MasukKarin, seorang mahasiswi koas yang dihantui trauma sentuhan, terancam gagal di stase ginekologi akibat ketidakmampuannya melakukan pemeriksaan fisik, hingga ia bertemu dr. Arlan Pradipta, konsulen dingin dan jenius yang menawarkan "bimbingan privat" tak etis untuk menyembuhkan mati rasanya. Di balik pintu terkunci dan di bawah otoritas yang mengintimidasi, Karin dipaksa menjalani serangkaian latihan sensorik yang mengaburkan batas antara edukasi medis dan pemuasan hasrat. "Malam ini, saya akan mulai praktek dengan tubuhmu!"
Lihat lebih banyak“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!”
Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar, seorang pria tampan dan tegap tiba-tiba menarik pinggang Karin. Tangan pria itu membekap mulut Karin dan tubuhnya menekan tubuhnya. Mereka berhimpitan dan berpelukan. “Shhhhhttt jangan lari!” bisik Arlan, nama pria itu. Sontak saja Karin makin gelagapan, pria yang menahannya itu adalah Arlan Pradipta. Tepatnya, dr. Arlan Pradipta, Sp.OG-KFER,M.Kes. Ia terkenal dingin, selalu menyulitkan koas dan terkenal dengan kesempurnaannya. Dan, tentu saja, semua orang tahu betapa mengerikan jika berada satu ruangan bersamanya. Apalagi… dalam pelukannya! “Aku sudah tidak sabar memilikimu!” Kata-kata sang dokter senior itu segera membuat Karin sadar kembali. “I–itu, dr. Mikael…” Dokter senior itu segera saja mencium bibir koas yang ia giring masuk. Terdengar decak dari tautan bibir mereka. Karin menahan napas di celah balik lemari. Mata Arlan menatap wajah Karin ketika wajah wanita itu kehilangan warna. Dada Karin naik-turun menabrak dada Arlan. Keringat menetes di pelipis Karin. Tangan Arlan menetap di mulut Karin. “Sudah, Dok! Ahhhh nanti ada orang. Dokter nakal ihhh,” ucap koas itu. Ini sering terjadi terjadi. Orang-orang sering melakukan hal ini saat jam jaga malam di ruangan spesialis. Suara-suara desahan selalu menyela waktu istirahat Karin. Karin mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak tangan. "Sialan!" desis Karin. Desahan terdengar. “Ahhhh. Enak banget Dok, punya Dokter besar banget. Eumphhh!” Tapi bukan itu yang sekarang membuat Karin bingung. Dia penderita Haphephobia dan sekarang dia bisa baik-baik saja dipeluk oleh Konsulennya. Seharusnya perut Karin mual. Seharusnya kulitnya meremang dan napasnya tercekat akibat serangan panik, reaksi tubuhnya setiap kali kulitnya bersentuhan dengan manusia lain. Namun, terkurung di antara dinding lemari dan dada bidang Arlan, penyakitnya itu seolah lenyap. “Hemm, cepet banget sih padahal aku masih mau dok,” ucap koas itu setelah mereka menyelesaikan percintaan dengan cepat. “Aku masih ada operasi malam ini, besok malam tunggu aku lagi, kita main lebih lama.” “Oke, sayang. Muaaah.” Setelah mereka selesai, ruangan itu kembali sepi dan tidak dikunci. Arlan cepat-cepat mengajak Karin untuk keluar dari ruangan. “Kau tidak akan bicara tentang malam ini pada siapapun, kan?” tanya Arlan dengan ketus. “Nggak dok,” jawab Karin sambil menggigit kuat bibirnya. Karin masih ingin selesai kuliah kedokteran dan mungkin Arlan tidak tahu, setelah ini Karin masuk stase ditempatnya. “Bagus!” Dengan santai Arlan meninggalkan Karin tanpa merasa berdosa mendekapnya selama itu, tubuh mereka berhimpitan, jantung mereka sama-sama berdebar dan Karin bisa merasakan itu. “Kenapa aku nggak ketakutan dipeluk olehnya, ya?” Karin bukan main herannya, Tidak seharusnya dia kuliah kedokteran dengan penyakit yang dideritanya seperti ini. Haphephobia. Orang lain mungkin menganggapnya lucu tapi tidak untuk Karin, ini seperti Bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan membuatnya hancur. *** “Ginekologi,” gumamnya sambil merapikan buku-buku di ruang istirahat Internal Medicine, Karin baru saja melewati stase itu dan sekarang dia harus beralih ke bagian Ginekologi. Membayangkannya saja sudah menakutkan. Dan Karin baru saja bertemu dengan Konsulennya. “Dia biasa aja lihat gituan, seolah gak terjadi apapun. Jangan sampai dia sama seperti dr. Mikael,” gumam Karin. Karin memasang earphone di telinganya cepat-cepat dan berlari dari ruangan itu. Malam ini Karin berjaga sampai pagi, dia mulai membuat daftar visit. Di stase ini, Karin harus berjuang keras. Ini adalah ujian sesungguhnya. “Dokter, ada pasien pendarahan Dok, cuma Dokter yang lagi jaga,” ucap perawat saat Karin baru saja masuk. Karin menelan salivanya dan melirik ke arah pasien, dia bergegas menuju ke pasien sambil bertanya ke perawat yang berjaga. “Sejak kapan pendarahannya?” tanya Karin sambil menggunakan sarung tangan lateksnya. “Sudah dari satu jam yang lalu Dokter,” jawab perawat dengan cepat. “Dokter sakit banget Dokter, aku udah ngak tahan,” keluh pasien dengan keringat yang bercucuran sedangkan Karin pun ikut panik. Penyakitnya kambuh, memikirkan harus menyentuh pasien dengan tangannya, membuat Karin membeku. Tapi kenapa, tadi dia berpelukan dengan dr. Arlan. Karin tidak mempermasalahkan itu. “Dokter kenapa kau diam? Anakku sudah kesakitan!” Teriak orang tua pasien. Karin tidak ada pikiran untuk menyentuh organ intim pasien karena Karin sudah mulai gemetar, dia panik, gelisah dan berkeringat hebat. Berulang kali Karin melirik ke perawat dan perawat juga merasa bingung dengan sikap Karin. Karin mundur selangkah demi selangkah. Karin tidak bisa menutupi rasa paniknya, dia harus menyentuh pasien itu. Memikirkannya saja sudah membuat Karin gila. “Aku gak bisa,” gumam Karin dalam hati. “Aku gak sanggup, aku bener-bener gak bisa.” Karin menggigit kuat bibir bawahnya sementara pasien dan keluarganya menunggu Karin melakukan sesuatu. “Dokter, ayoooo cepat! Sakit dokter, sakit banget. Toloongggg!!!”“Ngebut, Sayang! Ngebuuut! Anggap aja kamu lagi balapan di sirkuit F1!” teriakKarin heboh dari kursi penumpang, tangannya gemetaran menahan kaca rias di sun visor mobil seraya mencoba mengaplikasikan lipstik yang berulang kali mencong karena guncangan jalan.“Aduh, ya ampun.”Arlan fokus menatap jalanan, sesekali melirik spion dan menginjak pedal gas lebih dalam, meliuk-liuk di antara kemacetan kota dengan gesit.“Ini sudah kecepatan maksimal di jalur kota, Sayang. Kalau lebih cepat lagi, kita bukan sampai di tempat presentasi, tapi di kantor polisi,” sahut Arlan tenang namun tetap memacu mobilnya dengan cekatan.Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!Ponsel di pangkuan Karin tidak berhenti bergetar.Layarnya terus menyala menampilkan rentetan pesan masuk dari Silvi.Karin melirik layar itu dengan frustasi.“Karin, kamu di mana sih? Tiga urutan lagi nama kamu dipanggil!”Padahal musuhan! Tapi, Karin tetap menja
“Mau lagi?” Arlan berbisik di ceruk leher Karin. Ciuman pembuktian di ruang makan yang semula diniatkan Karin hanya untuk meredam cemburu Arlan, justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.Sentuhan lembut itu menyulut kembali api gairah yang sempat padam semalam.Arlan, yang dasarnya sudah terlanjur posesif dan begitu tergila-gila dengan tubuh Karin, langsung kehilangan kendali akal sehatnya.Rencana awal mereka yang seharusnya pergi ke rumah sakit pagi ini menguap begitu saja ke udara.Arlan memutus ciuman sejenak hanya untuk meraup napas, menatap Karin dengan tatapan gelap penuh damba.“Rumah sakitnya kita tunda siang nanti,” bisik Arlan rendah, suaranya serak dan sarat akan gairah yang kembali tersulut.Sebelum Karin sempat memprotes atau mengingatkan jadwal mereka, Arlan sudah menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Karin. Membungkam mulut Karin dengan cumbuannya.Ia mengangkat tubuh istrinya ya
Setelah selesai berpakaian, Karin melangkah ke ruang makan dengan langkah yang masih sedikit tertatih karena sisa pegal semalam. “Hemm, enak banget.” Puji Karin dengan tulus. Di atas meja sudah tersaji nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi dan potongan ayam, semuanya disiapkan oleh pembantu setia mereka. Karin memang sama sekali tidak bisa memasak bahkan untuk sekedar merebus telur, tipe istri manja yang beruntung karena Arlan tidak pernah mempermasalahkan hal itu sedikit pun bagi Arlan, kenyamanan Karin adalah yang utama. Arlan duduk di hadapannya sambil menyesap kopi hitam, menatap sang istri dengan senyuman tipis yang sarat akan sisa kemesraan pagi ini. Karin menyuap sesendok nasi goreng, lalu menatap Arlan dengan ekspresi serius yang mendadak dibuat-buat, seperti seorang anak kecil yang ingin mengadukan sebuah rahasia besar. “Sayang,” panggil Karin, menaruh sendoknya dan mencondongkan tubuh ke depan. “Aku mau buat pengakuan dosa.” Arlan menaikkan satu alisnya,
“Eugh!”Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang tampak seperti kapal pecah setelah badai semalam.Karin perlahan membuka matanya, mengerang pelan saat merasakan seluruh persendiannya protes. Tubuhnya terasa remuk dan ada rasa pegal yang tertinggal di area pinggangnya.Di sampingnya, Arlan masih tertidur lelap dengan posisi miring, menampilkan punggung tegapnya yang dipenuhi beberapa bekas cakaran tipis, ulah Karin sendiri saat kehilangan kendali semalam.Karin menarik selimut tebal sampai ke dagu, menatap wajah suaminya yang tampak begitu tenang saat tidur. Sisa-sisa kejadian semalam mendadak berputar di otaknya, membuat pipinya langsung memanas.Sambil memegangi pinggangnya yang encok, Karin membatin dalam hati, bersumpah tidak akan pernah lagi mengejek 'aset' suaminya itu kecil.Arlan benar-benar tidak memberi ampun. Pria yang biasanya lempeng dan kaku itu berubah menjadi monster yang luar biasa perkasa di ranjang, membuat Karin yang tadinya te
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak