LOGIN“Di mana yang sakit?” tanya Zoey pelan.“Aku nggak tahu…” jawab Fitch dengan suara serak.Andai saja Zoey tidak merasakan langsung panas tinggi di dahinya, dia mungkin sudah mengira Fitch hanya berpura-pura demi menarik simpatinya.Tanpa membuang waktu, Zoey segera menghubungi dokter keluarga mereka dan mendesaknya untuk datang secepat mungkin. Sementara menunggu, dia menggandeng Nolan kembali ke kamarnya agar anak itu bisa beristirahat.Namun Nolan terlalu cemas. Wajah kecilnya dipenuhi kekhawatiran, tubuhnya gelisah di bawah selimut.Zoey membetulkan selimutnya dengan lembut. “Nggak apa-apa, Mommy yang urus Daddy, ya. Sebentar lagi dokter datang, dan setelah kamu minum obat, kamu juga bakal cepat sembuh. Ayo, tidur dulu. Nggak boleh begadang.”Nolan mengangguk patuh, menyelipkan tangannya di bawah selimut, meski matanya masih menatap ibunya penuh rasa ingin tahu dan khawatir.Zoey sempat meminta dokter memeriksa Nolan sebelumnya. Kondisinya memang jauh membaik sejak dia kembali bert
Di antara semua lelaki yang mereka kenal, Fitch dulunya yang paling terencana. Hidupnya lurus, stabil, seolah sudah ditetapkan arah dan tujuannya sejak lama. Saat teman-temannya masih sibuk mengejar cinta yang fana, Fitch sudah memutuskan untuk mencari istri yang baik, tidak merepotkan, dan bisa menemaninya menjalani hidup sesuai perencanaan.Cinta? Baginya dulu hanya angka dalam grafik hidup, variabel yang bisa diganti kalau perlu. Jadi saat Ian berbicara panjang lebar tentang cinta dan rasa, Fitch mungkin hanya menghitungnya dalam bentuk data dan statistik.Namun sekarang, lelaki itu berdiri sendirian di bawah lampu yang temaram, menatap wanita yang mungkin satu-satunya orang yang pernah membuat hatinya berdebar di luar logika.Dan di wajahnya—untuk pertama kalinya—terlihat luka yang tidak bisa ia sembunyikan di balik jas mahal atau sikap tenang.Ian hanya menepuk pelan bahunya, tak mengatakan apa-apa. Karena ia tahu, tidak semua luka bisa disembuhkan dengan kata-kata.Setelah Ian
Di antara semua lelaki yang mereka kenal, Fitch dulunya yang paling terencana. Hidupnya lurus, stabil, seolah sudah ditetapkan arah dan tujuannya sejak lama. Saat teman-temannya masih sibuk mengejar cinta yang fana, Fitch sudah memutuskan untuk mencari istri yang baik, tidak merepotkan, dan bisa menemaninya menjalani hidup sesuai perencanaan.Cinta? Baginya dulu hanya angka dalam grafik hidup, variabel yang bisa diganti kalau perlu. Jadi saat Ian berbicara panjang lebar tentang cinta dan rasa, Fitch mungkin hanya menghitungnya dalam bentuk data dan statistik.Namun sekarang, lelaki itu berdiri sendirian di bawah lampu yang temaram, menatap wanita yang mungkin satu-satunya orang yang pernah membuat hatinya berdebar di luar logika.Dan di wajahnya—untuk pertama kalinya—terlihat luka yang tidak bisa ia sembunyikan di balik jas mahal atau sikap tenang.Ian hanya menepuk pelan bahunya, tak mengatakan apa-apa. Karena ia tahu, tidak semua luka bisa disembuhkan dengan kata-kata.Setelah Ian
Fitch tahu Zoey melakukan semua ini demi anak mereka, tapi dia tak bisa menahan perasaan puas dalam hatinya.Dia sangat sadar betapa lembut dan berhati baiknya Zoey, dan tanpa malu dia memanfaatkan hal itu. Hanya membayangkan Zoey pergi saja sudah cukup membuatnya kehilangan minat pada segalanya. Nolan adalah senjata rahasianya, dan akhir-akhir ini, dia memastikan Nolan selalu menghabiskan waktu bersama ibunya setiap hari.Dia tahu betapa menggemaskannya Nolan, terlebih bagi Zoey—ibunya sendiri. Orang lain pun tak bisa menolak pesona anak itu, apalagi Zoey, yang melihat Nolan sebagai bagian dari dirinya.Selama sebulan terakhir, Zoey semakin terikat pada Nolan, hingga tak sanggup berjauhan darinya. Kecelakaan mobil yang terjadi pagi tadi justru semakin memperkuat ketakutannya. Dia sangat takut membuat keputusan gegabah yang bisa menghancurkan keluarga kecil mereka.Fitch memeluknya erat, diam-diam bersyukur atas kecelakaan itu.Ia bahkan pernah mempertimbangkan untuk meniru trik
Zoey memerhatikan ketika doktor membalut luka Fitch, baru dia benar-benar sedar betapa seriusnya kecederaan lelaki itu.Serpihan kaca telah menembus jauh ke dalam dagingnya, hingga tulangnya hampir kelihatan. Dia mengerutkan kening melihat peluh yang membasahi dahi Fitch, lalu mencapai tisu di sebelah dan menghulurkannya.Zoey duduk terpaku di tepi ranjang rumah sakit itu, jantungnya masih berdetak tak menentu. Ada yang menyesakkan di dadanya—campuran rasa iba, lelah, dan keraguan.Tatapan Fitch terus melekat padanya, seolah-olah pria itu takut jika ia berpaling sebentar saja, Zoey akan menghilang.Sejenak, keduanya hanya terdiam, terjebak dalam ruang waktu yang hening, ditemani hanya oleh suara napas Nolan yang tertidur pulas.Fitch mendongak memandangnya, bibirnya pucat akibat kehilangan darah. "Boleh tolong lapkan untuk aku?"Tanpa banyak bicara, Zoey pun mu
Tiga orang dilarikan ke rumah sakit, dan para dokter segera menangani luka di lengan Fitch—sepenuhnya tidak menyadari bahwa foto sang CEO baru saja meledak di media sosial.Kecelakaan yang ia alami sudah menjadi tajuk utama sejak pagi. Tapi saat identitasnya terungkap—CEO dari Haskins Group, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia korporat—drama ini berubah jadi sorotan nasional.Komentar Netizen:🟦 "Itu kan CEO Haskins Group, Fitch Haskins? Astaga, siapa yang ambil foto ini? Nggak kelihatan diedit sama sekali, dan dia kelihatan benar-benar terluka."🟩 "Gue doang yang ngerasa dia beneran orang baik? Di foto kelihatan jelas dia minta anak kecilnya diselamatkan dulu. Dia gak pakai kuasa buat nyelak antrean atau minta perlakuan khusus. Respect."🟨 "Gue malah fokus sama cewek yang nampar dia… dia nggak marah, malah peluk. Please, semua gosip tentang Fitch yang katanya dingin dan kejam itu jelas omong kosong. CEO mana yang ditampar terus balas dengan ciuman, kalau bukan karena







