เข้าสู่ระบบ"Di dunia ini tidak ada yang gratis, Ivony. Kau ingin perlindungan? Maka berikan sesuatu yang sebanding." Setelah diusir oleh ayah angkatnya dan kehilangan segalanya, Ivony (24) terpaksa mengetuk pintu terakhir yang ia punya: Damian Valerio (35), paman angkat yang dingin dan berbahaya. Damian setuju menampungnya, namun bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai asisten di rumahnya yang harus tunduk pada setiap perintahnya. Terjebak dalam permainan hasrat yang manipulatif, Ivony kini berada di antara ketakutan akan dominasi Damian dan candu akan sentuhan pria yang membuatnya melayang. Ivony tak punya jalan keluar. Baginya, Damian adalah penyelamat sekaligus sangkar emas yang siap menjeratnya selamanya.
ดูเพิ่มเติม“Uncle… aku harap kau mau menerimaku. Aku akan melakukan pekerjaan apa saja asalkan kau memberiku tumpangan.”
Di lantai tiga puluh unit apartemen mewah Złota 44, Ivony Anindita, 24 tahun tengah berdiri mematung di atas karpet Persia yang terasa terlalu empuk untuk kaki kasarnya yang kelelahan.
Di hadapannya, sebuah pintu kayu jati masif setinggi tiga meter berdiri angkuh, memisahkan koridor apartemen dengan ruang kerja pribadi sang pemilik.
Kepala Ivony menunduk, menatap koper kabin kecil yang roda-rodanya masih basah oleh air hujan. Koper itu adalah seluruh hidupnya sekarang. Tidak ada lagi rumah untuk dia tinggali sebab ayah angkatnya telah menikah lagi dan menjual rumah tersebut untuk keperluan mewah istri barunya.
Pria itu, Damian Alendra, 35 tahun tampak tidak bergeming. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi wiski berwarna amber memantulkan cahaya kota.
“Tumpangan?” ucap Damian dengan suara baritonnya “Kau menempuh jarak ratusan kilometer hanya untuk meminta tumpangan, Ivony?”
Ivony menelan ludah, berusaha mengusir rasa terhina yang merayap naik ke tenggorokannya. “Aku tidak punya tempat lain. Papa... dia sudah mengusirku.”
“Lalu kenapa kau berpikir aku akan peduli?” Damian memutar gelas di tangannya, hingga membiarkan es batu berdenting pelan.
“Hanya karena kakakku mengadopsimu dua puluh tahun yang lalu, bukan berarti aku mewarisi tanggung jawab atas hidupmu. Aku bukan panti asuhan, Ivony. Dan aku jelas bukan pria baik hati yang suka menampung orang asing.”
“Ta-tapi… tapi aku keponakanmu,” ucapnya lirih.
Damian terkekeh rendah. “Hukum tidak berlaku di ruangan ini. Di sini, yang ada hanya logika dan transaksi. Apa yang bisa kau berikan padaku? Kau bilang akan melakukan pekerjaan apa saja? Aku punya tim pembersih profesional yang datang setiap pagi. Aku punya sekretaris yang jauh lebih kompeten darimu. Jadi, katakan padaku, pekerjaan apa yang kau maksud?”
Ivony merasa wajahnya memanas. Ia merasa telanjang di bawah tatapan tak kasat mata pria itu. Ia membayangkan dirinya kembali ke jalanan, tidur di stasiun pusat di antara para tunawisma dan udara yang membeku. Rasa takut itu jauh lebih besar daripada rasa malunya.
“Aku bisa memasak,” ucap Ivony lirih. “Aku bisa menjaga privasimu. Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya butuh sudut kecil untuk tidur sampai aku mendapatkan pekerjaan tetap di sini.”
“Kota ini tidak ramah bagi pendatang tanpa dokumen kerja yang jelas, Ivony. Kau hanya akan menjadi beban.” Damian akhirnya bergerak, namun bukan untuk berbalik.
Ia justru meneguk wiskinya hingga tandas. “Pulanglah. Aku akan membelikanmu tiket pesawat kelas ekonomi untuk besok pagi.”
“Aku tidak bisa pulang!” Ivony berteriak, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
“Rumah itu sudah bukan milikku. Papa menjualnya sebulan setelah Mama meninggal. Dia bahkan tidak menyisakan satu pun foto Mama untukku. Jika aku kembali, aku hanya akan menjadi beban bagi orang-orang yang membenciku.”
Ivony melangkah maju, untuk mendekati meja kerja Damian yang terbuat dari marmer hitam. Ia lalu mencengkeram pinggiran meja itu seolah-olah itu adalah pelampung di tengah samudra.
“Mama pernah bilang padaku...” Ivony mengatur napasnya yang tersengal. “Dia bilang, kalau terjadi sesuatu padanya, aku harus mencari 'adik kecilnya' di sini. Dia bilang kau adalah orang yang paling keras kepala yang pernah dia kenal, tapi kau tidak pernah melupakan janji.”
Hening. Detik jam dinding seolah berhenti berdetak. Damian lalu meletakkan gelas kosongnya ke atas meja dengan dentuman pelan namun tegas.
“Mama memberikan amanah padaku,” lanjut Ivony dengan suara nyaris berbisik. “Dia meninggalkan surat di kotak depositnya. Surat yang ditujukan untukmu, Uncle.”
Untuk pertama kalinya sejak Ivony memasuki ruangan itu, Damian memutar tubuhnya. Ia pun berbalik dengan perlahan, menampakkan wajah dengan garis rahang tajam dan sepasang mata kelabu yang seolah bisa menembus tulang rusuk Ivony.
Damian berjalan mendekat lalu berhenti tepat di depan Ivony, menunduk sehingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Kau membawa surat itu?” tanya Damian dingin.
Ivony mengangguk lemah, lalu tangannya meraba saku jaketnya yang lembap. “Ada di sini. Mama memintaku memberikannya langsung padamu jika aku benar-benar terdesak.”
Damian menatap mata Ivony yang sembap untuk waktu yang lama. Ada kilatan emosi yang tidak terbaca di balik mata kelabunya, sesuatu yang menyerupai kemarahan, namun juga penyesalan yang dalam.
Ia merampas surat lusuh itu dari tangan Ivony, membacanya sekilas, lalu meremasnya dalam kepalan tangan.
“Kakakku selalu tahu cara mengikat leherku, bahkan dari dalam kubur sekalipun,” desis Damian.
Ia pun melangkah mundur, lalu menyandarkan pinggulnya di meja kerja sambil melipat tangan di dada. Matanya kembali menyapu sosok Ivony yang tampak hancur, basah, dan menyedihkan.
“Baiklah, Ivony. Aku akan menampungmu,” ujar Damian dingin.
Lega luar biasa menyelimuti Ivony, namun itu hanya bertahan sesaat sebelum Damian melanjutkan kalimatnya dengan nada yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Tapi ingat satu hal. Tidak ada yang gratis di dunia ini, terutama di rumahku. Kau akan tinggal di sini, tapi kau harus membayar 'sewa' itu dengan cara yang aku tentukan.”
Kemudian menatap lekat wajah Ivony. “Dan percayalah, kau mungkin akan lebih memilih tidur di jalanan daripada memenuhi permintaanku nanti.”
Ivony mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mencerna untaian kalimat yang baru saja meluncur dari bibir pria di hadapannya.Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Damian mendadak terasa begitu memabukkan, mengacaukan pasokan oksigen ke otaknya. Namun, akal sehatnya menolak mentah-mentah pengakuan tersebut."Kau sedang membual," ketus Ivony, mencoba menegakkan kepalanya meski dadanya berdegup kencang di bawah kungkungan Damian. "Jangan mengarang cerita fiksi di depanku, Damian Alexander.""Membual tentang apa?" tanya Damian, suaranya terdengar sangat rendah dan tenang, nyaris seperti bisikan di tengah keheningan kamar."Mana mungkin pria sepertimu belum pernah bercinta?" Ivony mendengus, matanya menatap menantang, mencari celah kebohongan di manik mata abu-abu suaminya."Pria mapan, kaya, dan berkuasa seperti dirimu sudah pasti akrab dengan kehidupan malam di Warsawa. Kau pasti sudah mengenal banyak wanita malam di kota ini."Damian tidak marah. Alih-alih menjauh, ia justru menyu
Setelah semua pakaiannya tertata rapi di dalam lemari besar bermaterial kayu ek gelap milik Damian, Ivony melangkah mundur dengan canggung. Jemarinya meremas ujung kaus katun yang ia kenakan, mencoba mencari pegangan di tengah rasa kikuk yang mendadak melumpuhkan sendi-sendinya.Kamar utama ini terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu didominasi oleh aroma maskulin khas kayu cendana dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh pria yang kini resmi menjadi suaminya.Ivony melirik Damian yang sedang sibuk di sudut ruangan. Pria itu tampak begitu tenang, seolah kehadiran seorang wanita asing di wilayah pribadinya sama sekali tidak mengganggu ritme hidupnya yang presisi.Dengan gerakan yang lambat dan penuh perhitungan, Damian menata satu per satu jam tangan mewahnya di atas meja khusus berlapis beludru hitam, lalu meluruskan beberapa dasi sutra di rak gantung kecil di sebelahnya.Ivony berdehem pelan, mencoba mengusir keheningan yang mulai terasa mencekik. "Damian.""Ya?" sahut Damian tan
Ivony langsung mendorong tubuh Damian dengan sisa tenaga yang dimilikinya, membuat pria itu mundur selangkah tanpa melepaskan pandangan tajamnya.Wajah gadis itu mendadak semerah tomat, ekspresi salah tingkah yang coba ia sembunyikan dengan memalingkan wajah ke arah lain membuat Damian menaikkan sudut bibirnya."Kau... kenapa jalan pikiranmu cepat sekali melompat ke arah sana?" cetus Ivony, merapikan dress putih gadingnya yang sedikit kusut akibat pergerakan mendadak tadi. "Sebaiknya berikan dulu pasporku dan pastikan kelegalanku menjadi warga negara di sini!"Damian terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar sangat langka keluar dari tenggorokannya. Ia berjalan santai menuju meja bar di sudut ruangan, menuangkan air putih ke dalam gelas kaca."Legalitasmu masih diurus oleh Tommy di kantor imigrasi pusat," jawab Damian setelah meneguk airnya, nadanya kembali santai namun tetap berwibawa."Prosedur hukum di Polandia tidak secepat membalikkan telapak tangan, Ivony. Mungkin sat
Damian meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja marmer dengan gerakan yang teramat tenang. Sorot mata abu-abunya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun saat menatap langsung ke dalam manik mata Ivony yang menuntut kejelasan."Aku akan memberitahunya begitu kita tiba di rumah," ujar Damian, suaranya berat dan mutlak, memotong sisa argumen yang baru saja akan dilontarkan istrinya.Ivony mendengus kesal karena Damian selalu mengulur waktu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi restoran dengan kasar, melipat tangan di dada dengan rahang yang mengatup rapat."Selalu saja begitu. Kau selalu punya seribu alasan untuk menunda kebenaran, Damian. Apakah kau menunggu sampai Alex benar-benar mendobrak pintu apartemenmu baru kau mau jujur?"Felix kali ini membela Damian bahwa hal tersebut tidak bisa dibicarakan dalam waktu yang cepat. Ia menaruh gelas wine-nya, lalu menatap Ivony dengan ekspresi yang mendadak berubah serius, kehilangan semua rona jenaka yang biasanya melekat pada dirinya."I






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.