku dihadang? Aku sudah telat, minggir."Ini adalah pertama kalinya Lila ditahan masuk ke tempat kerjanya sendiri. Baron yang biasanya ramah dan sering bercanda dengannya, kini tampak kaku."Maaf, Lila. Aku hanya menjalankan perintah dari atasan. Mulai detik ini, kamu dilarang masuk ke dalam," ucap pria bertubuh besar dan botak itu dengan nada menyesal. Ia kemudian merogoh saku jasnya dan menyerahkan satu amplop putih kepada Lila. "Dan ini
Bab 66Lila yang ditinggalkan begitu saja oleh Oliver hanya bisa mendengus kesal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai mahoni, melampiaskan kegeraman pada pria yang emosinya lebih labil daripada ramalan cuaca itu. Lila berjalan menuju meja yang berada di ruang tengah, menyambar tasnya dengan gerakan gusar."Sebaiknya aku langsung ke tempat kerja. Daripada di sini makan hati terus," gumamnya pelan.Begitu ia membuka pintu ruangan besar itu, Lila tersentak hingga hampir menjatuhkan tasnya. Seorang wanita berpakaian formal yang sangat rapi sudah berdiri tegak di sana, seolah memang sedang menunggunya keluar."Nona Lila, silakan. Saya akan mengantar Anda ke lobi," ucap wanita itu dengan senyum profesional yang kaku namun sopan.Lila mengerjapkan mata, sedikit kikuk. "Ah... iya, terima kasih."Ia mengekor di belakang wanita tersebut, melintasi koridor mewah hingga masuk ke dalam sebuah lift. Lila menyadari bahwa lift ini berbeda dengan yang ia gunakan saat naik bersama Oliver dan Bastian tadi







